
KEDIAMAN ADHINATA SINGGIH
"Romo, mbok cobo di diskusikan dulu sama Banyu." Ujar Bu Widuri kepada Romo Ndoso (Kakek).
"TIDAK!! KEPUTUSAN ROMO SUDAH BULAT!!! INI PERJANJIAN ANTARA ROMO DAN SAHABAT ROMO!! POKOKNYA BANYU HARUS MENIKAH DENGAN CUCUNYA!!" Ujar Romo Ndoso dengan tegas.
Papa Bagus mengelus lembut lengan Mama Widuri. Memintanya untuk tenang. Eyang Nini pun mengangguk menandakan Mama Widuri untuk menurut saja.
Tak lama kemudian, Banyu datang dengan Jaguar F-Pace nya. Parkir di halaman rumah Romo Ndoso.
Banyu berusaha mengontrol emosinya saat di mobil. Ia menarik nafas beberapa kali untuk menenangkan hatinya yang panas.
"Halo, Ma, Pa." Ujarnya saat masuk ke dalam rumah dan menyapa Mama dan Papanya.
"Banyu? Sudah datang Nak?" Tanya Mama Widuri.
"Sudah Ma." Jawabnya dengan senyum hambar.
"Istirahatlah dulu. Setelah itu, kita baru bicara." Ujar Papa sambil duduk di kursi kayu.
"Iya, Pa." Jawab Banyu tanpa komentar.
Banyu menyapa Romo Ndoso dan Eyang Nini. Setelah itu ia bersih-bersih, dan kembali ke ruang keluarga untuk membicarakan topik utamanya. Perjodohan!!.
"Banyu, begini. Romo Ndoso mau menjodohkan kamu dengan cucu sahabat Romo Ndoso. Bagaimana Banyu?" Tanya Papa Bagus.
"Saya boleh tau alasannya kenapa Romo Ndoso mau menjodohkan Banyu dengan cucu sahabat Romo Ndoso?" Tanya Banyu.
"Banyu, Romo Ndoso sudah berjanji dengannya. Jika anak-anak kami besar nanti, kami akan menjodohkan mereka." Jelas Romo Ndoso.
"Tapi, karena waktu itu Romo Ndoso punya anak laki-laki yaitu Papamu dan sahabat Romo Ndoso juga punya anak laki-laki, maka dari itu kami tidak bisa melaksanakan janji kita."
"Sekarang, Papamu, ada kamu Banyu dan cucu sahabat Romo Ndoso mempunyai seorang cucu perempuan. Kami sepakat untuk menjodohkan kalian." Jelas Romo Ndoso panjang kali lebar.
"Romo Ndoso sudah pernah bertemu langsung dengan cucu sahabat Romo Ndoso?" Tanya Banyu yang masih ia kontrol dirinya untuk tenang.
"Sudah. Beberap kali. Anak perempuan itu manis, cantik, ceria, pintar dan yang pasti mandiri." Terang Romo.
"Romo yakin, kamu pasti suka Banyu." Ujar Romo Ndoso.
"Kenapa Romo begitu yakin? Banyu belum lihat orangnya seperti apa." Ucap Banyu dengan suara yang agak terdengar kesal.
"Karena Romo Ndoso tidak akan menjodohkan kamu dan dia jika di bukan anak baik-baik dan bukan dari keluarga baik-baik." Terang Romo Ndoso.
"Lalu, bagaimana dengan perjodohan Banyu dan Sarah?" Tanyanya dengan melihat satu persatu keluarganya. Romo Ndoso, Eyang Nini, Papa Bagus, Mama Widuri.
"Bukankah Sarah juga cucu dari sahabat Eyang Nini? Banyu harus menikah dengan dua orang wanita sekaligus begitu?? Hanya untuk memuaskan keinginan kalian tanpa tau apa yang Banyu mau?!!" Ucap Banyu mengeluarkan semua unek-uneknya.
"Banyu..." Eyang Nini mengusap lembut tangan Banyu dan memanggil Banyu dengan suara lembut khas seorang Nenek.
