
"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara ***********; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat’. Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara ***********'." (Q.S. An-Nur: 30-31)
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Matahari mulai menyapa setelah semalaman ia beristirahat dari tugasnya. Cahayanya menyelusup melalui jendela kamar yang kini tak lagi tertutup oleh kain. Tampak remaja cantik tengah mematut diri di depan cermin seraya membenahi kain yang menutupi rambut panjangnya. Dari bet nama yang tertempel di seragam putihnya, bisa terlihat bahwa gadis tersebut memiliki nama yang cantik secantik parasnya, Azqiya Hayfa Azzahra.
Dengan seragam putih biru plus jilbab yang menutup kepalanya, Zahra mencangklong tas ranselnya seraya melangkah keluar kamar dan menuruni tangga.
"Sudah siap? duduk gih sarapan dulu," ucap seorang wanita setengah baya yang tengah membuat segelas susu.
"Besok, biar Zahra sendiri saja yang buat susunya Bunda," ucap Zahra seraya mengambil alih gelas berisi susu di tangan Bundanya.
Bunda menghela napas lalu membuangnya perlahan.
"Tidak apa-apa kan kalau sekali-kali Bunda yang buatkan, Ai."
Bunda menatap sendu putrinya yang tengah menyantap nasi goreng dengan tenang. Dari sorot matanya tersimpan kesedihan mendalam saat melihat putrinya tak lagi ceria seperti dulu. Gadis itu kini berubah pendiam dan dingin sejak insiden tiga tahun lalu.
"Perlengkapan untuk MOS nya sudah masuk tas semua, Ai?"
Zahra mendongak sebentar menatap sang Bunda lalu mengangguk untuk menjawab pertanyaannya dan kembali fokus pada makanannya.
"Aiya," panggil Bunda lembut.
"Zahra, Bun," Zahra meralat panggilan yang diucapkan Bundanya.
"Sayang. Ini hari pertama kamu masuk SMA, jangan pasang wajah judes gitu dong. Coba tersenyum biar nanti temannya banyak."
Zahra terdiam sesaat lalu menyunggingkan senyumannya ke arah Bunda untuk menghilangkan kekhawatiran wanita setengah baya itu.
"Senyum itu ibadah, Sayang," ucap Bunda sembari mengusap kepala Zahra.
"Iya, Bunda."
"Kalau gitu senyum dong."
"Kan sudah, Bunda."
Bunda menghela napasnya, sudah cukup ia memaksa putrinya setidaknya putrinya kini sudah mau melakukannya walau hanya sedikit.
"Zahra berangkat dulu ya Bunda, mobil Oom Hendra sudah di depan," pamit Zahra setelah menyelesaikan makannya.
"Ndak diajak sarapan dulu?"
"Sudah siang Bunda, nanti Zahra sama Lintang terlambat."
__ADS_1
Zahra berdiri seraya mencangklong tasnya.
"Zahra berangkat ya, Bunda. Assalamu'alaikum," ucap Zahra seraya meraih tangan Bundanya.
"Wa'alaikumus salam, Sayang. Semoga hari pertamanya menyenangkan ya, ingat jangan lupa senyum lho," Bunda kembali mengingatkan. Zahra mengangguk mengiyakan seraya berjalan keluar rumah meninggalkan Bunda.
* * * * *
Hari ini adalah hari pertama Zahra mengikuti kegiatan MOS. Sekolah sudah tampak ramai dipenuhi siswa siswi berseragam putih biru. Zahra memilih duduk di bangku panjang yang berada tepat di samping lapangan. Tidak seperti siswa siswi lain yang duduk mengobrol dan bercanda bersama teman-teman lama maupun barunya, Zahra yang duduk bersama sahabatnya Lintang dan teman-teman satu SMP nya justru lebih memilih membaca buku daripada ikut mengobrol bersama mereka.
Tak jauh dari tempatnya duduk, seorang lelaki yang juga mengenakan seragam yang sama dengan Zahra, tengah bercengkerama bersama teman-temannya. Sesekali ekor matanya melirik ke arah Zahra sembari tersenyum manis. Entah apa yang ia pikirkan namun dilihat dari wajahnya, tampak rona bahagia tengah menyelimutinya.
Al Hafizy Tsaqib Putra. Lelaki dengan paras tampan yang banyak diidolakan oleh kaum hawa sepantarannya. Hafiz adalah putra dari sang kepala sekolah, selain tampan ia juga pintar. Banyak gadis yang berharap bisa dekat dengannya namun hal itu tak mudah mengingat Hafiz selalu bersikap cuek terhadap semua gadis. Belum lagi pengetahuannya yang dalam akan agama membuatnya semakin menjaga jarak dengan kaum hawa.
