Andari

Andari
CHAPTER 19: BINCANG-BINCANG


__ADS_3

"Si Putri itu satu SMA sama kita gak sih, Din?" Tanya Andari.


"Kenapa? Mukanya gak asing ya?" Tanya kembali Dina.


"Iya, iya. Adik kelas apa ya?" Andari.


"Coba, coba kita kepoin ig nya." Ujar Dina.


Dina membuka instagram Putri yang tertera di instagramnya dengan nama "putrianggita".


"Hah? Putri Anggita?" Ujar Andari dan Dina serempak sambil saling lempar pandang.


"Adiknya Vano??" Tanya Dina kepada Andari.


"Adek sambung lebih tepatnya." Jawab Andari dengan wajah datarnya.


"Hah?? Bukannya adek kandung ya?" Tanya Dina yang terkejut dengan perkataan Andari.


"Bukan. Putri Anggita atau lebih tepatnya Anggita Putri Rahmaniar. Yang resmi jadi adik kandung Vano beberapa tahun lalu karena ibunya menjadi istri kedua Ayah Vano." Penjelasan Andari sukses membuat Dina melongo terkejut.


"Kok lo gak pernah cerita sama gue?!" Ujar Dina bersungut.


"Bukan gak mau cerita. Tapi, gue rasa, gue gak punya hak untuk bercerita. Pada saat itu." Terang Andari.


"Saat apaan?" Tanya Dina.


"Saat gue pernah pacaran sama Vano." Jawab Andari datar.


"Lo masih trauma dengan kejadian Vano?" Tanya Dina yang memegang tangan Andari.


"Enggak kok, cantik..." Ucap Andari sambil tersenyum manis dan mengelus lembut tangan Dina.


"Happy!! It's so nice to be happy!" Ujar Andari sambil teesenyum lebar dan cengar cengir.


"Heh! Seneng banget sih? Gue mah udah gak bakalan berani keluar rumah." Dina.


"Lo mah malah happy banget." Lanjut Dina.


"Lagian mau ngapain berlarut-larut dalam sebuah keterpurukan? Gak akan membuahkan hasil pula." Jelas Andari sambil menyesap lemon juice.


"Emang dah, sobat gue kuat luar dalam. Keren!!" Ujar Dina sambil mengacungkan ibu jarinya kepada Andari sambil mengedipkan satu matanya.


"Hahaha... berasa atlit angkat besi gue. Kuat luar dalam." Tawa Andari yang mengundang tawa lepas Dina.


"Eh, Ndar. Lo tau Pak Gunar kan?" Tanya Dina.


"Iya, tau. Asisstant nya Mas Banyu kan? Kenapa deh?" Tanya Andari.


"Doi lagi mau nyari pasangan." Ujar Dina yang sambil menyuapkan satu sendok toppoki ke mulutnya.


"Eh, iya apa?" Tanya Andari lagi.


"Iya. Udah tua kali itu dia." Ujar Dina yang sukses mendapat pukulan di lengannya dari Andari.


"Tua, tua, kayak lo gak tua aja. Gitu-gitu doi juga masih kece tau. Gak ada yang nyangka sama usianya." Terang Andari.


"Hahaha... emak-emak ngomel mulu. Iya juga sih. Masih keren banget doi. Tapi, Mas Reza lebih keren sih." Ujarnya yang mengundang tawa Andari.


"Reza ganteng? Iya dah. Suami gue gantengnya pake banget. Wkwkwk..." Lepas tawa mereka berdua.


*****


"Ban, jadi penanggung jawab project ada di Gunar ya." Ujar Reza yang sambil mengecek buku catatannya.


"Iya. Jadi, teman-teman semua yang in project silahkan di diskusikan dengan Pak Gunar ya." Tegas Banyu.


"Okay, Boss!" Jawab anak buah Banyu serempak.


"Good luck, everyone!" Ujar Banyu sambil tersenyum dan mengacungkan ibu jarinya.


Tidak ada yang menjawab satu pun dari mereka. Sampai Banyu, Reza dan Gunar keluar dari ruang meeting mereka baru bersuara.


"Wah... gilaaakk sih... cinta merubah segalanya." Ujar ketua tim lapangan.


"Keren banget tuh Bu Andari. Bisa meluluhkan hati Pak Banyu. Yang dari es berubah mencair." Sahut ketua tim editing.


"Pak Banyu, terima kasih, Pak." Ujar Gunar.


"Untuk apa, Gun?" Tanya Banyu.


