arzhey

arzhey
bab 7


__ADS_3

Sepulangnya dari mengantarkan Aurel kembali ke rumahnya, Arkha langsung bergegas untuk kembali ke rumahnya juga, satu yang menjadi tujuannya kali ini, hanya Leya, Mamahnya.


Tidak, tidak untuk Arkha marah kepada Mamahnya itu, ia hanya sedikit berbicara meluruskan apa yang baru saja terjadi beberapa jam yang lalu.


Tidak ada nada tinggi, tidak ada argumen, semuanya sejalan apa seperti yang Arkha harapkan sebelumnya.


"Mah, aku rasa Mamah gak perlu berlebihan sampai selalu mengabaikan Aurel deh?" Leya tampak bingung.


"Maksudnya apa? Mamah udah nurutin kemauan kamu buat coba nerima Aurel, kan?" Arkha memijit pelipisnya, sedikit pusing dengan masalah yang selalu berulang-ulang entah sampai kapan.


"Iyaa, tapi tadi aku rasa Mamah sedikit menyinggung perasaan Aurel," kata Arkha dengan berhati-hati.


Leya menundukkan kepalanya. "Soal apa? Bilang aja sama Mamah, kalau emang bener, Mamah akan minta maaf."


Yup, ini yang Arkha sangat suka dari Leya. Mamahnya tidak pernah egois untuk mengakui kesalahannya jika memang benar itu kesalahannya.


Dan ketika Arkha mencoba berbicara dengan Leua secara berhati-hati pun, Leya akan dengan senang hati menerimanya.


"Aurel udah usaha selama ini buat ambil hati Mamah, tapi ngeliat Mamah yang tadi selalu fokus sama Zheya, Aurel sedikit tersinggung dengan itu."


"Ah satu lagi, Mamah tau betul pacar aku ada di samping aku, di hadapan Mamah dan Papah, tapi kenapa Mamah bisa minta perempuan lain yang bahkan bukan dari keluarga kita tidur di kamar aku? Mamah gak ngerti perasaan Aurel kah?"


Leya menatap lekat ke dalam mata putra tersayangnya.


"Sayang, bukan seperti itu maksud Mamah." Arkha menunggu jawaban Leya, tetap mencoba mengerti posisi Mamahnya.


"Mamah." jedanya.


"Mamah mau jodohkan kamu sama Zheya, itu udah keput-"


"Hah? Did i hear wrong, mom?" tanya Arkha dengan sangat tidak percaya apa yang baru saja ia dengar dari mulut Leya baru saja.


"Nggak Ar, itu udah keputusan kami," sahut Wino yang entah sejak kapan sudah duduk di sebelahnya.


Arkha tertawa kecil, menertawakan indera pendengarannya yang kurang bagus dalam mendengar, atau menertawakan kebodohan otaknya yang tidak mau memproses apa yang baru saja ia dengar dari Leya dan Wino?


Arkha menatap bergantian kepada Leya dan Wino secara bergantian, tidak percaya dengan kedua orang tuanya yang sudah sangat ia percaya selama ini.


Tapi sekarang, tiba-tiba saja ia seperti di khianati oleh kedua orang tersayangnya.


"Why?" tanya Arkha masih belum menerima keputusan itu.


Leya menunduk, merasa tidak kuat menjawab pertanyaan Arkha. Melihat tatapan mata putranya yang seakan menyorotkan sebuah kekecewaan, Leya menjadi tidak berani untuk menatap Arkha lebih lama.


"Perusahaan orang tua Zheya akan bangkrut, Papah mau membantunya," Jawab Wino secara singkat.


Oh Tuhan, yang benar saja? Hanya karena sebuah alasan kecil tersebut?


Dan hanya karena alasan itu pula Arkha harus menanggung semuanya?


Arkha jadi tidak mengerti bagaimana cara berpikir kedua orang tuanya sekarang.


"Gak cuma satu cara nolongnya kan, Pah?"


"Arkha, keputusan kami udah bulat. Mau bagaimanapun, kamu harus menerimanya," kata Wino dengan berat hati. Leya mencoba memberanikan diri untuk mengusap lengan Arkha.


Mencoba menenangkan putranya itu dengan sedikit usapan lembutnya.

__ADS_1


"Pernikahan kalian lusa."


"****! Ini pertama kalinya aku bilang kalian egois!"


Leya tersentak begitu mendengar perkataan Arkha. Tubuhnya lemas begitu saja setelah melihat Arkha yang langsung pergi dari pandangan matanya. Leya menangis tidak kuat melihat putranya harus menanggung semua ini.


"Arkha! Kamu mau kemana, sayang?!"


"Arkha!"


Leya masih mencoba berteriak kencang meneriaki nama putranya.


"Udah Mah, biarin Arkha sendiri dulu, ya?"


"Arkha... Pah..." "Papah yakin, Arkha dan Zheya pasti akan saling menerima, Mamah jangan sedih ya?"


Zheya berjalan santai menuruni tangga, tadi ia habis melihat-lihat kamar Arkha yang ternyata memang sangat rapih. Semua dari mulai buku-buku, miniatur-miniatur kecil milik Arkha semuanya tersusun rapih dan sangat bersih. Tidak mengiri, karena Zheya pun seperti itu. Tapi sedikit tidak menyangka saja ketika melihat seorang lelaki yang memiliki kamar yang sangat rapih, bersih, dan wangi. Terlebih wangi khas kamar Arkha sangat memanjakan indera penciumannya.


Baru masuk kamar Arkha saja Zheya jadi seperti langsung tersugesti jika Zheya akan sangat nyaman jika terus-terusan berada dikamar Arkha.


