
Sudah hampir seminggu Alesha menghindar dari Harry. Dia sengaja datang kekelas ketika bell sekolah sudah berbunyi menandakan waktu jam belajar mengajar akan segera berlangsung dan buru-buru pergi ketika kelas telah usai. Bahkan lebih dari itu, dia mengabaikan pesan-pesan Harry yang masuk melalui ponselnya membuat seorang Park Harry menjadi semakin dilanda frustasi.
Selama seminggu ini semuanya berjalan baik sesuai yang dia harapkan karena mang Udin menjemputnya on time. Tapi sepertinya keberuntungannya untuk menghindari Harry hanya sampai disitu karena mang Udin hari ini harus mengantarkan mamahnya Alesha pergi belanja bulanan terlebih dahulu sebelum menjemput Alesha.
Kriiing...
Pelajaran usai, seperti biasa Alesha langsung nyelonong keluar dari kelas setelah professor Cintya keluar. Dia menunggu mang Udin ditempat jemputan yang sudah mereka sepakati bersama.
"Duh..mang Udin mana sih yah" batin Alesha gelisa, gadis itu menengok kanan kiri mencari sosok seseorang yang sedang dia cari. Dari raut wajahnya gadis itu terlihat sangat gelisa dan takut seseorang yang selama ini dia hindari menghampirinya tiba-tiba sebelum dia semapat menghindar.
"Alesha.."
Degg..
Seseorang memanggil nama gadis itu dan berlari kecil kearahnya. Alesha sangat familiar dengan suara tersebut, iya itu suara seseorang yang selama satu minggu ini ia hindari,Park Harry Aditya.
Alesha ingin berlari. Tapi terlambat, Harry telah menggenggam tangan Alesha.
Dengan gerakkan sigap Alesha menapis tangan harry yang menggenggam pergelangan tangannya, dia mencoba mengatur nafas agar terlihat normal didepan laki-laki bermata sipit tersebut.
"Apaan sih Ry lepasin tangan aku..!" Ucap Alesha ketus memandang pemuda itu dengan sorot mata tidak suka.
"Sha. kamu mau sampai kapan ngehindarin aku terus" Harry berkata lirih berharap wanita yang ada didepannya mau memberi alasan mengapa dia selalu menghindarinya.
"Siapa yang ngindarin kamu..?! aku enggak tuh" jawabnya masih dengan mimik wajah ketus tanpa ingin melihat expressi wajah Harry.
"Sha. please lihat aku..! Aku tahu kamu gak kaya gini" gumam Harry lirih.Sungguh saat ini ia sangat bingung dengan perubahan sikap alesha
"Siapa kamu..?! Emangnya kamu tahu seperti apa aku..?! Kita bahkan belum lama kenal " Ucap Alesha sinis sambil mencoba dengan sekuat tenaga untuk menatap harry, meyakinkan dengan sorot matanya bahwa dia sedang tidak bermain-main dengan ucapannya.
Sakit.Sebenarnya Alesha sangat sakit mengatakan rentetan kalimat yang ia lontarkan kepada Harry, tapi mau bagaimana lagi mungkin inilah jalan yang terbaik untuk saat ini. Membut harry mengerti untuk berhenti mendekatinya dengan cara membuat Harry membencinya.
Harry melempar pandangannya kesamping. Dia tersenyum kecut meratapi nasibnya.
__ADS_1
"Jadi selama ini dugaan gue salah..?! gue ngira kalo loe juga suka sama gue..!"
ucap Harry sarkisme tangannya mengepal kuat-kuat sampai kuku-kukunya memucat,sebagai upaya untuk menyalurkan seluruh kekesalannya pada lawan bicaranya.
Arrrgg...
Harry mengerang frustasi. Dia meninju dinding yang ada didekatnya, melampiaskan seluruh kekecewaan dan kekesalan tentang kenyataan yang baru saja dia sadari.
Darah segar mengucur di sela-sela jemarinya
"Harry..Harry..aku mohon kamu jangan kaya gini" Alesha mencoba menenangkan Harry. Tanpa sepengetahuan harry cairan bening menetes dari kelopak mata Alesha. Sungguh dia tidak tega melihat seseorang yang selama ini sering mengusik pikirannya terlihat begitu menyedihkan. Gadis itu ingin mengatakan kalau disini bukan hanya Harry yang terluka tapi dia pun terluka tapi Alesha memilih untuk tidak mengatakannya.
