
Zheya sudah tiba di apartemen sejak dua puluh menit yang lalu, dan kini ia sedang membuat susu kesukaannya di dapur.
Belum genap sehari ia tinggal bersama dengan Arkha saja Zheya seperti sudah kehilangan dirinya. Biasanya ia akan berisik di kamar, menyanyi-nyanyi layaknya orang ke setanan dengan loncat-loncat di atas ranjangnya.
Tapi sepertinya kali ini ia harus mengubur dalam-dalam hobi malamnya itu, karena yang ia lihat sepertinya Arkha tidak menyukai keberisikan di sekitarnya. Lelaki itu terlihat cukup pendiam meski kalau diajak bicara masih merespon dengan sangat baik.
"Ekhem," dehem Arkha yang baru saja memasuki dapur dan membuktikan pintu kulkasnya.
"Ada yang bisa gue bantu?" tanya Zheya yang sedikit peka jika Arkha akan mengatakan sesuatu.
"Gue perlu bicara. Sekarang. Di sana," kata Arkha menunjuk arah balkon apartemennya.
"O-oh, oke gue akan ke sana seben_"
Belum sempat Zheya menyelesaikan ucapannya, Arkha sudah lebih dulu meninggalkannya sendirian di dapur.
Zheya jadi melebarkan bola matanya, tidak menyangka ia akan di kacangin seperti itu.
"Gak apa-apa, Zheya sabar kan Zhey?" ucap Zheya pada dirinya sendiri sambil tersenyum terpaksa.
"Ada apa?" tanya Zheya begitu duduk di samping kursi yang Arkha duduki juga disana.
Arkha menyeruput sodanya, melihat lurus ke depan ke arah gedung-gedung tinggi yang menjadi pemandangan dari balkon apartemennya.
"Lo gak tau kapan nyokap bokap lo balik?" tanya Arkha.
"Nggak."
Helaan napas keluar dari mulut Arkha.
"Terus sampai kapan lo bakal di sini? Gue gak mungkin selamanya nampung lo, kan?"
Agaknya Zheya terkejut dengan pertanyaan itu. "Ah, lo keberatan ya gue di sini?"
"Munafik kalau gue jawab nggak?"
Zheya tersenyum kecut.
"Oke, maaf. Gue pastikan, gue gak akan lama kok di sini. Seandainya emang nyokap, bokap gue pulang telat, gue janji akan tetap keluar dari apartemen lo secepatnya."
Arkha mengangguk pelan, kembali menyeruput sodanya.
"Oke, bagus," kata Arkha.
__ADS_1
"Dan gue minta, tolong tetap jaga batasan lo diapartemen gue. Jangan masukin area yang bukan area lo, kamar gue contohnya."
Kedua alis Zheya bertaut tidak mengerti.
"Gue rasa, tanpa lo kasih tau gue juga udah cukup pintar dalam memilih yang mana area gue dan bukan area gue. Gue juga sadar kok, di sini gue cuma numpang. Jadi bapak Arkha yang terhormat, lo gak perlu takut untuk hal itu," ucap Zheya sedikit tegas dari sebelumnya.
Karena jujur, meskipun sedikit, Zheya juga agak tersinggung dengan itu.
"Sorry kalau lo tersinggung sama peringatan gue, tapi gue cuma sekedar mau ngingetin aja kok."
Zheya tidak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya dengan malas.
"Gue gak masalah sebenernya lo mau bawa temen lo ke sini atau pun nggak, tapi kalau emang ada temen lo yang mau ke sini, tolong konfirmasi dulu ke gue dan usahain gue lagi gak ada disini."
"Untuk lo mau pulang jam berapa pun menurut gue itu hak lo, tapi terkadang kita juga harus tau diri buat gak nyusahin orang lain, kan?"
"So, kalau emang lo pulang malem usahain pulangnya jangan berisik, gue gak suka kebangun tengah malem cuma karena denger suara lo."
Ah, ternyata ucapan Arkha cukup pedas juga ya untuk gender laki-laki sepertinya. Tidak berekspektasi jika Arkha akan memiliki mulut yang tajam seperti itu, tapi tidak apalah.
Zheya masih bisa mewajarkan jika memang ada beberapa lelaki pasti ada yang memiliki mulut tajam sepertinya.
Jadi PRnya sekarang adalah untuk tidak membuat mulut tajam itu menyentuh hatinya.
"Ya?"
"Kalau ada temen gue main dan lo ada di sini, usahain jangan sering tampilin muka lo," ucap Arkha menambahkan peraturannya. "Dan begitu pun kalau ada cewek gue main ke sini," lanjut Arkha.
