
Benar saja, sampai di kampus tadi Zheya sudah terlambat hampir lima belas menit dan dosen pun sudah datang. Hal hasil, Zheya kena marah habis-habisan.
"Mau ke kantin gak, Zhey?"
Dhea berjalan mendekati Zheya yang tengah merapihkan buku-bukunya.
"Boleh deh, laper."
Setelah selesai merapihkan buku-bukunya, keduanya langsung berjalan beriringan menuju kantin.
Perut Zheya sudah bunyi sejak tadi karena Zheya memang belum sempat untuk sarapan juga kesiangan.
Di perjalanan menuju kantin, tidak sengaja Zheya melihat Arkha dan Aurel yang juga sedang berjalan beriringan menuju kantin.
Zheya jadi baru menyadari jika sebenarnya Zheya dan Arkha memang sering berpapasan juga di kampus.
Tapi karena keduanya memang belum saling kenal dan baru kenal kemarin, jadi Zheya baru menyadari yang sering ia lihat di kampusnya adalah Arkha.
"Kenapa Zhey?" Zheya mengerjap, kembali tersadar dari pikirannya.
"Ah, nggak. Kenapa?"
"Itu tadi lo kayak diem aja liatin si Arkha," ujar Dhea.
"Lo kenal Arkha?" tanya Zheya penasaran.
"Gue sih yang kenal, bukan dia. Gue kenal nama doang kok, cukup famous juga tuh dia makanya sedikit tau aja gue," jawab Dhea jujur.
Zheya menganggukkan kepalanya, tanda memahami jawaban Zheya. Ternyata memang benar Arkha cukup famous. Tidak heran Zheya, karena yang Zheya lihat pun Arkha memang sangat tampan dan keren dari segimanapun.
Tidak munafik, pertama kali melihat Arkha di kampus pun Zheya sudah tertarik dengan Arkha.
Tapi itu dulu, sebelum Zheya tahu jika Arkha
ternyata sudah mempunyai pacar. Mana pacarnya cantik pula, Zheya yang ingin terus maju pun merasa sangat insecure jika ingin bersama Arkha. Toh pacarnya spek bidadari.
"Oh, gue baru tau namanya."
"Gak heran si gue, lo terialu gak peduli sekitar Zhey."
"Uhuy, babang Arkha dateng bersama ibunda ratu," seru Alfin sambil memberikannya space duduk untuk keduanya.
Arkha membantu Aurel untuk duduk terlebih dahulu, barulah setelahnya ia duduk disamping Aurel.
Memang Arkha tuh tipe-tipe lelaki idaman semua perempuan. Arkha akan menjadi sedikit cuek dan.
Pendiam jika dengan perempuan lain, beda halnya jika lelaki itu sudah bersama perempatan yang ia cintai, Arkha akan menjadi seseorang yang sangat-sangat manja dan posesif terhadap apapun yang berhubungan dengan perempuannya.
"Ini buat bunda ratu, udah di siapin babang Arkha."
__ADS_1
Devin mengulurkan semangkuk bakso dengan sedang rasa pedasnya, karena memang dasarnya Aurel pun tidak terlalu suka pedas.
"Thank you Devin, gue makan ya," ujar Aurel dengan senyuman manisnya.
"Di makan atuh, masa mau di liatin aja? Nanti di omelin babang Arkha Joh."
"Bisa diem, gak lo?"
"Eits ada bunda ratu gak boleh marah-marah! Mwehehe," sahut Seno sekaligus meledek Arkha yang sudah menampilkan raut masamnya.
Aurel tertawa. "Kenapa? Arkha suka marahin kalian, ya?" tanya Aurel penasaran.
Alfin merotasikan bola matanya, mendengus kesal menatap Arkha yang sudah melotot tajam ke arahnya untuk mengkunci mulutnya agar tidak keceplosan berbicara. Tapi sepertinya, bukan Alfin namanya jika tidak mengadukan Arkha kepada Aurel.
Dengan senyum devilnya, Alfin menoel punggung tangan Aurel yang berada di
atas meja.
"Aurel, diem-diem aja ya? Jangan bilangin Arkha," kata Alfin seraya melirik Arkha sekilas.
"Kenapa?"
"Arkha ngomel-ngomel mulu, capek hayati nih di omelin terus! Tapi jangan bilangin Arkha
pokoknya, oke? Ini rahasia kita."
Satu keplakan mendarat di kepala Alfin. Sang empu hanya bisa mengusap kepalanya dan meringis pelan kesakitan.
