arzhey

arzhey
bab 5


__ADS_3

Kepulan asap tersebar di udara. Lampu sorot berwarna-warni menyorot jauh ke dalam mata. Alunan musik bising yang memekakkan telinga menggema di seluruh ruangan.


Meskipun terkadang itu akan menjadi alunan musik yang memabukkan bagi sang penikmatnya.


Lurus ke depan, pandangan lelaki itu mengamati segerombolan insan yang menari lepas di tengah ruangan.


Tanpa memikirkan beban di kepala maupun di pundak, siapapun yang menginjakkan kaki di tempat ini sepakat untuk melepaskannya semua. Setidaknya hanya untuk beberapa jam kedepan.


"Kenapa? Seminggu ini lo susah banget di ajak buat kesini, is there a problem?"


Ah pertanyaan itu, memang untuk satu minggu belakang ini Arkha sangat sulit sekali untuk hanya sekedar keluar berkumpul dengan teman-temannya.


Ia merasa seperti mempunyai tanggung jawab yang harus ia lakukan untuk menjaga Zheya, meskipun terkadang Zheya hanya diam di ruang TV dengan menikmati cemilannya dan menonton drama Korea favoritnya.


Yeah, sometimes it feels like a burden to him.


Arkha tersenyum tanpa menyentuh ujung matanya. "Nggak ada, Dev."


Devin mengangguk, tidak ingin lebih dalam menanyakan tentang kondisi Arkha. Ya, menurutnya dari mereka mungkin memang harus menghargai sebuah privasi masing-masing? Tidak, bukan mungkin, melainkan memang seharusnya seperti itu.


"Oke. So... Butuh beberapa tenggak alkohol untuk membakar tenggorokan lo, Ar?" tawar Seno seiring menuangkan alkhol itu ke dalam gelas kecil milik Arkha.


"Exactly, that's what I need."


Sedangkan di lain sisi, di meja yang sama, dengan beberapa tokoh yang sama. Satu di antara ke empatnya terdiam menyimak. Atau dikatakan, lebih tepatnya menyimak karena tidak mengerti?


"Please deh, jangan ada yang ngomong bahasa Inggris gitu, kita kan bukan orang Inggris. Udah ngomong biasa aja gitu," keluh Alfin dengan napasnya yang sedikit kesal.


Arkha dan kedua teman yang lainnya hanya menggeleng pelan pasrah.


"Makanya, punya otak jangan buat di pakai mikirin cewek mulu! Pakai tuh buat belajar!" sahut Devin dengan sedikit toyoran kepala untuk Alfin.


Alfin melengos kesal. Tangannya terulur kembali menegak segelas alkohol di mejanya.


"Hahhh... Mau gimana lagi, nih otak udah gue pakai terus tetep aja bloonnya sama," katanya nyaris pasrah.


Arkha tertawa kecil tanpa suara.


"Pisau, kalau di asa terus pasti akan tajam."


Seno menepuk bangga pundak Arkha. Lengkungan senyum lebar terbentuk lucu di wajahnya.


"Liat nih ayang gue, pinter banget kan?" katanya bangga.


Sedangkan Arkha malah mendengus jijik mendengarnya.


"Gue masih normal!"

__ADS_1


"Hehe peace, Ar."


Alih-alih menyahuti kembali Alfin, Arkha malah menghembuskan kepulan asap dari tembakau yang terbakar oleh api.


"Huft, kadang kepikiran gak si lo mau mati aja?" celetuk Alfin asal.


Dan agaknya, celetukan Alfin sedikit membuat jantung ketiga temannya hampir


berhenti berdetak sesaat.


Terbukti dengan sorot mata yang menghunus jauh hingga membuat Alfin sampai merinding sesaat.


Alfin menunjuk kedua mata temannya satu persatu dengan takut-takut.


"Apa-apaan tuh mata lo pada? Buset


kayak ngeliat pisang tinggal satu aja


lo?"


Devin melempar ke lantai sebatang tembakau yang masih menyala merah, lantas membuat nyalaan bara kecil itu seketika padam akibat gesekan dari sepatunya.


"Maksudnya? Pertanyaan lo gak ada yang lain?" tanyanya sedikit kesal.


Tiba-tiba saja atmosfer di sekelilingnya mendadak menjadi dingin. Tubuhnya juga langsung bereaksi.


"Pertanyaan lo gak lucu Al," sahut Seno dengan sorot matanya yang terlihat menyakitkan.


Melihat ketiga temannya yang mendadak terdiam menjadi membuat Alfin tidak enak hati.


Ya, bahkan nanya untuk tersenyum kecut pun Alfin tidak mampu melakukannya barang segaris pun bentuknya.


Terdengar helaan napas berat dari mulut Arkha. Lelaki itu menunduk dalam, menatap lantai dalam diam.


"Gue tau, lo gak akan pernah lupa kita trauma dengan satu kata itu, Al."


