Andari

Andari
CHAPTER 16: CURCOL


__ADS_3

"Halo, Dek. Shareloc (Share location) sekolah kamu ya." Ujar Banyu dari sebrang telepon.


"Okay. Mas udah mau jalan sekarang?" Tanya Andari.


"10 menit aku jalan ya." Jawab Banyu.


"Oh... iya. Hati-hati ya Mas." Ucap Andari.


"Iya, sayang." Jawabnya dengan lemah lembut.


Andari tersipu malu mendengar kata "sayang" dari sang suami. Segera ia menutup telepon dari Banyu.


Andari menyusul ke ruang meeting, dimana para guru dan staff Sekolah Bangsa Pertiwi sudah berkumpul di ruangan.


"Sudah kumpul semua?" Tanya Bu Mita.


"Sudah Bu." Jawab mereka serempak.


"Okay. Kita mulai meetingnya." Ucap Bu Mita.


"Halo, teman-teman semua. Hari ini seperti meeting biasanya, kita akan membahas satu-persatu tentang kegiatan selama satu minggu ini." Jelas Bu Mita.


Bu Mita menjelaskan panjang-lebar tentang rutinitas apa yang harus guru dan staff Sekolah Bangsa Pertiwi lakukan.


Meeting hari itu berlangsung lancar. Penuh dengan canda tawa yang bukan lagi seperti intermezzo. Tapi, sudah seperti dongeng.


Sampailah pada puncak Andari harus berbicara yang sesungguhnya kepada teman-temannya. Namun...


"Mba Ndari? Jadi? Sekarang aja." Tanya Bu Mita yang membuat para guru penasaran.


"Iya, Bu. Sekarang aja." Jawab Andari.


"Guys... minta waktunya sejenak yes. Hahaha..." Ujar Andari dengan tawanya.


"Apaan dah?" Tanya Mba Dewi.


"Sst, sst, Ndari mau stand up comedy. Wkwkwk..." Canda Tanti yang mengundang tawa teman-temannya.


"Mau ngomong apaan deh Mba Ndari?" Tanya Bu Susan.


"Ini kapan gue ngomongnya?" Tanya Andari 😆


"Kawan... saya mau bagiin ini." Ujar Andari sambil membagikan undangan resepsi pernikahannya dengan Banyu.


"OH MY GOD!! Andariii!!! Lo udah laku???!!!" Tanya Tanti.


"Kampret! Udeh! Puas lo?!" Jawab Andari sambil bersungut.


"Mba Ndari, ini seriusan?" Tanya Mba Lulu.


"Iya, Mba." Jawab Andari.


"Ndar, coba ceritain ini gimana? Apa maksudnya?" Tanya Mba Dewi.


"Okay. Jadi, gini teman-teman. Libur semester akhir kemarin itu aku ke Yogya. Sampai di Yogya layaknya orang liburan, saya jalan-jalan dong." Terang Andari.


"Singkat cerita, beberapa hari setelahnya, Kakek saya meminta saya untuk menikahi seorang laki-laki cucu dari sahabatnya." Andari menjelaskan.


"Terus akhirnya dirimu nikah?" Tanya Bu Susan.


"Iya, Mba. Lebih tepatnya akad nikah dulu. Tapi, belum resepsi. Nah, undangan ini adalah acara resepsi pernikahan saya dan suami saya." Jelas Andari.


"Wuidehh... suami... hahaha..." Ucap Mba Yuli.


Ucapan Mba Yuli mengundang tawa teman-temannya. Saat mereka sedang asyik berbincang dan mendengar cerita Andari, ketukan pintu ruang meeting menghentikan diskusi mereka.


"Permisi, Bu." Ucap Bang Ipul.


Bang Ipul itu OB di Sekolah Bangsa Pertiwi. Sudah sangat tau seluk beluk sekolah.


"Iya, Bang Ipul. Ada apa?" Tanya Bu Mita.


"Maaf, Bu, mengganggu. Ada tamu, Bu. Katanya mau bertemu dengan Bu Andari." Jawab Bang Ipul menjelaskan.


"Oh, iya. Makasih Bang Ipul. Saya keluar deh." Ujar Andari.


