
Banyu dan Andari melaju dengan mobil Jaguar F-Pace nya ke jalanan menuju Candi Ijo. Menunggu sunset di Candi Ijo bersama pasangan.
Reza dan Dina pun berada di mobil BMW X5 nya. Mereka asyik bernyanyi di dalam mobil.
"Mas Banyu sudah pernah ke Candi Ijo?" Tanya Andari.
"Belum pernah. Tapi sudah pernah dengar." Jawabnya.
"Emang kenapa?" Tanya Banyu.
"Enggak apa-apa. Nanya aja." Jawab Andari dengan senyum manisnya.
"Nanti sampai sana makan ya. Kamu kan belum makan, Mas." Ujar Andari.
"Yes! Sir! Haha..." Canda Banyu.
Tak lama perjalanan mereka, sudah sampai di Candi Ijo. Candi yang mempunyai pemandangan sunset paling indah di Yogyakarta.
Andari, Banyu, Reza dan Dina sedang menikmati pemandangan sore hari di Candi Ijo. Sambil makan melihat pemandangan yang hijau. Wah... keren sih.
"Ndar, lo masak dagingnya lembut banget? Lo apain deh?" Tanya Dina yang sedang mencicipi pasta buatan Andari.
"Masak kayak biasa kita masak, Din." Jawab Andari sambil mencoba membuka tutup botol minum tapi tak kunjung terbuka.
"Oh, ya? Lembut banget ini. Biasanya kan ada kayak apa ya agak keras-kerasnya gitu tapi mateng. Tapi kenyal-kenyal gitu. Ini sih enggak. Emang, Ndari mah pinter masak dah. Hahaha..." Jelas Dina dengan tawa lepasnya.
"Enak banget emang Din?" Tanya Banyu yang membantu Andari membuka tutup botol minum.
"Apanya? Masakannya Ndari? Beuuh... top markotop pokoknya. Hahaha..." Ujar Dina sambil tertawa.
"Benar banget. Apalagi masakan ayam rica-ricanya. Enak banget ya, Yang?" Ucap Reza kepada Dina.
"Eummh!!! Iya benar. Itu enak bangetttzzz." Jawab Dina semangat sambil mengacungkan dua ibu jari tangannya.
"Apapun makanan yang dimasak sama Andari enak banget pokoknya." Lanjut Dina.
"Aturan gue ikut lomba biar jadi Koki ya? Hahaha..." Sahut Andari.
"Hahaha... iya, iya, benar." Tawa Dina.
Tidak salah Banyu memilih Andari. Sejak awal ia merasa Andari lah partner hidupnya. Sosok Andari ini lah yang ia cari.
Wanita yang tangguh, pemberani meskipun ia merasa takut, cerdas, tau tata cara beretika, mampu beradaptasi dengan siapapun dan dimanapun. Pandai memasak, cantik.
Setelah selesai makan, mereka berjalan-jalan mengelilingi Candi Ijo serta berfoto-foto. Selfie, beramai-ramai maupun berpasang-pasangan.
Sambil menunggu sunset, Banyu dan Andari duduk di bebatuan dekat dengan Candi Ijo. Menikmati pemandangan sore hari itu dan merasakan semilir angin sore di Candi Ijo.
"Andari." Panggil Banyu.
"Iya, Mas." Jawabnya.
"Mau dengar cerita tentangku?" Tanya Banyu sambil menggenggam tangan Andari.
"Mau. Apa tuh?" Tanya Andari dengan semangat dan senyum sumringahnya.
"Dulu, beberapa tahun lalu, aku punya seorang kekasih. Namanya Putri Anastasia. Putri dipanggilnya."
Jelas Banyu sambil melihat raut wajah Andari. Banyu hanya tak ingin Andari merasa diperbandingkan dengan Putri.
"Putri ini parasnya cantik. Karakternya, baik, dia adaptable, mudah bersosialisasi dengan siapapun. Senyum yang indah selalu dia tunjukkan kepadaku."
