
"Dhey, kenapa?!" tanya Arkha dengan sangat khawatir.
Dengan sigap Arkha langsung meraih tubuh Zheya yang sudah tidak sadarkan diri.
Entah karena ia terlalu pusing akibat pengaruh alkohol yang ia minum, atau karena ada benturan di kepalanya yang baru berefek dan membuat Zheya jadi tidak sadarkan diri.
"Th anu, nanti gue jelasin deh. Btw ini temen gua sama Zheya, dia yang udah nolongin Zheya tadi."
Arkha melirik lelaki yang di tunjuk Dheya sekilas.
Arkha seperti pernah melihat lelaki ini sebelumnya, tapi dimana?
"Thanks udah bantu i--"
"Ini yang gue bilang sepupunya Zheya," sela Dheya memotong ucapan Arkha.
Gibran tersenyum tipis, mengangguk sopan.
"Sama-sama, gue seneng kok nolong sepupu lo."
"Oke." Arkha langsung membawa Zheya kedalam gendongannya dan membawa Zheya ke apartemennya meninggalkan keduanya yang masih diam terbengong.
Dheya yang hanya di tinggal berdua dengan Gibran, mendadak menjadi canggung.
"Hm anu, si Arkha kayaknya panik banget. Gue bantu Arkha dulu boleh, ya?"
"Boleh, langsung aja bantu. Kebetulan gue juga masih ada urusan," ujar Gibran.
"Makaih banget ya sekali lagi, Gib. Lo emang temen terdebes gue dah pokoknya nyet!"
"Setan lo! Dah gue cabut duluan ya."
"Oke, hati-hati Gib!"
Gibran mengacungkan keduanya jempolnya ke arah Dhea dan melambaikan tangannya sebagai tanda salam perpisahan mereka.
Setelah melihat punggung Gibran yang semakin menjauh, Dhea langsung menyusul Arkha ke apartemennya.
Mengecek kondisi Zheya yang sudah dibaringkan Arkha di kamarnya.
Kedua mata Zheya masih terpejam, Arkha juga terlihat sedang menelfon seseorang yang Dhea rasa adalah dokter pribadi Arkha.
Setelah Arkha selesai menelfon, ia menghampiri Zheya dan Dhea.
"Gimana? Zheya masih belum bangun?" tanya Dhea,
"Belum, gue udah telfon dokter buat cek kondisinya."
Dhea mengangguk paham, kembali melirik Zheya yang masih terpejam tanpa berniat membuka matanya.
"Lo si Zhey, kalau gue bilangin gak pernah nurut!" omel Dhea meskipun perempuan itu tau jika Zheya tidak akan mendengarkannya.
"Boleh jelasin ke gue gak, Dhey?" Dhea mengangguk, kemudian menjelaskan semuanya dari awal sampai akhir sesuai faktanya tanpa ada yang terkecuali.
Dhea benar-benar menjelaskannya kepada Arkha sampai dokter yang Arkha panggil tiba di apartemennya.
__ADS_1
Arkha tidak menyalahkan siapapun, malah ia menyalahkan dirinya sendiri yang mengizinkan Zheya untuk keluar di malam hari.
Jika saja Arkha lebih tegas lagi dengan Zheya mungkin semuanya tidak akan terjadi seperti ini.
"Gimana, dok?" tanya Arkha dengan Dhea berbarengan.
Dokter yang diketahui bernama dokter Irawan itu membereskan peralatannya.
"Tidak ada luka yang serius, semuanya aman. Ini hanya pengaruh alkohol yang diminum oleh Zheya saja."
Arkha dan Dhea bernapas lega mendengar penjelasan yang dokter Irawan katakan.
"Dokter tolong jangan kabarin Papah sama Mamah saya ya soal kejadian ini, takut mereka khawatir."
"Iyaa, tenang Arkha. Saya gak akan kabarin Leya dan Wino soal ini."
"Ah ini, mungkin ini bisa diminum nanti pagi untuk meredam rasa pusingnya nanti."
Arkha menerima obat yang dokter Irawan berikan.
"Baik, terimakasih dok."
"Sama-sama, saya pamit dulu ya."
"Hati-hati dok."
Arkha duduk di tepi ranjang, mengelus surai rambut Zheya yang sedikit berantakan.
"Dhey, lo mau nginep apa pulang aja?"
"Aduh, gue pulang aja deh. Gak enak kalau nginep di sini," kata Dhea yang merasa tidak enak hati.
