Andari

Andari
CHAPTER 7: KISAH ANDARI


__ADS_3

Pagi itu cerah sekali. Matahari dengan angkuh menunjukkan cahaya hamgatmua di tengah dingin yang menggigit kulit pagi ini.


Banyu mengajak anak buahnya untuk melepas penat sejenak dengan berjalan-jalan ke Merapi menggunakan mobil jeep.


Saat itu, Pandu adiknya Andari ikut serta sebagai team kesehatan yang berjaga di pos daerah gunung merapi. Reza dan Dina pun sudah siap.


Dina pagi-pagi sekali berangkat bersama Pandu. Karena mereka berdua ada di team yang berbeda tapi di kegiatan yang sama.


Andari?


Di rumah. Ia hari ini mau jalan-jalan saja.


Bu Asih sudah memberikan wejangan yang oanjang kepada Pandu dan Dina. Kalau di Merapi itu tidak boleh sembarangan bicara dan bertindak.


Setelah sarapan dan mendengarkan wejangan dari Bu Asih dan Pak Tyo, Pandu serta Dina langsung berangkat ke lokasi.


"Banyu!" Panggil Reza. Banyu yang sedang disibukkan dengan perlengkapan road to merapi nya, menoleh ke arah suara.


"Pandu, ini Banyu. Banyu, ini Pandu ketua team kesehatan di pos merapi ini." Jelas Reza.


"Banyu." Ucapnya dengan senyum dan suara gagahnya.


"Pandu, Pak Banyu." Ujar Pandu dengan senyum dan sopan.


"Lo udah tau kan, Ban? Pandu ini anaknya Pak Tyo. Partner bisnis kita." Jelas Reza.


"Iya, iya. Gue udah pernah ketemu sama Pandu di rumah waktu itu." Terang Banyu dengan ramah.


"Kirain saya Pak Banyu lupa. Hehehe..." Canda Pandu.


"Enggak lah." Jawabnya sambil tertawa renyah.


"Panggil Banyu aja. Gak usah "Pak". Gak enak didengarnya." Ujar Banyu kepada Pandu.


"Bilang aja lo menolak tua, Ban. Haha..." Ledek Reza dengan tawa puasnya.


"Sial. Hahaha..." Jawab Banyu dengan tertawa lepas. Pandu yang melihatnya pun juga ikut tertawa.


"Okay deh, Mas Banyu kalau gitu. Hehehe..." Ujar Pandu sambil bercanda.


"Boleh, boleh." Jawab Banyu senang.


"Ndu, kok Ndari gak ikut?" Tanya Reza.


"Ndari dari semalem ngurung diri di kamar. Aku dengar dia nangis sesenggukan semaleman. Tapi, gak tau kenapa." Sahut Dina dari luar ruangan yang datang menghampiri Reza dan kebetulan dengar pertanyaan Reza ke Pandu.


"Aku taunya kalau Mba Ndari mau antar Ibu sama Bapak ke rumah Mas Sakha." Terang Pandu.


"Sakha?? Ndari jadi dijodohin sama dia??" Tanya Dina yang terkejut dengan perkataan Pandu.


Banyu hanya mendengarkan percakapan mereka. Ada rasa khawatir di hatinya. Banyak pertanyaan di kepalanya tentang Andari.


"Hah??!! Di jodohin?? Hari gini main jodoh-jodohan??" Pekik Reza yang tidak percaya dengan ucapan Dina dan Pandu.


"Aku gak tau deh Mba Din, Mas Reza. Soalnya Bapak cuma bilang, Mba Ndari mau antar mereka ke rumah Mas Sakha hari ini. Soal perjodohan atau bukan, Pandu gak paham." Terang Pandu.


"Aku telepon Ndari dulu deh, ya Mas." Ujar Dina kepada Reza.


"Iya. Coba telepon. Siapa tau Ndari berubah pikiran." Ucap Reza menambahkan.


Namun, Instruktur yang mendampingi team Banyu datang untuk mengarahkan para peserta road to merapi.


