arzhey

arzhey
bab 8


__ADS_3

"Uhuy, bos dateng nih!" seru Alfin dengan sangat gembiranya. Dalam hitungan detik Alfin sudah memeluk kencang tubuh Arkha tanpa berniat melepaskannya.


Arkha yang dipeluk Alfin dengan tiba-tiba, langsung menepuk-nepuk lengan Alfin agar lelaki itu segera melepaskan pelukannya. Karena mau bagaimanapun, napasnya hampir saja habis jika tidak Alfin lepaskan segera.


"Lo mau bunuh gue, ya? Punya dendam sama gue?" cecar Arkha begitu Alfin melepaskan pelukannya.


Sedangkan lelaki yang baru saja di cecar Arkha hanya bisa menundukkan kepalanya takut-takut kena hajar Arkha.


"Udah udah, Alfin urusan belakangan."


Seno menyahut "Muka lo mesem amat, masih belum mau cerita, Ar?"


Arkha melengos pergi, mengabaikan Alfin. "Gue nikah, lusa," kata Arkha dengan wajah datarnya, Kalian percaya? Tepat setelah Arkha menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba saja suasana menjadi hening sejenak, sampai akhirnya Devin tertawa dengan sangat lantang dan diikuti oleh Alfin yang juga tak kalah lantangnya sampai terpingkal-pingkal.


Devin menghapus air matanya yang sempat keluar karena saking tertawa terbahak-bahak.


"Si Arkha mah kaga cocok ngejokes anjir!" seru Devin di sela-sela tawanya.


Seno menatap Arkha serius Sepertinya disini pun hanya Seno yang menganggap Arkha sedang berserius.


"Sama siapa. Ar?"


Alfin kembali tertawa geli. "Noh, temen lu Dev, percaya aja sama jokesnya si Arkha," kata Alfin.


"Zheya."


"Lah, siapa?"


"Buset! Serius?!" teriak Devin terkejut.


Sangat tidak percaya, Saking tidak percayanya, Devin bahkan sampai memegang bahu Arkha yang memang sedang duduk tepat berada di sebelahnya.


"Ini si Arkha serius apa nggak si, nyet?" tanya Alfin yang masih belum mempercayai ucapan Arkha Arkha menepis kedua tangan Devin yang masih bertengger di bahunya. "Nggak tau lah, intinya gitu," kata Arkha malas memikirkannya.


Alfin langsung berhambur ke Arkha, mengapit kedua pipi Arkha dengan telapak tangannya. Tatapan matanya menajam, menatap Arkha lekat.


"Main lo gak bersih, ya? Makanya kebobolan7" Pietak Satu sentilan yang cukup keras menghantam dahi Alfin. Lelaki itu meringis tertahan, mengusap dahinya yang terasa sedikit panas akibat sentilan maut Arkha


"Bodoh! Nggak gitu konsepnya gila!"


"Ya terus gimana? Lo selingkuh dari Aurel?"


"Bukan."


"TERUS APA SETAN? NGOMONG YANG BENER YA KAU ANJING!" teriak Alfin yang sudah sangat emosi dengan Arkha.


Arkha merotasikan bola matanya malas "Di jodohin kali," jawab Arkha asal.


"Nah kan gitu jelas ngom-lah buset! Masih ada jodoh-jodohan di zaman sekarang?"


"Tapi kan." Jeda Arkha bimbang.


"Tapi apa?"


Arkha mengedikkan bahunya tidak tahu, mengambil segelas alkohol yang sudah tersedia di meja bar mereka dan menegaknya hingga tandas.


Sedangkan ketiga temannya masih memproses semuanya secara perlahan.


"Gue si nyaranin, ikutin aja kata nyokap-bokap lo, Ar."


"Kamu gak mau nginep semalem lagi. sayang?" tanya Leya seriring telapak tangannya mengelus surai rambut


Zheya dengan penuh kasih sayang. Zheya tersenyum menggeleng "Nggak Mah, Zheya besok ada kelas jadi gak bisa nginep lagi deh," kata Zheya menyesal.


"Tapi lain kali nginep lagi sini ya Temenin Mamah masak."


