Apakah Dia Sahabat Atau Calon Imamku?

Apakah Dia Sahabat Atau Calon Imamku?
Eps 20 Kelulusan


__ADS_3

4 bulan kemudian hari dimana pengumuman kelulusan untuk SMA Jakarta, semua siswa dinyatakan lulus membuat steven, clarisa, Muhammad serta yang lainya kegirangan mendengar kabar kelulusan mereka,


“yesss gue lulus stev” teriak clarisa


“gue juga lulus sa”


“amira lulus ngga yah” sela Muhammad


“mira lulus kok, kemarin dia ngabarin gue”


“emang di sekolahnya udah duluan yah stev kelulusanya”


“iyaaaa, ngga usah sok perhatian deh lu”


Clarisa tampak diam dengan muka cemberut lalu ia pergi meninggalkan mereka, clarisa kesal mendengar stev membicarakan amira lagi dan lagi, hampir semua cerita yang keluar dari mulut stev berbau amira amir dan amira.


“terserah amira mau lulus atau ngga gue ngga peduli” gumam clarisa yang duduk di kursi pojok kiri aula


“lu emang ngga peduli dari masalah sama tania kan sa” ucap Muhammad yang tiba-tiba muncul disamping clarisa dan membuat clarisa kaget .


“apaan si lu, jangan sok tau deh” ucap clarisa panik


“gue tau apa yang lu lakuin sama tania waktu itu, gue udah curiga sama lu”


Clarisa langsung berdiri dan mendorong dada Muhammad, sampai-sampai Muhammad mundur beberapa langkah akibat clarisa.


“lu tau apa tentang gue, lu ngga usah ikut campur yah dan ngga usah sok tau” teriak clarisa dan membuat semua siswa tertuju padanya dan Muhammad.


“gue tau sebenernya lu yang ngerencanain buat jailin tania kan, lu maksa amira buat bantuin lu, tapi apa lu malah ngga ngakauin semua”


“apaan sih lu, pliss semuanya jangan dengerin omongan dia, ini semua ngga bener” wajah clarisa tampak memerah dan gerak-gerinya memohon kepada semua siswa yang mendengar ucapan Muhammad untuk tidak mempercayainya.


Stev langsung mendekati clarisa dan menarik tangan clarisa untuk pergi dari aula, tetapi tangan sebelahnya ditarik oleh Muhammad, “mau di bawa kemana clarisanya, biarin dia jelasin dulu stev”


Stev langsung melepaskan tangan clarisa, ia berpikir ini adalah cara yang sudah tepat untuk mengungkap kebenaran supaya amira tidak terlalu di salahkan terus-menerus di sekolah ini.


“coba lu jelasin semuanya sa, kalo emang lu ngga salah” ucap steven lembut


“apa yang harus dijelasin lagi stev, kasus ini udah ditutup terus untuk apa stev” sahut clarisa


“jelasin dong sa, biar kita semua tau mana yang bener antara lo dan Muhammad” sela baim


Keadaan pun semakin memanas, clarisa tampak panik dan kebingungan melihat semua orang memaksa dirinya untuk beri penjelasan.


“semua yang dikatain muhamamad bener, gue yang udah ngerencanain dan buat tania celaka, amira ngga salah karena gue maksa dia buat bantuin gue,puas kalian semua”


“huuuuuuuuuuuu apa apa an nih, ayok kita kasih tau kepsek” teriak semua siswa yang ada disana.


“puas lu stev” ucap amira yang beranjak pergi dari aula,


“risa” teriak stev

__ADS_1


Muhammad menepuk bahu stev dan berkata, “samperin gih, dia butuh lu"


stev berlari dan mengejar clarisa, ia mencari di sekeliling kelas tetapi tidak ketemu,


“woy im,clarisa mana”


“emm clarisa tadi sih ke ruangan kepsek kek nya” ucap baim


Steven pun berlari menuju ruang kepsek, di balik jendela ia melihat amira menangis dimarahi kepsek, sebenarnya steven tidak tega melihat clarisa menangis tetapi apa lah daya steven bahwa ini adalah hal yang ditunggu-tunggu oleh amira kekasihnya itu.


Tidak lama kemudian clarisa keluar ia melihat steven dengan tatapan tajam, ia lalu meninggalkan steven tanpa berbicara satu kata.


