
Apa yang dikatakan Gilang kemarin sepertinya membuka pikiran Hafiz.
Hafiz sadar betul beberapa hari terakhir ini, ia terlalu memaksakan kehendaknya dan sekarang berakhir seperti ini. Ia ingat apa yang pernah ia katakan dulu,
"Aku tidak ingin memaksakan sesuatu yang belum tahu seperti apa akhirnya karena sesuatu yang dipaksakan pasti berakhir luka. Jadi biarlah Allah yang mengurus semua ini, seandainya jodoh.. insyaallah, Allah persatukan kami dalam ikatan yang halal."
Senyum Hafiz pun mengembang tatkala mengingat semua itu. Seperti ada kekuatan yang tersalur pada dirinya untuk tidak berlarut dalam kesedihan yang sejatinya ia buat sendiri.
Dan benar saja, hari ini Hafiz mencoba menahan perasaannya sekuat mungkin agar rasa itu tidak mengendalikan dirinya maupun akal pikirannya. Ia kembali menjadi sosok Hafiz yang cuek dan mencoba mengikuti arus yang dibuat Zahra dengan menjaga jarak.
Perasaan sedih sebenarnya hinggap di hati keduanya karena jarak yang sengaja mereka buat. Namun inilah yang mereka pilih. Mereka satu sama lain saling menjaga perasaan orang terkasih agar tidak terluka. Jika jarak adalah salah satu cara agar luka itu tidak semakin dalam maka biarlah jarak itu ada di antara mereka meski tidak bisa dipungkiri perasaan sedih menggelayut di hati masing-masing.
"Ra, aku ada rapat OSIS siang ini. Kamu mau nunggu atau gimana?" tanya Lintang usai bel tanda berakhirnya kegiatan belajar mengajar hari ini berdering.
"Aku pulang sendiri saja, tidak apa-apa."
"Jangan, kan Bunda tadi pagi sudah wanti-wanti kalau kamu tidak boleh pulang sendiri. Tunggu aku saja ya, sebentar kok paling sejam-an."
"Aku pulang saja, Lin. Nanti takutnya Bunda nyariin."
"Aku minta tolong Hafiz saja ya, buat antar kamu sebentar, gimana?"
"Tidak usah, tidak apa-apa kok aku pulang sendiri saja. Insyaallah, Allah selalu melindungi."
"Jangan gitu dong, aku jadi tidak enak sama Bunda. Jadi khawatir juga sama kamu. Ya, ya.. aku minta tolong Hafiz saja, insyaallah dia mau kok."
"Jangan, Lin."
"Kalian kenapa sih? kayaknya akhir-akhir ini aneh tidak seperti biasanya. Lagi marahan ya?"
"Tidak ada apa-apa."
"Terus?"
"Saling menjaga saja biar tidak ada fitnah."
"Maksud kamu?"
"Sudah lupakan saja. Aku pulang ya, Assa..."
"Ra..." ucap Lintang memotong sembari menahan tangan Zahra.
Drrrtttt....
Drrrtttt....
Drrrtttt....
Ponsel Zahra bergetar lama tanda bahwa satu panggilan masuk ke ponselnya.
"Assalamu 'alaikum, Bun."
"......"
"Sudah, ini baru saja keluar dari kelas."
"....."
"Dijemput Bang Arsen? memang Bang Arsen kapan datang?"
"...."
"Bang Arsen tahu sekolah Zahra di mana, Bun? Nanti nyasar lagi."
__ADS_1
"...."
"Ya Bun. Wa'alaikumus salam."
Panggilan berakhir, Zahra pun memasukkan kembali benda pipih itu ke dalam sakunya.
"Kamu dijemput Bang Arsen, Ra? kapan dia ke sininya?"
"Ya. Ya sudah aku ke depan dulu ya, takutnya Abang sudah sampai. Assalamu 'alaikum," ucap Zahra meninggalkan Lintang yang kini diam mematung menatap punggung Zahra.
"Wa'alaikumus salam. Jangan lupa titip salam buat Bang Arsen, bilang dari Lintang yang manis," teriak Lintang setelah beberapa detik dia terdiam.
Zahra hanya tersenyum mendengar ucapan Lintang. Diapun bergegas menuju gerbang depan.
Hafiz yang baru saja keluar dari ruang guru, tidak sengaja melihat Zahra berjalan sendiri menuju gerbang depan. Otaknya yang berkeras untuk tidak peduli namun gagal kala sang hati lebih cepat merespon dan dengan sendirinya kaki itu melangkah mengikuti sang gadis pujaan.
Di depan gerbang sebuah mobil honda vios berwarna hitam terparkir rapi, tampak berdiri seorang laki-laki dewasa dengan tampilan casual namun rapi khas pria dewasa, berdiri bersandar pada badan mobil tersebut. Senyum di bibirnya tampak terukir menambah ketampanannya tatkala orang yang ditunggu datang menghampiri.
"Assalamu 'alaikum, princessnya Abang."