"Ya udah, gue telfon Devin dulu buat anter lo."
Dhea tersenyum canggung.
"Hehe, makasih Ar, maaf ngerepotin."
"Gue yang harusnya bilang gitu, sebentar gue telfon dulu."
"Asik, di bonceng cogan nih gue. Ada untungnya juga kan, ya gak Zhey?"
Pagi-pagi sekali, yang biasanya Zheya yang pertama bangun, kini malah Arkha yang pertama bangun. Arkha juga tidak semata-mata hanya bangun saja, lelaki itu dengan telatennya mencoba membuat bubur yang ia lihat sendiri resep dan cara buatnya di YouTube.
Setelah menyicipi bubur yang sudah ia masak itu kini Arkha menuangkannya ke dalam mangkok dan memberikannya sedikit taburan ayam suwir yang juga ia masak tadi.
Rasanya pas, meski Arkha tidak terlalu yakin jika masakannya seenak itu.
Tapi melihat hasil masakannya, Arkha jadi mempunyai kebahagiaan sendiri setelah menyelesaikannya.
Bersama dengan obat yang dokter Irwan kasih semalam, Arkha membawa bubur serta segelas air putih ke kamar mereka dan membangunkan Zheya yang masih tertidur di balik selimutnya.
"Zheya, bangun yuk? Makan dulu, minum obat."
"Zhey, Zheya?"
__ADS_1
Arkha menepuk pelan lengan perempuan itu, sampai kedua mata mengerjap, menyesuaikan cahaya yang masuk.
Zheya memegangi kepalanya, merasakan pusing yang sangat teramat menusuknya sampai Zheya sulit sekali rasanya untuk menegakkan tubuhnya.
"Udah gak usah bangun, sebentar."
Arkha meletakkan satu bantal untuk menyangga tubuh Zheya agar terasa
"Udah gak usah bangun, sebentar."
Arkha meletakkan satu bantal untuk menyangga tubuh Zheya agar terasa nyaman bersender.
"Masih pusing?" Zheya mengangguk lemah.
"Ya udah, ini ayok makan dulu."
Suapan demi suapan Arkha berikan, sampai bubur di mangkuk itu sudah hanya menyisakan sedikit saja.
Tidak lupa, Arkha juga membuka obat itu dan memberikannya kepada Zheya.
"Ini di minum dulu obatnya biar gak pusing,"
"Nggak deh, gue gak bisa minum obat," ujar Zheya jujur.
Meski malu, tapi lebih baik jujur kan? Zheya jadi tidak susah-susah untuk menelan obat yang pahit itu.
"Gak bisa gimana?"
"Ya gak bisa, harus di---"
"Oke sebentar, gue hancurin dulu obatnya."
Sial. Arkha kenapa peka sekali sih?! Zheya kan jadi merasa agak gimana gitu, tapi oke, Zheya harus tetap sadar jika itu hanyalah bentuk rasa kamanusian saja. Jika Arkha yang berada di posisinya juga Zheya pasti akan membantu Arkha.
Beberapa saat kemudian, Zheya melihat Arkha sudah kembali dengan sesendok obat yang sudah di hancurkan.
"Ini udah gue hancurin, ayo di minum."
Dengan terpaksa Zheya mencoba meminum obat itu meski rasanya detik itu juga ia ingin memuntahkan semuanya.
"Minum, di telen jangan di muntahin."
Barulah saat itu Zheya berhasil minum obat yang sudah Arkha hancurkan.
Arkha membersikan sisa-sisa air yang berjatuhan ketika ia sulit meminumnya obat tadi, tanpa jijik lelaki itu mengelap juga tangan Zheya.
"Makanya, kalau gak mau minum obat, berhenti minum alkoholnya. Lo kan cewek, lo bakal jadi ibu nantinya Zheya."
Zheya hanya merotasikan bola matanya, tak acuh dengan apa yang dikatakan Arkha barusan.
"Lagian siapa juga yang mau jadi ibu, gue gak mau punya anak." Zheya menaikkan kembali selimutnya sebatas dada.
"Loh harus punya dong, gue mau punya anak empat soalnya."
"Ngaco lo! Dah sana, gue mau tidur."
__ADS_1
"Mau gue tidurin?"
"Arkhanjing!" teriak Zheya seiring tangannya melemparkan bantal ke arah Arkha yang sudah berlari keluar kamar dengan tawa lepasnya .