*****


Jam sudah menunjukan pukul satu pagi, dan Zheya masih belum sanggup untuk menutup matanya. Bolak-balik membuka aplikasi di handphone, tidak ada sesuatu yang spesial dan membosankan. Bolak-balik mengganti saluran TV, tidak ada yang menghiburnya dan cukup membosankan. Huft, jika seperti ini Zheya jadi bingung harus berbuat apa.


Diam-diam, lirikan mata coklatnya menatap teduh pintu berwarna coklat yang tidak jauh dari tempatnya duduk.


Iya, itu pintu yang menghubungkan ruang TV dengan kamar milik Arkha.


Lelaki yang sudah seminggu terakhir ini tinggal bersamanya di apartemen milik Arkha pribadi.


Jika di lihat-lihat, Zheya jadi mempunya keinginan untuk mengetuk pintu kamar itu, mengecek sang empunya sudah terlelap atau belum.

__ADS_1


Terbesit di dalam benaknya untuk melakukan apa yang Zheya pikirkan dan berharap ketika Zheya membuka pintu itu ternyata Arkha belum menutup matanya, lantas setelahnya dengan keberanian yang di bawah rata-rata mengajaknya untuk berkeliling sebentar untuk melelahkan tubuh kemudian tertidur lelap dengan bahagia, meskipun hanya berkeliling di area taman apartemen.


Lagi-lagi Zheya tersenyum kecut, tentunya pemikiran itu memang hanya sekedar pemikiran belaka dan tidak akan pernah Zheya bisa wujudkan. Karena mau bagaimanapun, keduanya tidak sedekat itu, atau bahkan tidak akan pernah.


Pip!


Pintu utama apartemen terbuka, menampilkan sesosok yang sedari tadi hinggap di pikirannya selama beberapa saat.


Zheya bisa melihat raut wajah melelahkan itu, tatapannya terlihat teduh dan sendu.


Dengan jalannya yang sedikit terhuyung, Arkha masih tetap melanjutkannya dengan bantuan beberapa benda dan dinding untuk menopang tubuhnya.


"Arkha, are you okay?" tanya Zheya yang sedikit khawatir melihat kondisi Arkha yang baru saja pulang.


Zheya kira Arkha sedang berada di dalam kamarnya, ternyata lelaki itu sedang berada di luar sejak tadi. Pantas saja Zheya sedikit curiga karena Arkha tidak keluar-keluar kamar. Bahkan tadi Zheya sempat berpikiran negatif sesaat meski Zheya langsung menepisnya jauh-jauh.


"I'm good," jawab Arkha lemah seraya memijit pelan pelipisnya yang mungkin menimbulkan efek pening di sana.


"Butuh bantuan?"


Arkha tersenyum sebatas garis lengkungan kecil.


"Gapapa, gue bisa sendiri. By the way, thank you."


Zheya mengangguk, menghargai pilihan Arkha. Jadi Zheya kembali duduk ke tempatnya, walaupun ekor matanya tetap mengawali Arkha takut-takut lelaki itu terjatuh saat melangkah.


Yup. Oke. Di persekian detik setelahnya, apa yang Zheya takutkan benar terjadi.


Arkha terjatuh, dan Zheya langsung sigap menolongnya. Tapi, baru saja Zheya hendak menyentuh lengan kekar milik Arkha, lelaki itu langsung menepisnya kuat. Membuat Zheya sempat tersentak beberapa saat.


"Ar-"


"Lo gak denger gue bilang?" tanyanya seiring dengan tatapan menikam Arkha jatuh tepat di manik mata Zheya. "Gue bilang, gue bisa sendiri! Lo gak bisa paham dengan kata itu, ya?" lanjutnya kesal. "Gue cuma mau ban-" "Kita gak pernah sedekat itu, Zhey! Jadi stop peduli sama gue."


Mata Zheya membelak, terbuka lebar mendengar ucapan Arkha. Kalimat itu benar-benar menohok dirinya sampai kedalam.


Zheya tertawa sumbang, menertawakan kebodohannya sendiri yang tidak mengingat akan fakta itu. Tapi, sebentar, apa Zheya salah hanya untuk sekedar menolong Arkha? Itu hanya bentuk reflek cerita ini. ketika menemukan seseorang yang membutuhkan bantuan.


"O-oke, sorry." Zheya melangkah mundur, masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Arkha yang masih terduduk lemas di lantai apartemennya.


Sebelum sampai tepat membuka pintu kamarnya, Zheya berbalik sebentar untuk melihat Arkha yang masih sama posisinya.


"Besok kalau perlu bantuan, bilang ke gue, gue masih punya rasa kemanusiaan bukan rasa sialan kayak lo," ujar Zheya.


Arkha melirik sekilas sebelum Zheya benar-benar menutup pintu kamarnya. Lelaki itu mendengus pelan dan tertawa kecil di buatnya.


"Cih, tau apa dia?"

__ADS_1


__ADS_2