arzhey

arzhey
Bab 15


__ADS_3

Tidak tega membiarkan Arkha tidur di sofa, akhirnya dengan sekuat tenaga Zheya membawa tubuh Arkha ke kamar.


"Lo mau bales dendam karena kemarin udah bantuin gue ya?" kesal Zheya.


Arkha masih diam, dan lelaki itu malah memeluk Zheya erat begitu mereka masuk ke dalam kamar.


"Lepas sih, Ar."


"Lo Zheya kan? Gue kenal wangi lo," racau Arkha masih mengendus-endus wangi tubuh Zheya.


Rasa geli menyerang Zheya, bagaimana tidak? Lelaki itu mengendus ceruk leher Zheya, memberikan kecupan kecil di sana.


"Ar, lepas. Lo lagi mabuk."


"Iya, gue tau kok lagi mabuk. Tapi gue masih sadar yang gue lakuin sekarang," kata Arkha pelan.


"Ya udah, lepas ah!"


Bukannya diam dan mengikuti instruksi Zheya, Arkha malah semakin menjadi-jadi.


Lelaki itu malah mengeratkan pelukannya dan membuat kiss mark di beberapa tempat di leher jenjang Zheya.


"Eungh..." Sial. Zheya kelepasan.


"Ar, udah Ar, lo lagi gak sadar."


"Zhey, egois gak sih kalau gue minta lo jauhin Gibran? Gue gak suka, gue cemburu," ungkap Arkha yang masih sibuk dengan aktivitasnya bermain pada leher jenjang Zheya.


"Lo udah makin ngaco, udah ya lepas, sekarang lo tidur," balas Zheya.


"Gue sadar kok ucapin ini, gue juga sadar kalau gue mulai suka sama lo Zhey. Gue janji, gue bakal putusin Aurel tapi lo harus janji buat tetep sama gue. Ayo mulai semuanya dari awal, Zhey."


Hisapan Arkha makin terasa di kulitnya, Zheya sangat yakin jika tanda kemerahan pasti sudah tersebar di sekitar lehernya.


Tapi beberapa saat kemudian Arkha diam, menaruh kepalanya pada pundak Zheya.


Lelaki itu seperti sedang memikirkannya sesuatu di kepalanya.


"Maaf Zhey, gue tau sekarang lo pasti benci gue, maaf gue gak bisa kendaliin diri gue," lirih Arkha sangat menyesal begitu menyadari apa yang barusan ia lakukan kepada Zheya.


Di pikirannya saat itu, pasti Zheya sudah sangat membencinya karena menyentuhnya tanpa permisi.


Jujur melihat Arkha yang seperti itu malah membuat Zheya merasa bersalah.


Arkha juga pasti tersiksa menahan hasratnya, tapi jika ia teruskan apa Zheya yakin bisa menerima semuanya?


Jika ia memberikannya pada Arkha, maka mereka berdua akan resmi menjadi sepasang suami istri sesungguhnya.


Dan dengan begitu maka Zheya akan menjadi sulit lepas dengan Arkha nantinya.


Zheya takut suatu saat Arkha akan meninggalkannya di saat Zheya sudah memberikan semuanya untuk Arkha.


"Zhey, jangan diem aja, ayo maafin gue..."

__ADS_1


Zheya menangkup wajah Arkha, melihat cairan bening itu yang keluar dari pelupuk mata Arkha.


Entah kenapa hatinya berdesir melihat tatapan Arkha yang menusuk dalam ke hatinya. Meski ragu, tapi ini keputusannya.


"Lanjutin, Ar. Gue tau ini kewajiban gue juga," ujar Zheya pelan.


"Nggak, gue bisa lanjutin sen---"


"Ayo jalanin yang lo bilang, kita mulai semuanya dari awal." Sebelum Arkha menyelesaikan kalimatnya, Zheya sudah lebih dulu memotong Arkha.


Masih agak tidak menyangka dengan perkataan Zheya barusan, Arkha langsung mengecup bibir ranum Zheya yang sedari tadi sudah ia tahan untuk tidak melakukannya.


Mendiamkannya beberapa saat disana sampai Arkha memulai untuk ********** lembut.


"Lo belum terlambat buat berhentiin gue, Zhey."


"Terusin, Ar."


Arkha kembali ******* bibir ranum Zheya, sesekali menggigitnya kecil. Rasa alkohol yang masih menempel pada bibir dan lidah Arkha membuat Zheya semakin terbuai dengan ciuman mereka.


Ciuman yang tadinya berawal lembut, kini malah semakin panas. Arkha semakin menahan tengkuk Zheya agar bisa memperdalam ciuman mereka.