"Karena telah mempercayakan saya bertanggung jawab penuh dengan project ini. Meskipun agak deg-degan juga. Hahaha..." Ujar Gunar.


"Hahaha... semangat Bung! Santai. Kalau ada yang mau di diskusikan dengan saya atau Reza, silahkan. Kami akan menyambut dengan senang hati." Jelas Banyu.


"Betul banget tuh, Gun. Udah, santai aja. Dibawa seloo... Hehehe..." Sahut Reza.


"Terima kasih Pak Banyu dan Pak Reza." Jawabnya dengan senyum sumringah.


"Sama-sama Gunar. Saya juga terima kasih. Karena pekerjaan saya banyak yang kamu handle." Ucap Banyu.


"Gue enggak?" Sahut Reza dengan bersungut.


"Bodoamat." Jawab Banyu jutek dan berjalan ke lobby dan masuk ke mobil Lexus LX nya.


"Wait, wait, wait." Ujar Reza yang memberhentikan Banyu saat memakai seatbeltnya.


"What?!" Tanya Banyu dengan jutek.

__ADS_1


"New car?" Tanya Reza sambil tersenyum meledek Banyu.


"Nope. Bye. I've to pick up my wife. Get out!" Ujar Banyu dengan dingin.


"Hahaha... dasar. Boss es! Belum nikah, udah nikah, sama aja!" Ucapnya sambil melihat mobil Banyu yang sudah meluncur jauh.


"Tapi, Pak Banyu sudah banyak berubah Pak Reza." Ujar Gunar.


"Iya, juga ya. Kalau dipikir-pikir, semenjak nikah dia lebih banyak senyum. Yah... gak kaku-kaku banget lah." Ucap Reza.


"Bapak bisa aja. Hahaha..." Tawa Gunar yang mendengar Reza mengghibahkan boss sekaligus sahabatnya tersebut.


"Eh, Gun. Lo beneran lagi nyari bini?" Tanya Reza.


"Iya, Pak. Bapak ada?" Tanya Gunar.


"Belum tau sih. Biasanya Dina tuh yang banyak kenalannya. Gue mah gak ngerti. Hahaha... coba nanti gue tanya Dina deh. Siapa tau ada. Hahaha..." Ucapnya yang mengundang tawa keduanya. Reza dan Gunar.


"Siap, Pak Reza! Sukses buat persiapan pernikahannya, Pak!" Ujar Gunar.


Reza menjawabnya dengan mengacungkan ibu jarinya dan masuk ke mobil Jaguar F Pace nya.


*****


WEDDING PARTY (REZA & DINA)


"Aakkh!!! Dinaaa!!" Pekik Andari yang mengunjunhi Dina di ruang bride room


"Ndariii!!!" Pekik Dina sambil memeluk Andari.


"You look so gorgeous!! Beautiful!!" Pekik Andari sambil mencubit gemas pipi Dina.


"Gue nikaaahh, Ndarii...!!" Pekik Dina yang heboh.


"Wuuaahh!!!" Pekik Andari dan Dina.


"Senang betul mereka." Ujar Banyu yang sejak tadi berdiri bersama dengan Reza menyaksikan kesayangan mereka dari jauh.


"Sayang" Panggil Banyu kepada Andari sambil memegang pinggangnya.


"Iya, Mas." Jawab Andari lembut.


"Kita tunggu di luar dulu ya. Biar Dina siap-siap dulu." Ujar Banyu.


"Okay." Jawab Andari sambil melambaikan tangannya kepada Dina yang masih menata wedding dressnya.


"Permisi, Pak Banyu. Boleh minta waktunya untuk berbincang sebentar?" Tanya salah seorang wartawan di pernikahan Reza.


Banyu dan Andari saling tatap. Reza juga melihatnya. Reza hanya menganggukan kepalanya, tanda ia menyetujui.


"Okay. 5 menit ya." Jawab Banyu yang sambil menggandeng Andari.


"Pak Banyu, apa kabar? Bu Andari bagaimana kabarnya?" Tanya wartawan tersebut.


"Baik." Jawab Banyu dingin. Andari hanya melihat Banyu sambil tersenyum.


"Suamiku ini. Kok isengnya gak ilang-ilang." Pikir Andari.


"Baik, Pak." Jawab Andari dengan senyum ramahnya.


"Pak Banyu, semenjak menikah, apakah ada yang berbeda dengan kehidupan bapak sebelumnya?" Tanya sang wartawan.


