arzhey

arzhey
Bab 14


__ADS_3

Setelah kemarin sudah tidak ke kampus, akhirnya hari ini Zheya ke kampus bersama Dhea yang tadi menjemputnya. Tidak mungkin kan jika Zheya berangkat bersama Arkha?


Mau dibilang apa dia sama orang-orang yang melihatnya nanti?


Terlebih Zheya tidak mau berurusan dengan pacarnya itu.


Zheya melangkahkan kakinya ke kantin bersama Dhea di sampingnya yang masih berceloteh mengenai kepulangannya bersama dengan Devin waktu lalu.


"Ih pokoknya ka Devin ganteng banget jskakslslls!"


"Ngomong apa sih lo, Dhey?" Dhea memukul pelan lengan Zheya kesal.


"Lo ish, dengerin gue gak sih?"


"Hoy! Udah sembuh lo?" tanya Gibran yang langsung bergabung dengan Zheya dan Dhea.


Mengikuti langkah keduanya yang menuju kantin kampus.


"Berat monyet!" seru Dhea kesal karena tangan kekar Gibran yang tiba-tiba merangkul pundaknya dan Zheya bersamaan.


"Diem lo, gue lagi ngomong sama Zheya."


"Udah, thanks ya udah tolongin gue,"


Zheya menepuk lengan Gibran yang bertengger di bahunya.


"Apa si yang nggak buat bocil yang satu ini, ya gak Dhey?" Gibran menaik turunkan alisnya.


"Gak!"


Gibran mendengus sebal. Melirik Dhea sekilas dengan tatapan kesalnya.


"Tuh bocah satu nenek lampir kenapa sensi banget dah, Zhey?"


Dhea melotot tidak terima, dan langsung mencubit perut Gibran kencang.


"SIAPA YANG LO PANGGIL NE--- HMPHMP!!!"


Terkejut dengan teriakkan Dhea, dengan sigapnya Gibran langsung membekap mulut toa perempuan itu dengan telapak tangannya.


Memelototinya agar berhenti mengoceh.


Setelah di rasa Dhea sudah selesai dengan ocehannya barulah Gibran melepaskan bekapannya pada mulut Dhea.


"Sial, mulut lo berisik banget anjir!"


"Lonya!"


Zheya tertawa kecil melihat interaksi kedua temannya yang sangat sulitnya sekali untuk akur.


Zheya menepuk pelan pundak Gibran sehingga lelaki yang tengah kesal itu menoleh ke arah Zheya dengan ogah-ogahan.


"Dhea tuh lagi sensi, gue gak dengerin cerita dia yang dianter pulang ka Devin."


Gibran beroh ria.


"Devin temen sepupu lo itu?"

__ADS_1


"Eh? Oh, iya. Temennya Arkha sepupu gue," jawab Zheya cepat


Merasakan atmosfer yang kurang baik diantara ketiganya, Dhea langsung berinisiatif untuk mengajak keduanya cepat sampai di kantin karena perutnya sudah sangat lapar.


Sesampainya di sana mereka langsung mencari tempat duduk yang sekiranya nyaman mereka tempati.


Tidak lupa Dhea juga memesan semangkuk bakso dan minum untuk ketiganya.


Bersama guyonan-guyonan receh Gibran dan sesekali ributan Gibran dan Dhea membuat meja mereka cukup ramai.


Meskipun jika di lihat masih ramaian meja Arkha dan teman-temannya yang memang tidak jauh dari meja mereka juga.


"Weh, pernah lihat sabun mandi gak?"


"Pernah lah!" jawab Zheya dan Dhea agak ngotot karena pertanyaan Gibran yang tidak jelas.


"Emang kata lo gue gak mandi?" lanjut


Dhea kesal.


"Mandinya gimana?" tanya Gibran balik.


"Hah? Ya mandi, atuh mandi lah Gib, pakai tanya mandinya gimana." Gibran menyunggingkan senyum jahilnya.


"Gue nanya sabun mandi, gimana mandinya?"


Zheya memukul lengan Gibran kesal. Merasa terbodohi oleh pertanyaan gak jelas Gibran.


"Sialan! Tukang ager lo kadal-kadalin gue."


Tawa lepas Gibran menggema di kantin, sampai beberapa yang tidak jauh dari meja mereka menatap Gibran dengan pandangan bertanya-tanya.


Karena jujur, Zheya sangat malu setelah menyadari jika banyak pasang mata yang melirik ke arah mejanya.


Tanpa Zheya sadari, sedari tadi ada seseorang yang mati-matian menahan amarahnya.


Melihat keakraban Zheya dengan Gibran membuat Arkha seperti mendidih. Seluruh tubuhnya mendadak panas karena emosinya yang tertahan.


Memang, sejak tadi lelaki itu sulit sekali untuk tidak mencuri-curi pandang ke tempat Zheya yang sedang tertawa lepas.


