Andari

Andari
CHAPTER 14: BACK TO JAKARTA


__ADS_3

Setelah pulang dari jalan-jalan Candi Ijo, Banyu dan Andari kembali ke rumah Pak Tyo dan Bu Asih.


Saat mereka pulang, Bu Asih dan Pak Tyo sedang ada rapat warga. Sedangkan Mbah Kung dan Mbah Uti sedang latihan gamelan untuk pertunjukkan acara warga setempat. 👍👏💪


Malam itu Reza tidur di rumah salah seorang saudaranya. Sedangkan, Dina pergi menginap di rumah Budenya di dekat Malioboro. Karena sudah sejak kemarin Dina ditelepon Budenya untuk menginap di rumah Budenya.


"Mas Banyu, mau apa dulu? Maem? Atau mandi?" Tanya Andari yang masih melayani sang suami. Meskipun tubuhnya sudah lelah.


"Mandi kayaknya deh. Gak enak. Lengket." Jawabnya.


"Okay. Mau aku siapin air hangat?" Tanya Andari.


"Gak usah, Dek. Aku gak biasa mandi pakai air hangat." Jawab Banyu yang masih duduk bersandar di sofa. Lelah sangat.


"Yasudah. Mas mau mandi sekarang? Atau nanti?" Tanya Andari lagi.


"Mmm... enaknya kapan?" Tanyanya kembali kepada Andari.


"Lho, kok nanya aku? Yang mau mandi kan Mas Banyu. Haha... " Tawa Andari.


"Capai banget ya, Mas?" Tanya Andari kepada Banyu sembari mengelus lembut wajah Banyu.


"Hm... lumayan..." Jawabnya sambil memejamkan mata dan menghela nafas.


"Faktor 'U' kayaknya tuh, Mas." Sahut Andari yang sontak membuat Banyu terbangun dari sandaran di sofa yang lalu menggelitik Andari.


"Mas Banyuu... hahaha... iya, iya, ampuun..." Ucap Andari sambil tertawa geli karena Banyu menggelitiknya.


"Ampuunn... peace ✌️😁" Ujar Andari lagi setelah Banyu berhenti menggelitiknya. Banyu melayangkan kecupannya di bibir Andari.


"Dasar! Nyebelin ya." Ucap Banyu sambil mengacak-acak rambut Andari.


"Aku mau gunting rambut ya." Ujar Andari sembari memeluk Banyu.


"Monggo..." Jawab Banyu sambil mencubit gemas pipi Andari.


"Nanti deh sampai di Jakarta, aku mau gunting rambut." Ucap Andari.


"Yaudah, Mas Banyu mandi dulu deh." Ucap Andari kepada Banyu.


"Okay." Jawab Banyu sambil mengacungkan ibu jarinya.


Banyu dan Andari segera bersih-bersih. Mereka duduk bersantai di teras setelah mandi. Banyu mengecheck HPnya ketika Andari sedang membuatkan kopi untuknya.


"Mas, kopinya. Hati-hati masih panas." Ujar Andari sambil menyuguhkan kopi kepada Andari.


"Makasih sayang..." Ucapnya sambil tersenyum manis dan menyeruput kopi buatan sang istri.


"Waahh... chatnya banyak banget." Ujar Andari ketika membuka HP dan melihat group WA sekolahnya.


"Dari siapa, Dek?" Tanya Banyu sambil melihat dan membaca chat WA Andari.


"Dari Bu Kepsek sama Bu Guru Mas. Coba lihat." Andari menunjukkan chattingan di group WA sekolah Bu Guru.


"Apaan yang dibahas itu, Dek?" Tanya Banyu.


"Macem-macem. Sampe 500 chat. Ckckck..." Jawab Andari sambil menggelengkan kepala.


"Hahaha... itu ngobrol apa bikin novel?" Tawa Banyu.


"Iya kan? Begini nih aku kalau gak jawab. Di julidin (di omongin) terus. Hahaha..." Tawa Andari.


"Biasalah perempuan, Dek." Ujar Banyu sambil menyeruput kopinya lagi.


"Iya sih. Hahaha..." Tawanya.


"Oh, iya Dek. Nanti kalau sudah di Jakarta, kamu tinggal sama aku." Ucap Banyu.


"Oh, iya benar! Aku sampai lupa." Sahut Andari sambil menepuk keningnya.


"Lupa udah punya suami ya? Hahaha..." Tanya Banyu tertawa lepas.