"Putri itu temanku saat kuliah di New York. Bertahun-tahun lamanya aku berteman dengannya. Hingga entah sejak kapan, kami, aku dan Putri mempunyai perasaan saling menyukai satu sama lain." Banyu pelan-pelan berceritanya sambil sesekali melihat wajah Andari.
"Dia pintar. Dia juga berani. Tidak suka dengan ketidak adilan. Dia akan maju untuk orang-orang yang membutuhkan. Itu yang aku suka darinya."
"Dulu." Lanjut Banyu yang melihat Andari tersenyum mendengar cerita Banyu.
"Akhirnya aku putuskan untuk menyatakan perasaanku padanya. Aku juga tak tau, kalau Putri akan menerimaku."
"Putri itu dari keluarga yang berada. Harta? Sangat bergelimang. Hingga pada titik, Ayah dan Ibunya divorced."
"Aku terus mendampingi Putri memberinya semangat. Bahwa dunia tidak akan runtuh hanya karena Ayah dan Ibunya bercerai."
"Aku terus mendampinginya. Hingga Mama dan Papa tau hubunganku dengan Putri. Mereka sangat menentang kami berdua. Aku dan Putri sudah berjanji untuk menikah dan hidup bersama."
"Namun, Mama dan Papa menolak dan menentang habis-habisan. Bukan karena background keluarganya. Tapi karena Putri kurang beretika. Itu minusnya."
"Aku sempat melawan Papa. Aku keluar dari perusahaan, mendirikan perusahaanku sendiri. Aku juga menentang Romo Ndoso."
"Terpecah belah lah aku dan keluargaku hanya karena aku ingin bersama Putri tapi keluargaku tidak ada yang mendukungku."
"Putri dan aku memutuskan untuk pergi dari rumah dan tinggal di luar rumah. Kami pindah ke New York bersama. Saat itu, Reza masih disana."
"Karena masih ada beberapa urusan yang haru diselesaikan saat itu. Aku dan Putri tinggal bersama."
"Mas Banyu satu rumah dengan Putri?" Tanya Andari terkejut.
"Enggak, sayang... tinggal bersama maksudnya, aku tinggal di satu daerah sama Putri. Tapi tidak satu atap."
"Oh... kirain aku tinggal satu rumah." Ujar Andari terlihat wajah leganya.
"Aku masih menghargai dan menghormati Putri. Meskipun seringkali Putri datang ke tempat tinggalku. Tapi, aku bilang, tidak enak karena ada Reza."
"Mas Banyu, juga sering main ke tempat Putri waktu di New York?" Tanya Andari.
"Sering main. Tapi hanya di teras depan rumahnya atau di taman sekitar rumahnya. Kalau masuk ke dalam rumahnya aku tidak pernah masuk kesana." Jelas Banyu dan Andari hanya "ber-oh" saja.
"Saat di New York itulah, semua berubah. Bukan menjadi lebih baik. Tapi semakin memburuk."
"Aku pikir, dengan aku dan Putri pergi meninggalkan Jakarta, kami bisa hidup lebih baik. Tapi, ternyata tidak."
"Putri mulai mengenal drugs. Aku mencoba untuk mengajaknya keluar dari drugs, alkohol, rokok, hingga pergaulan bebas."
"Aku menemukannya pernah tidur dengan seorang laki-laki dalam keadaannya yang... sedang melakukan hubungan suami-istri."
Andari menopang dagunya dan mendengarkan baik-baik cerita Banyu.
"Aku marah sekali saat itu. Padahal, hari itu aku sudah memesan satu tempat makan untuk aku dan Putri makan malam bersama. Aku ingin melamarnya hari itu. Tapi..."
"Aku terlalu egois dengan keputusanku. Membiarkan Papa dan Mama sakit hati dengan sikapku dan sifat dinginku kepada mereka hanya demi seorang perempuan tak beretika seperti Putri."