"Wa 'alaikumus salam, Abang. Alhamdulillah Abang sampai sini juga, tidak nyasar kan?"
"Tidaklah, hari gini kok masih nyasar. Malu dong, punya ponsel canggih tapi tidak berguna."
"Ish.. Abang kapan pulang dari Singapore?"
"Satu minggu yang lalu sampai Indo, terus tahu Ayah sama Bunda mau ke Jepang jadi terusan deh ke sini."
"Kok tidak ke rumah? Bang Arsen tidak tidur di rumah?"
"Kemarin ke rumah pas kamu masih di sekolah. Abang tidur di hotel dekat kantor Ayah biar bisa bantu Ayah dan Oom Herman siapin berkas-berkas yang mau dibawa ke Jepang. Tapi insyaallah, besok malam menginap di rumah."
"Oh, ya sudah pulang sekarang yuk."
Mereka pun masuk ke dalam mobil dan beberapa saat kemudian mobil pun melaju. Tak jauh dari sana tampak Hafiz yang diam membatu melihat interaksi keduanya sesaat sebelum mereka pergi, wajahnya dipenuhi pertanyaan seputar laki-laki tadi dan apa hubungan keduanya. CEMBURU, itulah yang dirasakan Hafiz saat ini.
"Astaghfirullahal 'adzim".
* * * * *
Tidak terasa hari ini adalah hari terakhir Zahra dengan status lajangnya pasalnya besok ia resmi dinikahi oleh seorang laki-laki yang belum ia ketahui. Dan malam ini sekitar pukul 7 malam calon suami dan keluarganya akan datang ke rumah untuk pertemuan resmi antar keluarga sekaligus mempersiapkan acara untuk besok usai sholat subuh yaitu Ijab Qobul.
Hati Zahra terasa berdebar tidak karuan sejak pagi, membayangkan siapa laki-laki yang akan menjadi jodohnya. Entah mengapa, hari ini ada sedikit kelegaan dalam hatinya meskipun perasaan sedih masih kadang menyelimuti namun hari ini ia mantap mengikhlaskan semuanya.
"Ya Allah bimbing Zahra untuk menjadi perempuan dan istri yang sholehah setelah ini. Zahra tidak berharap dialah yang akan menjadi imam di hidup Zahra karena Zahra tahu Engkaulah yang maha mengatur semua kehidupan di bumi ini, tapi Zahra berharap semoga kebaikan apapun yang ada dalam dirinya terdapat pula dalam diri calon imam Zahra.
Ya Allah.. semoga dia mampu mendidik dan membimbing Zahra untuk meraih ridho-Mu, dan berjuang bersama dalam kebaikan untuk menggapai surga-Mu.
Dan semoga apa yang Zahra ikhlaskan saat ini mampu menuntun kami semua menuju kebaikan dan kebahagiaan. Amiinn."
Setelah menuntaskan do'anya seusai sholat maghrib, Zahra pun bangkit meraih sebuah kotak berwarna merah muda yang berukuran sedang di atas nakas dan kembali duduk di atas sajadahnya dengan mukena yang masih melekat menutupi seluruh tubuhnya.
Dibukanya tutup kotak tersebut. Tampak sebuah mahkota dari ranting pohon yang dikelilingi bunga sudah kering dan lapuk, di sampingnya ada 2 kotak kecil berukuran berbeda. Zahra mengambil 1 kotak kecil yang ukurannya agak besar dibanding yang satunya. Sebuah kalung berbandul matahari tampak cantik di sana, di dalamnya juga terdapat secarik kertas yang dilipat rapi dengan tulisan "Teruntuk matahariku" di bagian depannya.
Zahra menggenggam erat benda itu sembari mengembuskan napasnya penuh perasaan, matanya mulai terpejam dan ingatan akan sebuah kenangan manis mulai datang memenuhi otaknya.
"A, amanah yang Aa berikan pada Aiya agar Aiya menunggu sampai dua tahun sudah Aiya lakukan, sekarang sudah lebih dari tiga tahun Aiya menunggu namun nyatanya Aa tidak kembali.
Maafkan Aiya, A.. karena Aiya tidak bisa menunggu lagi. Sudah saatnya Aiya meraih kebahagiaan Aiya sendiri tanpa bayang-bayang Aa.
Meskipun sudah lama Aiya melepas semua rasa Aiya pada Aa Namun hari ini, Aiya akan melepas semua yang masih membayangi Aiya, biarlah kebahagiaan dan luka yang pernah Aa kasih ini tersimpan dan tertutup rapat. Dan Aiya takkan pernah menyentuhnya lagi apalagi membukanya, biarlah semua itu pergi, seiring kepergiaan Aa.
A, do'ain Aiya, agar Aiya bahagia dengan pilihan yang Allah kasih ke Aiya. Aiya juga berdo'a di manapun Aa, Aa selalu bahagia. Terima kasih dan maaf."