Bohong jika Arkha tidak iri dengan Gibran yang bisa membuat tertawa Zheya. Berbeda dengannya yang malah Zheya terkesan seperti menghindarinya. Arkha jadi membenci dirinya sendiri


"Gue cabut dulu," ucap Arkha sebelum meninggalkan teman-temannya yang masih di kantin.


"Lah, kenapa tuh bocah?"


Seno yang sejak tadi memperhatikan Arkha yang sedang mencuri-curi pandang ke arah Zheya, ia langsung menunjuk Zheya menggunakan dagunya, memberitahu temannya alasan mengenai Arkha yang tiba-tiba pergi.


"Si anjing, dia kebakaran jenggot, Cembokur buta!" seru Alfin begitu menyadari maksud Seno.


Sejak kejadian di kampus tadi, Arkha memang belum pulang.


Arkha memilih ke basecamp mereka dengan teman-temannya dan berpesta alkohol kecil yang sudah ia pesan sebelumnya.


Di sini Arkha benar-benar seperti seseorang yang sedang patah hati.


Arkha menegak minuman beralkohol itu dengan sekali tenggakkan.

__ADS_1


Teman-temannya yang melihat itu merasa sangat iba dengan apa yang terjadi dengan Arkha.


"Ar, udahlah stop, lo udah habisin tiga botol kayak orang kesetanan," sahut Devin yang mencoba merebut sebotol alkohol yang Arkha ingin tuangkan kembali ke dalam gelasnya.


"Udah jam satu nih, kasian bini lo di rumah dewekan."


Arkha tidak mendengarkan teman-temannya, kepalanya masih sangat pusing. Tetapi ia masih ingin menegak alkohol itu.


"Ar, sadar anjing! Meski lo ada hak buat cemburu sama Zheya, harusnya lo sadar perbuatan lo ke Zheya!"


"Kita semua juga tau kalau mereka cuma temenan, beda sama lo yang malah punya hubungan sama Aurel. Lo gak malu cemburu sama Zheya?" Sial. Kepalanya benar-benar sangatpusing.


"Terus gue harus apa?" tanya Arkha lirih.


"Terima perasaan lo yang secara gak langsung udah mulai terbuka buat Zheya, meski gue tau di hati lo masih ada Aurel, tapi sekarang beda Ar, lo udah nikah punya istri," ujar Seno dengan sedikit pengertiannya.


Alfin menuangkan kembali alkohol ke gelas Arkha yang berada di tangan Devin.


"Al! Gila, ya lo?"


Alfin menyuruh kedua temannya untuk diam sebentar.


"Ini gue kasih lima botol lagi buat lo, gue udah tuangin juga ke dalam gelas lo, kurang baik apa coba gue sebagai temen lo Ar?"


"Sekarang lo pilih, minum tuh semuanya sampai habis atau lo pulang sekarang minta maaf sama Zheya?"


Arkha tampak diam sebentar, mencoba berpikir dan mengabaikai rasa pusingnya.


"Anterin gue balik, cok."


Ketiga temannya tersenyum bangga mendengar pilihan yang Arkha cerita ini.


Arkha itu hanya selalu menepis perasaannya saja. Arkha hanya butuh di bimbing sebentar sebelum lelaki itu memutuskan sendiri pilihannya.


"Lo tau yang terbaik Ar, gue percaya sama lo." Seno menepuk pundak Arkha bangga.


"Buruan! Jangan pada bacot aja, gue kangen Zheya!" teriak Arkha tanpa ia sadari apa kalimat yang barusan ia teriakkan.


"Anjing, temen gak tau diri."


Jujur zneya sangat terkejut mendengar bel yang terus-terusan bunyi. Zheya yang memang sudah terlelap di ruang TV langsung tergelonjak kaget dan mengecek siapa malam-malam begini yang bertamu.


Tapi begitu membuka pintu apartemennya, hal pertama yang ia lihat adalah tubuh Arkha yang bertumpu pada Alfin dan Devin.


"Ini kenapa?" tanya Zheya kelewat panik.


"Aduh, nanti dulu deh tanyanya ini bawa masuk dulu aja." Zheya menganggukkan kepalanya dan mempersilahkan teman-teman Arkha masuk dan meletakkan tubuh Arkha di sofa ruang Tvnya.


"Kobam tuh bocah, empat botol."


"Hah, gila? Mau mati dia?" tanya Zheya spontan karena terkejut.


"Kayaknya iya, Zhey." Devin menyahuti dengan polosnya.


Seno menyikut pelan perut Devin.


"Oh iya, kita gak bisa lama-lama. Gue sama yang lain pamit balik ya, udah malem juga," timpal Seno dengan tidak enak hatinya.

__ADS_1


"Oke gapapa, ini makasih ya Arkha udah di anter balik."


"Santai, Zhey, Kayak sama siapa aja."


__ADS_2