
Andari menatap lekat Banyu yang sedang tertidur pulas karena belum lama pulang dari perjalanan bisnisnya.
Andari mengelus lembut rambut Banyu dan mengecup lembut kening Banyu. Banyu masih tertidur lelap. Andari menyelimutinya.
Hari itu Andari sudah mulai disibukkan dengan rutinitas mengajar dan mengurus suami. Sebelum berangkat mengajar, Andari membuatkan sarapan untuk Banyu.
Ia taruh sarapan di nakas untuk sang suami. Ia rapi-rapi dan berangkat mengajar. Andari sudah berdiskusi dengan Banyu, bahwa ia akan diantar dan dijemput oleh supir hari ini.
Karena Banyu harus ke kantor mengurus pekerjaannya. Andari meng-iyakannya. Tidak masalah untuk Andari.
"Mbok, Ndari titip Mas Banyu ya. Tadi saya sudah siapkan sarapannya di nakas. Tolong bilangin Mas Banyu, saya berangkat mengajar hari ini." Andari titip pesan kepada Mbok Mirah.
"Oh, iya Buk. Baik. Nanti akan Mbok sampaikan kepada Mas Banyu." Jawab Mok Mirah.
"Makasih ya, Mbok. Saya berangkat dulu." Ujar Andari dengan senyum hangatnya kepada Mbok Mirah.
*****
"Aahhh!!! Kangeenn!!!" Ucap para guru yang bertatap muka dan saling peluk karena liburan mereka begitu panjang.
"Mba Ndari, gimana Yogya? Kayaknya seneng banget." Tanya Bu Susan dengan tatapan menyelidik.
"Senang betulll saiiaah!!! Hahaha." Jawab Andari dengan tawa lepasnya.
"Ini bakpia Mba Ndari yang bawa ya?" Tanya Bu Mita sang Kepsek.
"Iya, Bu. Kenapa Bu? Gak enak ya?" Tanya Andari kembali.
"Enggak kok. Enak banget. Justru karena enak banget makanya saya tau ini pasti Mba Ndari yang bawa." Terang Bu Mita yang memasukkan bakpia kacang hijau ke mulutnya.
"Syukur deh Bu kalau gitu. Saya mau beberes kelas dulu deh." Ujar Andari kepada Bu Mita dan guru-guru di kelas.
"Beberes mulu dah luh, Ndar." Sahut Bu Dewi. Andari hanya memberikan seulas senyumnya.
Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Mereka yang sedang disibukkan mempersiapkan tahun ajaran baru, sudah memasuki makan siang.
Guru-guru di sekolah Bangsa Pertiwi terbiasa makan siang bersama-sama. Supaya lebih mendekatkan diri lagi dengan partner mengajarnya ataupun dengan guru yang lainnya.
"Bu Guruuu!!! Ayooo makaann!!" Ajak Bu Tanti.
"Ayo, ayo, istirahat dulu deh kerjanya." Sahut Bu Lulu yang sedang menggunting-gunting untuk prakarya.
Kkrriinng...
"Iya, Mas." Jawab Andari yang sedang di ruang kelasnya menyiapkan prakarya.
"Maaf ya, Dek. Mas tadi gak jadi nganter kamu deh." Jawab Banyu disebrang telepon.
"Gak papa, Mas. Aku juga gak tega bangunin kamu. Nyenyak banget tidurnya. Hehe..." Ujar Andari sambil tersenyum manis.
*Manis kayak saya ๐
*Situ mah kopi. Pahit ๐คฃ
"Iya, ya? Capek banget berarti akunya." Ujar Banyu.
"Iya, gak apa Mas. Udah makan?" Tanya Andari yang masih sibuk memilah gambar untuk menghiasnya kelas Nakula & Sadewa.
"Udah kok. Enak. Hehehe..." Jawab Banyu dengan cengiran gigir pasta giginya.
"Seriusan enak??" Tanya Andari tidak percaya.
"Enak. Beneran!" Jawab Banyu lebih meyakinkan. Tapi, beneran enak sekali.
"Kamu pulang jam berapa?" Tanya Banyu.
"Belum tau Mas. Masih banyak yang dikerjain." Jawab Andari dengan sedih.