__ADS_1
Zahrapun meletakkan benda itu kembali ke kotak dan beralih ke kotak kecil satunya. Terdapat dua benda dalam kotak kecil itu. Zahra mengambilnya, menggenggamnya seraya menempelkan di dada. Setetes air mata mulai berjatuhan dari pelupuk matanya.
"Terima kasih karena kamu telah menjadi penenang, penyejuk sekaligus penguat untuk hati Zahra yang lemah.
Terima kasih telah singgah di hati Zahra walau hanya sesaat. Namun tidak bisa Zahra pungkiri bahwa hadirmu yang sesaat ini menjadi sangat berarti untuk Zahra.
Maaf, jika ada sedikit luka yang Zahra toreh. Tapi sungguh.. Zahra tidak bermaksud begitu. Andai kamu tahu, ingin sekali rasanya Zahra menolak pinangan ini karena kamulah yang Zahra inginkan sebagai pendamping Zahra kelak. Kamulah yang selalu Zahra minta pada Allah tapi Zahra tahu, harapan Zahra yang berlebih takkan mampu membuatmu tinggal di samping Zahra.
Biarlah Allah yang mengatur jalan takdir kita masing-masing. Mungkin takdir kita memang tidak berjodoh, tapi Zahra akan selalu berdo'a untuk kebaikan dan kebahagiaan kamu."
Genggaman Zahra pada dua benda itupun semakin kuat. Tasbih dan sapu tangan.
* * * * *
"Sayang, sudah selesai belum? Ayo turun, calon suami kamu dan keluarganya sudah di bawah," panggil Bunda seraya mengetuk pintu kamar Zahra.
Beberapa detik kemudian pintu kamar terbuka menampilkan sosok cantik Zahra dengan gaun panjang syar'i nya dipadukan dengan jilbab panjang berwarna senada. Sederhana namun tampak sangat cantik dikenakan oleh Zahra.
"Masyaallah.. ini princessnya Bunda, cantik banget hari ini."
"Makasih, Bunda."
Wajah cantik dan polos tanpa make up itu semakin cantik tatkala bibirnya tersenyum indah saat sang Bunda memujinya.
"Zahra sudah siap?"
"Insyaallah, tapi Bunda jangan jauh-jauh ya dari Zahra. Zahra gugup," ucap Zahra polos sembari sedikit menggigit bibirnya, tangannya memang tampak sedikit gemetar menandakan bahwa dirinya memang gugup.
"Ya, Sayang. Tarik napas dulu jangan takut."
Bunda Mia menggandeng tangan putrinya menuruni tangga menuju ruang tamu. Rasa gugup yang mendera membuat Zahra hanya mampu menunduk dalam. Bahkan sesampainya di ruang tamu, Zahra tak urung mengangkat kepalanya untuk melihat siapakah tamu yang hadir. Dia hanya berdiri diam saat Bunda memperkenalkannya pada tamu mereka hingga seorang wanita setengah baya dengan penampilan syar'i nya menangkupkan tangannya di pipi Zahra.
"Masyaallah, inikah yang nanti jadi putrinya Ummi?"
Zahra tersenyum saat wanita tersebut mengangkat wajahnya. Suara wanita setengah baya itu terdengar sangat lembut dan tatapannya teduh penuh kasih sayang membuat Zahra nyaman dengan perlakuannya.
"Zahra cantik sekali, insyaallah juga shalihah. Pantas putranya Ummi sudah tidak sabar ingin menghalalkan," tambah wanita yang bernama Ummi Maryam.
Zahra hanya tersenyum dengan kening mengerut, Ia hanya fokus pada wanita di depannya tanpa melihat dua orang lainnya yang berdiri di samping kanan Ummi Maryam.
Ada perasaan tak sanggup melihat siapa sosok laki-laki yang akan menjadi suaminya, jantungnya sedari tadi berdegup tak karuan, jari-jari tangannya saling meremas kuat karena gugup.
"Abi, tidak salah ya putra kita memilih calon istri?"
"Ya, Ummi. Zahra apa kabar?" ucap seorang laki-laki setengah baya di sampingnya menyapa. Zahra tercengang mendengar suara yang tak asing di telinganya.
"Alhamdulillah, Zahra baik."
Zahra perlahan menggerakkan kepalanya ke arah laki-laki setengah baya di samping Ummi Maryam.
Degg..
Zahra terdiam melihat sosok tersebut. Bukankah dia.....
Tanpa Zahra sadari kepalanya mulai bergerak mengarah ke sosok yang berdiri di paling ujung. Matanya membulat sempurna seketika melihat sosok tersebut.
Haruskah ia Bahagia atau Sedih saat ini?
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
SEBAGAI INFORMASI BAHWA INI ADALAH PART TERAKHIR YANG MASIH UTUH KARENA SISANYA SUDAH AUTHOR HAPUS. ALASAN PENGHAPUSAN TAK LAIN ADALAH KARENA NOVEL TENGAH DALAM PROSES PENERBITAN. JADI MOHON MAAF YANG SEBESAR-BESARNYA 🙏🙏🙏
__ADS_1