Mengusap pipi Zheya lembut, menuntun Zheya untuk membuka mulutnya dan membiarkan lidahnya masuk ke dalam mencari lidah Zheya dan mengabsen giginya satu-satu.


Diam-diam tangan Arkha juga menelusup masuk ke dalam baju longgar yang Zheya kenakan.


Menyingkap baju itu ke atas sedikit dan,


Cteki


Dapat, Arkha meremas pelan benda kenyal itu, mengusapnya pelan, dan merasakan ukuran yang Zheya miliki sangat pas di tangannya.


"Eungh... Arkha..."


Masih dengan ciuman keduanya, Arkha menarik baju Zheya ke atas. Menampilkan bukit kembar milik Zheya yang terlihat jelas di mata Arkha.


Tidak lupa, Arkha juga melepaskan bajunya dan menuntun Zheya untuk merebahkan dirinya di kasur mereka.


"Zhey, kalau sakit bilang ya? Gue bakal berhenti." Akhirnya malam itu mereka.


"Akh!"


benar-benar bersatu, menyalurkan hasrat keduanya di atas kasur mereka.


Satu yang Zheya kagumi, Arkha benar-benar bermain sangat lembut dan berhati-hati agar tidak membuat Zheya merasa sakit.


Paginya, setelah bergulat semalam, Arkha dan Zheya memutuskan untuk tidur setelah kelelahan.


Mendengar alarm yang berbunyi membuat Zheya terpaksa membuka matanya dan mematikan alarm di handphonenya. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.


Zheya merasakan ada sesuatu yang berat di atas perutnya, ia lihat, tangan kekar Arkha yang memeluknya dengan posesif, seakan tidak membiarkan Zheya keluar dari pelukannya.


Dengan hati-hati, Zheya mengangkat tangan Arkha agar tidur Arkha tidak terganggu.

__ADS_1


Tapi belum berhasil Zheya melepaskannya dari perutnya, Arkha malah semakin mengeratkan pelukannya dan semakin membenamkan wajahnya di ceruk leher Zheya.


"Nanti aja Zhey, mau gini dulu," ujarnya manja.


Oke, Zheya menuruti kemauan Arkha dan menunggumu beberapa saat lagi sampai lelaki itu puas. Tapi belum ada lima menit, Arkha sudah melancarkan kembali aksi jahilnya.


Arkha mengecup pelan pundak polos Zheya, hanya sedikit kecupan kecil saja agar membuat Zheya kesal.


Terbukti, baru beberapa kecupan Arkha berikan, Zheya sudah menampar tangannya yang berada di atas perut Zheya.


"Diem, gak usah di cium-ciumin," ujar Zheya memperingatkan.


Tapi bukan Arkha namanya jika langsung nurut begitu saja, meski sudah di tegur Zheya, Arkha kembali melanjutkan aksinya itu dan semakin menjadi-jadi untuk memberikan lebih banyak kecupan di sana.


Merasa bangga dengan ciptaannya itu.


"Zhey, lo jangan mancing-mancing gue ya." Arkha memperingatkan Zheya, karena ia juga tidak menjamin jika adik di bawahnya tidak akan mengeras kembali.


"Mancing gimana sih? Orang gue gak ngapa-ngapain kok," sahut Zheya masih dengan kejahilannya.


Cup!


Cup!


Cup!


"Sial Zheya, adik gue bangun."


Mendengar kata-kata warning yang keluar dari mulut Arkha, Zheya langsung melepaskan pelukan Arkha dan memungut pakaiannya yang berserakan di lantai. Ia tahu jika sebentar lagi Arkha pasti akan mengamuk.


"Zhey, tanggung jawab!"


"Gue mau mandi!"


"Mandi bareng!"


"Gak!"


"Zheya!"


Hap!


Arkha berhasil menahan pintu kamar mandi agar tidak tertutup sepenuhnya, senyum smirknya membuat Zheya yang melihatnya meringis pelan, membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya jika Arkha sampai masuk.


Dengan sekali tarikan, Arkha berhasil membuka pintu kamar mandi mereka dan memojokkan tubuh Zheya di dinding kamar mandi.


"Persiapkan dirimu tuan puteri," ucap


Arkha di telinganya bersama suara


seraknya.


Cup!

__ADS_1


Dan kalian tahu setelahnya apa yang akan terjadi pada keduanya di dalam sana. Biarkan mereka menghabiskan waktunya berdua tanpa ada yang harus mengganggunya.


__ADS_2