Dina ikut serta saat itu karena ia salah satu karyawan di kantor Banyu. Meskipun Dina sedang mengambil cuti. Tapi, karena kebetulan ada di Yogya dengan team project di Yogya, jadi Dina diikutsertakan.


Bima, Toro, Arul dan Irfan sudah siap di mobil jeep bersama dengan Banyu. Sedangkan, Reza, Dina, Pandu dan Kinar berada di mobil jeep kedua.


Perjalanan menuju Merapi itu tidak mudah. Mereka harus melewati jalan bebatuan yang sempit, lalu tanah berlumpur, hutan-hutan, nyamuk dan serangga bertebaran di mana-mana.


Hingga mereka sampai pada sebuah pos pemberhentian mobil jeep. Turun dari mobil jeep, mereka bisa menikmati pemandangan alam di Merapi.


Dina dan Kinar berjalan-jalan di kaki bukit sambil berfoto-foto.


"Kinar itu temannya Pandu ya?" Tanya Dina.


"Iya, Mba Dina. Mba Dina temannya Mba Ndari ya?" Tanya Kinar balik.


"Iya. Sahabatan udah dari orok. Hahaha..." Canda Dina yang membuat Kinar ikut tertawa.


"Sudah berapa lama pacaran sama Pandu?" Tanya Dina santai.


"Aku bukan pacaranya Pandu, Mba. Hahaha..." Jawah Kinar.


"Lho? Masa sih? HTS-an?" Tanya Dina lagi yang membuat Kinar semakin tertawa.


"Enggak, Mba Dina. Kinar temenan aja sama Pandu. Hari ini, Kinar cuma bantu-bantu Pandu aja. Karena teamnya Pandu gak bisa ikutan. Kebetulan Kinar lagi luang, jadi ikutan deh. Gratis pula. Hahaha..." Terang Kinar.


"Oohh... gitu. Kirain pacaran. Soalnya deket banget sih. Hehehe..." Congkel, congkel aja terus Din... congkeeell 😆


"Enggak kok, Mba Dina. Kita temenan aja. Masih pada fokus sama kuliah soalnya." Terang Kinar.


"Ohh... berarti kalau udah lulus kuliah, bisa kali ya, pacaran. Hahaha..." Tawa Dina mengundang Kinar tertawa juga.


"Kinar ambil jurusan apa kuliahnya?" Tanya Dina.


"Aku ambil Psikologi, Mba Din. Kalau Mba Dina kuliahnya ambil jurusan apa?" Tanya Kinar kembali.


"Aku dulu kuliahnya di Fakultas Ekonomi. Manajemen ambilnya. Jadinya kerjanya kayak gini. Hehehe..." Terang Dina.


"Hehehe... iya, tapi bagus Mba. Sekalian jalan-jalan ya Mbae?" Tanya Kinar sambil bercanda.


"Hahaha... iya bener." Tawa Dina.


Dina dan Kinar masih asyim dengan topik perbincangan mereka. Berbincang dengan alur maju dan mundur mereka.


Sedangkan para lelaki, mereka berkeliling melihat-lihat pemandang indah sambil berbincang.


"Ndu, lo kuliah kedokteran kan ya?" Tanya Reza.

__ADS_1


"Iya, Mas Reza. Kenapa Mas?" Tanya Pandu sambil melihat-lihat tumbuhan di sekitarnya. Mencari tumbuhan obat sepertinya Pandu.


"Pandu ngambil jurusan kedokteran?" Tanya Banyu.


"Iya, Mas Banyu." Jawabnya.


"Keren." Jawab Banyu dengan acunyan ibu jarinya.


"Wuidih... dapet pengakuan dari Banyu. Berarti lo beneran keren, Ndu. Hahaha..." Canda Reza.


"Hahaha... iya ya? Lebih penting dapet pengakuan dari Mas Banyu daripada dosenku." Canda Pandu.


"Ngomong-ngomong, Mas Banyu sudah menikah?" Tanya Pandu.


"Belum." Jawab Banyu singkat.


"Banyu terlalu sayang sama pekerjaannya. Hahaha..." Ledek Reza kepada Banyu.


"Hahaha... di bully terus ya, Mas Banyu sama Mas Reza." Tawa Pandu.