Zheya mengangguk, mengacungkan. kedua jempolnya. "Siap, Mah!"


Leya tertawa kecil melihat tingkah Zheya yang menggemaskan. "Ya udah, kamu hati-hati pulangnya. Arkha, kamu naik mobilnya jangan ngebut-ngebut."


"Pelan-pelan Ar, naik mobilnya," lanjut Wino yang juga mengingatkan.


"Iyaa, Arkha pamit pulang dulu."

__ADS_1


"Zheya juga ya Mah, Pah."


Zheya dan Arkha menyalimi tangan Leya dan Wino secara bergantian.


Keduanya meninggalkan rumah megah itu setelah Zheya melambaikan tangannya ke arah Leya yang masih menunggunya di teras rumah.


Selama di perjalanan pulang, Zheya dan Arkha sama sekali tidak membuka suara.


Keduanya tenggelam dengan pikiran mereka masing-masing.


Atau lebih tepatnya, Zheya memilih memandang keluar jalan. Memutuskan kontaknya dengan Arkha.


Sampai keduanya tiba di apartemen pun, suasananya masih tetap hening Arkha lebih memilih ruang TV untuk bersantai seraya menikmati acara TV kesukaannya. Sedangkan Zheya lebih memilih untuk langsung masuk kedalam kamarnya tanpa mengatakan sepatah katapun kepada Arkha.


Sejujurnya Arkha sempat bingung dengan Zheya yang seakan selalu memutuskan kontak dengannya, seingatnya Arkha tidak memiliki kesalahan apapun. Tapi mengapa Arkha seakan didiamkan?


Ceklek


Pintu kamar Zheya kembali terbuka, menampilkan sesosok perempuan bertubuh ramping dengan berpakaian rapih seakan sudah siap untuk pergi ke tujuannya.


"Lo mau kemana?" tanya Arkha yang akhirnya memberanikan diri untuk memulai percakapan diantara keduanya.


"Keluar. "Kemana?"


Zheya sepertinya agak kesal mendengarkan Arkha yang kembali bertanya, "Kemananya gue bukan urusan lo, kan?" Oke, Zheya sudah berani.


Arkha pun sedikit terkejut, meski tidak terlalu.


Dia sudah menebaknya. "Ada yang perlu gue bicarakan sama Zheya menyunggingkan senyumnya tipis, dapat menebak apa yang ingin Arkha bicarakan dengannya.


"Gue udah tau."


"Lo... tau?"


"Bisa gak, kita gak usah bicarsin ini dulu? Gue gak mau mikirin ini dulu," kata Zheya yang agak sedikit emosi,


"Oke, sorry"


Terkadang Zheya hanya perlu melupakan semuanya sejenak dan hidup dengan damal dan tenang Ini memang bukan pertama kalinya Zheya melakukan ini, bisa dikatakan Zheya cukup sering melakukannya Kembali menegak minuman di tangannya, Dhea menepuk pundak Zheya pelan.


Mengisyaratkan perempuan itu untuk mengikutinya sebentar.


Zheya menurut, mengikuti langkah Dhea meskipun beberapa kali harus sedikit terhuyung.


Ternyata Dheu membawa ke depan sebentar, terlihat sepi dibandingkan di dalam club tadi yang sangat ramai dan berisik Zheya menumpu tubuhnya pada dinding di belakangnya.


Mengeluarkan sebatang benda kecil berbahan tembakau yang terapit disela-sela jari telunjuk dan tengahnya.


Sedikit membakar ujungnya menggunakan pemantik api dari kantong roknya mininya, lalu menyesapnya seakan ia sudah sangat mahir dalam melakukan hal tersebut.


"Lo ada masalah?" tanya Dhea yang melakukan hal serupa dengan Zheya.


Zheya tertawa sumbang. Menertawakan keratapan dirinya.


"Nggak ada."


"Tapi, mungkin?" Dhea ikut tertawa.


Menertawakan kebodohan Zheya.


"Jadi yang bener apa dong?"


"Gue nikah lusa, Dhey


Bukannya terkejut ataupun sekedar beroh ria, Dhea justru semakin tertawa, meskipun tidak besar tapi sedikit menggelikan.


