arzhey

arzhey
Bab 10


__ADS_3

Satu minggu setelah Arkha dan Zheya resmi menikah. Keduanya juga sudah satu kamar, Zheya yang pindah ke kamar Arkha, Awalnya keduanya menolak untuk satu kamar, tapi lagi-lagi perintah Leya sangat sulit sekali untuk mereka bantah. Jadi mau tidak mau, mereka harus sekamar dan tidur bersebelahan di kasur yang sama.


Di malam pertama keduanya resmi, Jujur awalnya Zheya sangat takut untuk bertemu Arkha, Zheya takut Jika lelaki itu akan menagih haknya sebagai seorang suami kepada Zheya, padahal Zheya tidak man melakukannya. Arkha yang merasa Zheya seperti menghindarinya pun sudah peka dengan ketakutan Zheya, Jadi saat Zheya pura-pura tidur, Arkha langsung menjelaskannya kepada Zheya jika ia pun sama tidak akan melakukan hal yang lebih kepada Zheya melebihi sebatas keduanya tidur bersebelahan. Saat itu barulah Zheya terlihat lebih tenang dari sebelumnya.


"Lo mau nitip makan? Gue mau keluar, tawar Arkha yang sudah rapih dengan setelan kaos hitam dan celana Jeansnya, oh tidak lupa bersama jaket kulit kesayangannya.


Zheya melirik Arkha sekilas sebelum ia kembali memfokuskan pandangannya kepada handphonenya.


"Nasi goreng aja," kata Zheya tanpa menatap Arkha.


"Oke, gue berangkat. Kunci pintu jangan lupa."


"Hm."


Ya seperti itu, tidak ada yang spesial diantara keduanya. Mereka menjalani hari-harinya seperti biasa. Tidak ada keromantisan, tidak ada percakapan panjang. Mereka hidup satu atap, satul kasur, tapi mereka seperti terlihat asing satu sama lain.


Arkha maupun Zheya tidak mempermasalahkan sebenarnya, mungkin mereka akan sedikit berakting ketika di depan Leya dan Wino


. Drrttt... Drett... Drett………...


Handphone Zheya berdering. menampilkan sebuah kontak nama di layar handphonenya, Agha.


"Hallo?"


"Lusa gue balik, lo gak ada niatan ngabisin waktu bareng gue?" Zheya terkekeh, mendengar kekesalan Agha diseberang sana.


"Ada si, besok mau?" Jam satu gue jemput."


"Oke bang."


Perempuan itu terdiam melamun, Agha akan kembali, dan itu berarti menandakan jika Zheya akan kembali sendiri lagi di sini.


Zheya menghembuskan napasnya dalam, merasa sangat kangen dengan orang tuanya yang jarang sekali dapat dihubungi


Ting!


Arkhanjing:


Gue balik malem, gak bisa beli nasi


goreng.


Kecuali lo belum tidur


Pipi Zheya menggembung, gagal khayalan yang sudah la buat tentang makan nasi goreng pinggir jalan itu.


Me:


Ydh, gk usah.


Zheya mematikan handphonenya, kemudian mencoba tertidur menutup kedua matanya rapat-rapat meskipun nyatanya ia belum mengantuk sama sekali.


Arkha memasuki area mall bersama dengan mobil hitamnya. Hari ini ia akan jalan bersama dengan Aurel ke salah satu mall di kotanya. Rasanya akhir-akhir ini ia susah sekali mendapat waktu berdua dengan Aurel.


Itu terkadang membuat Aurel menjadi marah dengannya yang tidak punya waktu luang sedikitpun.


Tangan lelaki itu terangkul di bahu Aurel.


"Kamu mau makan dulu atau nonton dulu?" tanya Arkha.


Aurel tampak berpikir, memikirkan apa yang menurutnya harus pertama dilakukan.


"Kita makan dulu gimana??

__ADS_1


Arkha mengangguk mengacak rambut Aurel dengan gemasnya. Dengan sekali tarikan, Arkha berhasil menggandeng tangan Aurel dengan erat menuju restauran sushi yang terdapat di dalam mall itu.


Sesampainya disana, Arkha langsung mencari tempat yang menurutnya nyaman untuk mereka tempati, setelah dapat barulah Arkha menyerahkan pilihan keinginan Aurel yang ingin memakan sushi kesukaannya.


