
"Lo boleh nolak ini," kata Arkha.mencoba mengerti.
"Dan biarin gue ngecewain.nyokap-bokap kita?"
Arkha diam. Bingung menjawabnya.
Sejujurnya ia pun tidak memiliki. Alasan untuk menolak. Menolak keinginan orang tuanya, itu bukan Arkha sekali. Apapun permintaan Leya dan Wino, Arkha selalu mencoba
untuk mengabulkannya. Itu seperti sudah kebiasaannya, bahkan sejak kecil pun, tanpa Leya dan Wino minta, terkadang Arkha berinisiatif sendiri untuk memberikan orang tuanya apa yang biasanya selalu orang tua lain inginkan dari anaknya.
Meski terkadang itu memberatkannya, tapi entah kenapa ketika melihat kedua orang tuanya tersenyum bahagia itu membuat Arkha melupakan kembali apa yang sebelumnya memberatkannya.
Malah terkadang Arkha menjadi merasa, "oh ternyata gini doang? Bersyukur ikutin kata Mamah."
Iya, Arkha selalu percaya apa yang Leya dan Wino katakan itu adalah demi kebaikannya, meskipun sesulit apapun itu.
Lagi pula Arkha merasa Leya dan Wino tidak akan mungkin mengatakan sesuatu yang tidak bisa ia lakukan, mereka pasti tahu batasan Arkha. Ya walaupun terkadang diawal Arkha suka menolak, tapi percaya deh, diakhir Arkha sering juga merasa bahagia melakukannya.
Sebenarnya Zheya pun merasa seperti itu, dan entah kenapa untuk permintaan yang satu ini, Zheya seperti tidak bisa menolak permintaan Rima dan Reno barang sedikitpun.
Hatinya langsung tergerak untuk mengatakan ia menyetujuinya tanpa ada tolakan.
"Gue rasa bahasnya sampai disini aja, gak ada yang mau lo katakan lagi kan?"
Arkha hendak membuka mulutnya, tapi ia urungkan kembali, sedikit ragu dengan kalimatnya yang akan ia ucapkan.
"Bilang aja, biar selesai."
"Sejujurnya, dari dulu gue berprinsip untuk menikah satu kali seumur hidup.
Gue harap, kita bisa lakuin itu, Zhey," kata Arkha dengan tatapan lekatnya pada mata Zheya.
"Pikirin dulu cewek lo, jangan ngada-ngada kalau ngomong, Jalanin aja dulu, urusan kedepannya mah nanti kan bisa."
Bukan itu yang Arkha ingin dengar dari kalimat yang keluar dari mulut Zheya.
Setidaknya Zheya sedikit berpendapat sama dengannya.
Tapi disini, Arkha tidak bisa menyalahkan Zheya seutuhnya. Apa yang dikatakan Zheya benar adanya.
Arkha lupa jika jauh didalam hatinya masih terdapat tokoh yang berperan menjadi tokoh utama di hidupnya.
Cerita indah yang sudah ia bangun dengan Aurel tujuh bulan belakangan ini terkesan menjadi sia-sia, Arkha terlalu pengecut untuk menelan fakta itu.
Dan Arkha lebih pengecut untuk tidak bisa memberanikan dirinya mengambil keputusan untuk melepaskan Aurel dan memilih untuk menutupi semuanya entah sampai kapan lamanya.
"Satu yang harus lo tau Ar, bangkai apapun yang lo berusaha tutupin tetep bakal kecium baunya."
Di hari pernikahan yang Zheya harapkan adalah keberadaan orang tuanya di sampingnya. Tapi sekarang, semuanya hanya sekedar harapan semata.
Rima dan Reno tidak datang di hari pernikahannya dengan Arkha, bahkan Reno tidak menjadi wali nikahnya. Rima dan Reno hanya menelfonnya sebentar sebelum acara akad, meminta maaf kepada Zheya karena tidak bisa datang ke acara pernikahannya.
Sebenarnya Zheya adalah orang yang cukup pengertian, ia tidak terlalu mempermasalahkan hal itu jika memang dengan alasan yang sangat jelas, dengan begitu Zheya akan mengerti. Setidaknya, kedua orang tuanya masih mau mengabulkan permintaannya untuk Agha datang menjadi walinya.
