Andari

Andari
CHAPTER 9: HEADLINE NEWS


__ADS_3

**HEADLINE NEWS:


SEORANG PENGUSAHA MUDA BANYU ADHINATA SINGGIH TERLIHAT SEDANG BERKENCAN DENGAN SEORANG PEREMPUAN DI YOGYAKARTA.


SIAPAKAH PEREMPUAN TERSEBUT**??


 


***


 


"Ndari!" Panggil Dina kepada Andari yang sedang berbincang dengan Bu Widuri.


"Apaan sih?!" Tanya Andari.


"Heh! Maksud lo apa ini??" Ucap Dina lirih. Sembari menunjukkan foto Andari dan Banyu masuk dalam berita utama.


"YA TUHAN !! APA INI ??!!" Pekik Andari sambil menutup mulutnya dengan satu tangannya. Sangking tidak percayanya ia dengan foto yang beredar luas itu.


"Ndar! Ini apa? Gue tanya sama lo!" Ucap Dina lagi tegas namun, lirih.


"Dinaaa..." Ujar Andari lirih sudah dengan air mata di pelupuk matanya.


"Ini apa Andari??" Tanya Dina sekali lagi.


"Ini gak seperti yang diberitakan. Gue cuma lagi jalan ke candi waktu itu." Jelas Andari sudah dengan suara bergetar karena menahan tangis.


"Din... gue harus apa? Hiks... hiks..." Ujar Andari sambil memeluk Dina.


"Ndari, ini sudah tersebar luas. Yang paling penting sekarang, lo harus jaga diri lo kalau keluar nanti." Usul Dina.


"Apa kata Bapak sama Ibu nanti, Din... hiks... hiks..." Andari masih menangis sambil memeluk Dina dan diusap-usap kepala Andari oleh Dina.


"Selamat siang." Sapanya dengan semua keluarga yang sudah hadir menunggu acara.


Saat Banyu dan Reza datang, semua mata tertuju padanya. Senang sekali Romo Ndoso melihat sang cucu datang.


Dina yang berada di belakang ruang tamu terkejut bukan main melihat Banyu dan sang tunangan datang ke tempatnya.


Meskipun Dina adalah karyawatinya Banyu. Tapi, Dina tidak pernah tau menau tentang keluarga Banyu. Ayah dan Ibunya seperi apa juga Dina belum tau.


Hingga saat ini, Dina baru menyadari bahwa sahabat lama Mbah Kung yang mempunyai seorang cucu tampan yang akan dijodohkan dengan Andari adalah Banyu Adhinata Singgih.


Senyum merekah dari bibir Dina karena pikirnya Andari akan senang dengan berita ini. Ia segera menghampiri Andari yang sibuk berkutat di dapur.


"Ndar!" Panggil Dina semangat.


"Apaan?" Tanya Andari sambil menyiapkan cemilan untuk tamunya.


"Lo tau gak? Calon suami lo siapa?" Tanya Dina dengan mata berbinar.


"Enggak lah. Kan dari kemaren gue udah cerita. Kalau gue sama sekali gak kenal sama calon suami gue." Jelas Andari sambil menata piring di nampan.


"Pokoknya, lo pasti senang betul deh." Ujar Dina sambil mengedipkan satu mata dan menunjukkan satu ibu jarinya dengan isyarat "Okay" 👍😉


Saat Banyu sedang berbincang dengan Romo Ndoso dan Mbah Kung Andari, Reza datang dengan wajah cemas. Ia menghampiri Banyu dan berbisik.


"Ban! Lihat headline news, SEKARANG!" Ujar Reza kepada Banyu.


Banyu yang sedang seru bercerita ia langsung membuka HPnya. Ia melihat berita utama hari itu. Betapa terkejutnya Banyu ketika melihat headline news tersebut.


Foto Banyu dan Andari yang sedang berhadap-hadapan dengan posisi tubuh Banyu agak menunduk karena Banyu lebih tinggi dari Andari.