"Siapa deh?" Tanya Mba Tanti.


"Mba Mila, dirimu tau kalau Mba Ndari udah nikah?" Tanya Mba Dewi.


"Baru tau beberapa jam yang lalu. Itu pun gue shock abieess..." Jawab Mila dengan wajah terkejutnya.


"Mba Mila tau suaminya Mba Ndari?" Tanya Bu Mita.


"Tau, Bu. Tadi sempat video call gitu mereka, terus Mba Ndari ngenalin aku ke suaminya." Jawab Mba Mila.


"Orangnya kayak gimana deh suaminya Mba Ndari?" Tanya Bu Susan.


"Yah... lo liat aja ntar. Ganteng. Laki soalnya. Hahaha..." Jawab Mba Mila dengan canda tawanya.


"Bodoamat..." Sahut Mba Lulu.


"Ibu tau, Bu?" Tanya Mba Tanti kepada Bu Mita.


"Mba Ndari cuma bilang, "Bu, nanti ada yang mau saya kasih tau. Tapi, jangan shock ya." Gitu bilangnya ke saya." Jelae Bu Mita.


"Ibu gak kaget Bu? Saya aja shock." Ujar Mba Mila.


"Shock juga. Kaget. Karena Mba Ndari kan gak pernah cerita dia lagi deket sama siapa. Mba Ndari kan terakhir kali kalo gak salah deketnya sama yang orang bule mana deh?" Tanya Bu Mita kepada Bu Guru yang lain.


"Bule kampung? Hahaha...." Ujar Mba Mila yang mengundanga tawa teman-temannya.


"Hai?" Sapa Andari dari pagar sekolahnya kepada Banyu yang sedang duduk di lobby sekolah.


"Hai." Jawab Banyu dengan senyum mempesonannya dan mencium kening Andari dengan mesra.


Bang Ipul dan Pak Yono yang melihat adegan mesra itu pun saling tatap. Karena dari beberapa guru di sekolah, Andari adalah guru yang paling jarang mengekspose kehidupan pribadinya. Tapi, sekarang mereka melihat semua dan sangat yakin bahwa laki-laki tersebut benar suami Andari.


"Udah siap?" Tanya Andari dengan senyum merekahnya.


"Siap!!!" Jawab Banyu sambil mengacungkan ibu jarinya.


Siapnya mereka untuk mendapat beragam pertanyaan-pertanyaan unik dari teman-teman mengajar Andari.


"Bu" Panggil Andari kepada Bu Mita yang membuat para Bu Guru di ruang meeting menoleh ke arah Andari.

__ADS_1


"Guys... ada yang mau saya kenalin." Ujar Andari dengan cengiran kudanya.


"Masuk, Mas." Ucap Andari kepada Banyu.


Banyu masuk ke ruang meeting dan sukses membuat para guru terperangah. Terkejut bukan main. Kalau suami Andari adalah seorang pengusaha muda yang sangat terkenal dan banyak para pembisnis muda yang menjadikan Banyu sebagai pembisnis idolanya.


"Selamat sore" Sapa Banyu dengan senyum ramahnya.


"Sore..." Jawab para Bu Guru yang masih belum bisa percaya dengan apa yang mereka lihat.


"Ekhem." Mba Mila berdehem.


"Duduk, duduk, Om. Silahkan." Ujar Bu Mita dengan senyum ramahnya.


"Iya, terima kasih." Jawab Banyu.


"Maaf ya, Om. Ini kita meetingnya duduknya lesehan gini." Ucap Bu Mita.


"Oh, iya. Gak apa. Santai aja Bu Guru." Ujar Banyu ramah.


"Ini enaknya kita kenalan dulu kali ya?" Tanya Bu Mita sambil tersenyum dan ikuti anggukan oleh Bu Guru.


"Siapa namanya Om?" Tanya Bu Mita lagi.


"Saya Banyu." Jawab Banyu ramah.


"Om Banyu ini, pengusaha muda yang terkenal itu ya?" Tanya Mba Tanti.


"Sabar buukk... itu si Om belum kelar ngomong." Sahut Mba Dewi dengan candanya membuat semua yang ada di ruang meeting tertawa.


