
*Di Sekolah
Hari ini adalah hari yang melelahkan untuk berpikir, semua siswa-siswi akan ulangan semester genap selama 5 hari berturut-turut,
“hai mira, bukanya lu di skor selama seminggu yah” cetus baim ketika melihat amira yang memasuki kelas.
“kayaknya lu kudet im, abis ulangan kan dia mau di keluarin” sela jessy dan membuat semua siswa melongo terkejut atas ucapan jessy.
Di saat ulangan berlangsung amira mengerjakan tugasnya dengan seksama dan teliti, ia tampak cuek dengan teman kelasnya yang menggunjingnya ia merasa tidak akan pernah bisa dimaafkan oleh semua orang.
Stev hanya bisa mengamati amira dari kejauhan, ia bingung tidak bisa membantu amira dan pastinya amira masih marah dengan perlakuanya dirumah sakit waktu itu.
Berbeda dengan clarisa yang seolah-olah tidak kenal amira, ia hanya diam saja tidak seperti biasanya yang selalu ceria, clarisa takut untuk mengobrol dengan amira dan ia takut untuk dikeluarkan dari sekolah, bisa-bisa reputasi ayahnya hancur dan ia bisa dimarahi nanti.
5 hari pun telah berlalu, saatnya amira untuk angkat kaki dari sekolah ini, ia akan pulang ketika semua orang sudah tidak ada di sekolanya, ia ingin mengelilingi ruangan-ruangan yang ada untuk terakhir kalinya. Hampir setiap menit air matanya jatuh mengenai pipinya yang chubby itu.
Setelah selesai mengelilingi ruangan di sekolah yang ada, kemudian ia beranjak menuju halte untuk pulang,
“ini terakhir gua disini, dan dimana clarisa sahabat dari SMP yang pergi ketika ada masalah” gumam amira di dalam hatinya, “hahaha lucunya duniai ini” teriak amira sambil tertawa lepas.
“woy, lu ngapaain mir” ucap steven yang tiba-tiba berada di dekatnya, amira pun langsung menjauh dengan tatapan sinis seolah-olah ia tidak menyukai atas kehadiran steven.
“maaf stev, gue udah bertanggung jawab dan lo ngga berhak buat ocehin gua lagi” cetus amira kesal.
Steven diam dan sedih mendengar ucapan sinis amira kepadanya, ia tidak pernah melihat amira marah semarah ini kepadanya,
“mad gua ikut dong” teriak amira kepada muhammd yang lewat,
“loh mir kok belum pulang, ini gue lagi mau nyari makan”jawab Muhammad yang mendekati amira.
“gua temenin lo cari makan , tapi anterin gua pulang” pinta amira yang langsung naik ke motor muhamad, mereka pun melaju tanpa mempedulikan steven yang berada di halte sendirian.
Di dalam perjalanan amira tidak berkata satu pun kepada Muhammad , begitupun dengan Muhammad yang diam dan menikmati perjalanan Bersama amira.
“makasih yah mad udan anterin gua” ucap amira,
“iya sama-sama mir, gue boleh ngobrol bentar ngga di dalem” tanya Muhammad,
“iya boleh mad, masuk aja” jawab amira, kemudian mereka masuk ke rumah amira dan kebetulan sekali makan siang sudah siap, Muhammad pun ikut makan dirumah amira.
__ADS_1
“saya ngga enak nih diajak makan terus” cetus Muhammad,
“eh ngga papa nak, ayo nambah lagi” sahut bu minah sambil menambakan nasi ke piring Muhammad, amira hanya tersenyum melihat tingkah ibunya yang sangat baik terhadap Muhammad.
“ibuk, amira udah keluar dari sekolah” ucap amira pelan,
“yaudah kamu tinggal pilih aja mau sekolah dimana” jawab ibu minah,
“hemmm boleh ngga amira keluar kota” jawab amira,
“jangan” sela Muhammad, amira dan ibunya pun kaget mendengar ucapan Muhammad.
