arzhey

arzhey
Bab 12


__ADS_3

Hari dimana Agha harus kembali ke London sudah tiba, kini Arkha dan Zheya sedang mengantarkan Agha ke bandara.


Terlihat sangat jelas di mata Zheya, jika perempuan itu memendam kesedihannya.


Agha mengusap surai rambut Zheya, memeluknya hangat serta memberi kecupan tulus di kening Zheya.


"Beberapa bulan lagi gue balik, Zhey."


"Hm."


"Udah jangan nang---"


"Siapa yang nangis?!"


Agha terkekeh pelan melihat reaksi Zheya yang mengelak.


"Iya, iya, gak nangis cuna banjir dikit tuh mata."


Agha mencubit pipi chubby Zheya yang membuat perempuan itu kembali mendengus sebal.


"Sebentar gue mau ngomong sama Arkha, lo duduk dulu disana."


Zheya menurut meski sebenarnya agak penasaran dengan percakapan apa yang akan mereka bicarakan.


"Gue gak minta banyak sama lo, cuma tolong jaga adek gue meski lo gak cinta sama dia, jangan kasarin dia, dia gak suka di bentak."


Agha menjeda sebentar, menghela napasnya dengan berat.


"Dari kecil gue, Papah, Mamah, selalu kasih Zheya yang terbaik, selalu cari segala cara buat dia bahagia. Jadi kalau lo gak bisa buat Zheya bahagia bilang ke gue, jangan bilang ke Zheya, gue siap bawa pulang Zheya."


Kenapa ya? Dada Arkha seperti dihantam oleh batu besar yang bisa membuat tubuhnya remuk seketika.


Entah kenapa Arkha tidak suka dengan kalimat terakhir yang Agha ucapkan.


Mendengar Agha akan bawa pulang Zheya, Arkha seperti diselimuti oleh kemarahan.


"Maksud lo---"


Agha menepuk-nepuk pundak Arkha seiring senyumannya terbit.


"Gue percaya sama lo, Ar."


"Gue titip Zheya, ya." Arkha mengangguk tanpa menjawab itu.


Kemudian barulah Agha memanggil Zheya kembali dan berpamitan pada Arkha dan Zheya karena sudah terdengar pengumuman keberangkatan pesawat Agha yang sebentar lagi.


Zheya melambaikan tangannya ke arah Agha yang mulai menjauh, tidak dapat dipungkiri air mata Zheya kembali jatuh deras di pipinya.


Tak kuasa menahan tangisnya, Arkha mencoba memberanikan dirinya untuk memeluk Zheya guna menenangkan istrinya itu.


"Gak lama bang Agha pasti balik lagi, Zheya," kata Arkha seiring tangannya menepuk-nepuk lembut punggung Zheya yang bergetar.


"Ayo, mau pulang?"


Dengan hati-hati Arkha menarik tangan Zheya, menggenggam tangan mungil itu dengan erat sampai mereka sampai di mobil.


Entah kenapa hati Arkha berdesir setelah menggenggam tangan Zheya, ia merasa ukuran tangan Zheya sangat pas untuk ia genggam. Arkha jadi seakan enggan untuk melepaskannya.


"Tuhan, kalau memang benar Zheya yang terbaik, Arkha ikhlas."



*Postingan story Zheya


Malam ini Zheya sudah siap untuk pergi keluar dengan Dhea. Tidak lupa, sebelum keluar dari kamarnya Zheya berfoto sebentar di cerminnya dan mempostingnya di story Instanya.


Tanpa Zheya sadari, Arkha yang memang sedang melihat-lihat story following Instanya langsung melihat story Zheya.


Melihat pakaian yang zheya pakai, tanpa menunggu lama lagi Arkha langsung masuk ke dalam kamar dan melihat Zheya yang masih berfoto di cermin yang terletak di area walk in closet mereka.


"Ekhem!" Arkha berdehem cukup keras. Zheya yang mendengar langsung menoleh ke arah Arkha yang berada tak jauh darinya.


Zheya menatap Arkha dengan pandangan,


"Ada apa?"


"Mau kemana?"


"Keluar," jawab Zheya singkat.


"Iya tau, tapi kemana?"


"Jalan-jalan aja sama Dhea, kenapa?"


Arkha melirik bagian belakang tubuh Zheya yang sangat terekspos dari pantulan cermin di belakangnya.

__ADS_1


"Harus ya pakai baju yang kayak gitu?" tanya Arkha dengan nada yang agak sedikit tidak suka.


Zheya mengerutkan keningnya.


"Ada yang salah emang sama baju gue? Perasaan gak ada yang salah," jawab Zheya seraya melihat kembali pantulan dirinya di cermin.