Setelah puas melihat-lihat kamar Arkha, rasa haus tiba-tiba saja terasa di tenggorokannya. Sepertinya Zheya memang butuh sedikit air putih untuk membasahkan tenggorokannya yang terasa kering.


Baru beberapa langkah menuruni anak tangga, Zheya sudah melihat Arkha, Wino, dan Leya yang sedang berkumpul di ruang keluarga.


Sepertinya mereka tidak menyadari keberadaan Zheya yang sedang menuruni anak tangga.


Yang Zheya lihat, entah kenapa raut wajah ketiganya benar-benar terlihat sedang membicarakan suatu hal yang serius.


Tidak ingin menguping sebenarnya, sampai ketika indera pendengaran Zheya tidak sengaja menangkap kata-kata pernikahan.


Yang Zheya pikirkan adalah Arkha yang akan melangsungkan pernikahannya dengan Aurel.


Tidak pernah terbayangkan jika Zheya menangkap sebuah kalimat yang keluar dari mulut Leya yang mengatakan Arkha dan Zheya akan melangsungkan pernikahan.


Saat itu juga kaki Zheya benar-benar lemas, rasanya ia tidak kuat untuk melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga yang belum sepenuhnya ia turuni.


Jujur, setelahnya pun Zheya tidak fokus untuk mendengarkan apapun lagi.


"****! Ini pertama kalinya aku bilang kalian egois!" seru Arkha dengan nada kecewanya.


Hanya kalimat itu saja yang terakhir Zheya dengar, karena setelahnya dengan sisa-sisa kekuatannya, Zheya langsung kembali naik ke atas dan masuk ke dalam kamar Arkha.


Tiba disana, air matanya jatuh tidak tertahankan. Zheya tidak mengerti, bahkan orang tuanya saja tidak mengatakan apapun kepada Zheya. Jangankan untuk mengatakan kabar ini, Rima dan Reno benar-benar tidak membalas pesannya satu pun.


"Mah, Pah, aku mau pulang, gak mau di sini," lirih Zheya seraya menyembunyikan isak tangisnya.


"Uhuy, bos dateng nih!" seru Alfin dengan sangat gembiranya. Dalam hitungan detik Alfin sudah memeluk kencang tubuh Arkha tanpa berniat melepaskannya.


Arkha yang dipeluk Alfin dengan tiba-tiba, langsung menepuk-nepuk lengan Alfin agar lelaki itu segera melepaskan pelukannya. Karena mau bagaimanapun, napasnya hampir saja habis jika tidak Alfin lepaskan segera.


"Lo mau bunuh gue, ya? Punya dendam sama gue?" cecar Arkha begitu Alfin melepaskan pelukannya.


Sedangkan lelaki yang baru saja di cecar Arkha hanya bisa menundukkan kepalanya takut-takut kena hajar Arkha. "Udah-udah, Alfin urusan belakangan." Seno menyahut.


"Muka lo mesem amat, masih belum mau cerita, Ar?"


Arkha melengos pergi, mengabaikan Alfin. "Gue nikah, lusa," kata Arkha dengan wajah datarnya.

__ADS_1


Kalian percaya? Tepat setelah Arkha menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba saja suasana menjadi hening sejenak, sampai akhirnya Devin tertawa dengan sangat lantang dan diikuti oleh Alfin yang juga tak kalah lantangnya sampai terpingkal-pingkal.


Devin menghapus air matanya yang sempat keluar karena saking tertawa terbahak-bahak.


"Si Arkha mah kaga cocok ngejokes anjir!". seru Devin di sela-sela tawanya.


Seno menatap Arkha serius. Sepertinya disini pun hanya Seno yang menganggap Arkha sedang berserius.


"Sama siapa, Ar?"


Alfin kembali tertawa geli. "Noh, temen lDev, percaya aja sama jokesnya si Arkha," kata Alfin.


"Zheya."


"Lah, siapa?"


"Buset! Serius?!" teriak Devin terkejut, sangat tidak percaya.


Saking tidak percayanya, Devin bahkan sampai memegang bahu Arkha yang memang sedang duduk tepat berada di sebelahnya.


"Ini si Arkha serius apa nggak si, nyet?" tanya Alfin yang masih belum mempercayai ucapan Arkha. Arkha menepis kedua tangan Devi yang masih bertengger di bahunya.


"Nggak tau lah, intinya gitu," kata Arkha malas memikirkannya.


Alfin langsung berhambur ke Arkha, mengapit kedua pipi Arkha dengan telapak tangannya. Tatapan matanya menajam, menatap Arkha lekat.


"Main lo gak bersih, ya? Makanya kebobolan?"


Pletak!


Satu sentilan yang cukup keras menghantam dahi Alfin. Lelaki itu meringis tertahan, mengusap dahinya yang terasa sedikit panas akibat sentilan maut Arkha.


"Bodoh! Nggak gitu konsepnya gila!"


"Ya terus gimana? Lo selingkuh dari


Aurel?"


"Bukan."


"TERUS APA SETAN? NGOMONG YANG BENER YA KAU ANJING!" teriak Alfin yang sudah sangat emosi dengan Arkha.


Arkha merotasikan bola matanya malas. 'Di jodohin kali," jawab Arkha asal.


"Nah kan gitu jelas ngom-lah buset!


Masih ada jodoh-jodohan di zaman


"Tapi kan," jeda Arkha bimbang.


"Tapi apa?"


Arkha mengedikkan bahunya tidak tahu, mengambil segelas alkohol yang sudah tersedia di meja bar mereka dan menegaknya hingga tandas. Sedangkan ketiga temannya masih memproses semuanya secara perlahan.


"Gue si nyaranin, ikutin aja kata nyokap-bokap lo, Ar."


Mohon maaf menunggu terlalu lalu lama, ayo dong kasih support

__ADS_1


__ADS_2