"Reza tuh mulutnya gatel kalau gak bully gue sehari." Ucap Banyu dengan tawa renyahnya 😄


"Hahaha... tau aja luh, Ban. Eh, Ndu, cariin lah jodoh buat Banyu. Kali gitu dokter-dokter muda nan cantik. Wkwkwk..."


Ledek lagi Reza kepada Banyu yang mendapat sikutan dari Banyu di perut Reza. Meringis deh Reza karena sakit. Tapi gak kapok juga.


"Hmm... cewek jomblo ya? Ada sih. Tapi bukan dokter. Cantik mah cantik. Tapi galak. Hahaha..." Ujar Pandu dengan tawanya.


"Siapa deh, Ndu?" Tanya Reza.


"Mba Ndari. Hahaha..." Pecah tawa Reza dan Pandu.


Tapi, justru membuat wajah Banyu merona merah karena malu. Setiap nama Andari disebutkan, ia kembali teringat adegan ciuman kala itu. Cepat-cepat ia singkirkan bayang-bayang tersebut.


"Tapi, aku salut sama Mba Ndari." Lanjut Pandu.


"Karena?" Tanya Banyu.


"Dia itu wanita pejuang yang hebat. Sekolahnya rajin, pintar, baik, cuma ya itu. Galaknya gak nahan. Hahaha..." Terang Pandu.


"Andari itu sempat kuliah di luar negeri kan ya, Ndu?" Tanya Reza.


"Iya. Pernah. Itu yang tadi saya bilang Mas. Mba Ndari itu pejuang wanita. Selama dia sekolah, gak pernah Ibu sama Bapak itu ngeluarin uang untuk dia." Jelas Pandu.


"Karena sangking pinternya?" Tanya Banyu.


"Iya. Sangking pinternya, dia selalu juara umum di sekolahnya dan di kampusnya IPK nya cum laude. Pekerja keras juga." Ujar Pandu.


"Mba Ndari itu kuliah S1, S2 bahkan S3 nya berjuang sendiri. Hidup di luar negeri sana dia kerja paruh waktu dengan jadi tukang cuci piring di restaurant, mengajar jadi asdos, dia juga pernah kerja di cafe sebagai vokalis band."


"Hasil uang kerjanya sebagian dia tabung, sebagian buat keperluannya di luar negeri dan masih sempat kirim uang ke Bapak sama Ibu."


"Buat Pandu, gak semua perempuan bisa seperti Mba Ndari. Pokoknya Mba Ndari tuh The Best lah buat keluarga. Sekarang PR nya Pandu, sama Bapak-Ibu, cuma satu." Jelas Pandu.


"Apaan, Ndu?" Tanya Reza.


"Iya bener." Jawab Reza.


"Kadang, Pandu heran aja. Mba Ndari itu udah ok banget jadi perempuan. Tapi, kenapa laki-laki justru malah takut sama Mba Ndari ya? Apa karena dia galak kali? Hahaha..." Jelas Pandu sambil tertawa puas.


"Bukan salah Andari, Ndu. Laki-laki itu saja yang nyalinya cemen." Sahut Banyu.


"Gitu ya Mas? Soale, Mba Ndari beberap kali di kenalin sama laki-laki kenalan Bapak sama Ibu, pasti deh gagal lagi, gagal lagi. Sampai-sampai aku bilang ke Mba Ndari buat jangan galak-galak ke laki-laki. Biar gak pada mabur. Hahaha..." Terang Pandu dengan candaannya.


"Tapi, menurut gue Ndari udah banyak berubah lho Ndu. Semenjak dia ngajar. Berubah banget." Reza.


"Lebih dewasa, emosinya sudah tidak meletup-letup lagi, sudah bisa kontrol emosi, mungkin karena terbiasa ngajar anak-anak kali ya... jadi emang harus bisa kontrol emosi." Ujar Reza.


"Iya sih Mas Reza. Mba Ndari lebih santai sekarang. Karena udah tua juga kali. Hahaha... jadi lebih dewasa." Canda Pandu yang membuat Reza tertawa juga.


