
Zheya pulang cepat hari ini, ia tidak sanggup untuk melanjutkan kelas berikutnya. Jadi tadi Zheya menitipkan absen pada Dhea.
Bodoh juga si, padahal belum sarapan tapi tadi nekat langsung pergi ke kampus. Ya tapi mau gimana lagi, toh emang Zheyanya juga kesiangan.
Untuk hari ini juga Arkha pulang cepat, setelah menyelesaikan kelas tadi Arkha langsung kembali ke apartemen.
Harusnya ia ada janji dengan Aurel saat ini, tapi entah kenapa hatinya tergerak untuk kembali ke apartemennya.
Arkha rasa sepertinya Zheya memang sudah pulang lebih dulu tadi.
Sampai di apartemen pun Arkha langsung mengetuk pintu kamar Zheya, mencoba memastikan perempuan itu ada di sana.
Jangan tanya kenapa Arkha melakukan ini, ia hanya mencoba mengikuti kata hatinya saja.
"Zhey, lo di dalam?" Tidak ada jawaban maupun sahutan yang terdengar dari dalam kamar Zheya,
"Zhey? Denger gue, gak?" Masih sama. Tidak ada sahutan.
Arkha tidak panik sih, dia masih mencoba tetap menunggu beberapa saat lagi. Mungkin saja Zheya sedang berada di kamar mandinya kan?
"Zheya, ini gue Arkha. Lo denger gue gak si?" Oke. Arkha mulai sedikit panik. Tidak banyak.
Hanya saja Arkha mulai was-was takut-takut jika Zheya pingsan kembali di dalam sana.
Melirik gagang pintu kamar Zheya, Arkha ragu untuk membukanya atau tidak. Karena jujur Arkha pun deg-degan saat ini.
Bukannya apa, Arkha tidak pernah masuk ke dalam kamar perempuan, jadi sepertinya agak canggung saja.
Tapi mengingat sejak tadi tidak ada jawaban dari Zheya, Arkha jadi tidak mempunyai pilihan lain selain membuka pintu kamar itu.
Ceklek!
Pertama kali yang Arkha lihat adalah kamar Zheya yang terlihat sangat rapih... Dan Zheya yang sedang berbaring di tempat tidur berbalut dengan selimut tebal.
Berjalan ragu, Arkha mendekati tempat tidur Zheya.
"Zhey," ucap Arkha seraya mencoba menyentuh kening Zheya.
Panas.
Arkha mencoba kembali menyentuh tangan dan leher Zhyea. Semuanya panas.
"Zhey? Bangun Zhey," ucap Arkha dengan cemas
"Badan lo panas banget gila!" Masih mencoba membangunkan Zheya.
"Eungh..." Mata Zheya terbuka perlahan.
Perempuan itu kembali merapatkan selimutnya. Dan kembali memejamkan kedua matanya. Dan agaknya, Zheya belum menyadari kehadiran Arkha sejak tadi.
Sampai sedetik kemudian kedua matanya benar-benar kembali terbuka sempurna.
"AAAAAA!!!! SIAPA LO?!!" teriak Zheya seraya bersembunyi di dalam selimutnya.
"KELUAR LO!"
Lain halnya dengan Arkha yang malah
__ADS_1
panik karena mendengar teriakkan Zheya. Arkha takut tiba-tiba ada yang mendengar suara teriakkan Zheya dan orang lain berpikir yang nggak-nggak tentang mereka.
"1-ini gue, Arkhal" seru Arkha dengan cepat.
Barulah ketika Arkha mengatakan itu Zheya langsung terdiam dari rontaannya. Beberapa detik selanjutnya, Zheya membuka selimutnya perlahan dan mendapati Arkha yang sudah berada dihadapannya.
"S-sorry, gue kaget," cicit Zheya merasa bersalah.
Arkha mengangguk.
"Badan lo panas, lo sakit? Tadi juga lo pingsan?"
Alih-alih menjawab cicitan Zheya, Arkha malah balik bertanya.
"Cuma capek aja, kemarin kan habis beberes juga terus tadi lupa sarapan, kesiangan."
Arkha merotasikan bola matanya kesal. "Baru kemarin tinggal di sini, lo udah ngerepotin gue, tau gak?"
Zheya menatap tajam Arkha. Tidak menyangka jika kalimat itulah yang barusan keluar dari mulut Arkha.
"Lo gila, ya? Gue gak minta sakit kayak gini, emang lo pikir gue mau sakit gini?" Zheya sudah kelewat kesal.
Apa-apaan itu Arkha, bisa seenaknya mengatasi jika Zheya merepotkan. Seingat Zheya, Zheya pun tidak pernah meminta bantuan Arkha. Huh! Emang lelaki bermulut cabai!
"Ya tapi!"
"Tapi apa?! Gue aja gak minta lo buat ngurusin gue, lo sendiri yang dateng ke kamar gue buat ngecek! Sekarang giliran gue sakit, lo malah bilang gue ngerepotin lo!"
"Tapi gue mas...."
"Diem lo! Keluar aja deh, kesel gue liat muka lo! Mulut cabe! Pedes kayak setan!"