"Sarah memang cucu dari sahabat Eyang Nini. Tapi, Romo Ndoso dan Eyang Nini tidak ingin mengorbankan cucu ganteng Eyang kepada seorang wanita yang belum mampu menjaga kehormatan dirinya sendiri." Jelas Eyang Nini.
"Maksud Eyang Nini?" Tanya Banyu bingung.
"Sarah hamil, Banyu." Ucap Papa Bagus yang membuat Banyu membelalak terkejut.
"APA??!!" Tanya Banyu tidak percaya.
"Kok bisa??!!" Tanya Banyu lagi.
"Iya, Banyu. Sarah hamil dengan mantan tunangannya. Ia akan segera menikah bulan depan." Terang Mama Widuri.
"Maafkan Eyang Nini ya, Le... Eyang Nini terlalu egois. Hiks... hiks..." Tangis Eyang Nini yang merasa bersalah dengan Banyu.
"Bukan, Eyang Nini yang salah. Sarah yang salah, Eyang. Sudah, jangan menangis lagi, ya." Ucap lembut Banyu kepada Eyang Nini sembari menghapus air mata Eyang Nini.
"Sudah to Harini. Ndak ada yang salah. Uwes yo. (Sudah ya Harini. Tidak ada yang salah. Sudah ya)." Ujar Romo Ndoso sambil menepuk-nepuk punggung tangan Eyang Nini. Harini itu nama Eyang Nini.
"Jadi, Banyu. Besok kita akan ke rumah sahabat Romo Ndoso. Kita datang sama-sama besok. Romo Ndoso tidak ingin mendengar alasan lain lagi." Jelas dan tegas Romo Ndoso kepada orang-orang di ruangan itu. Terutama Banyu.
Banyu hanya bisa berdiam diri memendam kekesalannya. Ia hanya tidak ingin hidupnya diatur-atur.
Saat setelah selesai semua pembicaraan tersebut, Banyu duduk di teras rumah joglo Romo Ndoso. Sang Papa pun menghampirinya.
"Mikirin apa?" Tanya Papa Bagus yang datang dari arah belakang Banyu dan duduk disampingnya.
"Eh, Papa. Gak mikirin apa-apa, Pa. Mama mana?" Tanya Banyu mencoba mengalihkan pembicaraannya Papa Bagus.
"Ada di dalam. Sama Eyang Nini." Jawab Papa Bagus.
"Kamu lagi mikirin perjodohan ya?" Tanya Papa Bagus.
"Yaa gitu lah Pa." Jawab Banyu sambil menghela nafas.
"Romo Ndoso itu memang keras kepala. Tapi, beliau tidak akan memaksakan kehendaknya kalau beliau tau hasilnya." Terang Papa Bagus.
"Maksud Papa?" Tanya Banyu yang masih memperjelas ucapan sang Papa.
"Iyaa, Romo Ndoso itu memaksa pasti dia tau hasilnya, Banyu. Coba dipikirkan lagi, waktu Eyang Nini menjodohkan kamu dengan Sarah." Terang Papa Bagus.
"Apa Romo Ndoso memaksamu? Tidak kan? Kalau sekarang dia memaksa, berarti perempuan itu memang baik untukmu Banyu." Lanjut Papa Bagus.
"Lihat saja Papamu ini. Papa dan Mama itu dijodohkan. Saat pertama kali bertemu, Papa belum mencintainya." Ujar Papa Bagus.
"Tapi, setelah mengucap janji pernikahan, Papa langsung jatuh hati kepada Mamamu. Jodoh tidak pernah ada yang tau, Raden Mas Banyu Adhinata Singgih." Jelas sang Papa.
"Jadi, Banyu. Ikuti saja arus ini. Mau seperti apa nantinya, biarkan. Yang penting kita sudah berusaha." Ucap Papa Bagus.
"Kenapa? Ada perempuan yang kamu sukai?" Tanya Papa Bagus tepat pada sasaran.
"Sepertinya, Pa." Jawab Banyu sambil tersenyum menghadap Papa Bagus.
"Cantik?" Ledek sang Papa.
__ADS_1
"Sangat Pa. Dia manis, lucu, ngomong teruss. Hahaha..." Jelas Banyu sambil tertawa lepas.
