
Di hari libur seperti ini memang enaknya tidur sampai siang, tapi ternyata tidak dengan Zheya.
Perempuan yang sudah berstatus sebagai istri, membuat Zheya menjadi susah menikmati waktu santainya.
Di pagi hari Zheya sudah bangun untuk membersihkan kamarnya yang sedikit berantakan meskipun Arkha kembali tertidur pulas setelah Sholat subuh tadi.
Tidak lupa Zheya juga membersihkan seluruh apartemennya dari mulai kamar Zheya sebelumnya, ruang TV, dapur, dan kamar mandi.
Zheya tidak bilang jika ini sangat mudah, pekerjaan ini memang cukup melelahkan.
Tidak mengeluh karena ini memang sudah tugasnya, Zheya melanjutkan memasak sarapan untuk Arkha dan dirinya.
Hanya masakan simple saja, nasi goreng dengan perpaduan ayam fillet yang sudah Zheya tepungi sebelumnya.
Selesai bersih-bersih, Zheya membersihkan tubuhnya terlebih dahulu karena cukup gerah bagi Zheya menyelesaikan semuanya dengan cepat.
Setelah dirasa tubuh Zheya sudah bersih dan selesai berganti pakaian, Zheya baru membangunkan Arkha yang masih tertidur pulas di kasurnya.
"Ar, bangun. Sarapan dulu, udah gue buatin," ucap Zheya seraya menepuk pelan pipi Arkha.
"Arkha."
"Ar! Ish kebo!"
"Hm, bentar."
Oke, Zheya sudah mendengar suara dari mulut Arkha, yang terpenting lelaki itu sudah meresponnya.
Seraya menunggu Arkha, Zheya menatap wajahnya terlebih dahulu di meja riasnya.
Terlihat dari cermin jika Arkha sudah berjalan ke kamar mandi dengan malas-malasan.
"Buruan! Gue laper!" teriak Zheya seiring tangannya mengetuk pintu kamar mandi.
"Iyaa, sebentar lagi!"
"Nanti gue mau keluar ya sama bang Agha, mungkin pulang malem," kata Zheya.
Arkha masih menikmati makanannya, tapi sedetik kemudian ia menggunakan kepalanya.
"Kalau mau di jemput, kabarin aja."
"Iya."
Setelahnya hening, tidak ada percakapan diantara keduanya, mereka sama-sama menikmati makanannya.
Bagi Arkha maupun Zheya memang tidak seakrab itu untuk memulai percakapan.
Yang terpenting sudah ada sedikit percakapan dalam sehari, jadi tidak garing-garing banget.
Ternyata yang selesai Arkha duluan, Zheya masih sisa beberapa suap lagi sebelum nasinya habis. Sudah hampir tiga menit lamanya Zheya menunggu lelaki di hadapannya beranjak menaruh piring kotor di wastafel, tapi di lihat dari ekor matanya belum ada pergerakan sama sekali dari Arkha.
Malah yang Zheya rasakan menurut instingnya, Arkha sedang memperhatikannya makan.
Sedikit menghilangkan kegugupannya, Zheya berdehem sedikit.
"Ada yang mau dibicarakan?" tanya Zheya to the point.
Arkha mengerjapkan matanya. "Eh, itu..." jeda Arkha.
__ADS_1
"Emang kita gak bisa sedeket itu ya buat ngobrol santai?"
Tidak mengerti, Zheya mengerutkan keningnya bingung.
Sejujurnya ia belum mengerti atah kemana pembicaraan Arkha, atau pura-pura tidak mengerti?
"Bisa jelasin pertanyaan lo?"
Terdengar helaan napas yang keluar dari mulut Arkha. Sekarang Zheya jadi tahu kemana arah pembicaraan ini, yang Zheya yakinin ini sedikit sebuah topik berat meskipun sebenarnya tidak terlalu.
"Lo sadar gak? Kita bicara kalau perlu doang, cuma sekedar lo mau makan apa? Mau kemana? mau apa? bangunin tidur, udah gitu doang, gak ada yang lain."
"Emang kita gak bisa sedeket itu, Zhey?"
Zheya melirik sekilas nasi yang masih tersisa di piringnya, Zheya jadi tidak berselera makan lagi setelah mendengar pertanyaan Arkha.
"Lo mau kita kayak gimana? Gue pikir dari gue maupun lo sama-sama punya tembok masing-masing, Ar."
"Kita ini cuma orang asing bagi satu sama lain, gue punya kehidupan gue sendiri, lo punya kehidupan lo sendiri. Jadi, lo gak salah nanya itu ke gue?"
Arkha diam, tidak menjawab. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa dengan jawaban Zheya yang cukup menampar dirinya.
"Tapi kita udah saling terikat, Zhey."
"Iyaa tau, tapi hanya sebatas di atas kertas kan?"
Sungguh, Arkha sedikit tersinggung dengan kalimat itu. Apa tadi kata Zheya? Pernikahan mereka hanya sebatas di atas kertas? Apa Zheya terlalu menganggap pernikahan mereka hanya main-main saja?