"Hahaha... sabar, sabar." Jawab Andari.


"Kenalan Mas..." Ujar Andari kepada Banyu yang tertawa senang mendengar celetukan-celetukan teman-teman Andari.


"Hallo, semua. Perkenalkan saya Banyu Adhinata. Biasa dipanggil Banyu. Saya suami asli dari Andari." Ucapnya dengan ramah.


"Suami asli? Emang ada yang palsunya Om?" Tanya Bu Susan yang mengundang tawa semuanya.


"Hahaha... bukan. Maksud saya, suami syahnya Andari secara hukum dan agama." Jelas Banyu.


"Om Banyu ini beneran yang pengusaha muda itu bukan? Yang banyak diganduringi oleh kaula muda?" Tanya Mba Lulu.


"Bahasamu Mba Lul, ketahuan banget kelahiran paling tua. Wkwkwk..." Ujar Mba Mila dengan candanya.


"Haha... iya, pekerjaan saya memang berkutat dalam bidang tersebut. Tapi kalau untuk digandrungi oleh perempuan terutama anak-anak mudanya, saya tidak yakin dengan hal itu." Terang Banyu sembari senyum ramah kepada Bu Guru.


"Emang, orang ganteng mah begitu. Kalem boss! Hahaha..." Canda Mba Dewi yang membuat sekitarnya tertawa geli karena ucapannya.


"Tapi, ngomong-ngomong, Om Banyu gimana ceritanya bisa kenal sama Mba Ndari?" Tanya Bu Mita.


"Sebelumnya memang saya pernah melihat Andari. Sepintas lalu saja. Karena kebetulan sahabat dekatnya Andari itu kerja di kantor yang sama dengan saya." Terang Banyu.


"Lalu, saat itu Andari dan sahabatnya sedang ada acara di Cafe tersebut. Iya, gak Dek?" Tanya Banyu mengkonfirmasi kepada Andari.


"Iyup." Jawab Andari.


"Sahabatnya Andari itu namanya Dina. Dina saat itu minta jemput pacarnya. Pacarnya Dina, sahabat dekat saya. Reza namanya." Jelas Banyu.


"Ada insiden kecil. Waktu itu, Andari lagi beli minuman. Pas dia jalan ke tempat duduk salah satu pramusaji di Cafe tersebut hampir jatuh dengan membawa beberapa minuman di nampannya untuk tamu di Cafe itu."


"Beuh... Ndar... bisa bener modusnya." Ledek Mba Dewi kepada Andari yang mengundang tawa teman-temannya.


"Berarti baju Om Banyu basah semua?" Tanya Mba Tanti.


"Iya, basah. Tapi gak semua. Cuma karena waktu itu saya pakai baju warna putih. Jadi, nodanya kan terlihat jelas. Kebetulan saya bawa baju ganti, jadi saya ganti dulu." Jawab Banyu.


"Tapi, waktu itu Mba Ndari gak bantu bersihin bajunya Om?" Tanya Bu Susan.


"Bantu kok. Malahan, Ndari yang mengusulkan untuk di laundry baju saya. Tapi, saya yang menolak saat itu." Jelas Banyu.


"Lho, kenapa Om?" Tanya Mba Yuli yang baru bersuara sekarang.


"Karena saya pikir, saya tidak ingin berurusan dengan orang yang tidak saya kenal. Seegois itu saya. Hahaha..." Ujar Banyu dengan tawanya dan tawa Bu Guru.


"Tumben Mba Ndari gak langsung mencak-mencak, ngomel. Wkwkwk..." Ledek Mba Mila dengan cengiran kudanya dan mendapat pukulan dari Andari di lengannya.


"Enggak marah. Justru Andari malah kelihatan bingung. Bingung karena merasa bersalah. Tapi, orangnya gak mau dibantuin sama dia. Aneh gitu kali ya buat Andari. Hahaha..." Tawa Banyu.


"Iya, Mas Banyu waktu itu juteknyaaa..." Jawab Andari dengan candanya membuat Banyu gemas dengannya hingga mengusap-usap puncak kepala Andari.


"Terooss... banyak jomblo disini. Tolong mesra-mesraannya di kondisikan." Ujar Mba Dewi yang lagi-lagi mengundang banyak tawa teman-temannya.