"Hahaha... namanya perempuan pasti banyak ngomong lah... sependiam apapun mereka." Sahut Papa Bagus sambil tertawa.
"Kenapa kamu menyukainya?" Tanya Papa Bagus.
"Dia beda Pa. Dari cewek-cewek yang pernah Banyu kenal. Gak ada urat malunya. Wkwkwk..." Ucap Banyu sambil tertawa lepas.
"Kamu bahagia bersamanya?" Tanya Papa Bagus.
"Sangat Pa." Jawab Banyu sambil tersenyum manis.
"Kejar dia jika itu bahagiamu. Tapi, kamu sudah tau konsekuensinya?" Tanya Papa Bagus.
"Apa Pa?" Tanya Banyu.
"Konsekuensinya kamu dicoret dari silsilah keluarga Adhinata Singgih. Kamu dicoret dari gelar Raden Mas. Tak ada harta benda yang tersisa. Kamu sanggup?" Tanya lagi Papa Bagus.
"Sanggup Pa." Jawab Banyu mantap.
"Kamu yakin? Ini sulit." Ujar Papa Bagus meyakinkan Banyu lagi.
"Iya, Pa. Banyu siap." Ucap Banyu kepada Papa Bagus dengan raut wajah yang serius.
"Baik kalau begitu. Besok kita temui dulu perempuan piliha Romo Ndoso." Ujar Papa Bagus.
"Jika memang kamu tidak mau melanjutkan perjodohan ini, kamu bilang kepada mereka semua dengan jantan. Kamu bisa, Banyu?" Tanya Papa Bagus lagi.
"Bisa, Pa. Banyu siap dengan segala resikonya."
Jawab Banyu meyakinkan dengan wajah seriusnya dan Papa Bagus menepuk-nepuk pundak Banyu memberikan semangat.
Perbincangan sang Ayah dan anak malam itupun banyak disertai dengan canda tawa riangnya. Meskipun Papa Bagus dan Banyu orang-orang super duper sibuk tapi tidak mengurangi waktu bercengkrama mereka berdua.
Mama Widuri yang diam-diam mendengar pembicaraan Papa Bagus dan Banyu tersenyum lembut. Ia merasa sudah saatnya ia melepas sang anak jejakanya.
*****
Kebiasaan baik Banyu yang perlu dicontoh. Bangun pagi, mandi, olahraga pagi.
*Kita mah thor... bangun pagi aja udah bersyukur. Ditambah lari pagi... PR banget yak? 🤣
*Mager sama ngantuk beda tipis yeee... 😂😂
Banyu lari pagi disekitar rumah Romo Ndoso. Ia merasakan udara di Yogya pagi itu.
Saat berolahraga, wajah Andari terus menerus bermunculan di pikirannya. Beberapa kali ia menepis bayangan tersebut, namun sulit sekali.
"Gue kenapa sih?! Sadarlah Banyu!!!" Batin Banyu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
*****
KEDIAMAN KELUARGA KAMANDOKO
"APA??!!! DIJODOHIN??!!" Pekik Andari dan Dina.
"Namun, karena kami mempunyai anak laki-laki, jadi perjanjian kami beralih kepada cucu-cucu kami." Jelas Mbah Kung yang sukses buat Andari terkejut.
"Mbah Kung... tapi Ndari kan belum pernah lihat orangnya seperti apa. Bagaimana Ndari tau kalau dia itu baik." Ujar Andari yang membela dirinya.
"Mbah Kung yakin. Sangat yakin dia laki-laki yang baik. Kalau laki-laki itu bukan orang yang baik, Mbah Kung tidak akan mengenalkannya kepadamu." Jelas Mbah Kung.
"Gimana caranya Mbah Kung tau bahwa laki-laki itu baik?" Tanya Andari bingung.
"Tau aja." Jawab Mbah Kung sambil berjalan lalu.
"Tyo, Asih, telepon Pak Karno." Ujar Mbah Kung dengan suara lantang dan tegasnya.
"Untuk apa, Pak?" Tanya Pak Tyo.
"Untuk tamu besok." Jawab Mbah Kung singkat.
