
*Rumah steven
Setiap bulan di tanggal 15 Semua orang sibuk menyiapkan hidangan makan malam, mama dan papanya stev pun ikut serta menyiapkan rumahnya agar pantas untuk disinggahi oleh pengusaha yang sukses di London itu.
Steven yang jarang sekali membantu mama papanya membereskan rumah hanya bisa terheran -heran dengan sikap orang tuanya terhadap papa clarisa.
“ sebenarnya apa karena bisnis atau hal yang lain, bingung juga kenapa mama papa sampai begini demi bisnis hemm mungkin gue belum tau dunia perbisnisan jadi yah kudet” gumam steven dalam hati.
“stev, pokoknya kamu harus menjawab pertanyaan tamu kita denga hati-hati yah” ucap ibu Melly. Stev pun hanya melongo dan berpikir sejenak kenapa mama menanyakan hal itu disaat pak Budi Utomo saja yang datang bahkan tamu-tamu lain tidak seperti ini.
“silahkan duduk pak Budi” pinta pak Cristian dengan semringah. Pak Budi pun duduk dan ditemani oleh putrinya yaitu sahabat steven sendiri dan ia adalan clarisa.
Malam ini clarisa tampak lain dari hari biasanya, ia tampak menggunakan sedikit make up dengan rambut yang dikuncit rapih seakan-akan menghadiri pesta.
“wah sayang kamu sangat cantik hari ini” pujian yang keluar darim mulut manis ibu melly,
“hehe iya tante makasih atas pujianya” jawab clarisa dengan sedikit tersenyum. Yah karena clarisa ananknya tidak suka make up jadi dia agak keberatan dengan make upnya ini.
Mereka pun memulai makan malam Bersama, di tengah heningnya suasana makan malam itu dan hanya ada suara gesekkan garpu dan pisau yang membela steak, pak Budi pun melontarkan pertanyaan kepada pak Cristian, “bagaimana ini cris apakah anak-anak sudah tahu bahwa selesai sma mereka akan lamaran”
Steven dan Clarisa melongo sambil meletakan garpu dan sendok mereka dan melirik satu sama lain seakan -akan mendengar berita buruk.
“ha lamaran” jawab stev sambil berdiri. Dan kemudian clarisa pun ikut berdiri dan menjawab pertanyaan dari papanya itu
“apa pa lamaran dari mana coba, risa ngga tau tentang lamaran, dan risa akan dilamar sama siapa juga risa ngga tau pa”
__ADS_1
Mereka bertiga pun hanya tertawa melihat kedua anaknya kaget mendengar kabar gembira yang mereka bahwa itu,
“hey anak-anakku ayo duduklah nanti akan dijelaskan yah” pinta ibu melly. Dan mereka pun duduk dengan wajah yang ditekuk seakan-akan menolak keinginan dari orang tuanya itu.
“begini anak-anak, papa sama pak Cristian sudah lama ingin menjodohkan kalian sejak kalian masuk di sma yang sama, dan yang lebih bahagianya ternyata kalian bisa berteman dengan baik sampai sekarang. Papa ingin menjadikan keluarga bapak Cristian menjadi keluarga kita clarisa” jelas pak Budi kepada steven dan Clarisa.
Mereka hanya terdiam dan saling memandang wajah, karena mereka duduk berhadapan dan membuat mereka bingung antara sedih atau Bahagia tetapi mereka belum bisa memikirkan tentang perjodohan mereka saja baru selesai ulangan semester ganjil di kelas 2 sma.
“apakah kami bisa mengobrol di taman berdua saja” pinta stev pada pak Budi dengan lembut. “yah tentu boleh, pasti kalian terkejut dengan apa yang saya bicarakan tadi, kalian perlu waktu berdua” jawab pak Budi.
Kemudian mereka keluar dari ruang makan menuju ke taman.
Sesampainya di taman mereka duduk bersebelahan sambil melihat bintang yang indah di malam itu,
“menurutmu apakah kita harus menolak atau setuju” tanya stev.
Stev pun hanya terdiam dan memandang wajah sahabatnya itu lalu mengusap lembut rambutnya untuk meredahkan keadaanya.
“gue bingung stev kenapa harus lu, lu kan sahabaat gue terus kalo kita dijodohkan lucuh dong entar anak gue mirip sama lu” canda clarisa sambil menangis kecil.
Mereka pun melupakan hal yang barusan terjadi dan menyambung obrolan candaan yang saling mereka lontarkan.
“Clarisa ayo kita pulang” ucap pak budi di depan pintu rumah stev. Clarisa pun langsung menuju didekat papanya itu.
“ma tadi Cuma candaan pak Budi aja kan” tanya stev kepada mamanya yang sedang jalan menuju kamarnya.
__ADS_1
“iyalah masa engga, pak Budi sudah mempercayakan keluarga kita untuk mengurus Clarisa waktu dewasa nanti” jawab bu melly sambil merangkul stev.
*Di sekolah
Di pagi yang cerah ini amira berjalan menuju halte dan ditemani oleh seorang pemuda yang gaga, siapalagi kalo bukan adit,
“mir lu semangat banget hari ini, apa karena gue temenin berangkat sekolahnya” ledek adit sambil menggelitiki amira.
“ih lo apaan sih dit, yah ngga lah dit orang gua ngerasa kayak lebih seger aja hari ini” jawab amira dengan santai.
“karena lu ngga banyak pr kan, lu kan anak rajin and pinter jadi kalo ngerjaain pr sampek jam 2 pagi baru kelar” ledek adit.
“ eh dit lagian yah pr tuh adalah tanggung jawab kita yang harus dikerjaain dengan benar dsn teliti, yah kali gua ngga teliti ngga mungkin gua peringkat 1 mulu dari sd wekkk” ucap amira dengan nada PD.
Mereka pun telah sampai di halte sekolah, lalu mereka jalan menuju gerbang sekolah, terlihat siswa-siswi yang lain masih sedikit yang datang jam sudah menungjukan 07:40 wib dan seharusnya sudah banyak yang berdatangan.
“ini hari apa sih mir? Kok yang masuk Cuma dikit” tanya adit sambil berhenti di gerbang sekolah,
“ bentar-bentar hari ini kan hari sabtu cuy pantesan aja sedikit yang masuk” jawab amira. Adit pun hanya diam dan berpikir kenapa dengan hari sabtu.
“emang kalo hari sabtu ada yang beda yah dari hari lainya” tanya adit dengan nada kepo, “lo tu ngga tau atau pura – pura bego dit, kan lo sendiri yang ngumumin kalo hari ini masuk jam 09:00 wib karena kita mau bersih-bersih sekolah, gimana sih lo” jawab amira dengan kesal.
Adit yang mendengar penjelasan amira hanya tersenyum sambil menggaruk- garuk kepalnya .
“kok clarisa ngga masuk yah, kenapa dia” gumam amira di dalam hati sambil memunguti sampah di sekitar dirinya.
__ADS_1
“eh stev sini dulu” teriak amira pada stev yang sedang menyapu halaman dan seketika stev langsung memalingkan wajahnya dari amira karena stev sedang dilanda kegalauan yang terjadi tadi malam antara dia dan Risa.
“eh buset gua dicuekin sama tu anak, awas aja kalo mintak contekan pr lagi gua ngga kasih” ucap amira dengan kesal. Lalu amira melanjutkan tugasnya untuk membuat depan kelasnya bersih dari sampah daun atau plastic agar sekolah mereka menang dalam lomba kelas terbersih di Sma 88 jakarta ini.