"Sampai seorang Reza, yang tidak pernah ingin tau menau soal aku dan Putri, ia jadi ikut andil. Beberapa kali Reza selalu bilang kepadaku bahwa sebaiknya aku putus saja dengan Putri."
"Namun, saat itu, aku masih dibutakan oleh cinta. Aku terlalu mencintai Putri. Pada saat itu. Aku tidak bisa mendengar pendapat apapun dari siapapun."
"Akhirnya setelah kejadian aku melihat Putri tidur bersama pria lain. Ia datang ke tempat tinggalku. Meminta maaf padaku, memintaku untuk kembali padanya."
"Tapi, aku sudah terlanjur kecewa dengannya. Aku putus dengan Putri dan aku sangat tau karakter Putri. Ia tidak akan menyerah untuk kembali padaku. Ia akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan."
"Mungkin itu yang membuatku tidak mudah percaya dengan perempuan. Itu juga salah satu alasanku bersikap dingin kepada siapapun."
__ADS_1
"Gosip tentang aku pecinta sesama jenis juga Putri yang membuatnya. Ia masih terobsesi untuk bersamaku. Stalker."
"Aku cerita seperti ini kepadamu supaya kamu tidak terkejut atau tidak dengar versi dari orang lain, Andari. Aku hanya ingin berbagi pengalaman hidupku denganmu." Jelas Banyu sambil menyingkap rambut di wajah Andari ke belakang telinganya.
"Iya, Mas Banyu. Ndari ngerti kok." Jawabnya sambil tersenyum.
"Kalau Stella? Bukannya terobsesi sama Mas juga?" Tanya Andari.
"Dia mah bukan terobsesi lagi. Udah gila jatuhnya." Jawab Banyu sambil bersungut.
"Uduh, uduh, Mas... yang baik dong bicaranya." Ujar Andari sambil mencubit gemas hidung Banyu.
Banyu hanya nyengir kuda aja dan mengacak-acsk rambut Andari.
"Makasih ya sayang..." Ucap Andari kepada Banyu.
"Untuk?"
"Untuk bercerita tentang kisah masa lalumu. Aku senang mendengarnya. Karena Mas Banyu sudah mau terbuka denganku." Ujar Andari sambil menggenggam tangan Banyu.
"Andari, janji sama Mas ya. Apapun dan bagaimanapun kejadiannya kamu harus cerita pertama kali sama Mas Banyu." Terang Banyu.
"Siap Bos!! Hehe..." Jawab Andari sambil mengacungkan ibu jarinya.
"Putri dan Stella kayaknya cuma sebagian perempuan yang ada di list hidupmu ya, Mas? Hahaha..." Ledek Andari.
"Ngeledek nih ya?" Ucap Banyu sambil mencubit gemas pipi Andari.
"Mereka sekedar kisah masa lalu. Sekarang, fokusku hanya satu." Ujar Banyu.
"Apa?" Tanya Andari.
"Masa depanku." Jawab Banyu singkat.
"Welcome to My Life, My Lovely Wife." Ucap Banyu sambil mengecup kening Andari dan Andari membalasnya dengan mencium pipi Banyu.
"Mas Banyu, nanti kalau aku sudah masuk ngajar gimana ya? Aku harus tinggal sama Mas Banyu ya?" Tanya Andari.
"Iya dong, Dik. Masa mau tinggal kepisah?" Ucap Banyu.
"Aku harus pindahan dong ya? Hhh..." Andari menghela nafas.
"Pasti Mas Banyu bantu, Dik." Jawab Banyu.
"Kebayang capeknya kayak apa." Ucap Andari.
"Nanti ada orang-orangnya Mas Banyu yang bantu. Udah gak usah dipikirin. Beres pokoknya." Ujar Banyu santai.
"Yaudah, iya." Jawab Andari pasrah.
"Jarak dari rumah Mas ke tempat kamu ngajar ternyata gak terlalu jauh ya, Dik. Pas aku cek di maps, dekat ternyata. Yah... 30 menit lah. Kalau naik mobil. Kalau naik motor lebih cepat kayaknya, ya?" Ujar Banyu.