Siapa yang gak sedih dan gak kangen? Ditinggal suami dalam jangka waktu yang tidak sebentar.
Banyu baru pulang dari luar negeri untuk perjalanan bisnisnya. Saat Banyu sudah di rumah, Andari justru sudah mulai masuk mengajar.
"Hari ini kamu ke kantor Mas?" Tanya Andari.
"Ke kantor. Tapi gak lama kayaknya. Mau ketemu Reza sama Gunar." Ujarnya.
"Hm... gitu. Yasudah." Jawab Andari sembari merapikan map-map karya anak muridnya.
"Nanti Mas jemput ya." Ujar Banyu yang mendengar suara kekecewaan dari sang istri.
"Gak apa, Mas. Aku nanti pulang sendiri." Jawab Andari yang menyandarkan tubuhnya di dinding.
"Malu ya? Sama Bu Guru di sekolah?" Tanya Banyu.
"Enggak kok. Kenapa harus malu?" Tanya kembali Andari.
"Karena sudah menikah denganku." Jawab Banyu sembari duduk di sofa satu dudukan jobi warna hitamnya.
"Tidak. Kenapa aku harus malu? Aku menikahi seorang yang hebat." Jawab Andari sambil tersenyum bahagia.
"Sungguh?" Tanya Banyu.
"Sungguhan. I Love You." Ucap Andari sambil menyimpan sebagian prakarya di loker anak.
"Terima kasih..." Jawab Banyu dengan senyum sumringahnya.
"Ndar, makan dulu nyok kite... isi tenaga buat kerja rodi. Hahaha..." Ujar Mba Mila dengan tawa candanya.
"Hahaha... iya, bener. Duluan deh. Nanti aku nyusul." Jawab Ndari dengan tawa karena pembicaraan Ndari dan Mila.
Saat itu Andari masih berbicara via telepon dengan Banyu. Secara tidak langsung Banyu pun mendengar pembicaraan antara Andari dan Mila.
"Okay. Nyusul yoo... eh, krupuk udangnya ada di ruang makan ya." Ujar Mila.
"Sip! Thank you." Jawab Andari.
"Yasudah, kamu makan dulu deh. Nanti aku jemput, ya." Ujar Banyu.
"Iya, aku makan dulu ya. Yasudah, kalau Mas mau jemput. Nanti aku share loc deh." Ucap Andari.
"Okay. Kabarin aja ya, dek." Jawab Banyu.
"Siap! Boss! Hehehe..." Sahut Andari dengan tawanya.
"Hahaha... okay. See you." Jawab Banyu.
Mereka pun menyudahi perbincangan melalui telepon tersebut. Andari menyusul untuk makan siang bersama di ruang makan.
*****
"Selamat pagi, Pak." Sapa para karyawati di kantor Banyu.
"Pagi." Jawab Banyu.
__ADS_1
No expressrion. Just so so. Datar ekspresinya, datar jawabnya ๐
"Pagi, Pak." Sapa Gunar.
"Pagi." Jawabnya dengan suara berat dan maskulinnya.
"Sudah hubungi Reza, Gun?" Tanya Banyu yang duduk di singgasananya.
"Sudah, Pak. Pak Reza sedang menuju kesini bersama dengan timnya." Jelas Gunar.
"Okay." Jawab Banyu sambil memeriksa dokumen-dokumen.
Tak lama kemudian, Reza datang bersama dengan timnya, Malik dan Putra.
*Ada eksmud... ๐
*Eksekutif muda?? Ngantri dah gue ini mah ๐คฃ
Intermezzo
Eksekutif muda:
Eksekutifย adalah mereka yang karena ilmu atau jabatannya mampu memberikan kinerja atau output yang positif bagi organisasi.
Menjadi seorang eksekutif muda itu dambaan banyak orang, yaitu sukses diumur semuda mungkin.ย
http://sosbud.kompasiana.com/2011/02/24/perkenalkan\-saya\-eksekutif\-muda/
Intermezzo Close
"Morning, Pak Banyu..." Canda Reza sambil memberikan salam high five nya.
"Apa kabar, Za?" Sapa Banyu.
"Gak usah basa-basi lo." Jawab Reza.
"Hahaha... ketahuan ya?" Sahut Banyu dengan canda.
