Apakah Dia Sahabat Atau Calon Imamku?

Apakah Dia Sahabat Atau Calon Imamku?
Eps 5 Mengenal Muhammad


__ADS_3

Tepat pada hari minggu amira dan ibunya pergi ke pasar untuk belanja mingguan mereka pergi dengan motor yang dikendarai ibunya, karena amira belum cukup 17 tahun dan belum bisa buat SIM.


Banyak orang di dalam pasar, suara penjual pun ada dimana- mana sampai terdengar di parkiran pasar yang membuat amira dan ibunya mempercepat langkahnya untuk segera memenuhi keranjang pasar yang masih kosong.


“Bu beli alpukat dong” pinta amira dengan manja , ibunya pun hanya tersenyum seakan memperbolehkan anaknya membeli alpukat buah kesukaanya itu.


Saat memilih buah alpukat tiba-tiba tangan amira ditindihi tangan seorang pria.


“maaf maaf ngga sengaja” ucap Muhammad. “eh Muhammad, yah ngga papa kok, ambil aja buahnya gua pilih yang lain aja” jawab amira.


Muhammad pun langsung memberi alpukatnya kepada amira dan pergi meninggalkan amira,


“aneh banget cowok satu itu” gumam amira di dalam hatinya.


Ibu amira langsung menghampiri amira yang tak jauh dari ia berbelanja sayuran,


“ ada apa mir kok sinis banget liatin cowok itu” tanya ibu minah.


Amira pun langsung menceritakan apa yang terjadi padanya dan Muhammad, tentu ibunya hanya tersenyum dan mengelus kepala amira.


*Di Rumah


Ting! Nada dering pesan amira yang berbunyi ketika amira sedang membantu ibunya masak di dapur,


“ bentar yah bu, mau liat pesan masuk dulu siapa tau penting” ucap amira. Ibunya hanya menganggukan kepalanya.


Di dalam perjalanan menuju kamarnya, amira masih penasaran dengan sikap Muhammad kepadanya, apa benar yang dikatakan stev dan risa kalau Muhammad tidak bisa bersosialisasi terhadap manusia lainya.


“ha demi apa nih, baru aja aku pikirin dia, eh dia malah nge chat aku di WA” ujar amira dengan muka kaget dan penuh tanya-tanya. Amira yang penasaran tidak membalas pesan melainkan langsung menelpon Muhammad dengan PD.


“eh dasar malah ngga diangkat, emangnya nyebelin kaya stev” gumam amira dalam hatinya dengan perasaan kesal dan membanting HP nya di Kasur.

__ADS_1


“Mira… nak ini ada temen kamu” teriak ibu minah yang masih di dapur. Amira yang mendengar teriakan ibunya itu langsung keluar kamar dan menanyakan apa yang terjadi. Karena suara ibu minah tidak kedengaran di kamar amira.


“ada apa ibu cantik” tanya amira dengan manja, ibunya langsung menunjuk ke ruang tamu. Betapa kagetnya amira karena yang datang adalah Muhammad, amira pun langsung berjalan cepat menuju ruang tamu dengan raut muka yang bingung.


“asslamualaikum amira” salam manis Muhammad kepada amira yang dibumbui dengan senyuman yang menwan itu membuat amira tersenyum, disisi lain ada ibu minah yang mengintip dari balik gorden ruang tamu.


“wa waalaikumsalam mad” jawab amira dengan terbata-bata, dan amira langsung menyuruh Muhammad untuk duduk.


Lalu ibu minah mengantarkan minuman untuk Muhammad dan mereka mengobrol layaknya ibu dan anak.


Amira yang hanya melongo melihat ibunya akrab dengan Muhammad, dan semakin bertanya-tanya kenapa Muhammad tau rumahnya dan apa alasan dia main kerumah. “eh mad, lo ada perlu apa sama gua”tanya amira


“gini mir, aku kesini mau pinjam buku catetan kamu karena aku belum tahu apa aja yang udah dipelajari di sekolah baru aku ini mir” jawab Muhammad dengan nada sopan dan tutur yang lembut seakan menghipnotis orang yang berbicara kepadanya.


