
"Mah, aku bisa di sini sendiri loh," ucap seorang perempuan yang baru saja memasuki rumahnya.
Rima, perempuan yang di panggil Mamah itu menoleh ke asal suara.
"Kamu masuk rumah salam dulu dong Zheya," tegur Rima halus.
Sepertinya ia tidak mempedulikan teguran Rima. Tanpa di aba-aba pun Zheya ya langsung mengambil posisi duduk di sebelah Rima yang sedang menikmati waktunya untuk menonton Televisi.
"Mah please, aku bukan anak kecil lagi yang harus di titip-titipin ke orang lain," ujar Zheya dengan tatapan teduhnya.
Rima tersenyum, mengelus surai rambut putri cantiknya itu dengan lembut penuh kasih sayang.
"Sayang, Mamah titipin kamu itu demi kebaikan kamu juga loh nak."
"Mamah cuman mau biar kamu ada yang urus."
"Aku bisa urus diri aku sendiri, Mah Atau gak aku ikut aja sekalian ke sana, aku juga mau ketemu bang Agha." sahut Zheya memotong ucapan Rima.
Rima menghela napasnya pelan. Anak keduanya ini memang sangat keras kepala. Persis seperti Papahnya, Reno.
"Kamu kan kuliah, Zheya. Ini juga Papah yang nentuin semuanya, kalo kamu berani coba bilang sama Papah apa yang kamu mau," kata Rima yang sudah kehabisan kata-katanya untuk memberikan pengertian kepada Zheya.
Zheya mendengus kesal. Jika Mamahnya sudah berkata seperti itu, mau menolak dan melawan pasti akan rasanya sulit. Jika mau melawan pasti harus berhadapan dengan Papahnya dahulu dan itu akan semakin ribut nantinya. Malah bisa jadi ia akan mendapatkan final yang lebih tidak mengenakan.
"Okay, okay fix, terserah Mamah sama Papah aja, tapi aku punya satu permintaan," ujar
Zheya bersama puppy eyesnya Rima tersenyum lembut merasa gemas dengan tingkah putrinya ini.
"Apa?" sahut Reno yang tiba-tiba saja datang menimbrung.
"Ish, Papah sana dulu dong, ganggu aja. Aku lagi ngomong empat mata sama Mamah," kesal Zheya
"Kamu yang ganggu berduaan Papah sama Mamah, udah kamu sana kalo gak mau sebutin permintaannya."
Zheya merotasikan bola matanya kesal. Reno tuh selalu saja membuatnya kesal bukan main.
"Syaratnya aku minta kalian jangan pulang lama-lama, sekalian bawa Abang Agha balik ke sini. Aku kangen"
"Kalau kamu nurut terus sama papah, Papah bakal kasih kamu 3 permintaan bagaimana?"
"Kayak jin aja ngasih 3 permintaan 10 dong Pah tanggung itu," seru Zhe mencoba menawar.
"Ya udah gak jadi"
"Okay, deal! Bye Pah, Mah aku ke atas duluan!
***
Pagi-pagi sekali tadi Zheya sudah sampai dirumah Leya dan Wino, karena ternyata keberangkatan Rima dan Reno lebih awal karena adanya perubahan jam terbang mereka.
Memang Zheya sempat di rumah Leya dahulu sebentar, setelah makan siang barulah Zheya dan Arka ke apartemen agar Zheya cepat menata barangnya di kamar yang sudah disiapkah di sana.
Ya, seperti yang kalian ketahui, menata kamar pasti memiliki waktu yang cukup panjang. Apalagi barang-barang Zheya cukup banyak mengingat kepulangan Rima dan Reno tidak di ketahui pasti kapannya.
Zheya membutuhkan waktu enam jam lamanya untuk benar-benar selesai merapihkan kamar barunya. Dan kini pinggangnya terasa ingin copot.
__ADS_1
Jam menunjukkan pukul tujuh malam, waktunya Zheya untuk makan malam.
"Ekhem sorry, ada makanan gak?" tanya Zheya kepada Arkha yang ia lihat sedang bersantai bersama game di handphonenya.
Arkha sempat menoleh sebentar sebelum ia kembali fokus pada gamenya kembali.
"Tolong jawab dong?"
"Gak ada."
Zheya menggembungkan kedua pipinya. Huft, ia kira akan ada makanan setelah ia hampir mati kecapekan membereskan kamarnya.
"Oke deh, thanks."
Tidak apa-apa Zheya, lagi pula di sini kamu hanya numpang, jadi harus mandiri juga cari makan, jangan manja.
Setidaknya itulah yang Zheya katakan pada dirinya agar rasa kesalnya berkurang pada Arkha yang sempat-sempatnya masih sibuk dengan game di tangannya tanpa memperdulikan Zheya yang sudah mati matian menahan lapar di perutnya.
Tidak ingin mengganggu Arka lebih jauh, Zheya memutuskan untuk meninggalkan Arkha di ruang tamu dan mencoba keluar mencari makanan.
Tapi belum selangkah Zheya mencapai gagang pintu, suara berat menginterupsi langkahnya.
"Mau kemana, lo?" tanya Arkha.
Zheya memutar tubuhnya menghadap Arka. "Cari makan, gue laper. Lo, mau nitip?"
Arkha melirik jam di layar handphonenya. "Sebentar, gue ikut."
"Gue sebentar doang kok, kalau mau nitip sekalian nanti gue beliin," kata Zheya menolak halus Arkha untuk ikut dengannya.