"Lalu, endingnya bisa menikah dengan Mba Ndari gimana Om?" Tanya Bu Mita yang selalu bisa mengontrol Bu Guru kalau sudah keluar errornya.


"Saya dan Ndari waktu itu di jodohkan oleh Kakek kami. Jadi, Kakek kami itu sudah sahabatan lama. Mereka berjanji untuk menikahkan anak-anaknya." Jelas Banyu.


"Jika anak Kakek saya laki-laki dan anak dari Kakek Andari perempuan, maka mereka akan dijodohkan. Ataupun sebaliknya."


"Tapi... berhubung anak dari Kakek saya dan Kakek Andari keduanya laki-laki, maka perjodohan pun batal dan membuat anak-anak mereka bersahabt dekat. Tapi, justru malah perjodohan tersebut turun ke anak cucunya." Terang Banyu.


"Jadilah, saya dan Andari seperti sekarang." Ujarnya.


"Om Banyu, ini saya penasaran banget dari tadi mau tanya." Ujar Mba Yuli.


"Kalau tidak salah, Om Banyu pernah diberitakan sedang menjalin hubungan dengan seorang perempuan." Terang Mba Yuli.


"Berita itu menjadi Headline News di mana-mana. Tapi, foto si perempuannya itu tidak begitu terlihat jelas. Pertanyaannya, apakah perempuan itu Andari?" Tanya Mba Yuli.


"Iya, betul. Itu Andari." Jawab Banyu tegas dan lantang sambil Banyu memegang tangan Andari.


"Waah... wah... speechless." Ujar Mba Tanti dan Bu Susan.


"Berarti Om Banyu sama Mba Ndari sudah menikah saat itu?" Tanya Mba Lulu.


"Belum. Kami belum menikah saat itu." Jawab Banyu yang membuat mata Bu Guru membulat, karena terkejut.


"Skandal?" Tanya Mba Yuli.


"Tidak. Bukan." Jawab Banyu tegas.


"Jadi, awalnya, Ayah mertua saya itu rekan bisnis saya. Saat itu, saya belum ke Yogya. Beliau banyak cerita tentang keluarganya melalui telepon atau video call." Jelas Banyu.


"Karena ada urusan yang harus saya selesaikan saat itu di Yogya, maka saya datang ke rumah Ayah mertua saya tersebut untuk berdiskusi tentang project kami." Ujar Banyu.


"Saat itu, Andari ada. Ia sudah ada sejak pagi yang baru datang dari Jakarta. Saya pun juga sangat terkejut. Kenapa bisa perempuan itu lagi? Pikir saya." Jelas Banyu sambil tersenyum.

__ADS_1


"Singkat cerita, saya saat itu sedang ingin mencari spot foto yang menarik dan Ayah mertua saya meminta Andari untuk menemani saya ke tempat fotografi yang indah." Terang Banyu.


"Selama perjalanan ke tempat fotografi itu, Candi Ijo namanya. Saya hanya diam. Andari yang justru terlihat berusaha untuk membuat suasana tidak kaku dan canggung." Ucap Banyu.


"Justru malah saya yang cuek dan tidak peduli. Terlihatnya saat itu. Padahal saya pun bingung harus memulai pembicaraan dari mana. Jadilah saya terlihat jutek yang dibilang oleh Andari." Jelas Banyu.


"Foto itu sebenarnya saya dan Andari sedang berdiskusi cara untuk pulang. Karena mobil yang kami bawa, di bawa oleh Reza dan Dina yang harus ke tempat makan untuk memesan tempat makan." Jelas Banyu.


"Tapi, entah kenapa, foto itu justru malah terlihat saya dan Andari seperti sedang berciuman." Jelasnya.


"Iya, Om betul. Dari awal saya tau bahwa itu Andari. Tapi, saya gak langsung tanya ke Andari. Karena saya ragu, masa iya itu Andari? Masih menyangkal juga. Hahaha..." Ujar Mba Lulu.


"Iya, pasti pada penasaran ya? Pasti. Tidak hanya Bu Guru yang penasaran. Orang-orang di luar sana pun yang tidak mengenal Andari, jadi mencari tau, Andari itu siapa." Terang Banyu.