“emang kenapa mad” jawab amira,
“yah nanti lu kayak gue yang jauh dari orang tua” sahut Muhammad,
“ngga lah Muhammad, nanti ibu selalu ada disamping amira” sela ibu amina.
Amira tersenyum dan meneteskan air mata, ia terharu karena ibunya bisa mengrti perasaan amira.
Sebelum Muhammad pulang, ia memberi hadia kepada amira berupa cincin berwarna silver dan tertulis “MA” ,
*Taman
“kita ngga mau kerumah amira” tanya steven kepada clarisa yang duduk di sampingnya, “emmm aku ngga tega” jawab clarisa,
“yaudah jadi kenapa lu ngajak gue ketemuan” tanya steven,
“gue mau tanya tentang hubungan lu sama tania” ucap clarisa,
“gue udah bilang sama lu kan , kalo gue Cuma temenan aja sama tania” jelas steven. Mereka pun diam sejenak hingga akhirnya steven pergi meninggalkan clarisa.
“stev mau kemana” teriak clarisa,
“obrolan kita ngga penting” sahut steven, hingga akhirnya steven pergi menggunakan motornya.
Di dalam perjalanan pulang, steven bingung ingin menemui amira atau tidak, karena beberapa hari ini steven selalu ditolak amira ketika ingin mengobrol denganya.
“gue harus apa sih mir, eh bentar kayaknya gue harus kerumah amira buat tanya dia pindah kemana” gumam steven yang langsung balik kanan dan menuju kerumah amira.
__ADS_1
“rumah amira
“dit, lu ngapain di depan pager amira” tanya steven,
“gue lagi mengenang amira disini” jawab adit, “maksud lo apa sih” sahut steven bingung, “amira udah pindah barusan” jawab Adit, Steven pun kaget dan langsung melemaskan badanya ke pagar amira.
“dit, dia pindah kemana” tanya steven,
“dia ngga bilang ke sma mana, tapi yang jelas dia pindah ke jawa” jelas adit dan langsung pergi meninggalkan steven.
Steven hanya berdiam diri dan memandangi rumah amira.
Tangan steven basah karena tetesan air matanya, ia tidak bisa menahan keluarnya air mata, ia merasa bersalah karena tidak bisa menjadi sahabat yang baik yang selalu ada untuk amira.
“b*go banget stev, ngapain coba lu ngga ndengerin penjelasan amira” teriak steven.
*Di Perjalanan
Amira tidak henti meneteskan air matanya, ia sangat kecewa kepada clarisa dan steven, khususnya clarisa yang tidak mau mengakui kesalahanya kepada semua orang, padahal amira sangat mempercayai clarisa untuk menjadi sahabatnya tetapi di saat ada masalah clarisa malah tidak ada disampingnya.
“sudalah mir, ini adalah tanggung jawab kamu dan kamu harus ikhlas” ucap bu minah sambil memeluk amira dengan erat,
“iya bu amira bakal tegar kok” jawab pelan amira.
“apa kita masih ada tabungan buat disana bu” tanya amira,
“ada kok nak, online shop ibu juga masih lancer kok” jawab tenang ibu minah. Tidak lama kemudian mereka sampai di bandara dan bersiap terbang menuju kota tempat nenek amira.
*Rumah Nenek
Kota yang sangat ramah dan murah membuat amira dan ibunya memilih kota Jogjakarta sebagai tempat sekolahnya, ia sudah lama tidak mengunjungi nenek yang hanya tinggal sendirian di sini,
“cucuku wes gede yo nduk” sapa nenek, “hehehe iyo nek, kan di kasih makan terus sama ibuk” jawab amira.
Mereka pun langsung menuju kamar masing-masing untuk melemahkan badanya ke Kasur,
“ngga maem sek minah” tanya nenek,,, “wes bu” jawab ibu minah.
“akhirnya bisa main kerumah nenek, kalo ngga gini ngga bisa-bisa main kerumah nenek” ucap amira sambil merapihkan baju-bajunya ke lemari.
__ADS_1