Posisi yang membuat orang akan salah paham. Karena posisi berdiri Banyu seperti sedang mencium Andari.


Padahal, jika dari dekat Banyu hanya setengah menunduk mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Andari untuk berdiskusi.


Saat itu, salah satu ajudan Romo Ndoso menghampirinya dan terlihat raut wajah Romo Ndoso yang terkejut dan marah bukan main.


"BANYU!! Jelaskan pada Romo Ndoso!! APA INI??!!" Ucap Romo Ndoso dengan sangat emosi sambil menunjukkan foto Banyu dan seorang perempuan.


Perempuan itu adalah Andari. Hanya saja wajah Andari tidak terlalu kelihatan karena sudah menjelang terbenam matahari. Jadi, Romo Ndoso pun tidak begitu mengenalinya.


Andari dan Dina masih berada di belakang ruang tamu. Mereka mendengarkan percakapan mereka dari ruang tengah.


Saat Romo Ndoso menunjukka foto Banyu dan seorang perempuan, Mbah Kung melihatnya. Wajah Mbah Kung merah padam.


Andari yang melihatnya langsung mengkerut ketakutan. Ia menggandeng tangan Dina.


"Andari!" Panggil Mbah Akung kepada Andari.


Andari berjalan lemas dan takut. Pikirnya Mbah Kung sangat marah padanya. Andari menghampiri Mbah Kungnya dan duduk di sofa bersama dengan Banyu.


"Jelaskan pada Mbah Kung. Foto apa ini?" Tanya Mbah Akung dengan nada suara yang cukup bikin hati ketar-ketir ketakutan.


"Ndarii... Ibu tau ini kamu, Nak..." Ujar Bu Asih dengan wajah yang tak bisa diprediksi oleh Andari.


Andari tidak sanggup berkata-kata. Ia meremas rok pendek batiknya karena tegang. Banyu melihatnya, ia akhirnya buka suara.


"Semuanya, Saya jelaskan duduk perkaranya." Jelas Banyu yang menepuk sejenak punggung tangan Andari. Berniat untuk menenangkannya.


"Benar. Yang ada di foto itu adalah saya dan Andari." Ujarnya yang membuat semua orang disana membelalak tidak percaya.


"Saat itu kami sedang survei tempat untuk project baru saya bersama dengan Pak Tyo. Namun, karena sore itu Pak Tyo sudah ada janji bertemu dengan orang lain, jadi Andari, Reza dan Dina yang menemani saya." Jelas Tyo.


Romo Ndoso dan Mbah Kung mengangguk-angguk mengerti maksud Banyu.


"Banyu dan Andari selesai foto-foto di candi, turun dan berdiskusi kendaraan yang akan kita kendarai apa. Karena saat itu Reza dan Dina yang membawa kendaraannya." Jelas Banyu.


"Reza dan Dina sudah berada di salah satu Cafe tempar kami bertemu. Namun, kendaraan menuju Cafe tidak mudah ditemukan. Akhirnya, saya dan Andari memutuskan untuk naik becak menuju Cafe." Terang Banyu.


"Tapi, mau bagaimanapun, foto kalian sudah tersebar Banyu. Kalau kamu mungkin sudah terbiasa dengan hal-hal menyangkut media massa. Tapi, kalau Andari kan beda, Banyu..." Jelas Bu Widuri.


"Mama gak mau ya, Andari susah gara-gara kamu. Orang pasti mikirnya udah yang macem-macem." Ucap Bu Widuri.


"Ndak apa, Mba Widuri. Uwes to (Sudah ya)... mesakne (kasihan) Banyu. Sudah, Nak Banyu. Tidak apa." Ujar Bu Asih.


"Yowes nek ngono (Yasudah kalau begitu). Berarti pernikahannya kita percepat saja. Piye Ga ? (Gimana, Ga?)." Tanya Romo Ndoso kepada Mbah Kung.


"Iyo. Aku yo wis siapke penghulu (Iya. Aku juga sudah siapkan penghulu)." Jawab Mbah Kung.