"Sejauh ini masih aman untuk Andari dan yang pasti saya selalu jaga Andari." Ujar Banyu sembari merangkul Andari.


"Duh ilee... pengantin baru. Ejieeh..." Ledek Mba Mila yang mengundang tawa semua.


"Om Banyu dan Mba Ndari ada rencana untuk mengadakan resepsi pernikahan?" Tanya Bu Mita.


"Ada, Bu Mita. Rencananya sebelum anak-anak masuk, kita udah resepsi. Gak cuti-cuti lagi gitu maksudnya." Ujar Andari.


"Cuti juga gak apa Mba Ndari. Kita senang, terutama saya Om. Mungkin Bu Guru gak tau tentang ini. Tapi, saya ini sudah seperti orangtua kedua mereka." Ujar Bu Mita.


"Jujur, ada rasa khawatir kepada guru saya yang belum berkeluarga. Seperti Mba Dewi, Mba Tanti dan Mba Mila. Usia mereka sudah terbilang tidak muda lagi. Tapi, belum bertemu dengan jodoh yang pas untuk mereka."


"Ini curcol sedikit ya Om. Hehe..." Ucap Bu Mita.


"Terkadang ada saja orangtua murid yang meragukan kemampuan guru-guru saya karena mereka masih single."


"Ada saja orangtua yang komplain tentang status guru-guru kami yang masih single, yang menurut para mereka tidak yakin bahwa guru kami bisa mengajar anak-anak mereka."


"Karena mereka belum menikah. Mereka belum mempunyai anak. Mereka tidak tau rasanya repot menjadi ibu rumah tangga plus sebagai wanita karir."


"Sebegitu pentingnya status untuk para guru kami. Tapi, apakah saya bercerita kepada mereka? Tidak. Karena saya tidak ingin mereka terbebani dengan status mereka."


"Saat saya mendengar cerita dari Mba Ndari bahwa ia sudah menikah, lepas satu kekhawatiran saya. Itu rasanya lega... sekali Om. Senangg... sekali saya mendengarnya."


"Apalagi Mba Ndari bertemu dengan seorang laki-laki yang luar biasa seperti Om Banyu. Saya sungguh senang sekalii..."


"Mungkin ini yang dirasakan oleh orangtua kalian. Mereka senang melihat anak-anak mereka bertemu dengan belahan jiwanya."


"Saya selalu bilang kepada guru-guru saya terutama yang belum menikah. Kalau mau nikah, kenalin dulu calonnya ke sekolah."


"Kenapa? Supaya mereka tau, para calon suaminya tau, pekerjaan istrinya saat di sekolah itu ngapain aja. Supaya tidak ada salah sangka yang justru menimbulkan perdebatan di keluarga mereka."


"Kenapa saya bicara seperti ini sama Om Banyu? Karena saya dan Bu Guru telah mengalami hal tersebut."


"Karena pekerjaan kami dan jadwal kami yang sungguh padat. Membuat salah satu dari kami yang sudah menikah berdebat hebat. Hingga membuat mereka yang endingnya adalah berpisah."


"Itu beban untuk saya, Om Banyu. Karena saya sebisa mungkin tidak ingin membebankan guru-guru saya dengan sebuah pekerjaan."


"Saya tau, tau sekali percekcokan dalam rumah tangga pasti ada. Saya pun seperti itu terkadang dengan suami saya. Beda pendapat, beda tujuan, tapi endingnya ada sebuah kesepakatan."


"Maka dari itu, saya mewanti-wanti sekali Bu Guru, kalau cari laki yang benar. Kalau perlu, bawa calon suaminya ke sekolah. Biar saya yang bicara, pekerjaan kami apa saja."


"Kenapa saya sampai sebegitunya dengan Bu Guru? Karena kami sudah mengenal lama sekali. Kami bekerja di tempat yang sama."


"Bekerja daei Senin - Jumat. Dari jam 7:00 - 15:00. Jika ada meeting mingguan, mungkin pulangnya bisa lebih malam dari itu."