"Tapi Ndari jomblo kan sekarang ya?" Tanya Reza tanpa perasaan. Untung Andari gak ada. 😆


"Iya. Makanya Bapak sam Ibu sibuk ngenalin Mba Ndari ke anak temen-temennya. Aku pikir Mba Ndari semalem nangis karena Bapak Ibu mau promosiin dia ke anak-anak temen Bapak Ibu. Tapi kayaknya bukan deh. Aku juga gak tau karena apa." Jelas Pandu.


Banyu yang sibuk dengan kamera fotonya diam-diam mendengar pembicaraan Reza dan Pandu.


"Lo gak tanya emang, Ndu? Andari kenapa?" Tanya Reza.


"Enggak. Kan tadi udah buru-buru berangkat kesini." Ucap Pandu.


"Mba Ndari itu polos banget deh jadi cewek. Dia itu kan pernah pacaran ya waktu SMA. Mas Reza udah tau belum cerita Mbak Ndari yang diselingkuhin 3 kali sama mantannya dulu. Hahaha... kalau diceritain ulang masih aja kocak." Jelas Pandu dengan tawa riangnya.


*Parah dah, Mba nya di bully. 😑


"Oh, iya, iya. Dina pernah cerita sama gue. Ndari pacaran berapa lama gitu. Ternyata pacarnya selingkuhin dia sama temen-temen deketnya semua. Iya, kan?" Tanya Reza.


"Iya, iya, bener Mas. Kocak dah. Masa Mba Ndari gak ngerasa kalau pacarnya selingkuh ya? Terus kata Mba Ndari bilangnya, wajar aja laki-laki punya temen perempuan. Lha, kalau sampai selingkuh mah gak wajar Mbaa... aku ngakak banget waktu Mba Ndari cerit gitu." Ujar Pandu yang masih tertawa geli bercerita tentang Andari.


"Waktu gue tanya, kenapa mantannya selingkuh, Mba Ndari bilang, karena gak diizinin Mba Ndari buat pegangan tangan. Makin ngakak aku... Wkwkwk..." Jelas Pandu.


"Kataku, pantes dia selingkuh. Dia nyari cewek yang bisa dipegang-pegang tuh kali Mba. Aku gituin aja. Hahaha... Mba Ndari mah polos banget. Boro-boro ciuman. Pegangan tangan aja dia mah belum khatam udah umur 28 juga. Wkwkwk..." Tawa Pandu yang mengundang Reza untuk tertawa juga.


Banyu yang menjadi pendengar tersenyum diam-diam. Saat dia mengingat moment ciuman ketidaksengajaan itu mendarat di bibir Andari.


Banyu mengingat wajah Andari yang polos, imut, dan terkejut menjadi satu. Itu sungguh menggemaskan pikir Banyu.


"Terus yang sama Sakha gimana? Jadi di jodohin emang?" Tanya Reza.


"Gak tau deh. Mba Ndari gak suka kayaknya sama Mas Sakha." Jawab Pandu.


"Emang kenapa, Ndu?" Tanya Reza.


"Mba Ndari gak suka sama Mas Sakha. Karena dulu waktu Mba Ndari ke Yogya masih SMA kelas satu ya kalau gak salah." Terang Pandu.


"Mas Sakha pernah nyeburin Mba Ndari ke sungai yang cukup dalam." Lanjut Pandu.


"Hah?!! Kok bisa?!" Tanya Reza terkejut.

__ADS_1


"Iya, karena Mba Ndari saat main apa gitu. Menang terus. Jadi mungkin Sakha kesal terus di ceburin di sungai. Sampai sekarang, Mba Ndari takur banget kalau berhubungan sama air." Jelas Pandu.


"Kayaknya Mba Ndari lagi suka sama cowok deh. Tapi, aku gak tau siapa." Ucap Pandu sambil duduk di batu-batu besar.


"Dina tuh kayaknya tau, siapa orangnya." Ujar Reza ikut duduk di batuan besar.