Teeetttttt...
Teeetttttt...
Teeetttttt...
Bunyi bel terdengar membahana ke seluruh sudut sekolah. Seluruh siswa maupun siswi yang sedari tadi duduk-duduk dan bercengkrama dengan teman-temannya pun bergegas berlari kelapangan dan berbaris. Lintang, sahabat satu-satu nya Zahra pun ikut berlari sambil menarik tangan Zahra yang sedari tadi asik dengan bukunya.
Semua siswa sudah berbaris rapi saat kakak-kakak kelas mereka yang notabenenya anggota OSIS melangkah memasuki lapangan dan berdiri berjajar di depan.Tak lama, seorang lelaki yang menjabat sebagai Ketua OSIS memperkenalkan diri dan memberi sambutan selamat datang sekaligus memberi beberapa pengarahan tentang agenda MOS selama 3 hari kedepan.
Dimas menyebut lengkap nama Hafiz dan Zahra sebagai siswa dan siswi dengan nilai terbaik. Mereka pun diminta maju untuk memperkenalkan diri di depan para peserta MOS. Semua pasang mata tampak menatap penuh binar ke arah dua orang yang kini melangkah maju ke depan.
Jika para siswi terpesona dengan wajah tampan Hafiz, lain halnya dengan para siswa. Mereka menatap penuh kagum wajah cantik Zahra. Mereka tidak berhenti memandang gadis cantik itu dengan tatapan yang jelas membuat Zahra risih. Ia hanya menunduk saat Hafiz lebih dulu memperkenalkan dirinya, bahkan saat tiba gilirannya pun Zahra hanya menatap lurus tanpa menyunggingkan senyuman. Perkenalan itu hanya singkat namun membuat keduanya kini dikenal seantero sekolah.
* * * * *
Tiga hari telah berlalu dan hari ini adalah hari pembagian kelas untuk siswa baru. Di lapangan, beberapa papan mading sudah berjajar rapi. Tertempel kertas yang berisikan daftar nama siswa di setiap kelas. Papan-papan mading tersebut sudah dikerubungi para siswa baru. Seperti biasa Lintang selalu berlari menarik tangan Zahra ikut masuk kekerumunan siswa.
Lintang adalah sahabat satu-satunya Zahra, mereka sudah bersama sejak kecil bahkan sejak mereka dilahirkan. Orang tua mereka bersahabat, ayah Lintang bekerja menjadi asisten sekaligus manajer di kantor milik ayah Zahra sedang ibunya sudah meninggal ketika Lintang berusia 6 tahun karena sakit. Dan tiga tahun lalu, ketika Pak Bagas (ayah Zahra) memindahkan kantor pusat yang ada di Bandung ke Semarang, Oom Hendra dan Lintang pun ikut serta pindah ke Semarang mengikuti keluarga Zahra.
Lintang menarik tangan Zahra hingga masuk di kerumunan siswa dan siswi yang sibuk mencari nama dan kelasnya masing-masing. Dengan susah payah akhirnya mereka bisa menerobos masuk dan berdiri tepat di depan deretan papan mading. Mereka berdua langsung fokus mencari nama mereka di antara ratusan nama siswa yang tertera di kertas yang tertempel. Hingga akhirnya Zahra bisa bernapas lega melihat namanya tertera di daftar kelas X.1.
"Alhamdulillah," batinnya.
Selang beberapa detik kemudian terdengar teriakan bahagia Lintang seraya memeluk Zahra.
"Ra, lihat itu. Kita sekelas," teriak Lintang menunjuk namanya dan nama Zahra bergantian.
"Ya," ucap Zahra datar.
Lintang benar-benar girang hingga ia memeluk Zahra dan tak henti-hentinya berkata "kita sekelas, Ra" berkali-kali sampai membuat Zahra tidak nyaman karena menjadi pusat perhatian. Hafiz yang berdiri cukup dekat dengan mereka ikut tersenyum, apalagi saat melihat wajah Zahra yang memerah karena malu dengan tingkah sahabatnya. Senyum Hafiz semakin lebar tatkala melihat namanya juga tertera di kelas yang sama dengan Zahra.
__ADS_1
"Alhamdulillah Ya Allah," batin Hafiz.
* * * * *
Suasana tampak riuh di kelas X.1. Mereka tidak menyangka akan satu kelas dengan dua murid terbaik angkatan mereka, walau mereka tahu untuk kelas X pemilihan siswa masih menggunakan sistem acak tapi tetap saja mereka tidak percaya bisa satu kelas dengan Hafiz dan Zahra.
