Andari

Andari
CHAPTER 6: PROPOSING


__ADS_3

Cafe Steak Gaol


"Haiii..." Sapa Dina.


"Lama banget lo. Dari mana deh?" Tanya Reza kepada Banyu.


"Tau. Kalian dari mana sih? Ditungguin juga dari tadi." Ujar Dina.


"Habis dari candi. Kan tadi gue udah bilang sama lo." Jelas Andari sambil melihat-lihat buku menu.


"Udah dapet foto yang okay, Ban?" Tanya Reza.


"Yup." Jawabnya seperti biasa. Singkat.


Kayaknya cuma sama Andari aja Banyu bicaranya banyak 😄


Di cafe tersebut ada live music. Suasana yang seperti ini sangat disukai Andari.


"Selamat malam." Sapa sang vokalis.


"Malam..."Jawab pengunjung.


"Malam ini tidak seperti malam-malam yang biasanya. Malam ini, ada seorang laki-laki yang ingin berdiri berbicara disini. Baik, kita panggil saja. Rezaaa!!!" Jelas sang vokalis.


Dina sungguh terkejut dan memberikan banyak pertanyaan kepada Reza.


"Selamat malam semuanya." Sapa Reza.


"Malam ini saya ingin bercerita sedikit tentang seseorang yang sangat berarti untuk saya. Dia adalah seseorang yang tangguh, mandiri, kuat, murah senyum, cantik. Hi, Dina. This song's for you."


Jelas Reza dengan tersenyum sembari duduk dan memainkan keyboardnya. Ia menyanyikan lagu dari John Legend - All of Me.


Perempuan akan luluh melihat kekasihnya bernyanyi untuknya. Termasuk Dina. Ia menangis karena terharu. Andari yang duduk disampingnya memeluk dan menepuk lembut punggung Dina.


Banyu yang melihat kedekatan mereka juga merasa senang. Karena Andari dikelilingi orang-orang yang sayang dengannya.


Saat Reza sudah selesai bernyanyi, ia kembali berbicara.


"Lagu tadi untuk kamu, Ardina Weningtyas." Ujar Reza dan meminta Dina untuk berada di panggung bersama dengan Reza. Dina pun menghampiri Reza.


"Malam ini, mereka semua yang ada di Cafe ini menjadi saksi bahwa aku... melamarmu." Ucap Reza yang membuka kotak cincin untuk Dina.


"Will you marry me?" Tanya Reza kepada Dina sambil duduk melipat satu kaki dan menyerahkan cicincin kepada Dina.


"Definitely. YES!!!" Ucap Dina yang terlihat sekali raut wajah bahagianya.


Sorak sorai orang-orang yang ada di Cafe tersebut membuat suasana semakin meriah. Dina memeluk Reza erat dan Reza mencium puncak kepala Dina.


Andari terharu melihat moment bahagia sahabatnya Dina. Ia tidak pernah melihat Dina sebahagia ini semenjak Ibunya meninggal dunia.


Reza itu penerang di kegelapannya Dina dan Dina itu dunianya Reza. Mereka saling melengkapi di dalam kekurangannya.


Reza yang dewasa bisa membimbing Dina dan Dina yang sedang belajar untuk menjadi dewasa pun sangat bisa mengimbangi pola pikir Reza.


Meski, terbersit ada rasa sedih dari Andari. Karena sahabatnya pasti akan disibukkan dengan dunia barunya. Suaminya, anak-anaknya, keluarga kecilnya yang akan menjadi prioritas utamanya.


Walaupun, Andari tau betul bahwa Dina tidak akan meninggalkannya begitu saja. Tetap Dina, sahabat terbaik yang Andari punya.


Banyu melihat Andari yang mentikkan air mata karena haru. Ia memberikan selembar tisu kepada Andari.


"Makasih." Ucap Andari.


"Kamu sedih apa terharu?" Tanya jahilnya Banyu.


"Dua-duanya." Jawab Andari masih mengusap air matanya. Banyu tersenyum melihatnya. Imut. Begitu pikir Banyu.


"Ndariii!!" Pekik Dina kepada Andari sambil meperlihatkan cincinnya.


Saat Reza datang berjalan menghampiri, Banyu mengetuk meja di depan Andari, memintanya untuk pindah, agar Reza dan Dina bisa duduk bersebelahan.


