Andari

Andari
CHAPTER 17: RAMAI-RAMAI


__ADS_3

"Aakk!! Gilaak!! Cantik sumpah!" Ujar Dina yang sedang menemani Andari fitting her wedding dress.


"God!! You're damn beautiful, Andari!!" Sahut Banyu yang baru datang ke butik tersebut bersama dengan Reza.


"Mas Banyuu...!" Pekik Andari yang memeluk Banyu dengan manja dan dibalas dengan kecupan singkat di kening Andari.


"Uduh, uduh, manjanyaa..." Ujar Dina yang sembari memeluk Reza dan dibalas dengan pelukan dalam oleh Reza serta kecupan singkat di pipi Dina.


"Biarin, wlee... suami sendiri ini." Jawab Andari dengan candanya yang sembari menjulurkan lidahnya.


Yang justru terlihat menggemaskan oleh Banyu. Membuat Banyu mengusap-usap puncak kepala Andari.


"Eh, Ndar. Lo gak coba pakai ini? Coba deh." Ujar Dina yang menunjuk pada short wedding dress nan sexy.


"Gak mau ah, Din." Sahut Andari dengan mengerutkan kedua alisnya yang tidak nyaman melihat short dress tersebut.


"Ini cantik lho, Ndari." Ucap Dina yang meyakinkan Andari sekaligus meledeknya.


"Gak mau gueee... itu lihat, terbuka semua." Ujar Andari yang memundurkan tubuhnya dari dress tersebut.


"Coba dulu. Aku mau lihat." Sahut Banyu yang muncul dari arah belakang Andari setelah berbincang sejenak dengan Reza.


"Tapi, Mas..." Ucap Andari yang bersikap memohon manja kepada Banyu.


"Sekaliii... aja, ya." Ujar Banyu dengan memohon manja kepada sang istri.


"Hahaha... bagus, Ban." Sahut Dina dengan tawa lepasnya diikuti Reza yang tertawa melihat ekspresi kesal Andari.


"Ban, Andari itu macem kotak pandora." Ujar Dina dengan suara pelannya sambil berjalan ke arah Reza yang duduk di sofa.


"Dinaa!! Gue denger ya!!" Ucap Andari dengan kesal kepada Dina.


"Wkwkwk... open up, Ndariii... have fun, bestie... Bye."


Tawa Dina sambil menjulurkan lidahnya dan menggandeng Reza keluar dari butik. Andari meminta bantuan mereka untuk mengecek wedding party preparation.


Banyu yang melihat sikap sang istri sedang kesal justru menggemaskan untuknya. Ia mendekati Andari dan mengacak-acak rambut Andari sangking gemasnya.


Andari masuk ke ruang fitting dan berganti dengan short dress di atas lutut, dengan off shoulders yang membuat Andari semakin sexy.


"WOW!!"


Satu kata yang membuat Banyu langsung membelalakkan matanya karena melihat kecantikan sang istri.


"Ganti ya? Ya?" Ujar Andari yang bingung harus menutupi bagian atas atau bawah tubuhnya yang serba terbuka semua itu.


"Hahaha, kenapa? Kamu cantik, Andari." Ujar Banyu yang tertawa senang.


"Yakin? Aku boleh pakai wedding dress ini? Di depan banyak orang?" Tanya Andari yang berdiri tepat di hadapan Banyu dengan mendongakkan wajahnya.


"Enggak. Hahaha" Jawab Banyu sambil tertawa riang.


"Hahaha, dasar." Ucap Andari sambil mencolek ujung hidung Banyu.


"Tapi, yang ini aku foto dulu." Ucap Banyu dengan senyum sumringahnya. Andari langsung berpose dengan gaya imutnya.


Tak lama kemudian, Andari keluar lagi dengan memakai wedding dress flowy chiffon. Simple, elegan, tapi masih terkesan imut.


"Good choices." Ujar Banyu yang tak henti-hentinya memuji Andari.


"Is this good?" Tanya Andari kepada Banyu.


"As always, honey." Jawaban Banyu membuat Andari tersipu malu.


Wajah memerah Andari yang tersipu malu tersebut membuat Banyu gemas dan mengecup singkat pipi Andari.