"Hahaha... bukan gitu. Keingatnya masih pulang ke kostan." Tawa Andari sambil menjelaskan kepada Banyu.


"Nanti barang-barang di kostan kamu, pindahin ke rumah aja. Besok aku minta tolong ke temenku deh buat ngurusin itu. Kamu udah bilang sama Bu Kosnya belum?" Tanya Banyu dan jelasnya.


"Iya, Mas. Besok deh aku telepon Bu Kos. Berarti aku langsung ke rumah kamu? Setelah dari Yogya?" Tanya Andari.


"Rumah kita." Jawab Banyu.


"Hehe... iya maksud aku gitu." Jawab Andari dengan cengiran kudanya.


"Yasudah, pokoknya besok aku yang urus deh. Terus kamu mau kasih tau Bu Guru di sekolah gimana, Dek?" Tanya Banyu.


"Ya... aku ceritain semuanya. Apa yang terjadi." Jawab Andari sambil memejamkan matanya dan menyandarkan dirinya di dada bidang Banyu.


"Kalau butuh bantuan dan aku perlu datang ke sekolahmu, panggil aku ya." Ujar Banyu sambil mengelus lembut wajah Andari.


"Siap, Ndan!" Jawab Andari sambil memberi hormat kepada Banyu. Banyu tertawa pelan dan mengecup singkat kening Andari.


*****


**AT JAKARTA

__ADS_1


2 Minggu Kemudian**


"Ndari, badan gue meretek..." Keluh Dina.


"Gak kebayang deh gue jadi lo. Habis dari Yogya langsung gotong-gotong barang gini. Hadeuh... si Banyu keterlaluan deh. Masa istrinya dibiarin kerjain segini banyaknya barang." Celoteh Dina sambil duduk bersandar di sofa.


"Ngoceh aja luh. Hahaha..." Canda Andari sambil melempar botol mineral dingin kepada Dina.


"Lo gampang capek mungkin karena udah tua." Jawab Andari yang mendapat lemparan bantal sofa dari Dina. Yang justru membuat mereka berdua saling balas tawa.


Andari pindahan. Ia memindahkan semua barang dari kos-kosannya ke rumah super megah dibilangan K****G. Siapa yang tidak kenal dengan kawasan tersebut. Setiap areanya mempunyai penghuni WNA yang sudah lama tinggal di Jakarta.


Mulai saat ini Andari tinggal bersama dengan Banyu di rumah mewahnya. Bersama dengan beberapa ARTnya.


"Mas Banyu kan dari kemarin udah bantuin gue, Din. Sebelum dia minta tolong ke lo." Ucap Andari setelah meneguk air minumnya.


"Iya sih... tapi lo masa sendirian gitu di rumah segede alaihim ini?!!" Jawab Dina.


"Hahaha... gak sendiri dong. Kan ada asistant rumah tangga gue. Santai... hehehe..." Ujar Andari dengan khas senyum lesung pipinya.


"Si Boss kayaknya lama ya di Surabaya?" Tanya Dina.


"Katanya sih sekitar 4-5 hari. Ya... seminggu lah... sama perjalanan pulang perginya." Jawabnya.


"Gue nginep sini aja kali ya?" Tanya Dina dengan menunjukkan deretan giginya.


"Monggo... boleh lah. Sekalian temenin gue. Tapi, gue telepon suami gue dulu. Minta izin dong... hehehe..." Ucap Andari dengan tawa candanya.


"Dasar. Ntar kalau gue udah nikah, gue pamerin laki gue ke lo juga. Wleee..." 😝 Ujar Dina bercanda.


Andari ikut tertawa sambil menelepon Banyu dan menunggu teleponnya diangkat.


"Halo, Mas." Sapa Andari.


"Iya, Dek. Kenapa sayang?" Tanya Banyu yang membuat wajah Andari memerah karena dipanggil "sayang".


"Mas Banyu lagi dimana sekarang?" Tanya Andari yang sudah mulai merasa rindu dengan sang suami.


"Lagi di proyek, Dek. Kamu gimana tadi beres-beres barangnya? Jadi dibantuin sama Dina?" Tanya Banyu.


"Udah selesai kok Mas. Ini Dina kecapean gak sanggup pulang. Mau nginep disini aja. Hahaha..." Tawa Andari lepas.


"Yaampun... baru beberes gitu aja udah K.O. Hahaha..." Tawa Banyu meledek Dina.


"Heh!! Tawa bae lo. Capek ini. Tepar gue." Ujar Dina sambil bersungut.


"Hahaha... untung Reza betah." Ledek Banyu kepada Dina.