"Kampret." Jawab Reza.
"Okay, kita mulai meetingnya." Ujar Banyu yang langsung menjadi sosok boss berkharisma.
*****
"Jeeng Tantii... sehat, jeng?" Sapa Andari yang sedang membawa lembar kerja untuk anak satu keranjang penuh.
"Bodoamat, ceu." Jawab Tanti yang sedang menempel infraboard bentuk wortel sebagai papan absen anak.
"Wkwkwk... geser dikit boyeeh..." Canda Andari yang lewat di belakang Tanti karena kelas Andari berada di paling ujung koridor dekat kebun bermain.
"Rese, banget dah Ndari. Hahaha... lewat noh, lewat." Ujarnya sambil tertawa lepas.
"Ngapa dah Mba Tanti?" Tanya Mila dengan canda.
"Hahaha... aku mau lewat tadi. Terus Mba Tanti kan di pinggir jalan lagi nempel absen. Aku senggol aja badannya." Tawa Andari lepas.
"Hahaha... iseng banget dah lo Ndar." Jawab Mila.
"Mba Mila, aku mau cerita nih. Tapi, jangan cerita ke siapa-siapa dulu ya." Ujar Andari.
"Iya. Mau cerita apa deh?" Tanya Mila.
"Mba, lihat deh." Ucap Andari sambil menunjukkan cincin yang melingkar di jari manis tangan kanannya.
"Oh My God!!" Pekik Mila.
Tanya Mila yang sibuk memegang tangan Andari membolak-balik tangannya sembari melihat cincinnya.
"Jadi, ceritanya gini Mba." Mulai Andari bercerita.
"Aku kan ke Yogya pas liburan kemarin. Niatnya emang cuma liburan aja. Gak kepikiran untuk nikah dan yang lain-lain." Ujar Andari.
"Pas liburan di Yogya, Bapak tuh minta gue buat nemenin temen bisnisnya untuk jalan-jalan."
"Lucunya, temen bisnisnya bapakku itu adalah laki-laki yang pernah gak sengaja ketumpahan air minumku waktu di Cafe yang pernah sebelumnya aku ceritain ke dirimu." Ujar Andari.
"Ohh... yang lo bilang ganteng tapi jutek ya? Yang ternyata dia bossnya temen lo?" Tanya Mila.
"Nah, iya, benar Itu dia ternyata partner bisnis bapakku. Karena bapak gak bisa nganter rekan bisnisnya untuk berjalan-jalan emnikmati Yogya di sore hari, akulah... yang diminta bapak untuk menemaninya." Terang Andari.
"Hoalah... terus terus?" Tanya Mila dengan semangat.
"Gue nemenin dia keliling Sleman, di Yogya. Setelah keliling, gue balik ke rumah."
"Besoknya, Mbah Akung bilang kalau aku mau di jodohin sama cucu sahabatnya. Saya terkejut!!" Ucap Andari.
"Waduh! Secepat itu?" Tanya Mila.
"Nah, iya kan? Lo kalau jadi gue gimana? Apa gak kaget? Itu gue berasa kayak di ceburin ke laut." Jelas Andari.
"Hahaha... gak sekalian ke empang." Tawa Mila.
"Kampret! Ledek aja terus." Jawab Andari sambil bersungut.
"Hahaha... okay, okay, terus gimana?" Tanya Mila yang mencoba mengontrol tawanya.
"Singkat cerita, gue sama doi langsung di nikahin hari itu juga. Gara-gara, gue masuk di headline news. Gue gak tau lo baca berita itu apa enggak. Tapi, sumpah ya. Itu jadi trending topik." Ujar Andari.
"Hah??!! Jadii... perempuan itu elooo??!!!" Pekik Mila tidak percaya.
"Sstt! Diam-diam aja. Ntar banyak yang dengar rame."
Jelas Andari sambil mengacungkan jarintelunjuknya di bibirnya. Menandakan kepada Mila untuk tidak berbicara terlalu keras.
"Rame dong keluarga lo?" Tanya Mila.
"Bukan main... abis gue di omelin sama Mbah Akung gue." Jawab Andari sambil bersungut.
"Itu lo lagi kissing sama cowok itu??" Tanya Mila sambil menutup mulutnya dengan satu telapak tangannya.