"Dijodohin?" Tepat pada sasaran, Zheya mengangguk membenarkan.


"Terus, lo tolak?"


Zheya menggeleng, "Gak ada pilihan, abang gue ngehubungin buat terima itu, gue minta sambungin telfon gue sama Mamah-Papah gue aja gak di kasih," kata Zheya menjelaskan.


"So...?"

__ADS_1


"So, ya gue terima."


Dhea memberikan beberapa kali tepukan pada bahu Zheya, berharap itu akan memberikan kekuatan dan semangatnya meskipun hanya sedikit saja, setidaknya Zheya tahu jika ia tidak akan pernah sendiri.


Ada Dhea disini, yang selalu mendukung Zheya dalam keadaan apapun.


Dan Zheya selalu akan berterima kasih atas bentuk segala perhatian Dhea untuknya.


"La tau gue selalu dukung lo, Zhey."


"Dan gue selalu berterima kasih atas dukungan Lo Dhey"


Keduanya melepaskan tawanya di tengah keheningan malam yang menyelimuti malam mereka kali ini.


Tidak ada yang merasa sekedar beruntung ataupun sekedar merugi.


Keduanya sangat beruntung memiliki satu sama lain.


Persahabatan yang mereka jalin sejak duduk di kursi SMP tidak membuat mereka jauh, dan malah lebih saling mengerti satu sama lain.


Harapannya, semoga akan selalu seperti itu. Sampai kapanpun.


Selamanya.


"Gue anter pulang, buruan ambil tas lo."


"Bentar, habisin ini dulu. Tanggung."


"Sinting lo!"


"Dan lo juga, Dhey."


Lagi. Keduanya tertawa lepas. Menertawakan kebodohan keduanya yang tidak pernah ada habisnya. Atau bahkan akan melekat selamanya.


Pip!


Zheya berhasil memasukkan kode pin apartemen itu, dengan sedikit rasa pusing yang menyerang kepalanya,


Zheya berjalan masuk dengan bertopang pada dinding apartemen untuk membantunya agar tidak terjatuh saat melangkah ke kamar.


Tanpa Zheya sadari, di ruang TV, Arkha masih duduk manis menikmati serial film kesukaannya.


"Lo gak liat ini jam berapa?" Kalimat pertama yang masuk kedalam indera pendengaran Zheya.


"Bukan urusan lo," kata Zheya tidak ingin menjadi panjang.


Arkha bangkit dari duduknya. Menghentikan jalan Zheya.


"Jelas ini urusan gue, ini apartemen gue, lo gak bisa seenaknya keluar-masuk sesuka lo," kata Arkha yang sedikit terpancing emosinya.


"Wait," jeda Arkha setelah menemukan sesuatu yang janggal dari kepulangan Zheya.


"Hah? Lo mabok? Ini bau apaan? Alkohol? Rokok?" Arkha mengendus tubuh Zheya guna memastikan dugaannya tidak salah.


Sedangkan Zheya mendorong lelaki itu hingga mundur beberapa langkah dari tempatnya berdiri semula.


"Zhey, are you sure?" Berharap jika ini salah.


Sudah malas berdebat dengan Arkha, kali ini Zheya menguatkan tubuhnya agar tidak terhuyung dan bisa melanjutkan kembali langkahnya menuju kamarnya.


Tapi sayang, belum Zheya mendapatkan kakinya melangkah, ia malah terhuyung kedepan. Menubruk tubuh kekar Arkha yang langsung sigap, seakan Arkha sudah meramalkan jika hal itu akan terjadi dalam beberapa menit saja.


"Lo gak apa-apa? Mau gue bantu?"


Baru tadi Arkha mengomel tidak jelas, sekarang malah bersikap lembut seolah-olah lelaki itu mengkhawatirkannya.


"Gak usah, thanks."


Zheya kembali melangkahkan kakinya sampai di depan pintu kamarnya dan menutupnya rapat-rapat.


Lagi-lagi kembali meninggalkan Arkha yang masih termenung sendirian.


"Sial."

__ADS_1


__ADS_2