"Tyo, tolong telepon Pak Karno. Minta beliau datang kesini. Kita segerakan saja semua." Ujar Mbah Kung.


"Tunggu, tunggu, Pak ini maksudnya Ndari mau dinikahkan? Sekarang?" Tanya Andari tidak percaya.


"Iya, Andari." Jawab Bu Asih sambil memintanya untuk diam dan menurut saja.


"Pa, Ma, apa ini gak terlalu cepat? Kita masih punya banyak waktu kan?" Ujar Banyu meyakinkan kembali kedua orangtuanya.


"Tidak! Ini yang terbaik untuk kalian berdua. Mau jadi berita macam apalagi kalau kalian tidak segera menikah." Jelas Papa Bagus.


"Pa, ini terlalu cepat." Jawab Banyu mencoba mengubah pendapat orangtuanya.


"Tidak! Kalau sekarang, ya sekarang!" Ucap Pak Bagus dengan tegas.


Andari memegang lengan Banyu yang ingin menjawab kembali ucapan Papa Bagus. Banyu pun akhirnya diam dan membuang wajahny dengan kesal.


"Okay. Kasih Banyu waktu untuk bicara dengan Andari. Berdua saja." Ujar Banyu yang sebisa mungkin ia tahan kekesalannya.


"Pak Tyo, Bu Asih, Banyu mohon izin bicara sebentar dengan Andari, boleh?" Tanya Banyu dengan sopan dan ramah kepada orangtua Andari.


"Boleh, Nak Banyu. Silahkan. Tapi di rumah saja. Jangan kuar rumah. Takutnya ramai dengan wartawan." Ujar Pak Tyo.


"Baik, Pak Tyo." Jawab Banyu sambil tersenyum dan mengajak Andari mengikutinya untuk keluar dari lingkaran runyam itu.


Di halaman samping dekat dengan kolam ikan mas ada pendopo dan tanaman bunga-bunga. Banyu mengajak Andari berdiskusi.


"Kamu mau bicara apa?" Tanya Andari memberanikan diri untuk bertanya. Karena melihat raut wajah Banyu yang tidak bersahabat.

__ADS_1


"Duduk dulu sini." Ucap Banyu sambil meminta Andari untuk duduk disampingnya.


"Kenapa?" Tanya Andari dengan wajah lembut dan nada halus.


"Andari, saya mau tanya apa pendapatmu tentang perjodohan ini?" Tanyw Banyu sambil menatap Andari.


*Gak kuku... ditatap sama Mamas 🤣🤣


*Bodoamat thor 😑


"Aku harus bilang apa? Aku bilang iya ataupun tidak, apakah pendapatku didengar?" Tanyanya dengan air mata yang sudah siap jatuh ke pipinya.


"Kalau kamu keberatan dengan perjodohan ini dan___" Belum sempat Andari menyelesaikan perkataanya, Banyu sudah menyambarnya.


"Andarii... bukan soal perjodohan ini yang aku khawatirkan. Tapi, kamu." Ucap Banyu dengan menatap lekat Andari.


"Aku? Kenapa?" Tanya Andari bingung.


"Jika kamu menikah denganku, apakah kamu sanggup disorot oleh media?" Tanya Banyu kembali kepada Andari.


"Dan saya, tidak bisa 24 jam mendampingi kamu. Kamu siap Andari dengan semua itu?" Lanjut Banyu.


"Apa kamu mencintaiku?" Tanya Andari kembali kepada Banyu.


Namun, Banyu hanya terdiam dan menatap lekat Andari. Ia bingung, tidak tau harus berkata apa. Sepertinya, Andari mengerti tatapan Banyu kepadanya.


"Okay, mungkin mencintai itu terlalu sulit. Aku ubah pertanyaannya." Ujar Andari yang sudah menahan derai air matanya. Banyu tau hal itu.


"Apa kamu menyukaiku?" Tanya Andari lagi kepada Banyu.