“sa gue anter pulang yah” pintah steven yang berjalan dibelakang clarisa


“ngga usah stev, gue pake taxi aja”


Steven pun langsung memeluk clarisa dari belakang dan ikut menangis,


“lu ngga sendirian sa, ad ague disini” tangis clarisa semakin pecah.


“udah udah stev ayok kita pulang” jawab clarisa sambil melepaskan pelukan steven dan menggandeng tangan steven untuk pulang.


*Rumah Clarisa


Setelah sampai dirumah clarisa, steven mengobrol dengan clarisa untuk segera meminta maaf kepada keluarga amira di jogja, clarisa pun menyetujuinya.


“besok jemput gue sama papa yah stev”


“iya sa, yaudah gue pulang dulu yah”


Di dalam perjalanan pulang, stev merasa dilema ketika memeluk clarisa tadi entah mengapa jantung stev berdetak lebih kencang tidak seperti hari biasanya ketika bertemu dengan clarisa.


Keesokan harinya perjalanan menuju jogja, raut wajah pak budi tampak marah sejak dari rumah tadi dan membuat stev tidak berani mengawali obrolan.


“maaf sebelumnya om, boleh saya ajak teman saya satu orang” pinta steven


“iya silahkan stev, ini kan mobil kamu”


“siapa yang mau ikut stev” tanya clarisa


“adit sa”


Mereka pun menghampiri adit kerumahnya, betapa kagetnya stev ternyata adit tidak sendiran.


“kok lu ngajakin dia sih dit” tanya steven sambil menunjuk Muhammad


“ya dia ngga ada temen di kos, makanya gue ajak”


Mereka pun melanjutkan perjalanan, di dalam mobil hanya adit yang berisik bernyanyi asal-asalan sampai-sampai pak budi tidur dari tadi.


“mau ngapain sih ke jogja” tanya adit

__ADS_1


“mau main kerumah mira dit” jawab steven


“ha serius nih, kebetulan gue belum pernah kesana”


“gue yang sering biasa aja” sela Muhammad


Steven yang kaget langsung mengerem mobil dan melipir ke kiri.


“eh eh eh kok berenti sih stev” tanya clarisa


“emmm gue mau beli minum dulu sa, biar ngga panas” jawab steven


Clarisa yang menyadari sikap steven yang tidak menyukai Muhammad hanya diam dan mengamati wajah Muhammad lewat kaca mobil.


“sa gue mual nih duduk dibelakang”


“terus gue harus apa dit” sahut clarisa


“lu mual ngga Muhammad”


“udah biasa gue”


Setelah beberapa menit kemudian stev masuk kemobil dan membawa banyak sekali makanan ringan dan minuman untuk dimakan ketika dalam perjalanan.


*halaman Rumah Nenek Amira


“pak budi, risa, adit udah sampe nih dirumah amira” steven yang membangunkan mereka dengan lembut


“woy gue ngga lu bangunin” sahut Muhammad


“tapi lu bangun juga, padahal ngga dibangunin”


“ udah-udah yuk turun” sela clarisa


Mereka pun beranjak kerumah amira, pak budi tampak bingung ketika melihat rumah amira, ia berhenti dan menjatuhkan botol minumanya.


“om kenapa” tanya steven


“papa kenapa kok berenti” ucap clarisa


“apa benar ini rumah amira, stev” tanya pak budi dengan suara agak keras


“eh buset pak jangan marah-marah dong, kenapa sa bokap lu” sela adit


“iya ini bener rumahnya mira om” jawab steven


Pak budi tidak berkedip melihat rumah amira, seakan-akan dia kaget melihat rumah amira, mereka pun melanjutkan jalan mereka dan memanggil nama amira.


“amira….amira…..” teriak adit


Pintu pun terbuka dan yang membukanya adalah nenek amira, tiba-tiba nenek amira meneteskan air mata dan membuat steven,adit,Muhammad dan clarisa kebingungan mengapa nenek seketika menangis

__ADS_1


Pak budi langung berlari mendekati nenek dan memeluknya, mereka menangis seperti ibu dan anak yang lama tidak bertemu.


“papa ngapain pa jangan asal peluk orang pa” ucap clarisa sambil memisahkan papa dan nenek amira.


__ADS_2