"Emang ya, Mas? Ndari malah gak tau. Hehehe..." Jawab Andari sambil senyum pasta gigi.
"Iya. Semalem aku coba cek. Ternyata dekat. Kita mau adain resepsi kapan?" Tanya Banyu.
"Oh, iya ya. Belum resepsi. Pengennya gak usah. Tapi, gak bisa ya..." Ucap Andari dengan manjanya sambil bersandar di dada bidang Banyu.
"Sebenarnya enggak resepsi pun gak apa-apa, Dik. Tapi, Mama, Papa, Romo Ndoso, Eyang Nini, Bapak, Ibu, Mbah Kung, Mbah Uti gak mungkin setuju. Hahaha..." Canda Banyu.
"Iya, ya Mas? Kebayang sih wajahnya Mbah Kung kalau lagi marah. Seyeemm..." Ucapnya sambil memeluk Banyu.
"Hahaha... gak gitu maksudku." Tawa Andari.
"Nanti ngomong sama orang sekolah gimana ya?" Tanya Andari sambil melepaskan pelukannya kepada Banyu.
"Eh, iya. Cerita dong, Dik. Guru-guru di tempat kamu ngajar gimana? Kan pastinya aku sering ketemu kalau antar jemput kamu ngajar mungkin." Ujar Banyu.
"Hmm iya juga ya? Bu Guru ya? Bu Guru itu cuma ada 3 kata. Heboh, Heboh banget, Sangat sangat heboh banget. Hahahaha..." Tawa lepas Andari.
"Hahaha... masa gitu doang. Pasti beda-beda dong karakternya?" Tanya Banyu.
"Hmm... mulai dari siapa ya? Bu Mita kali ya. Bu Mita itu kepsek di sekolah tempat aku ngajar. Beliau itu gaul abiezz orangnya. Meskipun Ibu dengan 2 orang anak. Tapi, tetep masih kece, keren, dan bijaksana banget. Baik lah pokoknya."
"Kalau Bu Susan, admin sekolah, itu rame orangnya. Heboh, ada berita yang beda dikit di sekolah, langsung nyamber kemana-mana. Meeting gak kelar-kelar karena celetukan-celetukannya dia. Hahaha... lucu sih. Tapi, agak nyebelin kadang... tapi baik kok orangnya."
"Bu Dewi dan Bu Tanti. Mereka guru kelas Gatotkaca___" Belum sempat Andari menyelesaikan ceritanya, Banyu sudah bertanya lagi.
"Hah? Kelas Gatotkaca?? Kok unik banget namanya? Kelas apa itu, Dik? Hahaha... lucu." Tawa Banyu yang merasa unik namanya.
"Iya. Kelas Gatotkacar itu kelas TK B. Bu Gurunya, Bu Dewi sama Bu Tanti. Cocok tuh mereka berdua. Bu Dewi itu tegas banget, disiplin juga. Kalau Bu Tanti kalem, tapi akan sangat tegas jika memang dia harus tegas."
"Di kelas Srikandi (TK A) itu Bu Gurunya Bu Lulu dan Bu Yuli. Bu Lulu orangnya tegas juga. Tapi, masih bisa goyah dikit. Masih bisa dikulik-kulik lah kalau Bu Lulu. Kalau Bu Yuli itu lucu. Sabaarrr... banget sama anak-anak. Jarang marah. Marah itu kalau anak-anaknya udah keterlaluan. Pasti marah. Tapi marahnya gak yang berteriak-teriak gitu ya, Mas. Lebih ke marah yang elegan. Hehehe..."
"Kelas paling bungsu. Kelasku. Aku sama Mba Mila. Mba Mila ini partner ngajar aku. Bedanya dia wali kelas Nakula (Playgroup B) dan aku di kelas Sadewa (Playgroup A). Mba Mila ini jago gambar, suaranya bagus banget kalau nyanyi, pinter main musik juga. Pas lah sama aku. Yang koplak ini. Hehehe..."