Zheya mengerjapkan kedua matanya. "Perasaan gue gak bawel-bawel banget deh, apa dianya aja kali ya yang sensitif abis?" ujar batin Zheya bingung.
Sepertinya emang tidak ada pilihan lain selain menyetujui Arkha untuk ikut mencari makan bersamanya.
Terbukti juga kan dengan mereka yang kini sudah berada di dalam mobil milik Arkha.
Iya, memang selama Rima dan Reno belum kembali ke Indonesia, mereka akan mencabut fasilitas kendaraan Zheya untuk kebaikan putrinya itu.
Jadilah di sini Zheya akan harus selalu meminta bantuan juga ke Arkha, jika ingin pergi kemana-mana harus di antar jemput oleh Arkha.
"Mau makan dimana?" tanya Arkha seraya melihat-lihat restauran yang tidak terlalu ramai dikunjungi.
Zheya tampak berpikir. "Hm, gue mau makan nasi goreng di pinggir jalan aja deh," jawab Zheya setelah tadi sekilas melihat tukang nasi goreng yang sedang mangkal di pinggir jalan.
Arkha tampak sedikit terkejut, tapi lelaki itu langsung merubah raut wajahnya seperti biasa lagi. "Yakin, kenapa? Lo gak suka, ya? "Yakin?"
Gapapa, kalau emang gak suka lo cari tempat"
"Emang gue bilang kalau gue gak suka?" tanya Arkha memotong ucapan Sheya.
"Ehm, enggak sih." Hening.
Dari Zheya dan Arkha pun mereka sama-sama memilih untuk bungkam tidak ingin membuka percakapan sampai Arkha memberhentikan mobilnya di pinggir jalan di samping warung tenda nasi goreng yang kebetulan tadi Arkha lihat.
Untunglah mobil Arkha masih mendapat area parkir, tahu akan makan nasi goreng di pinggir jalan seperti ini sih tadi Arka lebih memilih naik motor saja agar tidak susah susah mencari area parkir.
__ADS_1
"Pesen dua ya mas, sedeng aja pedesnya."
Arkha memesan dua porsi nasi goreng untuk dirinya dan Zheya, sedangkan Zheya sudah duduk terlebih dahulu di kursi yang masih kosong.
Setelah memesan, Arkha duduk berhadapan dengan Zheya.
Mengeluarkannya handphonenya seraya menunggu nasi goreng mereka datang. Tidak terkecuali dengan S Zheya, Zheya pun melakukan hal yang sama seperti Arkha.
Malah perempuan itu sudah lebih dulu tersenyum - senyum memandang layar handphonenya.
Duarr!!!
Tiba-tiba saja geledek serta kilat bersambar di langit. Sedikit terkejut, Zheya melihat keluar tenda yang menampik langit hitam yang sedang di hiasi oleh sambaran kilat-kilat yang menyeramkan.
"Mau hujan deh kayaknya," gumam Zheya pelan.
"Bagus, biar adem," sahut Arkha asal tanpa melepaskan pandangannya pada layar handphonenya.
"Ya iya sih, tapi nanti aja gitu pas udah sampai di apart."
Tidak ada jawaban lagi dari Arkha Karena setelahnya nasi goreng mereka sampai di meja mereka. Tidak lupa Zheya tersenyum dan berterima kasih kepada mas-mas yang baru saja mengantarkan nasi goreng mereka.
"Sopan ternyata nih bocah."
Tidak ada percakapan juga di antara keduanya. Mereka sama-sama diam menikmati nasi goreng mereka, terlebih Zheya yang dasarnya sudah lapar sejak tadi.
Kini setelah nasi goreng itu di hidangkan di hadapannya, Zheya benar-benar langsung melahapnya sampai benar-benar habis tidak tersisa.
Arkha sampai menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa aneh dengan tingkah Zheya yang tidak biasa pada tingkah perempuan pada umumnya.
"Mau nambah?" tanya Arkha ketika melihat piring di hadapan Zheya sudah kosong.
Zheya melihat nasi goreng Arkha yang sudah
hampir habis. Zheya jadi bimbang ingin nambah kembali atau tidak, karena jika ia nambah otomatis Arkha akan menunggunya nanti. Zheya takut Arkha akan merasa kelamaan jika harus menunggu Zheya makan kembali.
"Hm-"
"Mas, bungkus satu sama kayak tadi, ya?"
Arkha kembali memakan nasi gorengnya yang masih tersisa. Sedangkan Zheya malah terpaku melihat Arkha yang sepertinya tipikal lelaki yang selalu mengutamakan tindakan dari pada kata-kata.
"Gak usah liatin gue sampai bengong gitu, bisa?"
"Eh?"
Sheya gugup, ternyata ia kepergok sedang melihati Arkha. Sumpah malu banget, tapi gimana ya, Zheya juga ngelakuinnya tidak sadar kok, bener deh.
Tadi sempat terkejut aja melihat Arkha yang sepertinya tipikal lelaki yang diidamkan perempuan lainnya, lebih mengutamakan tindakan dari pada kata-kata. Apa lagi itu tipenya banget. Jadi, Zheya sempat terhipnotis beberapa saat dengan pesona yang Arkha keluarkan.
Haduh, Zheya nih bicara apa sih. Sheya harus sadar, sepertinya Arkha juga sudah mempunyai pacar.
Terbukti ketika tidak sengaja Zheya melirik layar handphone Arkha yang menyala dan menampilkan wallpaper seorang perempuan yang sedang berpelukan dengannya.
Kok sepertinya Zheya agak sedikit lemes ya bestie?
__ADS_1