arzhey

arzhey
bab 6


__ADS_3

Tadi, sebelum kelas terakhir berakhir, Leya  memberi kabar kepada Arkha, mengajak lelaki itu datang ke rumahnya untuk makan malam bersama.


Tentu tidak lupa, Leya juga turut mengajak Aurel selaku pacar Arkha dan mengajak Zheya yang sudah ia anggap seperti anak sendiri.


Maka di sini mereka, di rumah Leya dan Wino berkumpul bersama.


"Tante, sini biar Aurel bantu," tawar Aurel seraya mendekati Leya yang sedang menumis capcay kesukaan Arkha.


Leya tersenyum, mengelus punggung Aurel dengan lembut. "Udah kamu temenin Arkha aja sana, kasian tuh sendirian, Papahnya lagi mandi," ujar Leya seiring tatapannya menunjuk keberadaan Arkha yang hanya duduk bosan di meja makan.


"Bener kata Mamah, mending kamu temenin aku deh," sahut Arkha yang sangat setuju dengan saran Leya.


"Tapi aku kan mau bantu tante."


Leya tersenyum lembut melihat Zheya yang sedang melihat interaksi ketiganya. "Ada Zheya nanti yang bantu tante, udah sayang kamu temenin Arkha aja, kasian tuh anak tante mukanya udah melas gitu," kata Leya seiring dengan menuntun Aurel untuk duduk di kursi, di samping Arkha.


"Zheya cantik, bantuin Mamah masak


ya?" Zheya menggaruk lehernya yang tidak gatal, tersenyum canggung menganggukkan kepalanya dan segera menghampiri Leya yang sudah menunggunya.


"I-iya, Mah."


Sedangkan Aurel menatap Zheya dengan raut wajah yang sedikit kebingungan.


"Kok? Mamah?"


Arkha melirik Zheya, Leya, dan Aurel secara bergantian. Entah kenapa Arkha merasakan suasana canggung yang entah sejak kapan sudah tercipta begitu saja.


Aurel pun menatap Arkha, menuntut penjelasan.


"Kenapa, Aurel?" tanya Leya halus.


"Zheya manggil tante, Mamah?"


"Iyaa, ada yang salah Aurel? Zheya ini udah tante anggap seperti anak


Tante sendiri loh, dari dulu tante ingin sekali punya anak perempuan," ujar Leya dengan penuh tatapan matanya yang berbinar. Seperti mengatakan jika sesuatu yang ia impikan dulu kini sudah menjadi kenyataan, dan itu sangat menimbulkan kebahagiaan


untuknya.


Aurel menatap Zheya tidak suka. "Ah, Mamah katanya mau masak? Ayok biar Zheya bantu," sahut Zheya dengan sedikit tidak enak hatinya.


"Oh iya, lupa! Ayok, buruan sayang, yang lain udah pada laper tuh pasti."


Bohong jika Aurel tidak mengiri dengan Zheya, melihat keakraban Zheya dengan Leya membuatnya sangat-sangat merasakan keirian yang nyata. Mengingat usahanya untuk mendapatkan hati Leya terasa sangat sulit, bahkan terkadang Leya terang-terangan mengkomentari hubungannya dengan Arkha.


Tapi setelah melihat Zheya yang terlihat sangat mudah mendapatkan hati Leya, itu membuatnya sangat panas ketika melihat interaksi keduanya.


"Tolong iris wortelnya sayang, Mamah mau panasin airnya dulu," pinta Leya dengan lembut.

__ADS_1


"Oke Mah, irisnya kayak gini kan Mah?"


Leya sedikit melihat irisan potongan wortel yang Zheya iriskan.


"Iya, betul. Kamu pinter masak, ya? Aduh, senengnya."


Sedangkan disisi lain, Aurel hanya merotasikan bola matanya kesal. Tidak terima jika Zheya yang berbeda disana dengan Leya, karena seharusnya Aurel yang disana, bukan perempuan lainnya, hanya Aurel saja.


"Cih! Liat aja lo, cewek kampungan!"


*****


"Masakannya enak banget tante! Aurel jadi lahap banget makanya."


Aurel memuji cita rasa masakan yang Leya dan Zheya buat tadi, raut wajahnya seperti mengatakan segala kejujurannya.


Wino tersenyum setuju dengan perkataan Aurel barusan. "Masakan istri om pasti enak dong Aurel," timpal Wino yang ikut memuji.


Leya yang di puji hanya bisa tersenyum tersipu menanggapi pujian dari orang-orang yang sudah memakan masakannya dengan lahap.


"Bisa aja sih kalian, ini Zheya juga loh yang buat!"


"Cewek udik, sialan."


"Oh iya, kamu pulang diantar siapa Aurel?" tanya Wino tiba-tiba.


Aurel menoleh ke arah Arkha yang masih menghabiskan makanannya.


Wino mengangguk. "Ya sudah, kalian jangan pulang kemaleman, ya? Bahaya," kata Wino mengingatkan kedua remaja itu.