"Enggak dong... ya kali gue kissing cowok di tempat umum yang bukan siapa-siapa gue." Jawab Andari sambil memonyongkan bibirnya.
"Tapi, itu kan siluet gitu ya? Kayak lo beneran lagi kissing sama dia." Ucap Mila.
"Enggak. Itu gue lagi diskusi sama dia, mau naik kendaraan apa. Karena waktu itu kita habis dari lihat candi di sekitar situ." Jelas Andari.
"Terus kita mau cari makan. Gue bilang, kalau jalan kaki lumayan jauhnya. Kalau naik kendaraan adanya becak." Lanjut Andari.
"Tapi, gue juga takut cuy waktu pertama kali lihat foto itu. Kaget setengah mati gue... nangis udah gue itu... ๐ญ" Ujar Andari sambil menunjukkan wajah sedihnya.
"Akhirnya, lo sama suami lo dinikahin hari itu juga karena headline news itu?" Tanya Mila.
"Iyaa. Kayak mimpi tau gak sih Mba Mila..." Ucap Andari sambil memegang keningnya dan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Iya sih. Kalo jadi lo, gue juga bakalan kaget banget." Ujar Mila.
"Berarti pengusaha muda yang digandrungi perempuan itu suami lo?" Tanya Mila dengan mata terbelalak tidak percaya.
"Yang ganteng, tajir melintir?? Wah... gila sih... ngehalu kali luh ya?" Tanya Mila yang maaih tidak percaya.
"Tuh, kan... lo aja gak percaya. Nih!" Andari menunjukkan foto Banyu bersama dengannya saat di Yogya.
"Ah, ini mah bisa-bisaan lo aja di crop kali tuh." Ujar Mila yang masih belum percaya.
"Terserah lo dah." Ucap Andari sambil menelepon Banyu.
"Lo mau ngapain deh?" Tanya Mila bingung.
"Halo, Mas. Udah sampai kantor?" Tanya Andari kepada Banyu.
"Udah kok. Ini baru selesai meeting sama Reza." Jawab Banyu.
Wajah Mila sangat terkejut tidak percaya. Ia semakin tidak percaya ketika Andari dan Banyu video call bersama.
"Mas, kenalin. Mba Mila." Ucap Andari sambil menepuk punggung Mila.
"Halo..."
Jawabnya yang masih terkejut dengan kenyataan partner mengajarnya sudah menikah dan suaminya adalah pengusaha kaya dan tampan yang diganduringi perempuan.
"Hahaha... dia kaget Mas. Waktu aku cerita kalau aku udah nikah dan suami aku, kamu." Tawa Andari yang melihat ekspresi terkejutnya Mila.
"Ooh... hahaha... titip Andari ya, Mba Mila." Ujar Banyu.
"Yasudah. Mas lanjut deh kerjanya." Ucap Andari.
"Udah gitu aja?" Tanya Banyu.
"Hahaha... emang mau gimana Masku?" Tanya Andari dengan tawa manisnya.
"Kamu lagi apa?" Tanya Banyu.
"Lagi ini nih" Tunjuk Andari dengan tumpukan karton, kertas warna-warni, lem, gunting, stick es krim dan bahan prakarya lainnya.
"Woaah... banyak ya... perlu dibantu gak?" Tanya Banyu.
"Mas bisa buat prakarya?" Tanya Andari lagi.
"Bisa, kalau diajarin." Jawabnya dengan senyum lesung pipinya.
"Hahaha... yasudah, nanti lagi ya. Aku mau lanjut dulu." Ujar Andari.
"Okay. Kabarin aku kalau udah mau pulang ya." Ucap Banyu.
"Okay." Jawab Andari yang menyudahi perbincangannya melalui telepon bersama sang suami.
Mila yang mendengar percakapan pasutri tersebut hanya bisa melongo terkejut dengan apa yang di dengar dan dilihatnya.
"Gokiill!! Temen gue nikah sama orang kaya!! Hahaha... sumpah ya! Gue masih belum bisa percaya sama apa yang gue lihat dan dengar. Wkwkwk... wah... parah." Tawa lepas Mila.