"Wahh!! Gilaa!!! Deg-degan sumpah!!" Ucap Reza yang langsung duduk disamping Dina dan menangkupkan wajahnya di meja.


Dina yang tau demam panggungnya Reza, segera saja dipeluknya dan di usap punggung Reza. Langsung saja Reza memeluk Dina seperti anak kecil.


"Za, lo masih terapi?" Tanya Banyu.


"Mas Reza masih terapi ko, Ban. Cuma akhir-akhir ini lagi banyak kerjaan jadi belum sempet terapi lagi." Ujar Dina yang masih memeluk Reza sambil mengusap-usap punggung Reza. Seperti anak kecil 😄


Reza itu punya demam panggung yang akut. 3 tahun lalu di kantornya Banyu sedang ada sebuah acara yang cukup besar.


Harusnya Banyu yang datang dan mengisi acara tersebut. Tapi, karena Banyu masih di New York jadi Reza lah yang menggantikan Banyu.


Namun, saat itu banyak orang yang melihat dan Reza harus berdiri di panggung yang begitu megah. Banyu yang mengetahui Reza Demam panggung, dua hari sebelumnya sudah menjadwal ulang kegiatannya di New York.


Banyu berusaha datang dengan pesawat yang paling cepat saat itu. Karena Reza sahabat dekatnya, Banyu rela meluangkan waktu untuknya.


Tapi, pesawat Banyu delay jadi ia sempat telat untuk datang ke acara tersebut. Akhirnya Reza lah yang berdiri di atas panggung.


Hebatnya, Reza mampu melawan demam panggungnya. Ternyata dibalik itu semua, ada Dina yang mengawalnya.


Dina berdiri disampingnya. Meskipun jarak mereka tidak terlalu dekat, tapi Reza mampu berbicara depan banyak orang.


Saat itu Banyu sadar, bahwa Dina lah yang akan menjadi pelengkap hidup Reza. Adakah rasa iri?

__ADS_1


Tidak! Justru rasa bahagia karena sahabatnya sudah menemukan belahan jiwanya.


Seperti sekarang ini. Dina mampu menjadi dewasa di saat Reza menjadi anak-anak dan Reza mampu menjadi dewasa ketika Dina bermanja-manja ria dengannya.


"Gue ingat banget deh Din. Kalau lo lagi berantem sama Reza langsung main nginep aja di kosan gue. Hahaha..." Ucap Andari sambil tertawa.


"Terus Reza nanya, "Dina di rumah lo gak Ndar?" kalau gue udh bilang "Iya". Baru deh Reza berhenti neror gue. Hahaha..." Lanjut Andari dengan tawa lepasnya.


"Sama." Jawab Banyu sambil tersenyum manis.


Andari melihat senyuman lesung pipi yang manis dari laki-laki kaku nan jutek ini. Lumer hati Andari...


*Hadeuhh... meleleh hati Adek, Mas... 😂


*Itu mah emang lo aja yang baper, thor 😄


Andari yang melihat senyum manisnya Banyu langsung memalingkan wajah karena malu memperlihatkan wajah bersemu merahnya.


Banyu mengetahui rona merah pipi Andari. Hanya saja ia cukup diam dan menikmati pemandangan di hadapannya.


Entah apa yang Andari dan Banyu rasakan. Tapi, mereka bahagia melihat sahabatnya juga bahagia. Meskipun mereka berdua masih belum yakin dengan perasaan mereka masing-masing.


Malam itu menyenangkan sekali bercengkrama dengan teman-teman dan orang-orang baru disekitar kita. Mempunyai koneksi yang lebih luas.


Saat Reza sudah tenang, ia dan Dina ke kasir karena malem ini mereka yang traktir Banyu dan Andari makan malam.


Namun, saat Dina dan Reza di kasir, Banyu dan Andari berdiri di ruang tunggu cafe. Saat itu ada salah seorang wartawan yang duduk di pojok dekat dinding dan sedang mengarahkan lensa kameranya ke arah Banyu dan Andari. Dina melihat wartawan itu.


"Mas Reza!" Panggil Dina berbisik.


"Kenapa, Din?" Tanya Reza dengan tenang.


"Mas! Itu Edi kan ya? Wartawan." Ujar Dina menunjuk dengan bibirnya yang dimonyongkan ke arah wartawan tersebut.