Di lain sisi, seorang perempuan yang tepat berada di samping Aurel melirik sekilas ke arah Leya, dan kebetulan Leya sedang tersenyum ke arahnya.


Zheya jadi merasa sedikit canggung, karena merasa kurang pantas di sekitar keluarga yang bahkan sebelumnya ia belum pernah kenal sama sekali.


Meskipun terkadang ia masih suka mendengarkan cerita Mamahnya mengenai keluarga Leya.


"Hm Zheya, kamu nginap disini aja ya? Udah malem loh ini," pinta Leya dengan raut wajahnya yang dibuat sendu.


"Eh?"


Zheya melihat sekitarnya yang kini sudah memusatkan perhatiannya kepada dirinya. "Ah, gak apa-apa Mah, aku nanti pulang sendiri aja," jawab Zheya merasa tidak enak.


"Kamar Zheya belum di rapihkan loh Mah."


"Ya gak apa-apa Pah, Zheya bisa tidur di kamar Arkha dulu kan?"


Aurel mendadak mencubit sedikit paha Arkha, bermaksud lelaki itu untuk menolak rencana Leya. Sungguh tidak rela jika Zheya harus tidur di kamar Arkha, sedangkan dirinya saja sekalipun belum pernah sama sekali menginjakkan kakinya di kamar pacarnya itu.


Dan Leya dengan mudahnya menyarankan untuk Zheya tidur di kamarnya Arkha? Semudah itu kah? "Tanya Arkhanya dulu dong Mah, memangnya Arkha menyetujuinya?

__ADS_1


Bagaimanapun itu kamar pribadinya Arkha," jawab Wino mencoba mengerti posisi anak semata wayangnya itu.


Arkha mengerti kode yang Aurel berikan untuknya, tetapi di satu sisi ketika melihat sorot mata Leya yang mengisyaratkannya agar mengizinkannya, Arkha seperti tidak memiliki jawaban apa-apa.


Arkha tersenyum dan berdehem kecil, mencoba untuk menetralkan degup jantungnya yang sedikit gugup.


"Boleh, Mah."


Leya tersenyum senang dan bertepuk tangan layaknya seseorang yang berhasil mendapatkan apa yang ia inginkannya.


"Tante, Om, Aurel pamit pulang dulu ya? Kayaknya Mamah Aurel udah telfonin dari tadi nih," ucap Aurel, mencoba menyembunyikan kekecewaannya.


Arkha menghela napasnya dengan berat hati, Arkha pastikan keluar dari rumah ini, perang besar dengan pacarnya akan segera di mulai.


"Oh iya sayang, Arkha kamu antar Aurel pulang ya?"


Arkha mengangguk kecil sebagai tanda jawaban. "Hati-hati, Ar, Rel." Wino menerima uluran tangan Aurel untuk berpamitan.


****


Seperti dugaan sebelumnya, tanpa mengatakan apapun lagi, Aurel langsung masuk ke dalam mobilnya. Meninggalkan Arkha yang masih berjalan di belakangnya. Sesampainya di mobil, barulah Aurel mau menoleh untuk menatap Arkha dengan tatapan menikamnya.


Pertama kali yang keluar dari mulut Aurel hanyalah sebuah dengusan rasa tidak percaya terhadap jawaban Arkha tadi, ia seperti tidak melihat Arkha yang sebelumnya ia kenal.


"Apa kamu selalu ngelakuin itu, Ar?" tanya Aurel to the point.


Arkha menyerengitkan dahinya bingung. "Maksudnya?"


"Kamu selalu izinin perempuan lain buat tidur di kamar kamu, hm?"


Arkha menggeleng pelan. "Bukan itu maksud-"


"Terus apa?!" Nada suara Aurel naik satu oktaf.


"Aku gak bisa nolak permintaan Mamah gitu aja, Rel. Kamu liat kan, betapa bahagianya Mamah punya anak perempuan?"


Tidak bisa di pungkiri, Aurel pun melihat binar kebahagiaan yang Leya pancarkan tadi setiap interaksinya dengan Zheya. Dan jujur, itu membuat Aurel cemburu juga.


Aurel tidak bisa menutupi itu.


Tidak ada perempuan yang bisa menutupi rasa cemburunya.


Kalian tentu tahu itu.


"It's hurt me so much," ucap Aurel lirih.


"I'm sorry, by..."


Aurel memejamkan kedua matanya, berusia meredam emosinya. Mau bagaimana pun, masalah ini harus ia selesaikan dengan baik-baik. Aurel tidak mau mengambil keputusan yang salah selama ia masih di bawah kendali emosinya. Mungkin?

__ADS_1


Merasa harus berbuat sesuatu, Arkha membawa Aurel ke dalam dekapannya. Mengusap punggungnya lembut, berharap itu akan sedikit berhasil memenangkan kekasihnya itu.


"Maaf Rel, maafin aku."


__ADS_2