"Ini seriusan??!!" Tanya Andari semakin terkejut dibuatnya.
"Iya. Mbah Kung serius!! Kamu mau sampai kapan sendiri seperti itu? Kamu itu sudah 28 tahun Andari!! Kamu mau mencari apa lagi?" Jelas Mbah Kung dengan nada suara yang agak tinggi.
Mbah Kung ini jarang sekali marah. Tapi, sekalinya beliau marah, sungguh menakutkan. 😖
"Tapi, Mbah Kung... Andari sama sekali belum mengenal laki-laki itu seperti apa. Ini mendadak sekali Mbah Kung..." Ucap lembut Andari kepada Mbah Kung sambil menahan egonya.
"Kamu besok akan mengenal siapa laki-laki tersebut. Tyo, sudah kamu telepon Pak Karno?" Tanya Mbah Kung.
"Sudah, Pak'e. Mau apa toh Pak'e manggil Pak Karno? Memang mau langsung dinikahkan besok?"
Pertanyaan Pak Tyo semakin membuat Andari terkejut. MENIKAH??!! Pikir Andari.
"Pak Karno itu salah seorang yang membantu jalannya sebuah pernikahan." Jelas Pak Tyo.
"Penghulu maksud Bapak?" Tanya Pandu.
"Ya, semacam itu." Jawab Pak Tyo enteng.
"Mba Ndar, udah terima aja perjodohannya. Belum tentu lo nyari laki sendiri bisa langsung dapet."
Ucapan Pandu sukses mendapat lemparan bantal kursi dari Andari. Yang dilempar bantal mah ketawa-ketiwi aja... 😆
Perbincangan malam itu yang sungguh mengejutkan untuk Andari membuatnya keluar dari rumah berkeliling disekitar rumah Mbah Kung.
Andari berdiri di tepi kolam ikan sambil duduk di bebatuan dan memandang langit penuh bintang malam itu.
"Gak dingin, toh Ndok?" Tanya Pak Tyo.
"Bapak? Belum tidur?" Tanya balik Andari.
__ADS_1
"Belum. Kamu sendiri kenapa disini sendirian? Tumben berani. Hahaha..." Ledek Pak Tyo.
"Bapak mah... seneng banget ngeledekin aku." Ujar Andari sambil bersungut.
"Kapan lagi bapak bisa ledekin anak gadis bapak yang sebentar lagi mau dilamar seorang laki-laki jantan. Hahaha..." Tawa Pak Tyo dengan senang.
"Bapak ngeledek mu nih dari tadi. Kayak bapak udah pernah lihat aja orangnya." Ucap Andari sembari menopang dagunya.
"Sudah. Bapak sudah sering melihatnya. Anaknya baik, gagah, tegas, bisa diandalkan, bertanggung jawab." Jelas Pak Tyo yang membuat Andari terkejut lagi.
"Kok bapak bisa tau sejelas itu?" Tanya Andari bingung.
"Karena bapak sudah mengenalnya." Ujar Pak Tyo.
"Ndok..." Panggil Pak Tyo dengan lembut sambil mengelus rambut Andari yang terurai panjang.
"Kamu harus ingat. Perempuan itu harus apa?" Tanya Pak Tyo kepada Andari.
"Harus menjaga kehormatan dirinya sendiri dan suaminya." Jawab Andari.
"Iya, betul. Jika perempuan mampu menjaga kehormatan dirinya sendiri, dia juga mampu menjaga kehormatan suaminya. Maka jagalah itu, Ndok." Ujar Pak Tyo.
"Suamimu bukan orang sembarangan. Jadilah perempuan yang cerdas dalam bersikap dan bertutur kata. Cintai dirimu maka kamu tau cara mencintai suamimu."
"Ungkapkan dan diskusikan apa yang ada di dalam pikiran dan hatimu. Komunikasikan dengan suamimu."
"Meskipun kamu sudah mempunyai seorang suami, tapi tidak melulu kamu mengandalkannya. Mandiri juga perlu porsi."
"Jelas Ndok?" Terang Pak Tyo panjang lebar kepada Andari.
"Iya, Pak." Jawab Andari sambil memeluk Pak Tyo.