"Ha?! Masa?!" Tanya Reza tidak percaya. Setelah ia mendekati meja wartawan itu, Reza baru percaya bahwa Edi ada disana siap dengan kameranya.


"Sayang, kamu telepon Banyu. Bilang bahwa disini ada wartawan. Aku samperin Edi dulu." Ujar Reza kepada Dina dengan dijawab anggukan dan acungan ibu jarinya Dina.


"Halo, Banyu! Lo tau ada wartawan disini?" Tanya Dina sambil berbisik.


"Jangan bergerak dari tempat lo!" Ujar Dina yang melihat posisi berdirinya Banyu dan Andari.


"Kalau lo bergerak dari tempat lo, Andari bisa ke expose!" Ujar Dina lagi.


"Dengerin gue! Kalau gue kasih aba-aba, 1, 2, 3 lo keluar dari cafe. Bawa Andari pulang. Okay!" Ucap Dina tegas.


"Ban, siap! 1, 2, 3." Ujar Dina memberi aba-aba kepada Banyu.


Banyu saat itu langsung menutup teleponnya dan mengandeng tangan Andari menariknya keluar dari Cafe.


"Ini... ada... apa?? Uhuk... uhuk..." Ucap Andari terbata-bata karena lelah diajak berlari oleh Banyu.


"Hh... hh... wartawan." Jawab Banyu sambil menenggak minuman yang saat pelarian tadi ia sempatkan untuk mambeli air.


"Apa??!! Wartawan??!!" Pekik Andari terkejut.


Banyu hanya mengangguk meng-iya-kan jawaban Andari.


"Terus kita gak bisa pulang?" Tanya Andari agak sedih.


"Bisa. Tunggu tenang dulu." Ujar Banyu santai.


"Yaudah, kita pulangnya pisah." Usul Andari.


"Kenapa?" Tanya Banyu bingung.


"Karena ada wartawan." Jawab Andari.


"Karena kamu gak mau ke ekspose?" Tanya Banyu.


"Itu salah satunya." Jawab Andari.


"Maksud salah satunya?" Tanya Banyu lagi.


"Aku gak suka bikin susah orang. Aku gak mau buat kamu susah."


Ucap Andari santai tapi justru membuat Banyu terenyuh. Belum pernah ia bertemu dengan perempuan seperti ini.


Banyu tidak bertanya lagi. Mereka hanya saling bertatapan. Tapi hanya dengan tatap saja, mereka seperti sudah mengerti satu sama lain.


Tak lama saling bertatapan, Andari tersenyum manis kepada Banyu dengan menunjukkan lesung pipi yang indah. Semakin merona wajah Banyu dibuatnya. Hingga ia memalingkan wajahnya.


Saat itu HP Banyu berdering.


"Ya. Okay." Ucapnya dengan wajah yang agak serius.


"Gimana? Udah gak ada wartawannya?" Tanya Andari yang sejak tadi ingin mengetahui percakapan antara Banyu dan orang di sebrang sana.


"Gak ada." Jawab Banyu singkat tepat di depan wajah Andari.


Jarak mereka hanya 3 cm. Membuat Andari dengan cepat bergerak mundur karena jarak mereka yang terlalu dekat.


Semburat merah wajah Andari terlihat jelas oleh Banyu dan membuat Banyu tersenyum.

__ADS_1


"Yaudah, aku pulang ke arah sana" Tunjuk Andari ke arah sebelah kirinya.


"Kamu pulang ke arah sana" Tunjuk Andari ke arah kanan Banyu.


"Okay." Jawab Banyu singkat dan segera saja mereka berpisah dipersimpangan jalan.


Malam indah, malam yang singkat antara mereka berdua. Sungguh, jika ada kesempatan lagi untuk bercengkrama seperti ini, Andari akan sangat senang.


Andari berjalan menyusuri trotoar jalan dengan lampu malam sebagai penghiasnya. Ia berhenti sejenak dan memejamkan matanya merasakan angin yang bertiup.


Namun, bayang wajah Banyu muncul dihadapannya dan ciuman singkat itu terus bermunculan di kepalanya.


"Aku suka Yogya." Ucapnya lirih sambil membuka mata perlahan.


"Lagi bikin puisi?" Tanyanya.


"Banyu??!!!" Pekik Andari terkejut.