Leya masuk kedalam kamar Arkha yang kini sekarang berubah menjadi kamar pengantin dalam beberapa waktu ke depan.
"Th mantu Mamah cantik banget! Arkha pasti pangling nih liatnya," seru Leya dengan penuh antusiasnya.
Zheya tersenyum, melihat pantulan dirinya di cermin, "Mbak, make upnya jangan tebel tebel ya, mantu saya mah udah cantik dari sananya."
MUA yang dipanggil mbak itu tertawa kecil, menyetujui pendapat Leya yang mengatakan jika Zheya memanglah sangat cantik.
__ADS_1
"Pasti seneng banget ya bu dapet mantu cantik gini," timpal mbak Rara.
"Bukan seneng lagi, tapi bahagia banget!"
Entah Zheya harus sedih atau bersyukur menikah dengan Arkha. Calon mertuanya benar-benar menganggap Zheya seperti anaknya sendiri, Zheya merasa sangat disayang dengan Leya dan Wino.
Padahal bisa dibilang, Zheya belum terlalu dekat dengan Leya dan baru beberapa kali bertemu saja ketika mengantar Rima berkumpul dengan Leya dan teman-temannya.
Make up sudah selesai, acara akad akan berlangsung beberapa menit lagi. Zheya dan Leya menunggu Arkha mengucapkan ijab kabul dari dalam kamar menggunakan monitor TV.
Memang seperti itu, Zheya akan turun kebawah ketika Arkha sudah selesai mengucapkan ijab kabulnya.
Leya mengusap lengan Zheya, mencoba mengatakan lewat usapannya jika semuanya akan baik-baik saja dan Zheya tidak perlu takut akan hal itu.
"Sebentar lagi Arkha baca ijab kabulnya, kamu berdo'a ya sayang semoga rumah tangga kamu dengan Arkha selalu sakinah mawadah warahmah." Leya memperingati Zheya.
Terlihat dimonitor sana, Arkha sudah berjabat tangan dengan Agha.
Keduanya sama-sama menetralkan jantungnya sebentar sebelum mereka mengucapkan kalimat sakral yang ditunggu-tunggu semua orang yang melihatnya.
Zheya memejamkan kedua matanya disaat melihat Agha yang mulai membacakan kalimat ijab dengan lantang.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Arkhasya Adzillio bin Rewino Danuarga dengan adik saya yang bernama Zheya Dzevia binti Reno Dzevio dengan maskawinnya berupa mas 30 gram dan uang tunai sebesar Rp. 300.000.000, tunai."
Arkha menarik napasnya dalam, memantapkan hatinya untuk mengucapkannya dengan lantang tanpa salah satu huruf pun.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Zheya Dzevia binti Reno Dzevio dengan maskawin dan uang tunai tersebut, tunai."
Dengan satu tarikan napas Arkha berhasil mengucapkannya dengan lantang tanpa adanya kesalahan.
"Gimana para saksi? Sah?"
"Alhamdulillah."
Air mata Zheya menetes turun di pipinya, setelah mendengarkan suara Arkha yang masuk kedalam indera pendengarannya.
Terlebih ketika saat pembacaan Al-fatihah, Zheya hanya bisa memejamkan kedua matanya menahan tangisnya agar tidak pecah di hadapan Leya. Karena yang Zheya lihat saat ini, Leya pun merasakan hal yang sama sepertinya.
Leya kembali mengusap lengan Zheya, menguatkan perempuan yang sekarang sudah menjadi istri sah dari anak laki-lakinya.
"Turun kebawah yuk? Udah pada nungguin kamu dibawah tuh," kata Leya lembut.
Zheya hanya bisa mengangguk, mengikuti langkah Leya yang menuntun langkahnya kebawah untuk duduk disamping Arkha di tempat pembacaan ijab kabul tadi.
Hal pertama yang Zheya lakukan ketika sampai didepan Arkha adalah menyalimi tangan Arkha dan dilanjutkan dengan Arkha yang mencium kening Zheya lama.
