
Los Angeles,pukul 17.00
Mension keluarga park
Bangunan tinggi dengan desain Eropa. Nampak seorang wanita paruh baya sedang menyirami bunga-bunga yang ada di tamannya. Meskipun wajahnya sudah tak lagi muda namun dia masih terlihat cantik alami dengan make up seadanya.
Wanita itu tersenyum ketika mendapati anak laki-lakinya baru saja pulang dan sedang berjalan ke arahnya. Marcella chow, isteri Park Heo Seok sekaligus ibu dari Park Harry Aditya.
"Hallo mah.."Harry melambaikan tangan dan tersenyum manis kearahnya
"Kok baru pulang sih sayang?" Marcella tidak menjawab sapaan Harry, dia justru bertanya sembari mempoutkan bibirnya lucu, yang menandakan wanita paruh baya itu sedang merajuk.
"Hehehe..iya mah tadi nganter temen dulu" jawab Harry sambil cengengesan, berusaha meluluhkan hati wanita yang di depannya itu.
Melihat gelagat anaknya yang tidak biasanya Marcella pun mencoba menggoda anaknya
"Temen-apa temen? " goda wanita paruh baya itu sambil memperlihatkan puppy eyesnya
"Apaan sih mamah ah " elak Harry. Pemuda itu merebut pot bunga dari tangan mamahnya dan menyiramkannya kesalah satu pot yang belum disiram air.
Kurang lebih lima menit mereka tidak bersuara dan sibuk dengan kerjaan masing2. Marcella yang sedang fokus memberi pupuk pada tanamannya seketika menoleh ketika Harry memanggil wanita tersebut.
"Mah" Harry berkata lirih
"Hmmm.." Jawab marcella tanpa mengalihkan pandangannya pada pot yg sedang dia isi dengan tanah
"Ceritain dong awal mula papah sama mamah jadian..?" ucap Harry yang masih fokus menyiram pot terakhir tanaman mamahnya.
Marcella menoleh sambil menyernyitkan sedikit keningnya, merasa heran dengan pertanyaan laki-lakinya yang biasanya terlihat lebih introvert masalah pribadinya terlebih dengan masalah asmaranya.
__ADS_1
"Kenapa emangnya sayang, kamu kok tiba-tiba nanya gituan ? " tanya Marcella penuh selidik
"Pengen tahu aja mah hehehe.." Harry tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
"Waktu itu mamah ketemu papah dipesta ulang tahun temennya mamah. Trs sejak saat itu kami jadi dekat" ucap Marcella tersenyum ketika mengingat
kembali masa mudanya, mengenang awal mula perjalanan cintanya dengan seorang pemuda yang sekang telah menjadi suaminya, serta ayah bagi anak-anaknya.
"Terus apa yang buat mamah yakin pilih papah?" tanya Harry lagi, kini pemuda itu terlihat semakin antusias dengan jawaban mamahnya terbukti dengan seketika pemuda itu meninggalkan semua aktivitasnya dengan tanaman dan mulai memfokuskan diri menatap lawan bicaranya.
"Kalo mamah gak pilih papah mungkin mamah gak bakal dapet pangeran ganteng kaya kamu dong, sayang " Marcella mengedipkan mata,menggoda kembali anaknya.
"Yah..mamah serius" protes Harry, pemuda itu mulai kesel dengan jawaban mamahnya dan menganggap jawaban mamahnya tidak cukup membuatnya puas. Pemuda bermata sipit itu menampakkan wajah yang memohon, berharap mamahnya berhenti menggoda dirinya dan mau menceritakan masa mudanya.
"Hehehhe..iya iya maaf.Mamah ceritain yah" Melihat wajah Harry yang memohon marcella pun tak tega untuk menggoda kembali anak kesayangannya itu.
"Sebenarnya papah kamu tuh bukan satu-satunya pria yang suka sama mamah, banyak pria yang bahkan lebih mapan dan lebih tampan dari papahmu yang naksir mamah,sayang. Bahkan ada yang ingin langsung melamar mamah. Tapi entah kenapa mamah lebih memilih papah kamu, sayang" Marcella melirik Harry sambil tersenyum. "Mungkin karena cinta." tambahnya, kemudian tersenyum lembut kembali kearah Harry.
Harry tersenyum malu-malu, kulit wajahnya yang putih alami semakin membuat wajah pemuda Park itu langsung bersemu merah ketika menahan malu.