Arkha maju ke lemari pakaian Zheya, mencari-cari sebuah baju yang mungkin agak tertutup di bandingkan yang sekarang Zheya pakai.


Jika kalian bertanya kenapa Arkha sangat ribet, jawabannya adalah tidak ada seorang suami yang menginginkan istrinya keluar dengan baju yang mengeskpos tubuh mereka, terlebih ketika nanti para buaya di luaran sana malah menikmati tubuh istrinya meskipun hanya sekedar melihat.


Setelah menemukan apa yang Arkha cari, barulah Arkha menyodorkan baju itu pada Zheya.


Zheya yang tidak mengerti maksud Arkha hanya bisa mematung, menatap sodoran pakaiannya itu.


"Kenapa diem? Ini ganti, itu terlalu terbuka."


"Apa sih? Nggak ah, ini udah bagus kok."


"Mau gue yang gantiin?" tanya Arkha dengan tatapan tajamnya.


"Ya-ya apa sih lo? Nggak mau gue pokoknya!"


Oke, baiklah. Karena Zheya sepertinya sangat keras kepala, maka Arkha maju beberapa langkah sampai tepat dihadapan Zheya.


Kemudian lelaki itu mencondongkan sedikit wajahnya ke telinga Zheya. Dengan seringainya yang tipis, Arkha berujar pelan dengan suara deep voicenya.


"Gue gak yakin lo bisa keluar semudah itu kalau sampai lo beneran izinin gue buat gantiin baju lo, Zhey," ucap Arkha bersama dengan smirknya,


"Fiks! Gue ganti bajunya, sekarang lo mending keluar, gue mau ganti baju."


Arkha menyunggingkan senyumnya, menatap puas melihat wajah panik Zheya setelah mendengar ucapannya.


"Oke, kalau butuh bantuan bilang, ya? Dengan senang hati pasti gue bantu."


Satu kedipan mata serta senyum godaannya Arkha lemparkan kepada Zheya, membuat perempuan itu merinding setengah mati.


"Gila tuh ya anak, kerasukan apa tiba-tiba gitu?"


"Sial! puas banget gue, ah gue rasa godain Zheya bakal jadi hobi gue."


Zheya masih melamun memikirkan perkataan Arkha tadi, entah kenapa perkataannya terus menerus berputar di otaknya.


Zheya sampai benar-benar tidak fokus di ajak bicara dengan Dhea.


"Ngelamun jorok lo ya, nyet?" ujar Dhea seiring tangannya menimpuk wajah Zheya menggunakan tissue yang sudah ia gulung-gulung.


"Setan lo! Otak gue masih suci, gak kayak lo link terus!"


Dhea melotot tajam, mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Memastikan jika tidak ada yang mendengar perkataan Zheya barusan.


"Hush! Sialan lo, kalau ada yang denger gimana babi? Mau taruh dimana muka cantik gue?"


Zheya balik melemparkan tissue ke wajah Dhea yang sudah Dhea lempar untuknya tadi.


"Taruh aja di kolong jembatan! Muka lo kan pantes!"


"Anak anjing!"


"Babil"


"Istighfar lo Zaenab!"


"Lagi di club, boleh ya istighfar?" tanya Zheya bingung.


Sedangkan Dhea sudah mengangkat kedua tangannya menyerah. Ia sudah capek dengan Zheya yang sangat membuatnya ingin memakannya hidup-hidup saat itu juga.


"Boleh, kali aja lo langsung tobat."


Zheya tidak menyahut lagi ucapan Dhea, in malah kembali meminum setenggak alkohol yang berada di hadapannya.


Satu tenggakkan benar-benar langsung Zheya habiskan. Zheya menatap Dhea dengan pandangan kaburnya.


"Dhey?"


"Hm?"


"Pala gue puyeng dah, mati yu?" Dhea mengusap wajahnya frustasi.


Menemani Zheya yang sedang mabok karena stress ternyata juga membuat Dhea stress juga. Atau mungkin sebenarnya penyakit stress Zheya itu bisa menular?


"Mati duluan deh lo nyet, sana."


Entah apa yang ada di pikiran Zheya saat itu, Zheya langsung melangkahkan kakinya menuju keluar club tanpa sepengetahuan Dhea yang masih menumpu kepalamu pada meja mereka.


Sepertinya Zheya benar-benar sudah hilang kesadarannya. Perempuan itu berjalan keluar seorang diri ke arah jalan.

__ADS_1


Yang ada di penglihatan Zheya saat itu adalah ada Agha di seberang sana yang sedang melambaikan tangannya, menyuruh Zheya untuk segera kesana dan memeluknya.