*Okay! Let's stop it now. 😑


*Yak elah, lo thor... bilang aja baper 🤣


*😌


*****


WEDDING PARTY (BANYU & ANDARI)


Acara yang diselenggarakan di outdoor, lebih tepatnya di pantai paling cantik pemandangannya tersebut, membuat Andari dan Banyu semakin indah dipandang.


Dengan pemandangan hamparan pasir dan deburan ombak yang menjadi alunan musik pengantar kedua pengantin.


The Oberoi, Seminyak, Bali. Menjadi saksi bisu antara Banyu dan Andari. Tidak banyak dekorasi, simple, elegan tapi masih ada sentuhan imut nan cantik.


"Ini, nikahan macem gini budgetnya gede kali ya?" Ujar Tanti.


"Pertanyaannya, emang ada yang mau sama lo? Wkwkwk." Tawa lepas Dewi yang puas meledek Tanti dan mendapat pukulan di lengannya.


"Ssstt... ini sebabnya saya pindahkan Dewi sama Tanti ke kelas yang berbeda. Berisik." Ujar Bu Mita yang mengundang tawa guru-guru dan staff sekolah Bangsa Pertiwi.


Mereka diundang datang ke Bali oleh Banyu dan Andari. Mereka hanya perlu datang dan membawa perlengkapan seperti pakaian.


Soal akomodasi dan yang lainnya, tidak perlu di khawatirkan. Orang tajir mah bebas 🤣


"Itu, lihat! Andari. Cantik banget!" Ujar Mila yang berdiri melihat Andari berjalan di karpet putih terbentang dengan hamparan bunga mawar putih.


"Mana deh, Mil?" Tanya Mba Dewi.


"Oh, itu tuh. Yang lagi gandengan sama Om Banyu." Sahut Mba Lulu.


"Yaampun... cantiknya..." Ujar Tanti sambil menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan sangking terkejutnya melihat kecantikan Andari.


"Mba Ndari beda banget ya, Bu." Ucap Bu Susan kepada Bu Mita.


"Iya, ya. Mungkin karena Mba Ndari kan sehari-harinya emang gak suka pakai make up, Mba Susan. Jadi kelihatan beda banget." Jelas Bu Mita.


"Kelihatan smart nya ya, Bu." Ujar Mba Dewi kepada Bu Mita.


"Andari itu emang cerdas. Tapi, dia tidak pernah sombong dengan kecerdasannya." Ucap Bu Mita.


Andari berjalan melewati teman-teman mengajarnya dan melambaikan tangannya kepada mereka. Ia memegang satu buket bunga mawar putih kesukaannya sambil menggandeng lengan kekar Banyu.


"Mba Ndari kelihatan bahagia banget deh. Huhu... terharu..." Ujar Farah yang menghapus air matanya karena terharu.


"Itu yang duduk di kursi depan keluarnya Mba Ndari kali ya, Bu?" Tanya Mba Yuli.


"Iya sepertinya. Yang di kursi baris sebelah kanan keluarga dari Om Banyu kalau gak salah. Kalau baris kursi sebelah kiri, keluarganya Mba Ndari." Jelas Bu Mita.


"Lha, itu mereka orangtuanya, bapak sama ibunya aja ganteng dan cantik. Gak heran anaknya ganteng dan cantik juga." Ucap Mba Yuli.


"Mereka itu couple goal." Ujar Mba Sari.


"Bu, nanti habis ini kita jadi meeting?" Tanya Bu Susan.

__ADS_1


"Kita lihat situasi ya. Kalau sekiranya Mba Ndari udah capek banget kita undur aja." Jawab Bu Mita.


"Modelan Andari, mana mau nunda kerjaan. Hahaha" Jawab Mba Dewi dengan tawa lepasnya.


"Iya, betul. Tapi, kita lihat situasinya ya." Tambah Bu Mita.


Acara pernikahan yang sungguh indah. Pengantin yang sangat bahagia. Terlihat dari senyum keduanya. Ditambah dengan pemandangan yang memikat mata. Serta tamu-tamu undangan yang membuat suasana semakin meriah.


"Gak nyangka aku, Mas. Andari bertemu jodohnya dengan sangat indah."