"Kalau laki-laki itu tulus sayang sama Mba Ndari, menerima baik dan buruknya, dan gak mengekang Mba Ndari untuk tetap mengajar atau melakukan hal dia suka, aku pasti senang mempunyai kakak ipar seperti itu." Jelas Pandu.


Banyu tidak berkomentar apapun. Ia hanya terus memotret pemandangan sekitar. Tapi telinga terus mendengar.


"Ndari tuh masih suka nulis, Ndu?" Tanya Reza.


"Masih, Mas. Belum lama ini dia baru nulis article tentang anak-anak kalau gak salah." Jawab Pandu.


"Tuh, Ban. Nyari cewek tuh kayak Andari. Yang tahan banting. Kayak Dina. Eh, tapi Dina buat gue. Hehehe..." Ledek Reza kepada Banyu.


Banyu hanya tersenyum dan terus membidik bentangan awal biru di tengah merapi.


"Pandu cuma khawatir aja sama Mba Ndari." Ujarnya.


"Khawatir karena?" Tanya Reza bingung.


"Khawatie kalau Mba Ndari dimanfaatin sama laki-laki yang tidak berprikemanusiaan. Karena dulu pernah dia ketemu sama laki-laki." Jawab Pandu.


"Tapi ternyata laki-laki itu cuma mau manfaatin uang Mba Ndari. Meskipun Mba Ndari gak sempet ketipu. Tapi, tetep aja was-was. Dia terlalu baik sih, Mba Ndari itu." Jelas Pandu.


"Lo inget sama Hendra gak? Yang udah mau ngelamar Ndari? Tapi ternyata dia udah punya istri? Wah... itu parah banget." Reza.


"Tapi, Ndari gak pernah nuntut lho. Walaupun di samperin sama istrinya Hendra. Bahkan Hendranya udah balik sama istrinya aja, masih diusik terus si Ndari. Dina sampai kesel banget tuh."


"Herannya, Ndari tuh super duper meneng. Kalau kata orang Jawa. Diam aja." Terang Reza.


"Iya, benar Mas Reza. Mba Ndari itu orangnya kalau dia udah memberikan penjelasan dan bukti tapi masih disalahkan, udah langsung bodoamat. Cuek." Terang Pandu.


"Dia gak akan peduli sama orang itu. Aku waktu itu pernah lihat si Hendra itu di giring sama Polisi karena Mba Ndari ngelaporin dia sebagai pengganggu ketenangan jiwa dan raganya katanya ke Polisi. Wkwkwk... koplak dah Mba gue." Jelasnya sambil tertawa senang.


"Bener, Ndu. Hahaha... itu koplak sih. Laporan ke polisi sampai kayak gitu berarti sabarnya Ndari udah habis tuh." Tawa Reza.


"Mba Ndari tuh begitu emang, Mas Banyu. Gila. Hahaha..." Tawa Pandu dan Reza yang geli. Sedangkan Banyu hanya tersenyum mendengar cerita Pandu dan Reza tentang Andari.


"Tapi, aku masih kesel sama kejadian si penguntit itu lho Mas Reza." Ujar Pandu.


"Oh... si bule itu ya." Jawab Reza.


"Iya. Si Lucas. Kampret banget tuh orang. Gara-gara dia Mba Ndari hampir mati." Ucap Pandu yang membuat Banyu sempat berhenti dari kegiatannya mengganti lensa kamera.


"Untung lo cepet dateng waktu itu, Ndu. Kalau enggak, aduh! Gue gak kebayang deh Ndari gimana. Dina juga udah histeris banget." Ujar Pandu sambil bergidik ngeri.


"Emang kenapa?" Tanya Banyu yang penasaran.


"Lo tau Lucas Philip kan, Ban? Dulu sempat jadi partner bisnis kita dan perusahaan kita hampir ditipu sama dia." Terang Reza.


"Nah, itu dia orang. Melecehkan Ndari. Ndari waktu itu lagi mau jemput Dina karena gue lembur sama lo di kantor. Ndari nunggu Dina di ruang taman itu."


"Nah, si cunguk Lucas dateng. Bilang ke Ndari kalau Dina nyuruh dia ke ruang atap. Katanya mau curhat. Ndari dengan polosnya dateng aja dong ke ruang atap. Ternyata gak ada siapa-siapa disana."