"Gue gak kebayang kalau Bu Guru, Bu Kepsek, Admin tau, ini bakalan jadi topik hangat. Bukan!! Panazzz!! Wakakak..." Canda Mila dengan tawa lepasnya.
"Hahaha... udah tebel muka dah gue mah. Tebel telinga, lembut hati." Jawab Andari dengan tawa riangnya.
"Bu Guru... jam 15:00 kita meeting ya." Ujar Bu Kepsek, Bu Mita di whats app applikasi.
"Ndar, kita meeting jam 15:00 katanya." Ucap Mila.
"Okay. Ada lagi gak yang perlu disiapin Mbae?" Tanya Andari.
"Gak ada Ndar. Udah semua kok. Tinggal nunggu data siswa dari Mba Susan aja." Jelas Mila.
"Oh, si mimin belum ngasih data anak ya? Yang data anak alergi atau special needs gitu belum ada?" Tanya Andari lagi.
"Belum. Tadi sih gue udah nanya, udah gue tagih juga. Dia bilang katanya ntar-ntar aja. Doi malah nerus nonton drakor." Terang Mila dengan wajah bersungut karena kesal.
"Emang yang nyatet semuanya Bu Susan ya Mba?" Tanya Hani yang saat itu sedang merapikan barang-barang di kelas.
"Iya, Mba Hani. Semua data anak Mba Susan yg handle." Jawab Andari.
"Oh... gitu. Karena bagian pendaftaran di Bu Susan juga ya Mba?" Tanya Hani lagi.
"Iyup. Betul sekali." Jawab Mila sambil tersenyum manis.
*****
Hari ini Andari sudah berniat akan memberitahukan tentang pernikahannya dengan guru-guru di sekolah. Lebih tepatnya acara resepsinya.
Saat sebelum meeting, Andari meminta Bu Mita sang kepsek untuk ngobrol berdua dengannya.
"APA??!! Mba Ndari serius??!!" Tanya Bu Mita sangat terkejut.
"Iya, Bu. Maaf ya saya tidak bicara sebelumnya. Tapi, acara mulai dai lamaran hingga akad nikah, semua berlangsung sangat cepat." Terang Andari.
"Tapi, belum resepsi kan?" Tanya Bu Mita.
"Belum, Bu. Hari ini rencananya saya mau kasih undangan ke Bu Guru untuk acara resepsi saya." Jelas Andari.
"Yasudah. Kalau itu sudah terjadi. Saya senang sekali melihat guru saya yang sudah mendapatkan tambatan hatinya. Akhirnya saya kondangan. Hahaha..." Ledek Bu Mita yang membuat Andari tersipu malu.
"Tapi, saya kaget banget lho Mba Ndari. Ini jantung saya masih dag dig dug." Ujarnya sambil mengelus-elus dadanya.
"Maaf ya Bu Mita..." Ucap Andari dengan wajah melasnya.
"Iya... gak apa. Mungkin saya kagetnya karena beritanya mendadak." Ujarnya.
"Dikenalin dong sama saya dan Bu Guru suaminya Mba Ndari." Ucap Bu Mita sambil bercanda.
"Iya, Bu. Hari ini akan saya kenalkan. Tadi, suami saya bilang mau jemput saya. Sekalian nanti kita kenalan ya." Terang Andari.
"Okay deh. Yasudah, ayo, kita meeting sekarang. Kasian Bu Guru udah nungguin." Ujar Bu Mita.
*****
Di Ruang Meeting
"Jadi, semua perlengkapan kelas dan peralatannya udah rapi semua ya, Bu Guru?" Tanya Bu Mita.
"Sudah Bu..." Jawab Bu Guru dan staff sekolah serempak.
"Okay, sip. Mba Ndari, mau bicara sekarang saja?" Tanya Bu Mita.
"Boleh Bu." Jawab Andari membuat semua mata yang ada di ruang meeting tertuju padanya.
"Teman-teman semua, Bu Susan, Bu Ning, Pak No dan Bang Ipul, saya minta waktunya sebentar ya." Ucap Andari.
"Hari ini saya ingin membagikan ini." Ujar Andari sambil membagikan undangan kepada guru dan yang lainnya.
__ADS_1
"WHAT??!! Undangan Nikah??!!"
*****