"Pastinya berbeda. Saya sudah mempunyai istri. Sebelumnya saya belum mempunyai istri." Jawab Banyu tegas.


Terlihat raut wajah wartawan tersebut ingin tertawa tapi ia tahan. Andari justru malah tertawa geli.


"Hahaha... ya, iya dong, Mas. Namanya sudah menikah pasti punya istri/suami. Kamu aneh-aneh aja deh." Jawab Andari dengan tertawa geli.


"Pak Banyu senang bercanda juga ya, ternyata." Ucap wartawan tersebut.


"Lalu, untuk keturunan, apakah sudah ada tanda-tandanya, Bu Andari?" Tanya wartawan kepada Andari.


"Sejauh ini belum ada. Minta doanya saja ya. Semoga lekas diberikan keturunan." Jawab Andari bijak.


"Apakah ada penundaan untuk sang buah hati?" Tanya wartawan kepada Andari.


"Enggak ada kok, Pak. Mengalir saja." Jawab Andari sambil tersenyum ramah.


"Untuk Bu Andari. Apakah ada perubahan, Bu? Menjadi salah satu bagian anggota keluarga Adhinata Singgih?" Tanya wartawan teesebut.


"Perubahannya mungkin saya lebih banyak dikenal banyak orang sepertinya. Hahaha..." Jawab Andari sambil tertawa.


"Hahaha... Bu Andari ini, senang bercanda." Ujar sang wartawan dengan tawa senangnya.


"Bu Andari, apakah ibu ikut serta ke perkumpulan "DS (Diamond Squad)"?" Tanyanya.


"Emm... sejauh ini belum, Pak." Jawab Andari.


"Bukankah pihak Diamond Squad sudah mengundang Bu Andari?" Tanya Wartawan tersebut.


"Betul. Saya memang di undang untuk ke acara Diamond Squad. Namun, waktu itu bentrok dengan jadwal mengajar saya. Jadi, saya tidak bisa datang." Jelas Andari.


"Berarti secara tidak langsung, Bu Andari menolak perkumpulan Diamond Squad?" Tanya wartawan tersebut masuk ke topik yang panas.


"Tidak. Saya tidak menolak undangannya. Saya memang di undang. Tapi, saya tidak bisa datang ke acara Diamond Squad karena masih ada jadwal mengajar." Jelas Andari lagi.


"Apakah Bu Andari setuju dengan pembubaran Diamond Squad? Yang sedang hangat diperbincangkan?" Tanya lagi sang wartawan.

__ADS_1


Banyu yang mendengar pertanyaan dari wartawan tersebut geram dibuatnya. Ingin sekali ia menghajar wartawan itu. Namun, Andari menahannya. Ia mengelus lembut lengan Banyu.


"Kalau saya jawab setuju, Bapaknya mau beritain tentang saya apa nih? Lalu, kalau saya tidak setuju, Bapak akan jadikan ini Headline News?"


Tanya Andari sambil tersenyum ramah. Meskipun ia kesal juga dengan pertanyaan Wartawan tersebut.


"Bukan apa-apa, Bu Andari. Hanya sekedar berpendapat tentu boleh dong. Kam Negara kita, Negara Demokrasi, Bu." Ucap wartawan.


"Boleh kok. Siapapun boleh berpandapat. Asal... tau menempatkannya dimana." Ujar Andari yang masih tersenyum ramah.


"Berarti Bu Andari juga tau bahwa di keluarga Adhinata Singgih tidak ada yang berprofesi sebagai seorang guru? Bagaimana pendapat Bu Andari?" Tanya sang wartawan.


Pertanyaan kali ini benar-benar membuat Banyu kesal. Banyu sudah mengepalkan tangannya.


"Benar. Di keluarga Adhinata Singgih memang belum ada satupun anggota keluarganya berprofesi sebagai tenaga pendidik." Jawab Andari.


"Tapi, apakah salah mempunyai profesi sebagai tenaga pendidik dan berada di tengah-tengah keluarga Adhinata Singgih?" Tanya Andari kemudian yang membuat wartawan tersebut tidak bisa menjawab lagi.


"Apa ada Undang-undangnya bahwa seseorang yang berprofesi sebagai guru tidak boleh masuk ke keluarga Adhinata Singgih?" Tanya Andari lagi kepada sang wartawan.