Jelas Andari tentang guru-guru di sekolahnya.
"Ada juga guru tambahannya, seperti Bu Hani, Bu Farah, dan Bu Sari. Mereka masih baru. Bu Hani baru 1 tahun ajaran. Kalau Bu Farah dan Bu Sari udah 2 tahun kalau gak salah tapi mereka beda bulan." Terang Andari.
"Terus mereka ngajar juga? Bu Guru yang baru itu?" Tanya Banyu.
"Iya. Mereka itu asisstant guru. Kalau Bu Hani ada di kelasku. Bu Farah di kelas Gatotkaca (TK B). Sedangkan Bu Sari di kelas Srikandi (TK A)."
"Masing-masing kelas jumlah anaknya beda-beda, Dik?" Tanya Banyu.
"Beda Mas. Kalau di kelas TK B itu ada sekitar 15 anak. TK A 14 anak. Playgroup B 12 anak. Playgroup A 10. Itu kelas pagi aja. Kelas siangnya sama jumlahnya. Jadi ya, kalau di total dalam 1 kelas pagi dan siang kelas TK B ada 30 anak. TK A 28 anak. Playgroup B 24 anak. Playgroup A 20 anak. Lumayan... hehehe..." Jelas Andari panjang lebar.
"Aku gak kebayang pusingnya kayak gimana itu." Ujar Banyu yang memegang keningnya.
"Itu kisaran usianya berapa, Dik?" Tanya Banyu lagi.
"Kalau TK B itu 5-6 tahun. TK A 4-5 tahun. Playgroup B 3-4 tahun. Playgroup A 2-3 tahun." Jelas Andari.
"Anak umur 2 tahun udah sekolah???" Tanya Banyu terkejut.
"Lho, Mas. Itu penting lho. Anak usia dini itu sosialisasinya yang paling penting. Kenal lingkungan selain Ayah dan Ibunya. Kenal teman-temannya, bu gurunya, lingkungan sekolah tidak hanya bu guru, tapi banyak. Ada helper, security, ada OB juga. Itu mereka kenal, lho..." Terang Andari.
"Oh, ya?? Seriusan??" Tanya Banyu terkejut.
"Hahaha... Mas Banyu kok kaget gitu sih. Iya, Mas... anak-anak usia 2 tahun itu punya memori yang sangat bagus. Dengan menyapa setiap harinya, anak-anak jadi tau dan kenal siapa saja yang ada di lingkungan sekolahnya." Ujar Andari.
"Ohh... gitu. Terus kalau sekolah emang gak ada yang nangis-nangis gitu, Dek?" Tanya Banyu.
"Uuhhh... nangis mah gak usah ditanya. Hahaha..." Tawa Andari.
"Kenapa? Banyak ya? Hehehe..." Ucap Banyu dengan tawa.
"Nangis sampai jedotin kepalanya ke lantai atau ke tembok bahkan ke cermin aja tuh ada Mas. Gak usah sedih... Hahaha..." Jelas Andari sambil tertawa senang.
"Serius?? Ada yang sampai begitu, Dek? Masa iya jedotin kepala ke lantai? Emang di kelas ada cermin juga? Buat apa?" Tanya Banyu.
__ADS_1
"Mas... yang nangis sambil makan terus ketiduran juga ada. Hahaha... lucu-lucu deh Mas. Seru pokoknya kalau di kelas aku mah."
"Ada cermin di kelas. Ukurannya besar banget." Fungsinya, kalau ada anak yang main di belakang kita, kita masih bisa ngawasinnya lewat cermin."
"Pecah? Pasti akan pecah kalau kita gak arahin anaknya. Dikasih tau anaknya. Itu namanya cermin, harus hati-hati, kalau tidak hati-hati nanti terluka. Gitu aja, anak-anak ngerti kok." Jelas Andari.