Tanpa menjawab apapun amira langsung pergi kekamarnya untuk mengambil buku catatanya itu.


grubak! Suara sesuatu jatuh di kamar amira yang suaranya sampai keluiar di ruang tamu.


“emm tadi amira numbur lemari bu, terus bukunya jatuh semua di badan mira” jelas amira.


Muhammad yang mendengar penjelasan mira langsung mendekati amira dan bertanya keadaanya, seketika pipi amira langsung memerah dan merasa baper.


Muhammad pun tidak lama berada di rumah amira, ia langsung pulang dan tidak lupa menyalami ibu minah.


“ya allah anak itu sangat sopan”ucap kagum ibu minah kepada Muhammad sambil mengelus-elus kepala amira dengan lembut.


“eh ibu lebay deh”jawab amira sambil menutup pintu rumahnya dan membereskan gelas bekas minuman Muhammad.


“amira tadi kok salting sama nak Muhammad” tanya ibu minah sambil tertawa


Amira yang masih malu dengan kejadian tadi langsung pergi ke kamar tanpa menjawab pertanyaan ibunya itu.

__ADS_1


*Di Kamar


“telpon gua ngga diangkat, tapi dia malah kerumah, heran gua dia dapet alamat gua dari mana yah” tanya amira dalam hati.


Amira yang masih memikirkan siapa yang memberi alamat kepada Muhammad, ternyata pikiran dia terhadap stev tidak bisa melampaui siapapun di dalam pikiranya. Pikiranya akan selalu berujung ke stev, apapun itu pokoknya stev.


Tidak terasa hari minggu pun sudah selesai, saatnya bagi amira melanjutkan kegiatan keseharianya yaitu sekolah, di dalam perjalanan sekolahnya ia seperti biasanya yaitu menunggu bis di halte dekat rumahnya.


Hari ini mira tidak berangkat bareng risa karena risa diantar papanya yang baru kemarin pulang dari luar negeri. Amira memakluminya karena papanya clarisa jarang bertemu dengan clarisa, biasalah lagi-lagi gara-gara sibuk dengan pekerjaanya.


Di dalam halte ia bertemu dengan pembantunya steve dia bernama bi susi, amira langsung mendekatinya dan mengobrol denganya. Karena hari ini amira datang lebih pagi maka bis pun masih sangat sepi hanya ada beberapa orang didalamnya sehingga amira bisa berganti tempat duduk di mana- mana.


“bibi hari ini sangat sibuk neng, banyak yang mau dibeli kepasar” ucap bi susi kepada amira yang sedikit mengeluh itu.


“loh emang ada acara apa di rumah stev bi” tanya amira.


“yah biasalah neng acara tentang bisnis gitu, tapi kalo sama papanya clarisa sih udah biasa, malah sebulan sekali tuh harus ketemu” jelas bi susi.


Amira yang langsung terkejut mendengar penjelasan yang keluar dari mulut bi susi pun hanya bisa bicara dalam hati,


“pantesan mama sama papanya stev mengistimewakan clarisa banget”


Sampailah amira di sekolah, amira hanya termenung memikirkan hubungan dia dan stev selanjutnya, bagaimana tidak, amira sangat mengiginkan stev dengan hatinya yang tulus. Tetapi di sisi lain keluarga stev pasti sangat menginginkan clarisa.


“astagfirullah miraa lo kenapa sih suuzdhon banget sama keluarga stev, inget yah perasaan lo aja belum lo nyatain sam stev, gimana lo mau lanjutin hubungan ini hahahah aneh banget diri gua ya allah” gumma amira dalam hati sambil senyum-senyum.


Amira yang mendengar bel berbunyi, langsung bergegas menuju kelasnya.


“mira tungguin aku” ucap seseorang yang berada di belakangya, laki-laki itu tak lain adalah Muhammad.


Sekarang mira mengenal suara dan tata Bahasa yang digunakan Muhammad, amira pun mencoba berteman baik dengan muhammad agar amira bisa menjadi manusia yang baik pula.

__ADS_1


__ADS_2