Beberapa siswa tampak berkumpul di meja Hafiz, mereka terlihat mengobrol dengan akrab, namun sesekali Hafiz terlihat menatap ke arah Zahra yang sedang membaca bukunya. Zahra duduk di baris kedua bagian tengah sebangku dengan Lintang, tepat di bangku depan ada dua gadis yang saling berkenalan. Kedua gadis itupun berbalik ke arah Zahra dan Lintang.
" Hai.. Aku Prisil panggil saja Sisil," ucap gadis berambut pendek ala-ala BCL.
"Aku Bela," ucap gadis satunya yang memakai kacamata.
"Hai juga.. Aku Lintang dan ini sahabat aku namanya Zahra," sahut Lintang sekalian memperkenalkan Zahra pada mereka. Zahra hanya menyunggingkan senyuman tipisnya ke arah mereka berdua.
Selang beberapa saat kemudian, beberapa murid lain ikut berkenalan dengan mereka, tak terkecuali Hafiz. Hafiz bangkit dari bangkunya dan melangkah menuju ke arah Zahra. Beberapa teman yang berkumpul di meja Hafiz awalnya bingung dengan sikap Hafiz yang tiba-tiba berdiri meninggalkan mereka, apalagi saat salah satu sahabat Hafiz yang bernama Kemal memanggilnya namun tak digubrisnya.
Hafiz berdiri tepat di samping meja Zahra. Tanpa menunggu gadis berjilbab itu sadar akan kehadirannya, ia mengulurkan tangannya di depan wajah Zahra membuat gadis itu sontak kaget. Dilihatnya tangan yang mengudara tepat di depan wajahnya, dengan gerakan perlahan Zahra mengarahkan matanya pada sang pemilik tangan. Zahra terdiam beberapa saat melihat sosok laki-laki di depannya sampai ia tersadar setelah beberapa detik lamanya mata mereka bertubrukan, dia pun segera menundukkan kepalanya begitupun dengan Hafiz yang segera mengalihkan perhatiannya.
"Astaghfirullahal'adzim," gumam mereka bersamaan dengan suara pelan.
Lintang yang melihat Zahra diam akhirnya menyenggol lengan sahabatnya itu dan mendekatkan wajahnya.
"Ra, diajak kenalan tuh, kok malah diam," ucap Lintang setengah berbisik.
Zahra hanya terdiam menunduk dengan tangan kanan yang meremas rok abu-abunya sedang tangan kirinya menggenggam buku yang sedari tadi ia baca. Baginya ini adalah sesuatu yang berat untuk ia lakukan, bagaimana tidak selama ini ia belum pernah sekalipun bersentuhan dengan siapapun kecuali keluarganya dan tentunya Lintang, apalagi ia juga ingat dengan kata-kata Kak Husna yang tak lain adalah psikiaternya yang selama 3 tahun ini membimbingnya bangkit dari kesedihannya.
"Dek, kamu tahu tidak, jangankan menatap dan bersentuhan dengan laki-laki yang bukan mahramnya bahkan orang lain yang menatap kita tanpa menutup aurat kita saja, kita ikut menanggung dosanya lho. Lagipula dengan kita menutup aurat bukankah kita akan terjaga dari hal-hal buruk apapun, Dek," jelas kak Husna saat menjelaskan hukum wajibnya menutup aurat bagi perempuan, bukan hanya itu saja kak Husna bahkan menjelaskan dengan dalil yang sudah ia hafal di luar kepalanya.
"Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan ***********, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung." (An-Nur Ayat 31)
Kalimat itulah yang sukses membuat Zahra mantap menutup auratnya seperti yang tampak sekarang, berseragam panjang dengan jilbab yang menutup kepalanya dan menjuntai menutupi dadanya.
Ditengah pergulatan batinnya, Zahra sontak kembali kaget mendengar suara Hafiz.
"Hafiz," ucap Hafiz setelah menarik kembali tangannya, ia sadar apa yang ia lakukan adalah sesuatu yang salah bahkan ia sendiri tidak menyangka bisa melakukan sesuatu yang selama ini ia jaga. Ia seakan telah dilupakan oleh nafsu yang tiba-tiba menguasai dirinya. Ia lupa jika zina berawal dari mata dan dari mata itulah muncul zina-zina yang lain setelahnya.
Astaghfirullahal'adzim.. ampuni hamba Ya Rabb.
"Zahra," sahut Zahra tanpa menatap Hafiz.
Jantungnya berdetak kencang saat mendengar suara yang sepertinya tak asing baginya. Namun entahlah, ia juga tidak tahu yang jelas ia tak henti-hentinya melafalkan asma Allah dalam hatinya untuk mengatasi kegugupannya..
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
Jangan lupa setelah membaca, tekan LIKEE, KOMEEEENNNN dan VOOOTTTTTEEEEEnya ya..😉😉
__ADS_1