Assalamu'Alaikum, Ya Habibi Qolbi (REVISI)

Assalamu'Alaikum, Ya Habibi Qolbi (REVISI)
HATI YANG TERSAKITI


__ADS_3

Sebelum Zahra duduk di kursi pianis, ia sempat terpaku melihat piano di hadapannya. Ingatannya jelas menuju masa lalu yang dulu pernah membuatnya bahagia. Masa di mana Andrie dengan sabar dan telaten mengajari Zahra memainkan alat musik tersebut hingga membuatnya mahir memainkannya seperti sekarang ini. Ya.. masa Lalu yang membuatnya bahagia sekaligus terluka karenanya.


Zahra pun segera menepis perasaan yang membuatnya tak nyaman itu, meskipun itu hanyalah sepotong ingatan di masa lalunya yang dia sendiri tidak tahu, tapi jelas itu membuat hatinya sesak.


Zahra pun melangkahkan kakinya menuju ke kursi pianis dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Zahra menatap lekat papan tuts piano yang ada di depannya. Ia pun menarik napasnya dalam-dalam dan mengembuskannya dengan berat. Dengan lembut jari-jari Zahra mulai menari di atas papan tuts, suara itu pun mengalun sangat indah mengiringi suara merdu Lintang. Lagu yang dinyanyikan Lintang seolah menggambarkan isi hatinya. Lagu milik Kerispatih dengan judul "Lagu Rindu" itu sukses membuat ingatannya kembali. Entah mengapa ada perasaan rindu yang teramat dalam kepada seseorang. Seseorang yang mulai ia ingat setelah sekian lama ia lupakan. Seseorang yang sudah menorehkan luka di hatinya..


🎵🎵🎵


Bintang malam katakan (sampaikan) padanya


Aku ingin melukis sinarmu di hatinya


Embun pagi katakan padanya


Biar ku dekap erat waktu dingin membelenggunya


Tahukah engkau wahai langit


Aku ingin bertemu membelai wajahnya


Kan ku pasang hiasan angkasa yang terindah


Hanya untuk dirinya


Lagu rindu ini kuciptakan


Hanya untuk bidadari hatiku tercinta


Walau hanya nada sederhana


Ijinkan ku ungkap segenap rasa dan kerinduan🎵🎵


* * *

__ADS_1


Penampilan Zahra dan Lintang sukses membuat seisi ruangan terhanyut dalam indahnya alunan piano yang lembut dan suara merdu Lintang.


Zahra sendiri mencoba untuk tetap bertahan dari rasa rindu, rasa sakit dan rasa sesak yang ia rasakan saat ini agar semua itu tidak mendominasi pikirannya yang bisa membuatnya hilang kendali. Berkali-kali ia memejamkan matanya sembari tetap menekan setiap tuts sesuai nada dan iramanya. Terlihat tetesan air mata mulai mengalir indah di pipinya kala ia mulai terbawa oleh dalamnya makna dari lagu tersebut.


Ketika semua orang terbius dengan penampilan indah Zahra dan Lintang. Hafiz malah sibuk dengan pikirannya yang dipenuhi tentang Zahra. Hafiz bisa melihat langsung wajah cantik Zahra yang sekarang dibanjiri air mata. Sedih rasanya melihat bidadari hatinya meneteskan air mata seperti itu. Ingin rasanya dia menjadi seseorang yang menghapus air mata kesedihan di hati gadis itu, menjadikan dirinya sebagai tempat bersandar baginya.


"Ya Allah.. Kuatlah hati Zahra, angkatlah rasa sakit di hatinya Ya Allah.. Sungguh tak sanggup hamba melihatnya menetes air mata kesrdihan," batin Hafiz


Zahra dan Lintang kembali ke tempat duduknya setelah membuat seisi ruang terpukau dengan penampilan mereka.


Tangan kanan Zahra mulai menekan pelipisnya dengan kuat sedang tangan kirinya memegang dadanya. Sepenggal ingatan tadi memaksa otaknya untuk mengingat masa lalunya dan itu membuat kepalanya terasa sakit. Lintang yang sedari tadi melihat keanehan Zahra mulai mencondongkan badannya ke arah Zahra.


Perasaannya mulai khawatir dengan kelakuan sahabatnya ini, apalagi melihat Zahra menekan pelipisnya dengan kuat. Ia khawatir Zahra mengingat masa lalu yang membuatnya terluka. Tiga tahun lalu, kepergiaan Andrie membuat psikis Zahra terguncang hebat hingga membuat gadis itu seperti amnesia, namun anehnya yang ia lupakan hanyalah semua yang berkaitan tentang Andrie.


"Ra.. Kamu baik-baik saja kan?" tanya Lintang yang sama sekali tidak dijawab oleh Zahra. Zahra justru semakin kuat menekan pelipisnya, membuat Lintang semakin khawatir.


"Ra.. " panggil Lintang sekali lagi dengan menangkupkan kedua tangannya di wajah Zahra agar menghadap ke arahnya.


Terlihat wajah Zahra yang pucat, memejamkan mata sembari mengernyitkan dahi menahan sakit.


"Hey, Ra... kamu sakit? Muka kamu kok pucat gitu," ucap Lintang sedikit khawatir.


" Ya Allah Ra.. please deh jangan bikin aku tambah khawatir," ucap Lintang saat melihat air mata Zahra mulai menetes.


"Kita ke UKS ya, Ra.. Kamu tunggu di sini dulu, aku minta izin dulu sama Bu Monic," ucap Lintang hendak bangkit dari duduknya namun segera ditahan oleh Zahra.