Ujar Dina kepada Reza dan menitikkan air mata karena haru melihat sang sahabat tertawa bahagia bersama sang suami.


"Mau Tuhan seperti itu, sayang. Kita support mereka terus aja, ya." Jawab Reza sambil memeluk mesra Dina.


"Sabar ya, sayang. 2 bulan lagi. Kita pun akan seperti mereka." Tambah Reza sambil mengecup kening Dina.


"I Love You." Ucap Dina sambil tersenyum manis kepada Reza.


"I Love You more." Balas Reza dengan mengecup dalam kening Dina.


Saat itu, Banyu naik ke atas panggung kecil yang sudah di sediakan oleh team Wedding EO. Ia membawa sebuah alat musik, gitar.


Ya. Banyu menyanyikan sebuah lagu dari Brett Young - In Case You Didn't Know.


Suara berat Banyu serta alunan lagu romantis yang ia nyanyikam menambah suasana semakin romantis.


*Kasian jomblo 😅✌️


*Kayak situ gak jomblo aja 😑


Sore menjelang, keluarga dari Banyu dan Andari izin berpamitan pulang dahulu untuk kembali ke Yogya. Karena ada beberapa pekerjaan kedua orangtua mereka yang tidak bisa di tunda.


Bahkan, Banyu dan Reza pun masih harus bertemu dengan client mereka karena ada project yang harus segera di selesaikan.


Sedangkan, Andari dan teman-teman mengajarnya juga harus meeting untuk pembentukan PIC kegiatan di awal tahun ajaran baru.


Resepsi pernikahan mereka dibuat simple dan hanya beberapa orang terdekat saja yang datang. Sebenarnya bukan karena tidak ingin banyak orang yang datang.


Tapi, mereka meminimalisir banyaknya media yang meliput. Tahulah... Andari menikah dengan laki-laki yang sangat terkenal.


Namun, mereka juga tidak menutup acara pernikahan tersebut kepada media. Hanya saja, jumlahnya pasti lebih sedikit dibandingkan mereka melangsungkan pernikahan di Jakarta.


"Mas, kamu mau meeting jam berapa sama Mr. George?" Tanya Andari yang sedang menyiapkan pakaian untuk Banyu di kamar hotelnya.


"Jam 7'an, Dek." Jawab Banyu yang baru selesai mandi dan masih memakai handuk yang terlilit di bagian pinggang sampai lutut bagian bawah.


Andari sudah tidak heran lagi dengan tubuh atletis sang suami dan rerumputan yang menjalari tubuhnya. Kalau Andari hanya memakai gaun tidur yang jika dibuka gaun tidurnya, ia hanya memakai bra serta celana dalam. Mungkin seperti bikini.


"Kamu gak capek, sayang?" Tanya Banyu sambil memeluk Andari dari belakang. Back hug.


"Capek, tapi aku senang." Jawab Andari sambil mengelus lembut pipi Banyu.


"Mas, nyanyi lagi dong..." Ujar Andari dengan manja kepada Banyu.


"No way!" Ucap Banyu yang melepas pelukannya kepada Andari.


"Yah... ayo dong... ya, ya," Ucap Andari memaksa.


"No, Nope!" Jawab Banyu sambil mengacungkan jari telunjuknya kepada Andari.


"Yah, gitu. Yasudah." Jawab Andari sambil memalingkan wajahnya dari Banyu.


Tapi, justru Banyu menggendong Andari ke tempat tidur.


*Udah, udah, jangan diterusin. 😂


*Bahaya buat jomblo. 🤣✌️


*****


Gazebo Pinggir Pantai


"Uuaah... pengantin baluuu..." Ledek Hani dengan suara yang dimanja-manjakannya.


"Ejieehh... sumringah bener pengantin baru." Ujar Mba Tanti.


"Eh, udah ngapain aja?" Tanya Bu Susan.


"Tidoorr! Ngantuk! Hahaha..." Jawab Andari dengan tawa lepasnya.


"Hahaha... udah, udah. Kasian bener pengantin baru di ledekin mulu." Ucap Mba Mila.


"Udah, yuk. Mulai aja. Nanti keburu makin malam." Ajak Bu Mita.