"Lo kenapa si nyet? Main
keplak-keplak kepala orang aja! Udah
di fitrahin nih, dosa! Gue bilangin nyai
gue lo!"
Devin melotot kesal ke arah Alfin.
"Lo tuh tolol apa begi si, Jing? Bilangnya rahasia tapi satu kantin tau semua! Goblok!" sahut Devin yang sudah sangat geregetan dengan Alfin.
"Y-ya kan, gue lupa! Dahlah ah, capek mau beli truk!"
Brak!
Sebuah suara jatuhan mangkuk pecah menggema di seluruh kantin. Semua yang ada di kantin pun serentak langsung menoleh ke asal suara jatuhnya benda tersebut.
Selang beberapa kemudian terdengar suara rintihan tolong dari kerumunan yang entah sejak kapan sudah terbentuk satu detik ketika suara itu terdengar.
"Eh, tolongin temen gue dong! Ya ampun, Zheya!"
__ADS_1
Meski terdengar samar, Arkha masih mendengar jelas nama yang tersebut di akhir kalimat itu. Beberapa detik setelahnya, pikiran Arkha langsung tertuju pada satu nama yang baru satu hari lalu menjadi teman satu atapnya untuk beberapa saat.
Dengan perasaan yang wawasnya, Arkha langsung bangkit dari tempat duduknya dan berlari memecah kerumunan tersebut.
"Arkha! Mau kemana?"
"Lah si Arkha, langsung ngacir."
Walaupun sejak awal tadi Arkha sempat oberharap jika feelingnya tidak benar, tapi ketika ia masuk ke dalam kerumunan tersebut tubuh lemah Zheya terbaring di lantai bersama jatuhan kuah bakso dan pecahan mangkuk yang tadi terjatuh.
"Si anjing lo pada, kenapa gak ada
yang bantuin?!" teriak Arkha merasa
sangat marah.
Sedangkan yang lainnya hanya diam mematung setelah mendengar teriakkan Arkha tadi.
Jujur saja mereka terkejut ketika melihat Arkha yang tiba-tiba marah, karena seingat mereka pun Arkha belum pernah seperti itu kecuali pada Aurel saat perempuan itu pingsan karena tidak sengaja terkena lemparan bola basket. Dan itu pun Arkha marah besar kepada si pelempar bola basket tersebut.
Sekarang, ketika melihat Arkha melakukan hal yang sama seperti saat kejadian Aurel saat itu, tentu menimbulkan tanda tanya besar bagi mereka yang melihatnya. Apalagi setelah ini pasti mereka memiliki asumsinya masing-masing.
Dengan satu tarikan, Arkha berhasil menggendong tubuh kecil milik Zheya dan membawanya ke ruangan UKS kampus.
Tidak lupa, Dhea pun mengekor di belakang Arkha dengan wajah yang
tak kalah cemasnya seperti Arkha. "Aduh, maaf banget ya ngerepotin?" ucap Dhea merasa tidak enak sekaligus canggung kepada Arkha yang tiba-tiba saja menolong Zheya.
Arkha tidak mendengar ucapan Dhea, fokusnya sedang melihat Zheya yang di periksa oleh dokter yang memang bertugas di UKS kampus.
"Arkha?"
"Hah, kenapa?" tanya Arkha terkejut.
"Kenapa liatin Zheya sampai kayak gitu banget?" tanya kembali Dhea dengan ceplas ceplosnya.
"Eh, maksudnya gak git-"
"Perasaan lo aja kali," potong Arkha dan langsung berbalik badan meninggalkan Dhea yang masih bengong di tempatnya.
Melihat Arkha yang sudah menghilang dari pandangannya, Deha melirik Zheya dengan tatapan bingungnya. Hampir setahun mereka kuliah di sini, belum pernah ada yang menolong Zheya ketika pingsan selain Gibran, salah satu sahabat mereka.
"Aneh, perasaan mereka gak pernah ada interaksi. Kok kayaknya Arkha panik banget, ya?" guman Dhea. Brak!
Pintu UKS terbuka lebar, membuat Dhea dan dokter yang memang sedang menangani Zheya terkejut sesaat.
Di sana, di ambang pintu, seorang lelaki bertubuh tegap dengan raut wajahnya yang terlihat sangat khawatir tengah menetralkan degupan jantungnya yang berdegup cepat karena ia berlari dengan panik.
"Hosh! Hosh! Zhe...ya... gima... nahhh?" tanyanya dengan napasnya yang tidak beraturan.
__ADS_1