"Nah sekarang udah sah nih, udah bebas deh mau ngapain aja," goda penghulunya.
"Sekarang sesi foto-foto dulu, ayo!"
######
Memang tamu yang diundang tidak terlalu banyak, hanya keluarga dekat dan teman dekatnya saja yang datang ke acara pernikahan mereka.
Itu semua agar tidak ada yang mengetahui jika keduanya sudah resmi menikah sekarang.
Mau bagaimanapun, Arkha
masih memiliki pacarnya yang tidak bisa ia tinggalkan begitu saja, Arkha masih sangat mencintai Aurel.
"Lo kalau capek, duduk dulu aja," kata Arkha seiring tangannya memberikan segelas minuman dingin untuk Zheya karena perempuan itu tadi mengadu kehausan.
__ADS_1
"Gak, gapapa," kata Zheya pelan.
"Ekhem!"
Zheya dan Arkha menoleh, mendapatkan keempat temannya yang sudah tersenyum penuh arti ke arah keduanya.
Zheya menghela napasnya panjang.
Ia sudah menebak jika kedatangan mereka hanyalah untuk sekedar menggodanya dan Arkha saja.
"Ih pasutri baru! Nih kado dari gue, selamat ya Zhey!" Dhea memberi kotak berukuran sedang untuk Zheya.
Dan bersalaman dengan Arkha dan Zheya secara bergantian, tidak lupa untuk cepaka-cepikinya.
"Makasih, Dhey."
"Lo bertiga! Buruan kasih selamat!" seru Dhea kepada ketiga teman Arkha yang hanya menyengir kuda dibelakang Dhea.
"Hehe bos Arkha, selamat ya akhirnya lo nikah duluan, jangan lupa nanti malem bos, hehe," ujar Alfin dengan senyuman seringainya.
"Ngapain Al?"
"Hmm anu, itu main slot."
"Gaya lu main slot, setan!"
Devin menarik Alfin mundur setelah lelaki itu selesai bersalaman dengan Arkha dan Zheya.
Sekarang giliran Devin yang maju memberikan selamat kepada keduanya.
Dengan tiba-tibanya, Devin langsung memeluk tubuh Arkha kuat.
Berpura-pura menangis disana ketika melihat salah satu sahabatnya sudah resmi mencabut gelar status lajangnya.
"Huhuhu ma bro! Sekarang udah punya bini, harus tetep sering-sering main ya! Sedih deh gue belum laku-laku nih," kata Devin penuh dramatis.
"Lepasin ah Dev! Geli gue!"
Devin beralih ke Zheya dan merentangkan kedua tangannya bersiap untuk memeluk perempuan itu. Tapi belum selangkah Devin berhasil melancarkan aksinya, Arkha sudah lebih dulu mendorong tubuh Devin hingga lelaki itu mundur beberapa langkah kebelakang.
"Eh ****** kudanil! Bini orang mau main dipeluk aje, wah gak bener ini! Harus diruqiah ini mah!"
"Kan mau kasih ucapan selamat," sahut Devin tanpa berdosanya.
"Iyaa makasi, Dev," balas Zheya yang menghargai Devin yang ingin memberikan selamat kepadanya.
"Pulang lewat mana lo?!" seru Dhea penuh kegarangan. Sedangkan Devin hanya tersenyum menampilkan deretan-deretan giginya dan mengacungkan kedua jarinya membentuk tanda peace.
Terlalu lelah dengan teman-temannya, Seno langsung melangkah lebih dulu dan memeluk Arkha ala-ala pelukan lelaki gentle.
"Selamat ya Ar, Zhey! Btw ini kadonya dari gue, Devin, Alfin," ucap Seno.
"Thanks, bro!"
"Makasih, Seno."
"Udah lah, kita mau makan dulu nih laper. Tadi liat makanannya enak semua kayanya."
"Habisin, habisin," kata Arkha dengan tawa kecilnya.
"Zhey, gue duluan ya? Mau ngangon ketiga bebek dulu, takut rusuh kalau gak dipantau, bye Zhey!"
__ADS_1