"Aku tidak apa-apa Lin," ucap Zahra lirih sembari menggelengkan kepalanya.


"Apanya yang tidak apa-apa, Ra. Sudah deh tunggu di sini dulu, aku minta izin ke Bu Monic sebentar," tegas Lintang yang kembali ditahan Zahra.


"Jangan bikin khawatir deh, Ra."


Hafiz yang duduk di depan Zahra pun sudah tidak sanggup lagi menahan dirinya. Sejak tadi ia mendengarkan kepanikan Lintang akan kondisi Zahra, iapun berbalik ke arah Zahra. Hafiz mencoba tenang saat melihat wajah cantik Zahra yang tampak pucat dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. Ia pun menghela napasnya, menyembunyikan kekhawatirannya.


"Zah, kamu baik-baik saja kan?" tanya Hafiz lembut namun tak dijawab oleh gadis itu.

__ADS_1


"Fiz, gimana nih? kayaknya Zahra sakit deh," ucap Lintang.


"Sudah jangan panik. Kita bawa Zahra ke UKS, biar aku yang minta izin ke Bu Monic," ucap Hafiz seraya bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Bu Monic.


Bu Monic sempat melihat ke arah Zahra yang sudah terlihat lemas dipelukan Lintang saat Hafiz meminta ijin membawa gadis itu ke UKS, dan beliau pun memberikan izinnya.


Hafiz berjalan di belakang Zahra dan Lintang, ia ikut menemani keduanya ke UKS karena Prisil dan Bela belum tampil jadi keduanya tidak bisa ikut menemani.


Di sepanjang jalan menuju UKS, Hafiz bisa mendengar suara rintihan Zahra dengan jelas. Dan..  tiba-tiba saja tubuh Zahra merosot, beruntung Hafiz dan Lintang bisa menahannya. Dengan perasaan sedikit terpaksa akhirnya Hafiz membopong tubuh Zahra menuju UKS karena tidak mungkin Lintang yang membopong gadis itu. Hafiz pikir, tidaklah dihitung dosa jika bersentuhan dengan gadis yang bukan mahramnya karena keadaan darurat apalagi ia tidak menyentuh kulit Zahra secara langsung.


"Maafkan saya, Zah. Ya Allah ampuni hambamu ini."


Hafiz merebahkan tubuh Zahra di ranjang UKS, dilihatnya gadis yang memejamkan mata itu tidak henti-hentinya mengeluarkan air matanya. Dalam keadaan yang tidak sadar, Zahra tiba-tiba memanggil nama Andrie berkali-kali dalam tangisnya. Bagai ditusuk sebilah pisau, hati Hafiz terasa sakit sekali kala gadis yang ia cintai memanggil nama laki-laki lain yang entah siapa dan apa hubungannya dengan Zahra.


Lintang yang mendengar Zahra memanggil nama Andrie pun sontak kaget. Ia sekarang sadar jika kondisi Zahra ini ada hubungannya dengan ingatannya tentang Andrie. Iapun bangkit dari duduknya.


" Fiz, titip jaga Zahra sebentar ya. Aku mau ambil ponsel di kelas, kayaknya aku mesti menghubungi seseorang deh yang bisa bikin Zahra tenang," ucap Lintang sebelum melangkahkan kakinya keluar dari ruang UKS.


"Jangan lama-lama ya Lin."


Setelah kepergian Lintang, Hafiz menarik sebuah kursi dan meletakkannya di samping ranjang tempat Zahra terbaring. Ia pun duduk dan memandang wajah Zahra dengan perasaan iba. Entah apa yang merasuki pikirannya,  tiba-tiba saja Hafiz meletakkan tangannya di kepala Zahra yang dibalut kerudung, dengan lembut ia pun mengusapnya.


"Apa yang membuatmu menjadi seperti ini, Zah?" gumam Hafiz.


Masih dengan gerakan tangan mengusap kepala Zahra. Hafiz mengambil napas lalu melafalkan surah Yusuf yang sudah ia hafal di luar kepala. Setahu Hafiz surah Yusuf biasa dilafalkan seseorang untuk menenangkan hati yang sedang gundah gulana. Hafiz berharap apa yang ia lakukan saat ini bisa sedikit mengurangi beban di hati dan pikiran Zahra.


Ayat demi ayat terlantun begitu syahdu dan penuh perasaan hingga tidak sadar Hafiz ikut meneteskan air matanya. Bahkan ia juga tidak menyadari kehadiran Lintang yang kini sudah berdiri di depan pintu sembari melihatnya, dengan perasaan haru akan perlakuan Hafiz pada Zahra.


Lintang pun memutuskan untuk tidak mendekat dan memilih memperhatikan Hafiz. Ia seperti merasakan perasaan yang amat dalam, yang tersimpan di hati Hafiz untuk Zahra. Ia pun tersenyum, dalam hatinya ia berkata,


"Semoga Hafiz lah yang bisa membuat kamu melupakan Andrie, Ra. Semoga dialah yang menjadi penawar luka di hatimu."


Hafiz tersenyum kala melihat Zahra lebih tenang setelah ia melafalkan surah Yusuf. Air mata Zahra yang sedari tadi mengalir pun sudah berhenti keluar. Seakan tersadar dengan apa yang diperbuatnya, Hafiz pun menarik kembali tangannya dari kepala Zahra, khawatir jika tiba-tiba gadis itu membuka matanya.


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


Alhamdulillah bisa Up lagi.😊😊


Okey Sahabat setia HafZah, setelah selesai membaca jangan lupa untuk Nge-Like, Komen dan Votteee yang banyaknya, Saya tunggu..🙏🙏


__ADS_2