Gadis itu telah membulatkan tekadnya untuk menjauhi Harry dengan alasan tidak ingin terluka dan melukai lebih dari ini.
"Harry. Maafkan aku" ucap Alesha lirih, suaranya lembut penuh penyesalan. Entahlah, hanyaanya kalimat itu yang terlintas dalam benak gadis itu.
Tanpa mereka sadari sepasang mata telah lama menatap intens keduanya. Wajahnya merah padam dengan rahang yang semakin mengeras ketika melihat adegan demi adegan yang sedang dia saksikan. Pemuda itu dengan kaki jenjangnya melangkah dengan pasti menghampiri kedua anak manusia yang sedang saling menahan emosi.
Bugg..bugg..
"YA...! PARK HARRY APA LOE SUDAH GILA..?!"
Randy berteriak keras kepada Harry setelah berhasil memukul dengan 2 kali pukulan berturut-turut di wajah Harry dan berhasil membuat sedikit robekkan diujung bibir mungil pemuda bermarga Park tersebut.
"UDAH GUA INGETIN LOE BERULANG KALI BUAT BERENTI NYAKITIN MONICA..!"
Pekiknya lagi
Randy hendak kembali melayangkan pukulannya jika saja Monica tidak datang tepat waktu dan mengerai perkelahian tersebut.
"Oppa Geumanhae..!"
(kak.Berhenti..!)
__ADS_1
Monica menghampiri mereka dan mendorong keras tubuh Randy
Monica memandang sekilas wajah Harry dan Alesha bergantian dengan tatapan yang sulit untuk diartikan dan di menit berikutnya dia memandang Randy dengan sorot mata tajam.
"Follow me.Let's have a chat..!"
(Ikut aku. Ayo kita bicara..!" perintahnya tanpa mau dibantah sambil berjalan menjauh dari Harry dan Alesha untuk kembali masuk area kampus.
Sssttt...
Suara decitan ban mobil yang bergesrekkan dengan aspal
"Non Alesha ayo pulang" Ajak mang Udin. Dia baru saja sampai didepan kampus Alesha dan menghentikan mobilnya tepat di depan tempat Alesha berdiri.
Aleha mendongak kearah mang Udin sekilas lalu kembali melihat Harry yang masih menatap tembok dengan tatapan dingin.
"Kamu tunggu disini"
Mang Udin ikut melirik Harry. Sedikit terkejut dengan luka yang ada di area bibir Harry.
Alesha pergi kebelakang mobil dan membuka bagian belakang mobilnya. Sepertinya dia mencari sesuatu sampai tidak menghiraukan ucapan mang Udin yang beberapa kali mencoba untuk mengajaknya bicara dengannya.
Kemudian gadis itu kembali menghampiri Harry dengan membawa kotak kecil berlambang kesehatan. Tentu harry tahu kotak apa itu, itu adalah kotak P3K bahkan dia pernah belajar bagaimana cara memberikan penolongan pertama pada korban kecelakaan saat dia masih sekolah SMA.
"Ikut aku.Kita obati lukamu" ajak Alesha sambil berjalan mendahului Harry dengan membawa kotak yang tadi dia ambil dari dalam bagasi mobilnya.
"Harry..Ayo nanti lukamu infeksi..!" Alesha kembali berkata ketika dia melihat Harry tidak sedikitpun beranjak dari tempatnya bahkan tidak menghiraukan intruksinya.
"Sha. Luka ini gak seberapa sakitnya jika dibanding dengan luka yang ada di hatiku" gumam Harry lirih. Wajahnya pias dengan sorot mata yang memohon
"Please. Kasih aku waktu buat ngomong sebentar sama kamu Sha" ucapnya lagi
Alesha menghembuskan nafasnya kasar. Dia mencoba mengerti dengan posisi dan perasaan Harry saat ini
__ADS_1
"Kita obati dulu luka kamu..!" Jawabnya dingin lalu tanpa aba-aba gadis itu berjalan kearah taman belakang yang ada disekitar kampus.
Harry mengikuti langkah kaki Alesha dan tanpa sepengetahuan Alesha pemuda itu diam-diam tersenyum tipis.