
Steven merapikan bajunya ke dalam tas dibantu oleh amira, sore ini steven akan pulang ke Jakarta karena besok pagi ia harus sekolah, steven tidak bisa berlama-lama dijogja karena sekolah akan mengadakan try out persiapan ujian nasional.
“mir bentar lagi kan aku pulang, ada yang mau kamu bicarain ngga” tanya steven
“apa yah stev, bingung mau ngomong apa” jawab amira santai
“mira, boleh aku minta sesuatu sama kamu”
“iya boleh dong stev, emang apa stev”
“aku minta kamu tetep tungguin aku yah, aku pasti dateng kesini buat kamu mir”
Amira hanya menjawab dengan senyuman, ia pasti akan tetap setia dengan stev walaupun memang mereka akan LDR nantinya.
“aku boleh tanya ngga sama kamu stev”
“iya apa mir”
“kapan kamu kesini lagi? Dan apakah kamu memang akan kesini “
“mira…. Kamu harus percaya sama aku, pasti akan kesini nemuin kamu dan itu pasti secepatnya mir”
“ciyeeeee serius amat lo, ngomong nya aku kamu lagi”
Mereka pun tertawa terbahak-bahak dengan pembicaraaan yang sok serius tadi, stev pun sudah selesai merapikan baju-bajunya dan saatny stev untuk berpamitan dengan nenek dan ibu minah, kedatangan steven kali ini berdampak besar bagi hubungan mereka karena sekarang mereka telah berkomitmen untuk selalu setia menunggu.
“bay stev hati-hati yah, I love you”
“I love you too amira”
Steven pun melajukan mobilnya dan beranjak pergi dari rumah amira, amira tidak berkedip melihat steven, sampai-sampai ibu minah yang ada disampingnya kaget mendengar kata-kata perpisahan mereka.
“ehemmm anak ibu kesambet apa nih”
“heheheh kesambet setan bucin buk”
“apa tu bucin”
“budak cinta bu hehehehheheh”
Di perjalanan ke kamar, ibu minah bertanya-tanya tentang hubungan apa yang dimiliki mereka, dan mengapa ibu minah berpikir bahwa ada hubungan special diantara mereka.
“ngga mungkin amira pacaran sama stev, karena stev aja udah dijodohin sama clarisa” gumam ibu minah di dalama hatinya.
*Kamar Amira
Amira sedih harus berpisah dengan stev, ia bahkan tidak tahu stev akan menemuinya kapan, ia takut jika stev berbohong kepadanya, lalu amira beberapa kali mengirimi pesan kepada stev untuk mengabari ketika telah sampai kerumah.
entah ini mimpi atau bukan, tapi amira ngerasa hubungan mereka akan banyak orang menentangnya, amira sangat yakin orang tua steven tidak akan merestui hubungan mereka karena perbedaan agama tetapi di sisi lain amira sangat yakin steven akan berbuat sesuatu untuk kelangsungan hubungan mereka.
“pokoknya gua akan terus pantau stev, yah walaupun Cuma lewat telpon, pokoknya gue ngga mau stev deket sama tania lagi
” gumam amira
*Rumah Steven
__ADS_1
“akhirnya sampe juga, eh bentar gue kabarin amira dulu deh”
“dari mana kamu, ngga izin lagi sama papa”
“ya ampun pa bikin kaget aja, ini stev dari rumah temen”
“yaudah cepetan siap-siap soalnya nanti ada clarisa sama papanya mau makan malem disini"
Steven tampak lesu mendengar berita bulanan yang membosankan itu, kemudian ia masuk ke dalam rumah dan bersiap-siap sesuai perintah dari papanya itu.
Tok tok tok….. “steven keluar yuk, itu clarisa udah dateng” teriak mama steven
Steven langsung keluar dari kamarnya menuju teras rumah untuk menyambut clarisa dan papanya,
“silahkan masuk pak, udah disiapin makan malamnya, mari” ucap mama steven
“iya terimakasi bu, ayo clarisa”
“iya pa”
Mereka pun makan malam Bersama,orang tua mereka tampak akrab mengobrol Bersama, berbeda dengan clarisa dan steven yang hanya menikmati makan malam mereka,
“clarisa tadi ngga ikut steven main kerumah temenya yah” tanya mama stev
“engga tante, emang stev kerumah siapa”
“gue kerumah adit, sa” jawab steven panik
Clarisa yang curiga dengan sikap steven, kemudian mengajak steven untuk keluar dan duduk di taman rumah steven.