"Aku dengarnya kok kayaknya pusing banget ya? Hahaha..." Tawa Banyu sambil menggelengkan kepala.
"Aku main boleh ke sekolah kamu?" Tanya Banyu.
"Boleh dong. Ajak sepupu Mas Banyu. Yang masih kecil. Siapa ya? Ada gak Mas?" Tanya Andari.
"Paling anaknya Mba Mirna sama Om Heru. Itu masih kecil tapi. Umur berapa ya? 2 tahun kayaknya belum ada deh." Jelas Banyu.
"Gak apa-apa. Ajak aja. Main-main ke sekolah. Seru deh. Aku sih udah kebayang, tahun ajaran baru, anak-anak baru di kelas. Akan ada paduan suara. Hahaha..." Tawa Andari membayangkannya.
"Ohh... nangis bareng gitu ya? Hahaha..." Ujar Banyu.
"Iya... biasanya kalau udah satu nangis, merembet ke sebelahnya dan sebelahnya lalu semuanya... Hahaha." Ucap Andari.
"Hebat kamu, Dek." Banyu.
"Hebat? Kenapa?" Tanya Andari.
"Mampu mengajar anak dengan berbagai macam karakter." Ucap Banyu sambil mengelus lembut rambut Andari.
"Itu belum seberapa Mas. Akan menjadi tantangan bagi seorang tenaga pengajar. Jika salah seorang muridnya itu ada yg ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) atau Special Needs. Atau mungkin ada yang autis. Itu tantangan buat gurunya." Jelas Andari.
"Kamu pernah mendapat murid yang seperti itu?" Tanya Banyu.
"Bukan pernah lagi Mas. Tapi sering malah. Di kelas aku yang sekarang, ada anak yang autis, speech delay, dan special needs. Bagusnya... orangtuanya kooperatif."
"Yang sulit itu bukan anaknya. Tapi orangtuanya yang diajak untuk kooperatif tidak mudah. Ada yang denial juga. Hhh..."
"Kalau ada orangtua kayak gitu, kamu ajak ketemu orangtuanya?" Tanya Banyu.
"Iya. Awalnya ngobrol dulu sama aku, sama aku masih belum mau terbuka, dipanggil sama kepsek, sama kepsek masih belum bisa, ketemu sama psikolog anak dari sekolahku. Kalau semua cara gak bisa, balik lagi ke guru yang harus kerja keras ajak anak itu bisa komunikasi dengan baik." Terang Andari.
"Ada orangtua seperti itu?" Tanya Banyu dengan mengerutkan kedua alisnya.
"Ada aja Mas. Yah, begitulah. Kehidupan sehari-hari di sekolah." Ujar Andari.
"Lebih rumit dari orang kantoran ya?" Ucapnya.
"Yup! Sepertinya ya... hehehe. Kadang, ada yang bilang, jadi guru itu gampang, ngajar-ngajar aja. Terus langsung pulang. Ada aja yang bilang begitu. Hahaha..."
"Tapi, mereka kan gak tau apa yang kita alami selama ini. Dalam-dalamnya seperti apa. Merek cuma lihat luarnya aja. Itu kenapa ada Hari Guru. Buat orang-orang yang bicaranya mudah sekali, sesekali perlu tau sulitnya dimana menjadi tenaga pendidik itu. Bebannya akhirat Mas." Jelas panjang lebar Andari.
"Tapi, aku senang. Aku bahagia kalau udah ketemu anak-anak. Banyak kejutannya. They're so amazing for me. Hahaha..." Lanjut Andari.
"Kamu bahagia dengan profesimu, Dek?" Tanya Banyu.
"Sangat bahagia. Sama seperti aku menjadi istrimu. Kebahagiaanku bertambah." Jawab Andari tersenyum bahagia.
"Itu sebabnya, aku dari awal bilang sama kamu kan Mas? Aku tidak bisa meninggalkan profesiku sebagai tenaga pendidik." Ujar Andari.