"Untungnya Ndari sempet telepon Dina. Ndari kayaknya ngehajar habis-habisan si Lucas deh. Soalnya Lucasnya babak belur."


"Tapi, kelihat Ndari juga dilecehkan dengan bukti bajunya yang robek. Wah, kalau lo ada disitu waktu itu, lo pasti gak bakalan ngebiarin Lucas hidup. Parah pokoknya." Jelas Reza panjang lebar.


Banyu geram mendengar cerita itu. Entah kenapa, hatinya berontak ingin mengahajar habis-habisan yang namanya Lucas.


"Kok gue gak tau ceritanya?" Tanya Banyu dengan suara yang dibuat sedatar mungkin.


"Kan lo udah langsung terbang ke New York sama jet pribadi lo itu. Pas lo berangkat, pas banget kejadian." Terang Reza.


"Untungnya Dia cepat tanggap. Dia langsung panggil security, telepon Pandu yang nunggu di lobby, telepon gue juga, telepon polisi." Jelas Reza.


"Aku langsung naik tuh, Mas ke ruang atap. Gak pake lift. Pake tangga darurat. Gue dobrak aja tuh pintu. Mba Ndari lagi pegang balok, Lucas kesakitan. Kayaknya dipukul sama Mba Ndari." Ujar Pandu.


"Aku inget banget Mba Ndari berusaha berani padahal dia juga takut." Terang Pandu dengan wajah ngerinya mengingat kejadian itu.


"Tapi, Lucas katanya udah bebas ya? Gue khawatir aja. Soalnya dia juga tau wajah Dina." Ucap Reza yang membuat Banyu semakin menggertakan giginya.


"Ndari masih terapi, Ndu?" Tanya Reza.


"Terakhir kalau gak salah tahun lalu. Karena dia udah bisa kontrol emosi. Yang aku tau gitu ya, Mas. Mba Dina kayaknya lebih paham. Hehehe..." Ujarnya.


"Butuh sosok yang bisa jagain dia, Ndu." Ucap Reza.


"Iya Mas Reza. Itu yang dikhawatirkan Ibu sama Bapak. Mba Ndari itu polos banget. Mudah-mudahan tahun ini Mba Ndari menemukan jodohnya. Mba Dina bisa melangsungkan pernikahannya." Ujar polos Pandu.


"Adik yang baik. Peduli sama Mba-mbanya, ya. Hahaha..." Ucap Reza sambil menepuk-nepuk punggung Pandu.


"Iya dong... kalau laki-lakinya buat para Mbaku. menangis, aku yang maju duluan bela Mbaku. Hahaha..." Tawa Pandu yang mengundang Reza untuk tertawa juga dan membuat Banyu tersenyum.


Setelah dirasa cukup berkeliling dan berfoto-foto mereka kembali ke basecamp untuk kembali ke hotel. Sesampainya di titik awal mereka berangkat, mereka kembali ke hotel masing-masing.


"Aku capek..." Keluh Dina kepada Reza sambil bergelendot di lengan kokohnya Reza.


"Yaudah, kita langsung pulang ya..." Ujar Reza yang mengelus lembut wajah Dina dan mengecup singkat keningnya.


Saat itu Banyu mendapat telepon dari Pak Bagus. Bahwa ia harus segera pulang ke rumahnya yang di Yogya.


"Iya, Pa." Jawab Banyu dengan suara beratnya.


Reza dan Dina yang bersiap pulang menjadi diam. Kalau Banyu sudah mendapat telepon dari Pak Bagus sang Papa, biasanya agak mencekam suasananya.


"APA??!! DIJODOHKAN??!!" Pekik Banyu yang tadinya duduk sampai berdiri dan dengan wajah yang marah bukan main.


Benar kan...


Reza dan Dina saling tatap dan memejamkan mata. Mereka tau bahwa Big Bossnya kalau sudah begini, pasti akan menggila.


Akhirnya Reza dan Dina pulang duluan sebelum mendapat omelan dari sang Boss.


\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2