Wartawan tersebut hanya menunduk merasa bersalah atas pertanyaan yang di lontarkan kepada Andari. Banyu bangga melihat Andari yang sungguh berani menjawab pertanyaan-pertanyaan dari wartawan tersebut.


"Saya akui memang suami saya berasal dari keluarga berada. Tapi, tidak membuat saya mengandalkannya." Ujar Andari dengan tegas.


"Tapi, bukankah wanita senang jika bergelimang harta?" Tanya wartawan itu.


"Tidak hanya wanita, Pak yang suka dengan harta. Siapapun ingin bergelimang harta. Tapi, yang seperti apa dulu?" Tanya Andari.


"Soal suami saya bergelimang harta atau tidak, bukan menjadi sebuah perkara yang harus diperdebatkan. Masih banyak hal yang perlu dilakukan dibanding saya harus membahas tentang hal ini." Terang Andari dengan senyum ramah.


"Lalu, profesi saya sebagai tenaga pendidik. Itu pun jauh sebelum saya menikah dengan Mas Banyu, sudah saya diskusikan dengan Mas Banyu. Beliau menyetujuinya dan saya melakukan kegiatan seperti biasanya." Jelas Andari.


"Okay. Sudah 5 menit. Thank you." Ujar Banyu yang langsung memotong perkataan wartawan dan menggandeng Andari keluar dari sana.


Andari tau betul, Banyu sedang marah. Andari membiarkannya sendiri dulu. Ia menghampiri Dina yang sudah siap berjalan di karpet merahnya.


Andari melupakan sejenak kekesalannya kepada wartawan tersebut. Ia hanya ingin membuat moment indah di hari yang indah untuk sahabatnya.


Saat Reza menyematkan cincin pernikahan di jari manisnya Dina, Banyu datang menghampiri Andari dan mengecup singkat puncak kepala Andari.


Andari tersenyum dan mengelus lembut pipi Banyu. Ia melihat Banyu tersenyum tanda bahwa Banyu sudah mereda amarahnya.


"Okay, everybody. It's time for dance..." Ujar sang MC.


Love Songs dari:


-Bryan Adams - (Everything I Do) I Do It For You.


-Extreme - More Than Words


-John Legend - All of Me


-James Arthur - Say You Won't Let Go


-Lukas Graham - Love Someone


Dengan tambahan lagu dari Westlife yang membuat suasana semakin romantis.


Andari dan Banyu berdansa di hamparan pasir lembut dengan deburan ombak yang indah sebagai music background.


Mereka tidak saling bicara tapi saling tatap. Dari tatapan tersebut sudah terlihat bahwa kata "I'm fine, honey" terlihat jelas di wajah Andari.


Banyu mencium dalam kening Andari dan memeluknya erat. Andari menyambutnya dengan pelukan dan mengelus punggung Banyu.


"Makasih Mas Reza." Ucap Dina yang tersenyum dan menitikkan air mata karena terharu.


"Tidak perlu sayang. Ini yang seharusnya aku lakukan sejak dulu. Maaf, membuatmu menunggu terlalu lama." Ujar Reza sembari mengecup pipi Dina dan dibalas pelukan hangat Dina kepada Reza.


"Kita buat keluarga kecil bahagia ya, Mas." Ujar Dina berbisik di telinga Reza.


"Let's do it together, sweetie." Jawab Reza dengan mencium kening Dina kembali.


"Andari." Panggil Banyu saat duduk di hamparan pasir pantai.


"Iya, Mas." Jawab Andari menoleh kepada Banyu.


"Kamu tau, letak kehormatan seorang laki-laki ada di apa?" Tanya Banyu.


"Apa Mas?" Tanya Andari.


"Ada pada seorang perempuan." Jawab Banyu menatap Andari penuh.


"Perempuan yang mampu menjaga kehormatan dirinya sendiri, akan sangat mampu menjaga kehormatan suaminya." Jelas Banyu.


"Dan kamu, melakukannya sayang..." Ujar Banyu yang mencium pelipis Andari.


"Terima kasih." Ujar Banyu dengan tatapan hangatnya.


Wajah mereka berdekatan, kening mereka disatukan dan hidung mereka saling bersentuhan. Tak ada lagi jarak antara mereka. Bahkan sinci pun tak ada. Hingga membuat sunset sebagai saksi mereka mengukir moment cinta bersama pada matahari terbenamnya.


*****


Senja kala itu


Menjadi saksi antara kita


Menatap lembut penuh mesra

__ADS_1


Kala kau mengatakan


"I Love You"


__ADS_2