"Udah tembak aja mungkin dia juga suka sama kamu" ucap Marcella meyakinkan anaknya
"Nggak semudah itu mah, masalahnya" Jawab Harry lirih
"Lho emangnya kenapa..? Siapa sih yang gak suka sama pesona seorang Park Harry Aditya..? Udah ganteng, keren, idola kampus lagi" ucap Marcella memberi semangat.
"Kalo kamu kelamaan bisa-bisa dia diambil orang lho" Marcella menyenggol bahu Harry, wanita paruh baya itu kembali menggoda anaknya ketika anaknya tidak memberi respon apapun terhadap candaannya.
"Masalahnya dia tuh beda mah." ucap Harry lirih. "Dia tuh beda sama cewek-cewek lain yang suka deketin Harry, sebelumnya." Harry menarik nafas berat."Kalo Harry buru-buru deketin dia takutnya yang ada dia malah menghindar" jawab Harry mengungkapkan perasaannya.
__ADS_1
"Ya udah kamu sabar aja yah, kalo jodoh mah gak bakal kemana-mana kok. Buktinya mamah sama papah dulu putus nyambung- putus nyambung taunya nikah juga sampe lahir ka Eun ji sama kamu" Marcella tersenyum tulus menenangkan hati anaknya.
"Mah menurut mamah cewek itu suka sama cowok gimana sih?" tanya Harry malu-malu, mengutarakan pertanyaannya setelah bergulat dengan pemikirannya sendiri antara ingin bertanya jujur kepada mamahnya atau tak usah bertanya.
Namun jika bukan mamahnya, dia harus bertanya lagi kepada siapa? wanita yang paling dekat dengan dia hanyalah mamahnya dan Monica. Tidak mungkin juga dia bertanya langsung kepada gadis itu, yang notaben nya pernah menyatakan cinta kepadanya. Sungguh Park Harry tidak akan setega itu, menanyakan sesuatu tentang gadis lain kepada gadis yang sudah jelas pernah menyukai dirinya.
Marcella menghela nafas sebelum mejawab pertanyaan puteranya "Tak ada yang bisa mendesktipsikan seperti apa kita akan jatuh cinta,sayang. Karena cinta datang begitu saja, tanpa bisa diundang dan kita cegah. Kalau kamu memang benar menyukainya tunjukkan saja kalau kamu layak untuk mendapatkan cintanya".
"Sekarang cerita sama mamah, siapa gadis itu? apa mamah kenal sama dia?" tanya Marcella menatap jahil anak laki-lakinya yang sedang sudah menjelma menjadi pemuda tampan dengan sejuta pesona tapi sayangnya untuk melumpuhkan seorang gadis saja masih bertanya bagaimana caranya.
*****
Dilema..
Seperti itulah perasaan Harry saat ini, bolak-balik seperti setrikaan. Pemuda itu ingin mengungkapkan perasannya kepada gadis pujaannya, tapi di lain sisi dia takut akan ditolak oleh gadis tersebut. Tidak,Harry tidak takut ditolak hanya saja dia takut setelah itu Alesha akan menghindarinya. Namun setelah menimbang-nimbang ternyata rasa penasarannya melebihi semua ketakutan akan hal tersebut. Mungkin tak ada salahnya jika dia mencoba keberuntungannya, Harry mengambil ponsel yang dari tadi di pegangnya dan memberanihkan diri menuliskan beberapa kata dalam ponselnya.
"(Hallo sha,lagi apa..?)" send
Drrt..
ponsel kembali berbunyi menandakan pesan masuk
"(Lagi baca buku)"
Harry menggigit bibirnya sendiri, menandakan saat ini ia sedang grogi. Dia mencoba menarik nafas dan membuangnya perlahan dengan harapan bisa mengurangi rasa gelisa yang ada dalam hatinya.
"Oke Harry ini saatnya loe jujur dengan perasaan loe sendiri.Apapun yang terjadi seenggaknya loe tahu seperti apa perasaan Alesha ke loe" Harry bermonolog dengan dirinya sendiri.Meyakinkan hatinya untuk yakin dengan keputusan yang akan dia ambil. Lalu kembali sibuk dengan benda pipih persegi panjang yang sejak tadi dia genggam
"(Aku pengen jujur sama kamu, boleh)"
__ADS_1
"(Sha.Aku suka sama kamu)"