"Kok disini??!!" Tanya Andari kembali. Ia tidak percaya bahwa Banyu ada di hadapannya.


"Pulang yuk." Ajaknya sambil berjalan lalu.


"Kenapa balik lagi? Nanti kalau ada wartawan lagi gimana?" Tanya Andari yang khawatir sambil menoleh ke kanan dan kiri.


"Enggak akan ada wartawan." Jawab Banyu santai.


"Are you sure?" Tanya Andari meyakinkan lagi.


"Yes. I am." Jawab Banyu.


"Oh, iya! Dina sama Reza gimana? Lupa banget. Tadi kan nungguin mereka." Ujar Andari sambil menepuk keningnya.


"Mereka udah jalan pulang." Ucap Banyu sambil menggeser tubuh Andari agar tidak berada di pinggir jalan.


Sikap laki-laki yang seperti ini, akan meluluhkan hati wanita. Bertindak dengan nalurinya.


"Soal yang tadi sore. Kita lupain aja." Ucap Andari yang hatinya masih belum tenang karena kejadian ciuman dadakan itu.


"Apa? Ciuman?" Ucap Banyu dengan suara agak lantang.


"Ssst... pelan-pelan aja ngomongnya. Nanti kalau ada yang dengar gimana?" Ujar Andari dengan gemas kepada Banyu.


"Kenapa sih?" Tanya Banyu santai sekali.


"Wartawan itu bukan cuma mata aja yang tajam. Tapi lidah dan mulutnya juga tajam." Ujar Andari.


"Ohh... tempat kayak gini ada wartawannya juga?" Ucap Banyu yang melihat ada banyak angkringan dan tempat-tempat kongkonya anak-anak muda Yogya.


Andari tidak menggubris pertanyaannya. Ia hanya berjalan mendahului Banyu. Banyu tau bahwa Andari sedang marah padanya.


"Besok aku mau trip ke gunung merapi. Mau ikut?" Tanya Banyu.


Seorang Banyu ngajak perempuan jalan-jalan? Ini kalau Reza dan Dina dengar, mereka bisa terkejut tidak percaya.


"Enggak ah, nanti ada wartawan lagi, lari-lari di gunung kan capek." Ucap Andari yang mengundang tawa Banyu.


"Wkwkwk... ya enggaklah..." Tawa Banyu senang sekali.


Andari pun jadi ikut tersenyum karena melihat Banyu tertawa. Melihatnya saja sudah membuat Andari berkedut hatinya.


"Aku gak bisa ikut." Jawab Andari setelah sampai di depan rumah Joglonya.


"Ke Merapi?" Tanya Banyu.


"Iya." Jawab Andari sembari menatap lembut Banyu. Paling gak bisa Banyu ditatap lembut seperti itu.


"Kita perlu berhenti." Ujar Andari.


"Sebelum terlanjur basah." Lanjutnya sambil mengumpulkan tenaga untuk menahan air mata sebisa mungkin.


Ya! Andari sudah jatuh hati kepada Banyu. Sejak di cafe saat itu. Sikap Banyu yang membuat Andari luluh.


"Aku tau." Sahut Banyu tegas.


Entah apa yang dirasakan oleh Banyu. Ia merasa seperti ada yang hilang darinya. Tapi, ia merasa saat menjawab ucapan Andari, ia merasa ada sesuatu yang salah.


"Banyu!" Panggil Reza dari dalam rumah bersama Dina.


"Kok baru sampe?" Tanya Dina menatap curiga kepada Banyu dan Andari.


"Aku masuk duluan. Makasih ya." Ujar Andari yang langsung masuk ke dalam rumah bersama Dina dan meninggalkan Reza serta Banyu di luar.


Dina melambaikan tangannya kepada Reza menandakan bahwa ia harus masuk dan menyelidiki ada apa dengan Andari.


Andari masuk kamar di ruangan yang dekat dengan kebun belakang rumah. Ia bicara dengan Dina bahwa ia ingin sendiri dulu malam ini. Dina meng-iya-kan saja.


Setelah bersih-bersih, Andari mencoba memejamkan matanya, tapi justru bulir-bulir air mata berjatuhan. Malam itu, hujan menemani.


\*\*\*


Ketika kamu menyadari sebuah rasa


Ketika itu pula kamu sadar

__ADS_1


Bahwa kamu tidak ingin kehilangannya


__ADS_2