“lu ngapain sa ngajakin gue kesini”
“tapi gue ngga mau sa, gue mau ke kamar aja”
Clarisa langsung menarik tangan steven untuk duduk di sebelahnya,
“apaan si lu sa, pegel tau ngga abis nyetir”
“lu abis nyetir kemana aja sampe-sampe pegel gitu tanganya” tanya clarisa dengan tatapan tajam pada steven
“yah pegel aja tangan gue sa”
“elehhh jujur lu pasti dari rumah amira kan, kenapa lu boongin gue ha”
“apaan sih sa, ini yang paling gue ngga suka dari lu sekarang, lu over prosesif tau ngga, semua ngga boleh terus apa yang boleh coba”
Clarisa hanya diam dibentak oleh steven, ia sakit hati kepada steven yang berbohong kepadanya. Berbeda dengan steven yang ingin sekali memarahi clarisa tentang peristiwa tania, tetapi ia masih meredam emosinya, ia menginginkan hal yang sam adengan amira yaitu clarisa bisa jujur dengan hatinya sendiri tanpa paksaan dari orang lain.
“gimana kabar amira dan ibunya”
“lu peduli sama mereka”
“bangs** lu stev, lu kira selama ini gue ngga mikirin keadaan amira, emang gue sahabat macem apa” teriak clarisa dan pergi meninggalkan steven
“harusnya lu intropeksi diri sa, bukan Cuma teriak-teriak aja” sahut steven
__ADS_1
Clarisa yang semakin emosi kemudian berdiam diri menatap steven dengan tatapan sinis.
“risa ayo pulang, udah kan ngobrol sama stevenya”
“iya udah kok om” sela steven
“iya pa, ayok kita pulang dari sini”
Clarisa pun pulang tanpa berpamitan dengan steven,
“kenapa itu sih clarisa sinis banget sama kamu stev”
“biasalah hubungan rumah tangga ma” sela papa stev
“apaan sih pa, garing tau ngga”
“garing apaan ma” tanya papa steven
“yah ngga berbobot pa”
*Kamar Steven
“haloooo tuan putri apa kabarnya” ucap steve di dalam panggilan telepon yang sedang berlangsung
“haloooo juga pangeran, gimana udah makan belum”
“udah dong mira cantik,mira udah makan belom”
“udah dong stev”
“yaudah deh tenang jadinya, emmm kamu belom tidur “
“seharusnya aku yang nyuruh kamu tidur stev kan besok mau try out”
“ya ampun lupa, yaudah akum au belajar sebentar abis tu tidur yah”
Steven pun langsung mematikan panggilanya, Ia langsung belajar dan segara beristirahat supaya vit saat try out besok.
*Diperjalanan Rumah Clarisa
Papa clarisa tampak bingung dengan raut wajah anaknya yang murung sejak tadi, “risa okkey”
“it’s okkey pa”
“kalo ada masalah cerita dong sama papamu ini nak”
Clarisa hanya menggelengkan kepalanya dan menangis, “ada apa nak, kenapa kamu menangis”
“clarisa kangen mama pa, clarisa bentar lagi udah mau ujian dan clarisa butuh mama”
“yaudah besok abis pulang sekolah kita ke makam mama yah, papa anter”
“papa ngga keluar kota”
“papa juga kangen sama mama, papa ingin menemuinya”
__ADS_1
Clarisa pun tersenyum mendengar ucapan papanya itu, sebenarnya clarisa tidak terlalu dekat dengan papanya ia pun jarang bertemu dan mengobrol Bersama, tetapi semenjak mamanya meninggal papanya selalu menyempatkan diri untuk pulang menemui anak semata wayangnya itu.
Dulunya setiap clarisa ada masalah, ia selalu menceritaka kepada ibunya bahkan meminta solusi kepada ibunya, sekarang clarisa hanya bisa memendam suka dan duka yang ada pada dirinya, ia tidak pernah menceritakan apapun kepada orang lain bahkan dengan sahabatnya sekalipun.