Tak ada jawaban dari Banyu. Ia ragu dengan jawabannya. Itu kenapa Banyu belum bisa menjawab pertanyaan Andari.


"Baik, kalau begitu. Berarti kita sudah mendapat jawabannya."


Ucap Andari sambil berbalik badan, berjalan menjauhi Banyu dengan mengusap air mata yang sudah menumpuk di pelupuk mata.


Banyu tidak tinggal diam. Ia menyusul Andari dan memegang lengannya.


"Andari!" Panggil Banyu yang menarik tangan Andari dan membalik tubuh Andari.


Banyu semakin merasa bersalah dengan melihat Andari menangis tersedu seperti itu. Tapi, Andari tetap berusaha tegar dan kuat. Ia mengusap air matanya sendiri dan menahan penuh sabar untuk tidak menumpahkan air matanya.


"Apalagi Banyu?" Ucap Andari dengan suara yang sudah seraknya.


Tanpa basa-basi, Banyu langsung memeluk Andari. Entah apa yang mendorong keberaniannya untuk melakukan itu.


Tapi yang jelas Banyu tidak ingin kehilangan Andari. Ia memeluk Andari erat sekali. Membuat Andari nyaman dan semakin menangis tersedu dipelukan Banyu.


"Aku... hiks... bisa menahan popularitas itu. Hiks, hiks, tapi... hiks... kalau harus keluar dari dunia mengajar, aku gak bisa... hiks... huaa..." Ujar Andari dengan suara sesenggukannya.


"Haha... jadi, yang buat kamu nangis dari tadi tuh karena itu?" Tanya Banyu dengan tawa senangnya.


Tak ada jawaban dari Andari. Tapi ia menunjukkan wajah imutnya dengan memajukan bibirnya dan menggembungkan pipinya.


Membuat Banyu gemas sekali dengan Andari. Ia mencubit gemas pipi Andari.


"Terus kita bilang apa sama Romo Ndoso dan Mbah Kung? Gimana?"


Tanya Andari yang memegang tangan Banyu dengan kepala menenggak ke atas karena Banyu terlalu tinggi untuknya.


"Mau akad nikah sekarang juga aku ikutin." Ucap Banyu dengan gagah berani.


"Pertanyaan aku tadi belum dijawab." Ujar Andari mengingatkan Banyu dengan pertanyaannya.


"Yang mana?" Tanya Banyu tidak mengerti.


"Do you love me?" Tanya kembali Andari kepada Banyu.


"If I'm not love you, I won't do this." Jawab Banyu sambil mendaratkan ciumannya di bibir Andari.


Kecupan hangatnya, membuat keduanya tersenyum bahagia. Banyu memeluk Andari kembali sembari mengecup puncak kepala Andari.


Tuhan itu tau, mana yang terbaik untukmu. Tuhan juga tau siapa dan apa yang kamu butuhkan. Bukan apa yang kamu inginkan.


*Gitu aja hidup. Nyaman deh 😁👍


*Tumben thor, bener dikit 😂✌️


"Banyu!" Panggil Reza.


"Eh, Za. Kenapa?" Tanya Banyu.


"Saham naik pesat, Ban!" Ujar Reza dengan mata berbinar. Dina menyusul mereka.


"Ada apa sih? Kenapa sih? Gimana-gimana?" Tanyanya dengan semangat sekali.


"Saham naik pesat sayaang!!" Ucap Reza sambil memeluk Dina. Yang dipeluk ikut tertawa bahagia.


"Jadi gimana, Ndar? Jadi sama Banyu?" Teteepp... Dina mah kepoo parah... 🤣🤣✌️


"Jadi." Sahut Banyu.


"Lo serius??" Tanya Reza tidak percaya.


"Iya." Jawab singkat Banyu yang menggandeng tangan Andari untuk sekedar mencari udara segar.


"Banyu? Mas Banyu? Hahaha..." Tawa Andari ketika memilih nama panggilan untuk calon suaminya.


"Ngapain kamu manggil-manggil gitu, huh? Hahaha... ada-ada aja." Ucap Banyu dengan tawa riangnya.