"Huh! Tuh, Ndar! Laki lo rese banget." Sahutnya dengan cemberut.


"Yasudah, Dek. Mas mau lanjutin kerjanya dulu. Kalau Dina mau menginap, itu bagus. Bisa nemenin kamu." Ujar Banyu.


"Iya, maksud aku juga gitu, Mas. Okay deh. Selamat bekerja, sayang... semangaatt!!!" Ucap Andari dengan semangat dan tersenyum manis.


"Makasih sayang. Kamu hati-hati disana ya." Jawabnya sambil mengacungkan ibu jarinya dan menyudahi video call tersebut.


"Diizinin sama Mas... yeeiiiy!!!" Ucap Andari gembira sekali. Karena ia sudah lama tidak berbincang dengan sahabatnya.


"Asyiik!! Bisa ghibah kita. Wkwkwk..." Tawa lepas Dina dan Andari.


*****


"Din, lo yang bawa mobil ya." Ucap Andari.


"Eh, kita ajak sopir lo aja ngapa. Capek ini kita bawa mobil." Jawab Dina.


"Kasian nanti Pak Yanto, masa nungguin berjam-jam." Ujar Andari.


"Ya jangan nungguin. Nganter kita, nge-drop gitu. Terus ntar di jemput. Ngapain pake nungguin. Pinter banget dah lo." Jelas Dina.


"Hahaha... iya, ya? Bisa itu. Coba gue tanya Pak Yanto. Bisa gak ya antar kita." Ujar Andari yang langsung menuju basecamp para ARTnya.


"Pak Yanto..." Panggil Andari.


"Njeh, Buk. Ada apa Buk?" Tanya Pak Yanto.


"Pak, lagi sibuk gak?" Tanya Andari kembali.


"Ndak, Buk. Kenapa Buk?" Tanya lagi Pak Yanto.


"Boleh minta tolong anterin saya sama Dina ke Mall?" Tanya Andari.


"Tapi, kalau bapak lagi banyak yang dikerjaian gak apa-apa, Pak." Jawab Andari dengan sopan.


"Oh, Ndak. Ndak ada Buk. Saya lagi santai kok. Boleh Buk, saya siapkan mobilnya dulu ya." Ucap Pak Yanto.


"Makasih ya Pak Yanto. Maaf merepotkan." Ujar Andari.


"Nda toh yo Buk... kan memang sudah pekerjaan saya." Jawab Pak Yanto.


"Makasih Pak Yanto. Saya rapi-rapi dulu deh." Jawab Andari dengan senyum ramah.


Beberapa saat kemudian, Andari dan Dina sudah rapi, sudah mandi dan sudah wangi 😄

__ADS_1


"Pak Yanto, nanti antar - jemput kita saja ya. Supaya bapak juga gak kelamaan nunggu." Ucap Andari sopan dan ramah.


"Baik, Bu. Nanti hubungi saya saja jika perlu dijemput." Ujar Pak Yanto.


"Siap Pak Yanto!" Jawab Andari dan Dina dengan mengacungkan ibu jarinya.


Tak lama kemudian mereka sampai di Mall bilangan Jakarta Selatan. Seperti yang Andari bilang tadi, Pak Yanto hanya nge-drop Andari dan Dina di lobby Mall.


"Makasih Pak Yanto..." Ucap Andari dan Dina.


"Sama-sama, Buk. Nanti telepon saja jika sudah selesai ya Buk." Jawab Pak Yanto.


"Siap, Pak!" Sahut Andari dan Dina.


*****


"Udah lama banget ya, Ndar." Ujar Dina.


"Lama banget apanya?" Tanya Andari.


"Iya. Lama banget gak nge-Mall gini. Biasanya kan hampir tiap minggu kita jalan-jalan. Sekarang mah boro-boro seminggu sekali. Sebulan sekali begini aja udah bersyukur. Hahaha..." Terang Dina dengan tawa senangnya.


"Hahaha... iya ya? Waktu, Din. Mau tidak mau, ini hidup. Harus ada perubahan. Biar colorful. Hahaha..." Jawab Andadi dengan tawa lepasnya.


Andari sudah izin kepada Banyu bahwa ia ingin mencari sepatu untuk kegiatan karyawisata di sekolah nantinya. Ia pergi bersama Dina dan Banyu mengizinkan. Asalkan tidak menyetir mobil sendiri.


Di Mall, Andari sibuk mencari sport shoes kesukaannya. Ia mencoba dan memantaskannya sambil bercermin.