Tidak menjawab perkataan Zheya, Arkha langsung bangkit dari duduknya dan menaruh piring kotornya di wastafel. Arkha juga langsung meninggalkan Zheya yang masih duduk di kursinya dengan sebuah tanda tanya.
"Dia ngambek? Salah apa gue?"
Zheya tersenyum lebar, menampilkan deretan gigi-gigi putihnya.
"Enak banget!" seru Zheya seraya mengacungkan kedua jempolnya kedepan.
"Bang?"
"Apa?"
"Abang gak mau tinggal di sini aja?" tanya Zheya dengan wajah sendunya.
"Nggak bisa cantik, abang masih banyak kerjaan."
Zheya diam tidak menyahut, ia kembali menikmati makanannya.
Tidak ingin melanjutkan percakapannya, takut jika dirinya tidak kuat menahan tangisnya nantinya.
"Kenapa? lo baik-baik aja kan, Zhey?"
Zheya menundukkan kepalanya.
Bingung ingin menjawab seperti apa pertanyaan itu. Zheya tidak tahu harus berkata jujur atau berbohong menutupi semuanya.
Ting! Satu pesan masuk kedalam notifikasi handphone Zheya. Ia melihat sebentar nama kontak yang tertera di notifikasi handphonenya.
Arkhanjing:
Sorry, lo bisa pulang telat gak? Aurel ada di apartemen, nanti gue jemput.
__ADS_1
Zheya menghela napasnya panjang. Entah kenapa dadanya sedikit sesak membaca pesan itu.
Hap!
Hanya satu tarikan kecil, Agha berhasil merebut handphone Zheya di tangannya. Lelaki yang berstatus sebagai abang kesayangan Zheya itu membaca pesan yang terpampang di layar handphone Zheya.
Rahangnya mengeras, giginya menggerletuk menahan amarah yang sudah menguasai dirinya.
Brak!
Agha meletakkan handphone Zheya dengan kasar di meja makan mereka, sampai menimbulkan suara yang cukup keras. Zheya tersentak kaget, ia sudah pastikan Agha akan marah setelah ini. Sial. Kenapa Arkha segala mengirimkannya pesan di waktu yang tidak tepat sih. Jika beginikan ribet,
Zheya akan di interogasi mati-matian dengan Agha.
"Jelasin ke gue maksud pesan itu," perintah Agha tidak bisa terbantahkan.
Zheya masih diam, tidak merespon apapun.
Zheya masih begitu bingung. Agha yang menyadari adek kesayangannya cukup berat untuk menjelaskannya, kemudian cerita ini.
Duduk di sebelahnya dan mendekap tubuh mungil itu dengan erat. Hah, untungnya mereka mengambil tempat duduk yang sepi dan tidak banyak orang yang berlalu lalang, jadi tidak takut menimbulkan persepsi orang lain.
"Gue disini," ucap Agha lirih.
"Maafin gue udah setuju sama Mamah, Papah buat lo nikah kayak gini, maaf, maaf Zhey."
"Harusnya gue gak setuju, harusnya gue nentang demi kebahagiaan lo, harusnya gue ada disaat lo butuh, maafin gue yang udah gagal jadi abang lo," ujar Agha dengan penyesalannya.
Sedetik kemudian terdengar isakan kecil dari mulut Zheya, perempuan itu membalas dekapan Agha dengan tak kalah eratnya.
"Abang gak salah, emang udah cerita ini. abang ataupun Mamah, Papah, Aku percaya semuanya kok," balas Zheya mencoba membuat Agha agar tidak merasa bersalah lagi dengan penyesalannya.
"Udah ah, malu nanti kalau ada yang lihat." Zheya melepaskan pelukannya, menghapus sisa-sisa air matanya yang masih meluruh di pipi chabinya.
Agha menangkup pipi Zheya, menatapnya lekat. "Zheya dengerin gue, kalau ada apa-apa langsung kasih tau gue ya? Gue bakal dateng secepatnya ke lo, pegang janji gue, dek." Berakhir dengan kecupan lembut di kening Zheya.
"Ih abang mah udah ah, aku udah gede masih aja di cium-cium malu tau!"
Agha terkekeh melihat adek kecilnya yang dulu sangat ia jaga ketika masih kecil.
"Heh, diluar sana malah banyak adek yang mau dicium sama abangnya. Ini lo, gue cium malah gak mau, dasar adek aneh!"
Puk!
Zheya memukul lengan Agha kesal.
"Diem! Gak usah ngajak ribut!"
"Eh dek! Udah jam segini, ketinggalan bioskopnya, buruan!"
Melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 17.15, Zheya dan Agha terlambat lima menit!
"Lo tunggu depan deh, gue mau bayar dulu." cerita ini.
"Lo tunggu depan deh, gue mau bayar dulu."
"Oke!" jawab Zheya seiring dirinya memberi kecupan kecil dipipi kiri Agha.
"Adek sialan!"
__ADS_1