
Pagi itu, aktivitas Andari sebagai seorang istri sudah dimulai. Ia bangun lebih awal untuk menyiapkan pakaian untuk sang suami, Banyu.
Menyiapkan sarapan yang ia beli bahan-bahannya semalam. Menyiapkan bekal juga untuk jalan-jalan bersama sang suami dan sahabatnya, Dina.
Andari menyiapkan outfit sang suami seperti, black T-shirt, celana jeans panjang dan sport shoes nya. Sedangkan Andari memakai black T-shirt, dark green cardigan dan sports shoes.
Andari sudah mengepak beberapa barang Banyu untuk menginap di rumah Pak Tyo dan Bu Asih. Karena Banyu juga ada pekerjaan yang harus ia selesaikan dengan Pak Tyo.
Andari sengaja belum membangunkan Banyu. Karena masih banyak hal yang harus ia kerjakan. Andari mengemas barang-barangnya juga karena ia harus segera kembali ke Jakarta untuk mengajar.
Namun, saat ini ia hanya ingin menikmati liburannya bersama dengan orang terkasih. Bapak, Ibu, suaminya dan sahabatnya.
Andari memasukkan bekal-bekalnya di dalam tas bekal yang sudah ia siapkan sejak malam. Itupun Andari membujuk Banyu untuk mampir sebentar ke supermarket untuk berbelanja.
Inilah hari pertama Andari sebagai seorang istri. Sibuk sih... tapi Andari suka. Setelah dirasa sudah rapi semua, Andari membangunkan Banyu.
"Mas... ayo bangun. Sudah siang." Ucap Andari kepada Banyu yang masih tertidur pulas.
"Mas Banyu..." Panggilnya sekali lagi. Kali ini pakai morning kissnya. Di kecupnya pipi sang suami. Barulah Banyu terlihat menggeliat bangun.
"Ayo, Mas..." Andari membangunkam Banyu sekali lagi.
"Bangun, terus sarapan dulu." Ujar Andari yang memegang punggung Banyu untuk membantunya bangun.
"Aku tunggu di meja dapur ya." Ucap Andari yang meninggalkan Banyu yang masih sibuk mengumpulkan jiwanya setelah bangun tidur.
Andari menyiapkan semangkuk sereal dan susu hangat untuk Banyu dan untuknya. Tadinya Andari mau buat salad. Tapi waktunya gak cukup. Jadi ya... apa adanya ya...
"Woaahh..." Ucap Banyu yang melihat sarapan sudah ada di depan matanya.
"Ayo, sarapan dulu. Maaf ya, aku gak sempet masak tadi. Jadi apa adanya ya Mas..." Ujar Andari yang sedang berdiri mengambil sendok untuk Banyu.
"Ini buat aku udah mewah banget." Ucap Banyu yang masih tidak percaya dengan sarapan yang dilihatnya.
"Mas, hari ini jadi menginap di rumah Bapak sama Ibu kan ya? Aku udah packing baju-baju aku sama kamu." Ujar Andari yang sibuk merapikan bekalnya.
Banyu berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Andari yang sibuk menyiapkan bekal untuk mereka.
Banyu menyuapi Andari dengan sesendok sereal. Andari secara otomatis memasukkan sereal tersebur ke mulutnya.
"Kamu yang ngerjain ini semua?" Tanya Banyu tidak percaya.
"Iya."
"Bangun jam berapa kamu tadi?" Tanya Banyu lagi.
__ADS_1
"Jam 5." Jawab Andari yang menaruh sendok dan garpu setelah mencucinya. Banyu menyuapi Andari lagi serealnya.
"Kamu bikin bekal juga?" Tanya Banyu yang terkejut melihat tas bekal sudah penuh dengan kotak makan.
"Iya. Tapi apa adanya ya... hehehe... soalnya semalem aku beli makanan yang simple-simple aja." Ujar Andari.
"Dan kamu masak?" Tanya Banyu yang masih tidak percaya.
"Iya. Masak. Kenapa Mas? Kurang terpercaya ya kalau aku bisa masak? Hahaha..." Jawab Andari dengan tawa lepasnya.
"Sudah sarapannya?" Tanya Andari kepada Banyu.
"Hm'emh." Jawab Banyu sambio mencuci bekas makannya.
"Aku aja yang cuci piringnya Mas gak apa." Ucap Andari sambil berdiri disamping Banyu.
"Kamu udah bangun pagi, siapin baju-baju aku, siapin bekal, siapin sarapan, sekarang masa cuci piring aja aku gak mau. Kan gak wajar namanya." Jelas Banyu.
"Kamu itu istriku. Bukan asistant rumah tangga." Ujar Banyu.
"Tapi kan memang itulah pekerjaan seorang istri Mas..." Jawab Andari lembut.
"Iya, aku tau. Tapi itu dulu. Zaman entah kapan. Sekarang beda, Andari... emansipasi wanita." Ucap Banyu.