"Mas Banyu? Panggil 'Masnya' nanti aja ya, setelah resmi jadi suami-istri. Hahaha..." Canda Andari yang mengundang tawa Banyu.


"Oh, iya. Aku lupa kasih tau." Ucap Andari.


"Lupa apa?" Tanya Banyu sambil duduk di bangku taman.


"Soal aku ngajar." Ujar Andari.


"Kenapa?" Tanya Banyu dengan lembut.


"Meskipun aku ngajar, tapi terkadang aku pulang ngajar itu jamnya suka gak normal." Ucap Andari.


"Maksudnya gimana?" Tanya Banyu.


"Jadi, di sekolah itu ada waktu-waktu tertentu yang bikin aku pulang malam." Jelas Andari.


"Seperti?" Tanya Banyu lagi.


"Seperti saat bikin rapor, menyiapkan tematik di awal tahun ajaran baru, bikin prakarya mingguan, bulanan bahkan tahunan." Terang Andari.


"Kamu gak apa-apa dengan kegiatanku seperti itu?" Tanya Andari agak ragu. Ia takut Banyu marah karena kegiatannya mengajar.


"Ohh... pulangnya malem kan? Gak sampai pagi? Haha..." Canda Banyu.


"Iihh!! Serius dikit dong, Banyu..." Ucap Andari yang mulai kesal dengannya.


"Hahaha... iya, iya. Maaf..." Jawab Banyu sambil mencubit gemas hidung Andari.


"Kamu tipe yang protektif atau overprotektif?" Tanya Andari lagi kepada Banyu dengan wajah yang agak menunduk.


"Tergantung." Jawab Banyu santai.


"Depend on?" Tanya lagi Andari.


"Depend on the person and depend in the situation itself." Ujar Banyu.


"Protektif diperlukan jika kamu memang benar-benar dalam keadaan bahaya dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi." Terang Banyu.


"Mungkin kalau seperti itu jatuhnya sudah bukan protektif. Akan menjadi overprotektif." Jelas Banyu.

__ADS_1


"Kalau hanya sekedar kamu ngajar dan harus menyelesaikan pekerjaan kamu, bukankah itu memang suatu hal yang harus kamu lakukan, ya?" Tanya Banyu.


"Iya, benar. Tapi kadang tuh pulangnya malam, besoknya berangkat pagi-pagi." Ucap Andari.


"Mungkin kalau aku belum menikah, masih gak apa-apa." Lanjut Andari.


"Tapi kalau sudah menikah kan akan beda lagi ceritanya." Jelas Andari.


"Emang siapa yang mau nikah?" Ledek Banyu.


"Ayam jantan dan betina. Puas?!!" Sahut Andari dengan kesal.


"Kamu tuh nyebelin banget sih?! Banyuu... Iihh!!"


Ucap Andari sambil menggelitik pinggang Banyu, namun tangan Andari dipegang Banyu dan justru malah masuk ke dalam dekapan Banyu.


"Banyuu...!!" Ucap Andari dengan kesal.


"Banyu... ayo dong... serius..." Ujar Andari.


"Dari tadi juga aku serius, Andarii..." Ucap Banyu.


"Andari, dengar ya. Aku buka seseorang yang suka mengekang kebebasan pasanganku." Terang Banyu.


"Kalau mengajar adalah hal yang membuat kamu bahagia, silahkan. Aku tidak melarang. Selagi hal itu memba pengaruh positif untuk kamu." Jelas Banyu.


"Andari, kamu tau, kamu meng-iya-kan menjadi istriku saja, itu sudah membuatku bahagia. Karena apa? Karena tidak semu wanita mampu bertahan denganku." Ujar Banyu.


"Kamu tau, yang aku takutkan bukan karena berita tentangku atau kamu. Tapi yang aku takutkan, kamu oergi meninggalkanku." Jelas Banyu.


"Is that the reason, you hesitate to say 'I Love You' to me?" Tanya Andari.