"Apakah kamu masih bisa menerima itu? Itu adalah hal pertama kali yang selalu aku tanyakan kepada laki-laki yang ingin serius denganku. Duluu..." Jelas Andari.
"Meskipun kelihatannya aku cuma sekedar ngajar. Tapi, kalau kamu lihat apa yang dikerjakan sebagai tenaga pengajar itu tidak mudah lho... makanya kadang, aku suka pulang sampai malam."
"Tapi, pulang malamnya gak setiap hari. Ada kegiatan-kegiatan tertentu aja. Seperti awal tahun ajaran baru."
"Banyak yang harus disiapkan. Seperti membuat rancangan pembelajaran selama satu tahun penuh. Bikin absen kelas. Bikin prakarya, banyak banget deh."
"Kalau acara memperingati Hari Kemerdekaan, itu juga pulangnya sore biasanya. Open House, Kartini, Pensi. Kegiatan-kegiatan itu yang buat guru pulang malam."
"Makanya setiap kenal sama laki-laki, duluuu, aku tanya pertama kali hal itu. Menerima profesiku apa tidak? Kalu dia merasa keberatan, aku tidak bisa teruskan." Jelas Andari.
"Belum open minded mungkin mereka." Ujar Banyu sambil tersenyum senang.
"Gak paham. Mungkin..." Jawab Andari bersandar di dada bidangnya Banyu.
"Aku jadi ingat omongan Ibu sama Bapak." Ujar Banyu.
"Ibu sama Bapak bilang apa Mas?" Tanya Andari yang bangun dari sandarannya.
"Ibu sama Bapak pernah cerita kalau Andari itu senang sekali dengan profesinya sebagai guru. Sampai kadang dia lupa bahwa ia perlu untuk mencari pasangan hidup." Terang Banyu.
"Ibu sama Bapak juga minta izin sama aku. Supaya aku tetap mengizinkan kamu mengajar." Ucapan Banyu membuat mata Andari panas dan turunlah bulir-bulir air mata.
"Aku bilang ke Bapak sama Ibu. Bahwa mereka tidak perlu khawatir akan hal itu. Aku tidak bisa menjanjikan mereka untuk membahagiakan kamu." Jelas Banyu.
"Tapi, yang bisa aku janjikan, bahwa aku tidak akan menjadi penghalang kebahagianmu. Jika bahagiamu adalah mengajar anak-anak tersebut." Lanjutnya.
"Maka, aku sebagai suamimu, hanya bisa mendukungmu dan menyemangatimu. Apa yang menjadi kebahagiaanmu, aku selalu dukung, sayang..."
"Selama itu baik untukmu dan untuk orang-orang yang kamu sayangi, Mas terus dukung kamu. Semangat!!!" Ujarnya yang semakin membuat Andari terharu.
"Mas Banyu gak malu dengan teman-teman Mas? Bahwa profesi istrimu hanya sebagai seorang guru?" Tanya Andari.
"Dek, kamu tau gak? Profesi ku sekarang, sebagai seorang businessman, itu karena ada guru lho. Kalau tidak ada mereka, aku gak tau apa yang harus aku lakukan." Terang Banyu.
"Jadi... mau apapun profesimu, tidak menjadi persoalan untukku. Jangan pikirkan omongan orang. Yang penting buatlah dirimu bahagia. Kalau dirimu bahagia, kamu tau caranya membahagiakan orang-orang terkasihmu." Jelas Banyu.
"I Love You..." Ucap Andari pelan dengan senyum lesung pipinya yang manis.
Banyu menarik Andari ke dalam pelukan hangatnya. Sunset di Candi Ijo tersebut menjadi saksi bisu kebahagiaan pasangan suami istri itu.
\\*
Kuncinya:
Bahagiakan dirimu sendiri dulu
Baru kamu tau cara membahagiakan orang lain
Bahagia ada karena kamu yang ciptakan
Bukan dicari.
😉👍
\\*
__ADS_1