"Udah?" Tanya Dina.


"Udah." Jawab Andari yang sudah menenteng dua kantong belanjaan.


"Makan yuk. Laper." Ajak Dina.


"Cus. Mau makan apa?" Tanya Andari.


"Gue pengen toppoki, Ndar." Jawab Dina.


"Okay. Let's go!!" Ajak Andari.


Andari dan Dina duduk di pojok restaurant sembari melihat pemandangan sore hari itu dengan warna jingga langit yang mempesona.


"Eh, Ndar!" Ujar Dina.


"Hm." Jawab Andari.


"Lo kapan jadinya resepsi?" Tanya Dina.


"Planning gue, gue mau ke rumah kepsek gue. Mau cerita semuanya dulu. Diskusi ke beliau, enaknya gimana. Baru gue umumin ke Bu Guru sama teman-teman yang lain." Jelas Andari.


"Tapi, lo udah omongin sama Banyu soal resepsi?" Tanya Dina sembari menyeruput jus strawberrynya.


"Udah kok. Itu yang ke rumah Bu Kepsek, Mas Banyu yang kasih advice." Jawab Andari.


"Tapi lo kesana sama Banyu? Apa sendiri?" Tanya Dina.


"Sama Mas Banyu. Makanya, nunggu Mas Banyu balik ke Jakarta dulu deh. Baru ke rumah Kepsek gue." Jawab Andari.


"Oh, gitu. Terus planning lo berdua mau kapan adain resepsi?" Tanya Dina.


"Planningnya Mas Banyu sama gue sih akhir bulan depan. Soalnya gue belum mulai ngajar. Jadi masih ada waktu libur." Jelas Andari.


"Wuidih... cepet banget, cuy. Pake EO dong?" Tanya Dina lagi.


"Kemungkinan gitu. Awalnya gue bilag, gak usah. Gak oerlu pake EO, gue masih bisa lakuin sendiri. Tapi, Mas Banyu gak izinin. Dia mau serahin semua sama EO." Terang Andari.


"Iya sih... kalau dipikir-pikir emang lebih enak pakai Wedding EO (Event Organizer). Tapi, emang ngerogoh koceknya gak main-main. Haha..." Ujarnya sambil tertawa.


"Nah, itu Din. Di awal yang jadi alasan utama gue kenapa gue menyarankan Mas Banyu untuk gak perlu pakai Wedding EO."


"Tapi, Mas Banyu bilang, kalau kita gak pakai Wedding EO, belum tentu bulan depan bisa resepsi. Paling cepet 3 bulanan. Kayaknya... gak tau juga. Belum pengalaman. Hahaha..." Jelas Andari.


"Yang dipikirin sama suami gue tau gak apa, Din?" Tanya Andari.


"Apa?" Dina.


"Dia gak mau orang memandang jelek di gue sama Mas Banyu. Karena menikah diam-diam dan tanpa ada keluarga besar yang tau." Andari


"Apalagi gue sama Mas Banyu nikah pas banget ada gosip yang waktu itu sempet jadi headlinenews." Terang Andari.


"Mas Banyu, cuma mau hidup tenang tanpa ada terpaan gosip apapun dan dia bilang, dengan begitu dia bisa ngelindungin gue." Jelas Andari.


"Iyalah... wajar Si Big Boss mau ngelindungin dia. Lo tau sendiri. Laki lo itu kan bukan cuma seorang pembisnis. Tapi macem selebritas. Hahaha..." Ujar Dina dengan tawanya.


"Hahaha... iya benar. Waktu pulang dari Yogya, gue sama Mas Banyu lagi duduk di ruang tunggu. Ada Mba-mba gitu yang deketin suami gue. Terus minta foto bareng." Cerita Andari.


"Hahaha... terus, terus?" Tanya Dina.


"Ya... lo tau suami gue dah. Dingin gitu. Es aja kalah dinginnya sama doi. Hahaha... tapi gue senang. Karena lembutnya, kasih sayangnya dan cintanya cuma sama gue. Asyik! Hahaha..." Tawa Andari.


"Hahaha... gak heran gue mah sama Big Boss. Kata Mas Reza, Banyu itu kalau sudah sayang dengan satu orang. Udah, dia akan sangat setia sama perempuan tersebut. Hahaha..." Ujar Dina sambil tertawa.


"Semoga terus selalu setia hanya dengan satu wanita. Amin. Hehehe..." Ucap Andari sambil senyum lesung pipinya.

__ADS_1


*****


__ADS_2