"Lo ngerti gue bilang diem gak? Masih punya kuping kan? Pasti ngerti dong, kata Tante Leya lo pinter. Tapi kalau sampai lo ngomong lagi, gue anggap lo bodoh!"
Oke, kalau kalian lihat wajah Arkha saat ini, di jamin kalian tidak akan tahan untuk berhenti tertawa barang sebentar.
Lihat saja, lelaki itu benar-benar diam mematung melihat dan mendengarkan Zheya mengomeli dirinya. Bagaikan ucapan Zheya menghipnotis Arkha untuk tetap membungkam mulutnya rapat-rapat dan mendengarkan semua ocehan Zheya.
Bahkan jika kalian lihat, saat ini tubuh Arkha saja sulit untuk ia gerakan. Arkha takut jika napasnya saja akan membuat Zheya kembali marah nantinya.
Sekarang Arkha benar-benar tidak tahu lagi harus melakukan apa.
"Ngapain masih di sini?" tanya Zheya melirik Arkha yang tidak bergerak
sama sekali
"Pergi sana!" usirnya.
Tapi setelah melihat Arkha yang masih diam di tempat tetap memandanginya diam, Zheya geregetan dan langsung berdiri menarik pergelangan tangan Arkha agar lelaki itu bangun dari duduknya.
Tapi belum berhasil dengan Zheya yang membuat Arkha bangun dari duduknya, ia malah di buat gagal fokus dengan noda merah di seprainya.
Tunggu! Zheya datang bulan
"Lo tembus?"
****! Arkha bodoh! Kenapa malah di tanya si? Sekarang kan Zheya bingung harus meletakkan wajahnya dimana? Malu banget Tuhan. Please tenggelamkan Zheya dari bumi sekarang juga.
__ADS_1
"Ish, udah sana pergi, keluar!"
Untungnya Arkha cepat peka, dengan buru-buru Arkha juga langsung keluar dari kamar Zheya dan memberikan Zheya waktu untuk membersihkan pakaian serta noda di seprainya.
Tidak, Arkha tidak semata-mata hanya keluar begitu saja.
Arkha mengeluarkan handphonenya dari saku celananya, kemudian barulah Arkha mencoba mencari artikel-artikel yang membahas tentang cara mengatasi perempuan yang sedang datang bulan.
Ya, tanpa Arkha sadari, Arkha sudah melakukan sejauh itu sekarang.
****
Setelah insiden Zheya yang tembus tiba-tiba itu karena kebodohan Zheya yang sangat lupa akan tanggal datang bulannya. Maka di sinilah Zheya, duduk di tepi tempat tidur dengan perasaan bimbang untuk keluar kamar atau tidak. Karena jujur, pada saat ini Zheya benar-benar malu untuk menampilkan wajahnya di hadapan Arkha.
Bagaimana jika nanti lelaki itu akan menertawakannya? Tidak-tidak! Zheya tidak bisa membayangkan hal itu terjadi.
Tok! Tok! Tok!
"Gue udah siapin makanan!" seru Arkha dari luar kamar Zheya.
"Anjir, kaget."
Zheya meletakkan tangannya di dada sebelah kirinya. Jantungnya berdegup kencang karena terkejut.
"I-iya, nanti gue keluar!" jawab Zheya
sedikit berteriak.
Dengan menebalkan wajahnya di kamar tadi, akhirnya Zheya memberanikan diri untuk keluar kamar. Tidak bohong jika sekarang Zheya sangat lapar, cacing-cacing di perutnya sudah berteriak meminta makan.
Huft, sulit juga ya jika mempunyai banyak cacing di perut. Rasanya ingin menahan tidak makan saja tapi tidak bisa.
"Kenapa? Lo gak nyaman, ada gue?" tanya Arkha tiba-tiba. Zheya menelan ludahnya kasar.
Terkejut dengan pertanyaan Arkha.
"Ah, anu-"
Brak!
Huh, lagi-lagi Arkha selalu memotong ucapan Zheya. Sekarang, sebelum Zheya menyelesaikan ucapannya, Arkha sudah pergi lebih dulu masuk ke dalam kamarnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Ah, bahkan tanpa melirik sekilas wajah Zheya saja tidak sama sekali.
Zheya sangat bingung, bagaimana sebenarnya sifat lelaki itu. Moodnya cepat sekali berubah.
Terkadang bisa baik dengan Zheya, bisa menyebalkan juga, apa mungkin Arkha mengidap penyakit bipolar, ya?
Ah tidak tahu lah, masa bodoh dengan lelaki bermulut cabai itu, yang terpenting saat ini Zheya bisa makan dengan tenang tanpa perlu merasa canggung dengan Arkha.
Ceklek!
Zheya menoleh ke arah kamar Arkha. Pintu kamarnya kembali terbuka dan menampilkan sosok Arkha berdiri di ambang pintu.
"Jangan lupa beresin!" perintahnya.
"Iya....☺️"
Brak!
__ADS_1
Tuhan, bolehkah Zheya minta tolong cubit Arkha sedikit? Tidak apa-apa sedikit, yang penting cubit Arkhanya. Boleh, ya? Tolong.
"Arkhanjing," desis Zheya menggeram tertahan.