"Wanita memang mempunyai pekerjaan yang tidak bisa diganggu gugat. Dapur, kasur dan sumur. Itu sudah pasti." Banyu.
"Jangan hanya ikut andil dalam pekerjaan di kasur. Tapi di dapur dan sumur pun mereka juga harus tau. Sesekali seorang suami itu perlu tau, pekerjaan seorang istri itu tidak mudah. Begitupun sebaliknya." Banyu menjelaskan.
"Seorang istri juga harus mengetahui porsinya sebagai perempuan. Ia perlu tau juga apa yang dikerjakan seorang suami. Bahwa pekerjaan di luar rumah itu sangar sulit dan tidak mudah." Jelas Banyu.
"Jadi... kita... suami-istri ini... harus saling bantu. Gotong royong, saling menghargai dan menghormati pendapat masing-masing, harus saling mengerti profesi pekerjaan mereka masing-masing." Terang Banyu.
"Kamu boleh menyiapkan ini semua. Karena sebenarnya perempuan memang harus seperti itu. Tapi, jika dirasa kamu sudah lelah, istirahatlah. Kamu boleh minta tolong sama aku, sayang..." Ucap Banyu dengan lembut sambil mengelus lembut rambut Andari.
"Aku pikir, Mas Banyu gak sayang sama aku." Ujar Andari yang mulai sudah mengalir air matanya.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu?" Tanya Banyu bingung.
"Karena sifat dan sikap Mas Banyu yang___" Belum sempat Andari melanjutkannya Banyu sudah menyambarnya.
"Yang dingin ke kamu?" Tanya Banyu.
"Andari, dengar aku. Lihat aku." Ujar Banyu yang memegang dan mengangkat dagu Andari untuk melihatnya.
"Kamu tau, Tuhan itu baik. Buktinya, dia kirim kamu buat aku. Untuk apa? Untuk aku jaga. Itu tugas utamaku, Andari. Aku tidak akan menikahimu jika aku tidak mencintaimu." Terang Banyu.
__ADS_1
"Kamu, tidak perlu meragukan perasaanku kepadamu lagi. Karena rasa itu, hati ini, sudah kamu kunci dengan cintamu kepadaku. Akupun begitu." Jelas Banyu.
"Sekarang, aku tanya ke kamu. Kamu mencintaiku?" Tanya Banyu kepada Andari.
"Iyaa... hiks..." Jawabnya yang masih dengan sesenggukannya karena menangis.
"Aku mencintaimu Andari. Apapun kamu." Ucap Banyu dan ia mengecup kening Andari.
"Aku pikir, aku perlu melakukan semua ini untuk meluluhkan hati kamu. Hiks, hiks," Ujarnya masih dengan derai air mata.
"Aku takut, kamu gak suka dengan apa yang sudah aku lakukan. Aku berusaha untuk melakukan apapun agar kamu menyukaiku. Maka kulakukan ini semua." Terang Andari.
"Andari, kamu tidak perlu berusah keras meluluhkan hatiku. Tidak perlu kamu luluhkan, hatiku sudah luluh lantah Andari." Banyu.
"Kamu sudah berhasil merubuhkan tembok dingin hatiku. Kamu hangatkan dengan senyum manismu. Itu sudah hampir membuat jantungku meledak." Jelas Banyu.
Andari memeluk Banyu erat dan dibalas kecupan bertubi-tubi di pipi Andari dari Banyu.
"I Love You." Ucap Andari berjinjit dan berbisik di telinga Banyu.
"I more love you than you, sayang." Jawab Banyu yang mengecup bibir merekahnya sang istri.
"Dek." Panggil Banyu kepada Andari.
"Mm?" Jawab Andari.
"Maaf ya, semalam aku langsung tidur. Ngantuk berat dan capai banget. Jadi, kita belum sempat, em..." Perkataannya terhenti, karena ia agak malu dan ragu untuk membahasnya.
"Belum sempat malam pertama maksud Mas Banyu?" Tanya Andari dengan vulgarnya.
"Em... iya. Itu maksudnya." Jawab Banyu malu-malu sambil garuk-garuk kepala.
"Aku, ikut Mas aja." Jawabnya sambil mengecup pipi Banyu.
"Kalau adek mau dan sudah siap, bilang ya... biar aku tau. Jangan pake kode-kodean deh. Aku gak paham. Bilang langsung aja. Ya?" Terang Banyu.
"Iya, Masku... sayang..." Jawab Andari dengan senyum sumringahnya.
"Yaudah, sekarang, Mas Banyu mandi, bersih-bersih. Aku juga mau beberes ini dulu. Setelah Mas Banyu mandi, aku mandi." Jelas Andari.
"Okay!! Let's Go!!" Ujarnya sambil berlari kecil dan mengambil handuk untuk mandi.
"Dek! Mau mandi bareng gak?" Tanyanya kepada Andari.
"Mas Banyuuu! Udah mandi sana cepet!" Andari dengan wajah kesalnya.
__ADS_1
"Hahaha..." Tawa lepas Banyu.
\*\*\*