Oh bener kan, Arkha pasti sudah memiliki pacar. Tidak mungkin kan kalau lelaki sepertinya tidak memiliki pacar?
Eh tapi, memangnya Arkha lelaki seperti apa? Lelaki bermulut tajam si iya, bener.
"Oke, udah?"
"Udah, tolong di ing-"
"Udah gue catet di dalam otak gue," sela Zheya cepat dan segera meninggalkan Arkha di balkon sendirian.
Arkha ada kelas pagi hari ini, jadi Arkha sudah berangkat ke kampus lebih awal kali ini. Di tambah ia harus menjemput pacarnya terlebih dahulu, mau tidak mau Arkha pun harus lebih awal datang agar tidak terlambat nantinya.
"Kamu semalem kemana si, Kha? Kok aku telfon gak di angkat?" tanya Aurel yang menjabat sebagai tahta tertinggi di hati Arkha saat ini setelah kedua orang tuanya.
Arkha tersenyum lembut, mencubit pipi gemas milik Aurel. "Maaf, ya? Semalem aku keluar beli makan, maaf gak ngabarin kamu."
__ADS_1
Aurel memicingkan matanya, menatap Arkha curiga. "Tumben kamu beli makan keluar, biasanya kamu kan pesen online? Kamu tuh kan males banget kalau di ajak keluar cari makan gitu?" kata Aurel penuh curiga.
Arkha tertawa tipis. "Aku lagi kepengen banget nasi goreng dipinggir jalan, gak bisa pesen online kan cantik," jawab Arkha mencoba menutupi kenyataannya.
"Tuh kamu makin bikin curiga! Kamu tuh jarang banget kan makan dipinggir jalan gitu, kamu kan paling anti kalau liat tempatnya kotor, jujur deh kamu kenapa?"
"Sayang, aku udah jujur," ujar Arkha seraya mencium pipi Aurel berkali-kali.
Aurel yang diperlukan seperti itu oleh Arkha menjadi tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain membiarkan hatinya luluh kembali oleh Arkha.
Lagi pula emang kenyataannya Aurelnya juga tidak bisa marah lama-lama dengan Arkha dan lelaki itu pun selalu mempunyai cara agar dirinya tidak marah kembali.
"Ya udah, awas kalau kamu bohong!"
"Nggak cantiknya Arkha." "Eh tapi, kuping aku kok panas banget ya? Ada yang ngomongin aku apa sih, by?" Arkha mengusap-usap kedua telinganya tidak nyaman. "Masa sih? Siapa yang ngomongin kamu?"
Arkha menggeleng tidak tahu, ia masih mencoba mengusap-usap kedua telinganya yang masih terasa panas.
Dalam hatinya ia sudah menyumpah serapahi siapa yang sedang membicarakan dirinya saat ini.
Lihat saja, Arkha sumpahin ia akan tersandung ketika jalan nantinya!
"Sini aku tiupin!"
*****
"Arkha sialan! Bukannya bangunin gue, sekarang gue telat kan!" Zheya memakai sepatunya seraya mengomel tidak jelas sejak bangun tadi.
Bagaimana tidak? Ia mempunyai kelas pagi tetapi lelaki itu tidak membangunkannya tidur. Kelas akan di mulai pukul delapan nanti dan sekarang sudah pukul setengah delapan, dimana Zheya belum sama sekali jalan ke arah kampus.
Sudahlah tamat riwayat Zheya kali ini.
"Arkhanjing! Gue sumpahin kupingnya kepanasan sampe gue selesai cabut sumpah gue!"
Zheya berjalan cepat keluar dari apartemen, untungnya sedang ada taxi kosong di depan apartemen. Jadi Zheya bisa langsung masuk ke dalam taxi itu.
Tapi belum tepat selangkah lagi Zheya berhasil sampai di depan pintu taxi, tiba-tiba saja langkah kakinya terasa oleng dan saling bertabrakan dengan kakinya sendiri.
Ya, Zheya tersandung kakinya sendiri. Bodoh, bukan? Tapi kalian harus sadar, jika tidak bodoh, ya bukan S Zheya namanya!
Melihat sekeliling yang menatapnya dengan tatapan terkejut sekaligus menahan tawanya, Zheya buru-buru kembali bangkit dan berjalan cepat masuk ke dalam taxi guna menutupi wajahnya dari tatapan-tatapan mata yang akan menertawakan dirinya saat itu juga.
"Ish! Sial banget si hari ini gue!"
__ADS_1
"Arkhanjing, liat aja lo nanti!"