"Lebih dari 5 tahun kami bersama, di tempat yang sama, dengan perubahan formasi, tapi kami selalu di sini. Tidak kemana-mana. Ini yang membyuat kami menjadi solid."


"Menjaga dan mempertahankan kekompakan bukan sebuah hal mudah. Om Banyu juga pasti mengetahui hal itu. Karena Om Banyu seorang pemimpin juga bukan?"


"Bukan suatu hal yang mudah untuk membuat sebuah keputusan. Tanggung jawab besar kepada anak buah. Betul ya, Om?" Tanya Bu Mita dengan senyum ramahnya.


"Iya, betul Bu Mita. Harus banyak pertimbangan dan diskusi dengan orang yang benar-benar bisa dipercaya." Ujar Banyu.


"Iya, benar Om. Pekerjaan seorang guru itu bukan hanya sekedar mengajar, nyanyi dan pulang. Tidak. Pekerjaan mereka itu banyak. Tak terhingga malah."


"Ada saja yang dikerjakan. Tapi, apakah mereka menyerah? Apakah Bu Guru mundur? Tidak. Mereka justru maju dan semakin senang mengeksplorasi."


"Jadi, sabar-sabar ya Om Banyu. Kalau semisal Mba Ndarinya nyuekin sebentar. Karena mungkin ada beberapa pekerjaan yang butuh fokus penuh."


"Iya, Bu Mita. Tidak apa-apa. Dari awal saya mau menikah dengan Andari pun, dia sudah bicara tentang pekerjaannya dan saya tidak masalah dengan pekerjaannya. Selagi Andari tidak lupa perannya sekarang yang bertambah. Menjadi seorang istri." Terang Banyu.


"Betul, betul, Om. Tetap bertanggung jawab terhadap perannya ya? Sip sip. Saya bantu ingatkan Mba Ndari kalau dia lupa. Hahaha..." Ujar Bu Mita yang mengundang tawa Bu Guru.


"Yang jomblo sekarang makin banyak Bu Mita." Ujar Mba Yuli dengan tawa terkekeh.


"Siapa yang jomblo?" Tanya Bu Mita.


"Tuh, Mba Hani." Jawab Mba Mila.


"Seriusan? Rendi?" Tanya Andari yang justru malah tidak mengetahui hal tersebut.


"Udah putus Mba Ndar. Udah sebulan ini." Jawab Hani dengan senyum senangnya.


"Kok lo malah happy banget? Hahaha..." Tanya Andari.


"Hahaha... gak tau. Gak nangis. Tapi kayak apa ya? Hati tuh berasa ploongg gitu... aneh kan?" Ujar Hani dengan cengiran kudanya.


"Ohh... berarti lo emang udah tinggal nunggu diputusin sama Rendi aja ya?" Tanya Mba Dewi.


"Iya. Udah hambar... bagai sayur kurang garam. Wkwkwk." Ujar Hani dengan tawa lepasnya.


"Bodoamat, Han..." Ucap Mila.


"Ya Tuhaann... nambah dong ya jomblonya?" Sahut Bu Mita sambil menepuk keningnya.


"Om Banyu, tolonglah, kalau ada laki yang jomblo, bisa deh itu dikenalin sama guru saya. Ntar guru saya, saya tatar jadi lemah lembut biar gak pada bar-bar lagi." Ujar Bu Mita yang membuat tawa Bu Guru dan Banyu.


Perbincangan sore itu tidak ada habisnya. Kalau mau dilanjutkan bisa sampai malam.


Mereka pulang dengan membawa makanan dan undangan resepsi pernikahan dari Andari - Banyu.


"Mas, boleh mampir sebentar ke supermarket?" Tanya Andari yang sedang berusaha memakai seatbeltnya.


"Kamu mau beli apa emang, Dek?" Tanya Banyu yang membantu memakaikan seatbelt Andari.


"Mau beli sayuran. Stocknya kan__" Belum sempat Andari menyelesaikan perkataannya, bibir Banyu sudah merapat di bibir Andari. Dikecupnya bibir mungil Andari oleh Banyu.


"Mas Banyu..." Ujar Andari sambil tersenyum dan mengelus lembut pipi Banyu.


*****

__ADS_1


__ADS_2