"Jadi, malam ini agenda meeting yang paling penting sebenarnya cuma satu. Pergantian posisi guru." Ujar Bu Mita.


"Saya langsung saja ya. Untuk kelas Gatotkaca (TK B) itu ada Mba Dewi dan Mba Ndari sebagai Wali Kelas Pagi dan Siang." Ucap Bu Mita yang membuat para Bu Guru berbisik.


"Iya, ini revisi dari Pak Vino." Tambah Bu Mita yang tau dengan tatapan para guru.


"Kalau saya sudah sebutkan namanya, tolong duduknya bersebelahan dengan partnernya ya." Ujar Bu Mita.


Andari dan Mba Dewi pun segera berpindah tempat setelah nama mereka disebutkan oleh Bu Mita.


"Selanjutnya, kelas Srikandi (TK A). Mba Tanti dan Mba Sari sebagai Wali Kelas Pagi dan Siang ya. Mba Sari sudah tau kan kegiatan sehari-hari di kelas Srikandi?" Tanya Bu Mita.


"Iya, Bu Mita." Jawab Hani sopan. Meskipun terlihat dari raut wajahnya yang terkejut dengan pernyataan Bu Mita.


"Okay, good." Jawab Bu Mita santai.


Mba Dewi menyenggol lengan Andari. Menandakan pertanyaan besar. Ada apa ini??? Begitu kira-kira yang terlihat di raut wajah para guru.


"Saya lanjutkan, untuk kelas Nakula & Sadewa (Playgroup A & B). Ada Mba Mila dan Mba Hani. Sebagai Wali Kelas Nakula Mba Hani dan Wali Kelas Sadewa Mba Mila." Terang Bu Mita.


"Mba Hani juga sudah pernah mengajar di kelas Nakula & Sadewa kan ya?" Tanya Bu Mita.


"Iya, Bu Mita." Jawab Hani yang bingung karena tidak percaya bahwa ia akan menjadi wali kelas secepat ini.


"Bu, Mba Yuli, Mba Lulu dan Mba Farah bagaimana?" Tanya Andari yang memberanikan dirinya untuk berbicara.


"Mba Yuli dan Mba Lulu, silahkan. Siapa duluan yang mau bicara." Ucap Bu Mita.


"Terima kasih, Bu Mita. Teman-teman, mohon maaf sebelumnya, saya tidak bisa melanjutkan mengajar di Sekolah Bangsa Pertiwi." Ucap Mba Yuli.


"Lho, kenapa Mba Yul?" Tanya Mba Tanti.


"Suami saya dipindah tugaskan ke Surabaya Mba Tanti dan Bu Guru. Jadi, saya pun ikut pindah ke Surabaya. Saya mohon maaf... sekali." Ujar Mba Yuli.


"Yah... Mba Yul..." Ucap Andari sambil mengelus lembut tangan Mba Yuli.


"Kalau Mba Lulu kenapa?" Tanya Mila dengan mata yang sudah menitikkan air mata.

__ADS_1


"Maaf ya teman-teman, saya tidak bisa terus ikut serta berjuang dengan kalian. Kalian pasti tau kondisi kehamilan saya seperti apa." Jelas Mba Lulu.


"Ini adalah sebuah anugerah untuk saya dan suami saya yang telah dipercaya Tuhan untuk mengemban tugas sebagai orangtua." Ujar Mba Lulu.


"Saya dan suami sudah pikirkan matang-matang, yang keputusannya adalah saya harus berhenti bekerja demi kesehatan janin dan saya sendiri serta suami." Terang Mba Lulu.


"Kehamilan saya yang lemah, membuat saya harus istirahat total. Jadi, saya mohon maaf... sekali dengan sangat. Bahwa saya hanya bisa berjuang sampai disini bersama teman-teman." Tutup pembicaraan Mba Lulu dengan tetesan air mata yang enggan meninggalkannya.


"Mba Yuli harus pindah bersama suami. Mba Lulu harus istirahat total selama hamil. Kalau Mba Farah gimana? Jahat banget sih kalian." Ujar Mba Dewi.