"Iya." Jawab Banyu sambil menundukkan kepala.


Andari memegang wajah Banyu menopangnya dengan kedua tangannya.


"I Love You." Ucap Andari yang membuat Banyu terkejut.


Kenapa Andari duluan yang bilang. Pikir Banyu samvil masih dengan wajah terkejutnya.


"Bingung ya? Hehehe..." Ujarnya dengan tawa senang.


"Kamu ingat? Waktu pertama kita bertemu dimana?" Tanya Andari.


"Di Cafe. Benar gak?" Tanya Banyu.


"Yup! That's right. I'm falling in love with you at that time." Ujar Andari dengaj wajah tenangnya tapi justru membuat Banyu memerah wajahnya karen malu.


"Lalu, saat itu kamu sibuk dengan lap___" Belum sempat Andari menyelesaikan perkataannya Banyu sudah menyambarnya.


"Laptopku. Kamu duduk di pojok Cafe dengan segelas green tea hangat kamu." Sambung Banyu.


"Kamu tau?" Tanya Andari tak percaya.


"Tau." Jawab singkat Banyu.


"Kok waktu ketemu aku di Yogya kamu biasa aja? Kayak gak pernah kenal aku." Ujar Andari.


"Kan emang belum kenal kamu." Jawab Banyu. Mulai singkat-singkat deh jawabnya.


"Tapi kan bisa nyapa aku." Ucap Andari.


"Kan udah nyapa. Hai. Gitu." Jawab singkat Banyu.


Andari hanya menggeleng-gelengkan kepala. Tak habis pikir dengan Banyu yang sesingkat itu jika bicara.


"Pulang yuk." Ajak Andari.


"Nanti kalau pulang di nikahin, lho." Ledek Banyu kepada Andari.


"Iya, gak apa-apa. Daripada ngelawan orangtua. Dosa." Jawab Andari sambil berdiri dari duduknya dan berjalan lalu.


"Yakin? Di nikahinnya sama cowok paling nyebelin, tapi ngangenin, lho... Wkwkwk..." Ledek Banyu kepada Andari.


"Apa sih? Gak lucu. Hahaha..." Tawa Andari.


"Jangan ketawa." Ucap Banyu yang tiba-tiba serius kembali.


"Kenapa?" Tanya Andari bingung.


"Ketawa kamu itu yang bikin hati aku pontang-panting." Ujarnya yang membuat Andari sukses tertawa terpingkal-pingkal.


"Wkwkwk... hahaha... yaampun... hahaha..." Tawa lepas Andari.


***


"Jadi sore ini kita adakan akad nikah. Banyu dan Andari, kalian bersiap-siaplah." Ujar Romo Ndoso.


Andari dan Banyu hanya menurut saja permintaan dari Romo Ndoso dan Mbah Kung.


Pak Tyo dan Bu Asih senang sekali melihat anak gadisnya yang segera dipinang oleh seorang jejaka gagah berani.


Sama halnya dengan Pak Tyo dan Bu Asih. Papa Bagus dan Mama Widuri pun akhirnya bisa melihat putra semata wayangnya menikahi gadis cantik nan cerdas.


Saat itu, Banyu meminta izin untuk berbicara dengan Pak Tyo dan Bu Asih.


"Nak, Banyu. Terima kasih, karena telah menuruti permintaan Mbah Kung dan Romo Ndoso. Maafkan Bapak dan Ibu jika tidak mempersiapkan apapun." Ujar Pak Tyo.


"Iya, Nak Banyu. Ibu senang sekali melihat Andari bisa bersanding denganmu. Walaupun, mungkin nantinya, Nak Banyu harus banyak bersabar dengan karakter Andari yang super aneh. Hehe..." Ucap Bu Asih.


"Pak Tyo, Bu Asih. Pak, Bu, sekarang saya sudah harus terbiasa untuk memanggil Bapak dan Ibu. Karena kalian adalah orangtua kedua setelah Papa dan Mama." Ujar Banyu.