Tentu, melihat itu Zheya sangat terlampau senang sampai tidak bisa membedakan mana kesadarannya mana yang memang pengaruh alkoholnya.


Zheya tersenyum senang, membalas lambaian tangan Agha dari tempatnya berada.


Sampai pada saat Dhea mendongakkan kepalanya kembali menatap Zheya karena ia penasaran, perempuan itu kenapa tidak bicara sama sekali kepadanya.


Apa Zheya marah karena ia suruh mati tadi?


Tapi setelah melihat jika di hadapannya kosong, Dhea langsung membuka matanya lebar-lebar, menatap ke sekelilingnya mencari sosok Zheya yang mungkin saja sedang berada di sekitarnya. Tapi nihil, dalam pandangannya sama sekali tidak ada sosok Zheya.


Dengan jantungnya yang berpacu dengan cepat, Dhea langsung melangkahkan kakinya keluar, barang kali Zheya menghirup udara segar diluar seraya menghisap sebatang rokoknya seperti biasa.


Tapi saat matanya tidak sengaja melihat Zheya yang sudah berada di pinggir jalan membuat Dhea lagi-lagi seperti terkena serangan jantung.


"Zheya sialan, sampai lo berani melangkah, gue pastiin lo gue bunuh ya setan."


Dhea berlari mengejar Zheya dan mencoba meneriaki namanya.


Tapi perempuan itu masih tak kunjung mendengarnya.


TINN! TINN! TINN!


"ZHEYA! BERHENTI NYET!" teriak Dhea dengan sekuat tenaganya begitu melihat sebuah mobil yang sedang melaju kencang mengarah ke Zheya.


"Anjing, nyusahin. ZHEYAAA BERHENTI!!! ZHEYAAAA TOLOL


ASTAGHFIRULLAH!!!"


BRAKK!!!


"ZHEYAAA!!!"


Dhea terduduk lemas di jalan, melihat Zheya yang sudah terguling ke pinggir jalan karena dorongan seorang lelaki yang entah datang dari mana karena sejak tadi fokus Dhea hanya berlari dan meneriaki nama Zheya yang tak kunjung di dengar.


"Bang Agha?" ucap Zheya ketika melihat seseorang yang sedang memeluknya erat karena terguling ke pinggir jalan ketika menyelamatkan Zheya tadi.


"Awsh..." ringis lelaki itu, setelah melihat ada beberapa goresan di pergelangan tangannya.


"Bang Agha..." Zheya masih menyebutkan nama Agha dan mengira jika lelaki yang di hadapannya adalah Agha.


Disisi lain, Dhea yang berlari cepat ke arah Zheya langsung membangunkan Zheya yang sejak tadi masih diam mematung.


"Monyet lo, bikin jantung gue disko!"


Zheya menatap Dhea kesal.


"Eh, aduh Gibran makasih banget udah nolongin Zheya. Heh tangan lo!" Gibran melirik luka-luka di tangannya.


"Cuma luka kecil ko Dhey, yang penting Zheya gak apa-apa," jawab Gibran dengan senyumnya.


"Sshh... Awh..." Zheya meringis, memegangi kepalanya yang berdenyut pusing.


Gibran dan Dheya sudah pasti panik dan langsung beralih ke Zheya.


"Kita ke rumah sakit aja kali ya, takut Zheya kenapa-kenapa."


"Nggak, gak usah. Gue mau pulang."


Dhea mencubit lengan Zheya gemas.


"Lo lagi sakit gini, masih aja batu ya?"


"Gue mau pulang."


Dhea menghela napasnya.


"Gue anter aja, kalian masih syok juga kan? mau di anter kemana?"


"Gak usah, gue bisa sendiri."


"Zhey, nurut sama gue." Dhea berujar tajam.


Ya mau tidak mau Zheya mengikuti Dhea. Gibran membantu Dhea untuk masuk ke dalam mobilnya, beberapa menit mereka di dalam perjalanan Dhea mengatakan kepada Gibran jika Zheya tidak sadarkan diri.


Gibran langsung mempercepat laju mobilnya untuk sampai di apartemen yang Dhea sebutkan.


Tentu saja Gibran sangat khawatir, salah satu teman kelasnya itu hampir saja tertabrak mobil dan sekarang malah tidak sadarkan diri.


Meskipun sebenarnya kekhawatirannya timbul dari faktor lain, bukan sekedar teman yang mengkhawatirkan temannya, tetapi karena perasaannya pada Zheya.


"Ini apartemennya, kan?" tanya Gibran begitu sampai di parkiran apartemen.


"Ah iya bener, ke sana aja dulu. Udah ada sepupunya di sana."

__ADS_1


__ADS_2