"Sebelumnya saya minta maaf dengan teman-teman semua. Maafkan saya yang hanya bisa berjuang seumur jagung ini di Sekolah Bangsa Pertiwi." Ujar Farah.


"Saya pun harus pindah ke Negara yang berbeda setelah menikah nanti bersama dengan suami saya. Jadi, tidak memungkinkan saya untuk mengajar disini. Doakan saya ya teman-teman semoga kita semua sehat selalu dan bisa kembali bertemu. Saya sungguh, senang sekali. Maaf ya, Bu Guru." Jelas Mba Farah.


Setelah pernyataan dari ketiganya, Bu Mita mengenalkan satu orang lagi.


"Halo, Bu Guru... ayo, ayo, pelukan dan haru birunya disudahi dulu. Saya mau kenalkan satu orang lagi kepada teman-teman." Ujar Bu Mita yang datang dari arah hotel bersama dengan Pak Vino dan satu perempuan muda.


"Halo, semua." Ucap Pak Vino sang pemilik sekolah.


FYI (For Your Information)


Sekolah Bangsa Pertiwi sudah tidak bergabung dengan SD, SMP dan SMA Pertiwi lagi. Untuk TK dan Playgroup mereka berdiri sendiri. Entah bagaimana cara Pak Vino. Tapi, yang jelas sekolah itu sudah berdiri sendiri.


"Halo, Pak Vino." Jawab Bu Guru serempak.


"Bu Guru, kenalkan ini guru baru di sekolah kita. Silahkan." Ujar Bu Mita kepada guru muda tersebut.


"Halo, Bu Guru. Selamat malam." Ujarnya.


"Halo, malam." Jawab Bu Guru serempak.


"Perkenalkan, nama saya Rima." Ujarnya dengan wajah malu-malu.


"Mba Rima, usianya berapa?" Tanya Mba Dewi.


"Belum apa-apa udah nanya usia aja lo, Dew." Ujar Mba Tanti. Mereka seumuran, jadi kalau bicara selama tidak ada anak-anak pasti bar-bar gini. 😅


"Senioritas sekali andaaa... wkwkwk..." Sahut Andari yang mengundang tawa semua di gazebo tersebut.


"Bukan... kan saya cuma nanya." Ucapnya dengan santai.


"Iya, gak apa-apa Mba Dewi. Usia saya 23 tahun." Ujar Mba Rima dengan tawanya.


"Tuh, kan... masih muda." Sahut Mba Dewi.


"Iyaak... tuaa... hahaha..." Sahut lagi Mba Tanti yang sukses mendapat pukulan di lengannya oleh Mba Dewi.


"Seusia sama Mba Mila ya?" Tanya Pak Vino kepada Mba Mila.


"Saya, Pak? Bukan, Pak." Jawab Mba Mila dengan bingung.


"Yah... si Bapak mah. Yang diinget Mba Mila terus. Kita kali ini diinget." Ujar Bu Susan yang membuat satu gazebo tertawa lepas.


"Hahaha... bukan ya? Oh, Mba Ndari kayaknya ya?" Tanya Pak Vino lagi.


"Bukan, Pak. Saya 28 tahun. Mba Mila 30 tahun. Mba Dewi dan Mba Tanti 32 tahun. Bu Susan 35 tahun. Bu Mita 39 tahun. Mba Hani dan Mba Sari 25 tahun. Mba Yuli 34 tahun. Mba Lulu 33 tahun. Mba Farah 26 tahun." Jelas Andari yang membuat orang-orang di gazebo saat meeting dibuat melongo.


"Nengg... harus banget disebutin umurnya?? Ketahuan tua dong ya, kitaa... wkwkwk..." Tawa Bu Susan.


"Gilaak!! Lo hafal semua??!" Tanya Mba Dewi dengan wajah terkejutnya.


"Bukan hafal. Kebetulan ingat aja. Wkwkwk..." Tawa Andari.


"Keren nih Mba Ndari hafal semua lho." Ujar Bu Mita.


"Kalau saya inget Mba?" Tanya Pak Vino kepada Andari.


"37 tahun kalau gak salah ya, Pak?" Tanya Andari kembali kepada Pak Vino.


"Hahaha... iya, betul." Ujar Pak Vino sambil tertawa terkekeh.