"Pak, Bu. Mungkin Banyu tidak bisa berjanji untuk membuat Andari bahagia atau Banyu selalu berada 24 jam bersama Andari." Terang Banyu.


"Saya dan Andari sudah berdiskusi baiknya pernikahan ini seperti apa. Dan kami sepakat untuk saling menghargai dan menghormati profesi masing-masing dari kami." Ujar Banyu.


"Saya hanya bisa bilang kepada Bapak dan Ibu, bahwa saya tidak akan menghalangi cita-cita Andari. Apa yang sudah ia capai atau belum ia capai saat ini, saya akan tetap mendukungnya. Selama hal itu positif untuknya dan semua." Jelas Banyu.


"Terima kasih, Nak Banyu. Ibu senang sekali mendengarnya. Titip Andari ya. Hiks..." Bu Asih sudah mulai berderai air mata.


"Nak Banyu, Bapak cuma pesan satu. Semarah apapun kamu padanya, Bapak mohon, jangan bentak dia." Ujar Pak Tyo.


"Dan jika dia menangis, temani dia. Mau dia minta kamu disampingnya ataupun tidak. Temani dia. Karena jika ia sudah menangis, cukup lama ia berhentinya. Banyak sabar ya Nak, Banyu." Jelas Pak Tyo yang terdengar suaranya bergetar menahan sedih sekaligus haru.


"Baik, Pak, Bu. Doakan Banyu bisa menjadi suami panutan untuk Andari." Ucap Banyu.


Di sisi lain, Andari sedang berbincang dengan Papa Bagus dan Mama Widuri.


"Ndok, Mama titip Banyu, ya. Dia itu orang yang paling sulit mengungkapkan perasaannya. Jadi gak usah pake kode-kode kalau ngomong sama dia. Dia gak akan paham karena gak peka. Hahaha..." Ujar Mama Widuri.


"Ngomong langsung aja mau apa. Dia itu memang menyebalkan. Kalau kita tidak memahami wataknya dan karakternya, kita capek sendiri sama Banyu. Sabar, yoo Ndok..." Ujar sang Mama Widuri.


"Betul, Ndari apa yang dibilang Mama. Harus sangat memahami karakter Banyu. Walau begitu, Banyu itu tipe laki-laki yang takut dengan wanita." Ujar Papa Bagus.


"Entah kenapa banyak yang bilang bahwa Banyu itu playboy. Padahal aslinya tidak seperti itu. Mungkin mereka lihat hanya tampilan luarnya saja." Terang Papa Bagus.


"Papa sama Mama, titip Banyu ya. Dia itu meskipun anak satu-satunya kami, tapi kami tidak pernah memanjakannya. Dia sangat mandiri. Banyak sabar dengan Banyu, yo Ndok." Ujar Papa Bagus.


"Baik, Ma, Pa. Namun, Ndari tidak bisa bilang bahwa Andari akan menjadi menantu yang sempurna. Bisa menaati semua etika kerajaan/keraton." Ucap Andari.


"Tapi, Ndari akan berusaha semaksimal mungkin untuk belajar tentang etika di kerajaan/keraton. Dan yang pasti, Ndari tidak akan menghalangi Mas Banyu dalam hal profesi pekerjaannya." Ujar Andari.


"Selama profesi pekerjaannya berpengaruh positif untuk kehidupannnya sendiri maupun orang-orang yang ia sayangi disekitarnya." Ucap Andari.


"Mungkin Ndari tidak bisa menjanjikan akan membuat Mas Banyu bahagia bersama Andari. Tapi, Ndari hanya bisa bilang, bahwa apapun yang Mas Banyu cita-citakan, Ndari akan terus dukung. Selama itu hal baik untuk Mas Banyu." Ujar Andari kepada Papa Bagus dan Mama Widuri.


"Terima kasih, yo Ndok. Buat Papa dan Mama sudah sangat bahagia hari ini." Ucap Papa Bagus dan Mama Widuri yang merangkul Andari.


***

__ADS_1


__ADS_2