Arkha tersenyum senang melihat Aurel yang terlihat sangat bahagia menyantap sushi kesukaannya.


Makannya sangat lahap, sesekali Aurel juga menyuapi Arkha untuk makan sushinya.


Dalam senyumnya, Arkha jadi berpikir, apa ia akan sebahagia ini ketika nanti dengan Zheya? Apa Zheya akan sebahagia Aurel ketika Zheya dengannya? Entah mengapa pertanyaan itu menjadi terus berputar dipikirannya.


Untuk sekarang, Arkha masih belum bisa mengambil keputusan apa-apa selain mengikuti semua alur yang sudah terjadi.


"Arkha, kamu kok makannya tumben dikit?"


Lelaki itu menggeleng. "Aku lagi gak laper, tadi udah semper makan di rumah cantik."


"Bener? Kamu lagi gak sakit, kan?"


"Nggak, sayang" Aurel tersenyum tipis, kembali memasukkan makanannya kedalam mulut kecilnya.


Setelah dirasa sudah sangat kenyang dan jam sudah menunjukkan pukul dimana mereka harus masuk kedalam bioskop, Arkha melakukan pembayaran dan menyuruh Aurel untuk menunggunya di depan. Setelah selesai melakukan pembayaran, barulah Arkha kembali menggandeng tangan Aurel dan membawanya menuju lantai dimana mereka akan menonton bioskop.


"Huh, hampir aja kita telat masuk." Arkha tertawa kecil melihat kelegaan wajah Zheya.


"Kamu makannya. kelamaan sih," kata Arkha dengan sedikit menggoda Aurel mencubit pelan perut Arkha


"Terus kamu nyalahin aku, Ar?" kesal Aurel seiring memalingkan wajahnya dari Arkha.


"Hhaha, nggak sayang. Kamu gak pernah salah," kata Arkha lembut.


Film sudah dimulai, keduanya tampak serius menikmati film yang menampilkan adegan romantis dari kedua pasangan yang dikisahkan di film itu.


Sampai dimana Aurel menyandarkan wajahnya pada ceruk leher Arkha, dan mencoba mencari kenyamanan dikulit hangat Arkha.


Arkha masih diam, membiarkan Aurel berbuat sesukanya. Sampai Aurel mencium pipi kiri Arkha secara tiba-tiba. Entah kenapa Arkha sedikit tidak rela dengan itu, walaupun nyatanya memang itu pernah terjadi beberapa kali.


Tapi ternyata tidak sampai disitu, Aurel menangkup kedua pipi Arkha. Dalam diam, Aurel menatap Arkha kelewat lekat sampai tatapan Arkha terkunci olehnya.


Dan itu membuat Arkha sedikit tidak sadar jika hihir keduanya hampir bersentuhan, sampai ketika Arkha mendengar suara bersin dari salah satu penonton disana yang membuat kesadaran Arkha kembali lagi.


Buru-buru Arkha langsung menjauhkan wajahnya dari Aurel dan kembali menonton film mereka dengan keadaan canggung.


Setelah hampir dua jam lamanya didalam bioskop, akhirnya keduanya kini sudah keluar dari sana. Arkha dan Aurel beriringan keluar dari mall karena tadi Arkha tiba-tiba saja mengatakan di suruh pulang oleh Leya untuk menemaninya di rumah.


Awalnya Aurel sempat tidak percaya, tapi melihat Arkha yang tiba-tiba mendapat telfon dari Leya barulah Aurel percaya. Arkha bersyukur sekali Leya seperti dapat menebak pikirannya "Arkha," panggil Aurel pelan


"Kamu kenapa sih? Kok kayaknya.semenjak tadi aku mau cium kamu, kamu jadi langsung diem gitu?"


Jujur Arkha bingung harus menjawab apa sekarang.


"Ah nggak deh, perasaan kamu aja itu mah," kata Arkha mencoba berbohong.


"Tapi kamu gak marah kan sama aku?"


"Nggak, sayang" Arkha melirik jam tangan di pergelangan tangannya.


Masih menunjukkan pukul sembilan malam, Arkha teringat tiripan Zheya yang menginginkan nasi goreng.


Arkha coba mencari nasi goreng pinggir jalan, dan membelinya dua porsi untuknya dan untuk Zheya. Aurel yang memang masih bersamanya tentu sangat kebingungan.