Andari sangat dekat dengan Pak Tyo. Bu Asih dan Pak Tyo sahabat sejati dan sehatinya Andari. Mereka sudah mengetahui apa yang belum diungkapkan oleh Andari.
"Nanti kalau sudah punya suami, bapak gak dipeluk lagi deh. Hahaha..." Ledek Pak Tyo sambil tertawa puas.
"Ledek teroosss... ledek ajaaa... orangnya gak ada." Ucap Andari sambil bersungut kepada sang Bapak.
"Nanti sama suami gak boleh begini lho, ya. Ngambek-ngambekan. Sudah bukan umurmu seperti itu. Jadilah lebih dewasa." Terang Pak Tyo.
"Iyaaa... bapakkuuu" Jawab Andari sambil memeluk sang Bapak sekali lagi.
***
"Dirgaaa!!!" Sapa Romo Ndoso memanggil sahabat karibnya Dirga Djati Kamandoko.
"Cahyoo!!" Sahut Mbah Kung yang langsung menghampiri Romo Ndoso.
Pertemuan antar keluarga Adhinata Singgih dan Kamandoko pun ramai dan riuh sekali.
Namun, Banyu belum ikut serta karena ia masih ada meeting dengan salah satu investor perusahaannya. Banyu dan Reza menyusul setelah acara perbincangan yang panjang lebar ini.
"Endi putu guantengmu kui? (Mana cucu gantengmu itu?)" Tanya Mbah Kung.
"Sabar yo... dek ne ki nek wis kerjo jiaan... aku yo bingong arak tak kapakne. Hahaha... (Sabar ya... dia itu kalau sudah kerja benar-benar deh... aku juga bingung mau diapain. Hahaha...)." Ujar Romo Ndoso.
"Boss yo bene wae. Nek ora ngono koe ra iso wayangan meneh engko. Hahaha... (Boss ya biarin aja. Kalau tidak seperti itu kamu gak bisa wayangan lagi nanti)." Jawab Mbah Kung.
"Nak Ndari, ceritanya liburan ini ke Yogya?" Tanya Bu Widuri.
"Iya, Bu." Jawab Andari dengan senyum manisnya.
"Libur berapa Nak?" Tanya Bu Widuri.
"Sebenarnya dua minggu, Bu. Tapi, Andari masuk lebih awal karena harus mempersiapak bahan dan perlengkapan tahun ajaran baru untuk anak-anak." Jawab Andari dengan ramah.
"Ohh... Nak Ndari ini guru toh?" Tanya Bu Widuri.
"Iya, Bu. Benar." Jawab Andari tersenyum sopan.
"Guru opo Ndok?" Tanya lagi Bu Widuri.
"Guru kelompok bermain, Bu. Anak usia 2 - 3 tahun." Ujar Andari.
"Waah... hebat sekali kamu, Ndok. Itu paling sulit lho. Anak masih kecil-kecil gitu belajarnya gimana? Hahaha... lucu-lucu ya pasti." Ujar Bu Widuri.
"Lucuu... sekalii Bu... hehehe..." Jawab Andari sambil bercanda.
"Gemes yo, Ndok. Ndelok anak-anak cilek koyo ngono. Gueemess aku nek ndelok. Hahaha..." Tawa lepas Bu Widuri.
"Gemes-gemes lucu ya, Bu. Hahaha..." Ucap Andari dengan senyum lebarnya.
Saat mereka sedang berbincang. Dina keluar dari dapur dan meminta Andari untuk berbicara sebentar.
"Andariii!!!" Pekik Dina perlahan karena tidak ingin orang-orang diluar sana mendengar.
"Apaan sih?!" Tanya Andari bingung.
"Lihat ini!!" Ujar Dina sambil menunjukkan gambar di layar HPnya dengan judul yang membuat mata membelalak.
**HEADLINE NEWS:
SEORANG PENGUSAHA MUDA BANYU ADHINATA SINGGIH TERLIHAT SEDANG BERKENCAN DENGAN SEORANG PEREMPUAN DI YOGYAKARTA.
SIAPAKAH PEREMPUAN TERSEBUT**?
\*
__ADS_1