"Haduh... gak selesai-selesai ini meeting. Okay, jadi Bu Guru. Sudah tau semua ya. Mba Lulu, Mba Yuli dan Mba Farah mulai tahun ajaran baru sudah tidak lagi mengajar di sekolah kita dan digantikan oleh Mba Rima." Terang Bu Mita.


"Untuk Mba Yuli dan Mba Farah semoga pindahannya semua di mudahkan dan dilancarkan. Dapat menemukan kebahagian yang berlimpah di tempat yang baru seperti saat kita bersama di sekolah ini atau mungkin jauh lebih membahagiakan." Ujar Bu Mita.


"Untuk Mba Lulu sehat terus. Gak usah pusing mikirin apa-apa. Pokoknya fokus aja sama si debay (dedek bayi) dan yang paling penting adalah. BAHAGIA. Itu kuncinya ibu hamil. Okay!" Ucap Bu Mita sambil menepuk lembut punggung Mba Lulu.


"Kalau untuk Mba Rima, tugas Mba Rima sudah saya beritahu saat kita interview kemarin ya. Sebelum kita ke Bali ini. Kalau untuk tugas di kelas, Mba Rima langsung tanya aja ke guru yang bersangkutan di kelasnya." Terang Bu Mita.


"Bu Guru... ini Mba Rima. Mba Rima ini guru perbantuan di kelas yang membutuhkan bantuan Mba Rima. Mba Rima ini koordinasi kelas perkedatangan. Ratunya prakarya. Keren-keren prakaryanya. Tanya deh sama Mba Rima." Jelas Bu Mita.


"Mba Rima, mobile ya Bu?" Tanya Mba Hani.


"Iyup. Betul Mba Sari. Biasanya kelasnya Mba Mila dan Mba Hani nih Mba Rima, yang saat tahun ajaran baru masih butuh perbantuan." Ujar Bu Mita.


"Tapi, kalau kelas Srikandi dan Gatotkaca, jarang mereka minta tolong. Kelas Srikandi mungkin masih. Tapi, kalau Gatotkaca, sepertinya jarang butuh bantuan." Jelas Bu Mita.


"Kita mah apa atuh. Cuma res-resan rempeyek. Udah mandiri. Jadi gak diperhatiin." Ujar Mba Dewi yang sukses membuat Bu Mita memukul pelan lengan Mba Dewi karena bercandaanya.


"Hahaha... gelut aja Bu. Gelut. Emang Si Dedew kan butuh orang buat gelut. Wkwkwk..." Ledek Mba Tanti dengan tawa riangnya.


Saat itu Andari mengetahui bahwa ada yang sedang jatuh cinta. Pandangannya yang tegas di satu sisi, sedangkan sisi yang lain, yang dipandangnya, justru malu-malu merona.


Mba Dewi dan Andari itu perpaduan wanita mandiri yang kuat dan tegas tapi lemah lembut. Sedangkan Mba Tanti dan Mba Sari itu perpaduan yang khas, satunya pendiam, satunya rame. Kalau Mba Mila dan Mba Hani cocok. Dua-duanya tidak terlalu dominan tapi tetap terlihat tegas dan lembut.


Setelah selesai meeting, para Bu Guru ada yang langsung ke hotel karena sudah capek dan mengantuk.


Ada yang masih berjalan-jalan sekedar hang out bareng bule katanya mah. Hahaha... jomblo mah susah dah.


Sedangkan Andari, ia pergi menghampiri Banyu yang masih terlihat meeting serius dengan client nya. Dina pun tidak bisa diganggu karena terlihat ia sibuk mencatat meeting tersebut.


Wedding party yang penuh kebahagian. Bertabur senyum dan kemeriahan tiada tara. Andari tidak pernah membayangkan hidup yang begitu sempurna.


Ia duduk di pinggir pantai sambil menunggu sang suami dan menulis di buku hariannya.


*****


Kau datang kepadaku


Tanpa ku tanya dan ku mau


Kau hadir di hidupku


Dengan senyum dan cintamu


Terima kasih Tuhan


Telah menciptakannya untukku


Dan telah menciptakan aku

__ADS_1


Untuk mencintainya


__ADS_2