"Ar, kamu serius beli nasi goreng di pinggir jalan gitu?" tanya Aurel tampak tidak percaya.


Arkha mengerutkan keningnya yang juga tampak kebingungan dengan pertanyaan Aurel.

__ADS_1


"Kenapa? Enak tau, kamu mau?"


Aurel menggeleng keras. Membayangkan Arkha memakan nasi goreng itu saja sudah tidak bisa, apalagi jika ia membayangkan dirinya memakan nasi goreng itu? Ia tidak tahu bagaimana keadaan kulit serta lambungnya nanti setelah makan.


Sebenarnya Arkha sangat tahu maksud tujuan Aurel bertanya, hanya saja Arkha tidak ingin membicarakannya lebih jauh.


Jadi Arkha memilih tidak terlalu merespon pertanyaan Aurel dengan jawaban lebarnya. Arkha cukup mengerti jika Aurel tidak bisa memakan makanan di pinggir jalan seperti itu. Dan Arkha sangat menghargai itu, lagi pula pendapat orang tentu beda-beda bukan?


"Apa?"


"Itu yang cewek waktu itu di rumah kamu udah nggak nginep di kamar kamu lagi, kan?" tanya Aurel tiba-tiba.


"Nggak, dia udah pulang ke rumahnya. Sudah pasti Arkhal berbohong.


Tidak mungkin Arkha menjawab jujur jika yang Aurel maksud adalah Zheya sekarang berada di apartemennya, sudah menjadi istri sahnya.


Bisa ngamuk Aurel


"Oh, bagus deh. Kamu jangan deket-deket sama dia ya?"


"Kenapa?"


"Gak suka aja."


Arkha hanya memberikan senyuman tipisnya dan kembali fokus dengan jalanan ramai di hadapannya.


Ah entah, Arkha jadi bingung harus merasa bersalah dengan Aurel yang berbohong kepadanya perihal pernikahannya dengan Zhyea atau harus merasa bersalah dengan Zheya yang notabenenya adalah istrinya dan Arkha malah jalan dengan perempuan lain seperti ia sedang berselingkuh.


Iya, Arkha paham, tindakannya ini memang salah besar. Suatu hari nanti Arkha harus memilih salah satu diantara mereka, dan itu butuh waktu itu memantapkan pilihannya siapa yang harus hidup bersamanya selamanya.


Semoga Arkha bisa cepat menemukan jawabannya.


Pukul sepuluh kurang Arkha baru sampai di rumah, lalu langsung menuju kamarnya dengan Zheya.


Arkha melihat Zheya yang sudah tertidur pulas diatas kasus mereka.


Tidak ingin membangunkan Zheya, Arkha beraktivitas dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara yang terlalu gaduh.


Setelah bersih-bersih, Arkha mencoba ke dapur. Ia lihat dapur masih terlihat sangat bersih, dan di tempat sampah pun tidak ada sisa-sisa makanan yang berarti Zheya belum mengisi perutnya sama sekali.


Tidak tahu, tapi hatinya seakan mengisyaratkan untuk menyiapkan nasi goreng yang sudah dibelinya.


Sedikit menghangatkan nasi goreng itu sebentar, Arkha kemudian meletakkannya di atas piring yang sudah ia siapkan tadi.


Dengan perlahan, Arkha membuka pintu kamar mereka dan meletakkan piring itu di atas nakas.


Pelan-pelan Arkha mencoba membangunkan Zheya dengan lembut agar Zheya tidak terlalu kaget ketika bangun nanti.


"Zhey, bangun, makan dulu," ucap Arkha seraya menepuk pelan lengan Zheya.


"Eungh..."


Meski dengan sayup-sayup, Zheya membuka kedua matanya yang masih enggan untuk terbuka sepenuhnya. Zheya melihat Arkha yang sudah membawa sepiring nasi goreng di tangan kanannya.


"Ini makan dulu, lo belum makan kan?"


Dalam kemalasan yang ia sedang lawan, Zheya menegakkan tubuhnya dan bersender pada sandaran tempat tidur.


"Nih," kata Arkha seiring tangannya menyodorkan sepiring nasi goreng.


"Lo beli? Katanya pulang malem


hoaamm..."

__ADS_1


"Masih sempet beli ternyata, udah makan."


"Makasih, Ar." Arkha tersenyum membalas.


__ADS_2