
Zahra sudah siap dengan seragam dan tas di punggungnya, ia keluar kamarnya dan turun menuju ke meja makan untuk sarapan. Tadi pagi seusai sholat subuh, seperti biasa ia membantu di dapur untuk memasak. Tidak seperti pagi biasanya, pagi ini Bunda tak nampak di dapur bahkan sampai acara masak memasak dengan Bi Inah selesai.
Ayah benar-benar sibuk mengurusi persiapan kepindahan mereka ke Jepang, sampai jam berangkat dan pulang pun tidak menentu. Karena kesibukannya itulah Ayah meminta Mang Ujang untuk mengantar jemput karena khawatir dengan kondisi fisik yang benar-benar terkuras, dan khawatir justru membahayakan jika memaksa menyetir sendiri.
Awalnya Zahra mantap tidak akan kembali ke sekolah mengingat satu minggu lagi dia harus pindah ke Jepang, ditambah lagi tidak ada yang bisa mengantar ataupun menjemputnya ke sekolah karena kesibukan ayah dan Mang Ujang, ia juga tidak diijinkan berangkat sendiri pasca kejadian tempo hari.
Niat awal tidak berangkat pun akhirnya gagal karena semalam Hafiz meneleponnya bahkan menawarkan diri untuk mengantar dan menjemputnya ke sekolah. Zahra tersenyum tatkala mengingat kejadian semalam.
"Astaghfirullahal 'adzim...
Ya Allah kuatkanlah hati hamba dan jangan biarkan hati hamba goyah. Cukup Engkaulah yang memiliki dan menguasai cintaku, jangan yang lain. Dan simpankan cintaku untuknya yang berhak memiliki sampai saatnya tiba." batin Zahra
Zahra tampak berpikir dengan hati yang tidak nyaman hingga kebingungan datang padanya.
"Apa aku batalkan saja ya niat Hafiz yang mau menjemput? Tapi sudah jam segini, dia pasti sudah di jalan. Tapi kalau tidak dibatalkan.. " Zahra menjeda gumamannya.
Zahra memikirkan kembali dan membayangkan dirinya yang dibonceng Hafiz dengan motor CBR hitam milik laki-laki itu. Kemungkinannya kecil untuk tidak bersentuhan.
"Astaghfirullahal 'adzim,Ya Allah.. ampunilah Zahra."
"Loh Sayang, hari ini kamu ke sekolah?" tanya Bunda seraya menepuk pundak Zahra, membuat lamunannya buyar.
"E-eh.. i-iya Bun," jawab Zahra sedikit tergagap.
"Tapi Ayah sama Mang ujang baru pulang tadi jam 3, kasihan kalau pagi ini ngantar kamu."
"Tidak usah diantar kok, Bun."
"Kok gitu. Ehmm.. Bunda antar saja ya pake taksi online."
"Tidak usah Bun. Pagi ini insyaallah teman Zahra mau jemput."
"Temen? Lintang?"
"Bukan Lintang, tapi.."
Getaran di ponsel Zahra menghentikan penjelasan gadis itu. Satu pesan WhatsApp masuk ke ponselnya.
"Zah, saya sudah didepan rumah kamu."
pesan singkat yang diterima Zahra dari Hafiz.
Zahra yang sudah menghabiskan nasi goreng pun meraih gelas berisi air putih dan meminumnya dengan segera. Setelah tandas, Zahra pun meraih dan mencium punggung tangan Bunda Mia.
"Zahra berangkat dulu ya Bun, teman Zahra sudah nunggu didepan. Assalamu 'alaikum," pamit Zahra yang masih menyisakan pertanyaan sang Bunda.
"Wa 'alaikumus salam,"
Bunda Mia yang masih diliputi rasa penasaran pun segera keluar membuntuti putrinya dan berdiri di ambang pintu untuk melihat siapa teman yang dimaksud putrinya.
Tampak Zahra berdiri terpaku melihat Hafiz dan motor yang dikendarainya.
"M-motor k-kamu..?" ucap Zahra sedikit tergagap melihat motor Jupiter MX King merah yang dibawa Hafiz.
"Ya? Oh.. ini motor Abi, kenapa? tidak suka ya saya bawa motor ini?" jawab Hafiz yang agak bingung dengan sikap Zahra.
Padahal niat membawa motor ini sudah ia pikirkan sejak semalam setelah memutuskan panggilan videonya. Ia yakin jika ia pergi dengan motor miliknya Zahra pasti akan merasa tidak nyaman ketika ia memboncengnya karena kemungkinan besar tubuh gadis itu pasti menempel pada punggungnya belum lagi kalau mereka nanti tidak sengaja bersentuhan.
"Tidak kok, Fiz. Ini justru lebih baik," Zahra tersenyum simpul dengan kepala menunduk.
"Syukur alhamdulillah kalau ini lebih baik."
"Oh ya, Zah.. ini pake dulu helmnya," perintah Hafiz seraya menyerahkan helm ke arah Zahra yang masih menunduk.
Zahra menerima helm yang diberikan Hafiz padanya. Ia pun memakainya namun aktivitas tangannya terhenti saat kedua tangannya memegang sebuah tali pengait untuk mengunci.
"Hafiz, maaf.. ini caranya gimana?" tanya Zahra pelan, ada rasa malu yang hinggap namun bagaimana lagi karena ini adalah pertama kalinya.
Hafiz tersenyum melihat ekspresi kebingungan Zahra. Ia pun maju satu langkah tepat didepan Zahra, sangat dekat membuat jantung keduanya berdebar kencang.
"Boleh saya bantu?" tanya Hafiz hati-hati yang seger dibalas anggukkan pelan oleh Zahra.
"Zah, maaf bisa angkat kepalanya sedikit," pinta Hafiz yang sudah memegang tali pengait helm yang dipakai Zahra.
Zahra pun mengangkat kepalanya agar Hafiz bisa mengunci pengaitnya. Dan tanpa mereka sadari kedua mata mereka sudah saling menatap untuk beberapa detik lamanya.
"Astaghfirullahal 'adzim," ucap mereka bersamaan dengan Zahra yang reflek melangkah mundur sedang Hafiz melepas tali pengait yang ia genggam.
Detakan jantung yang cepat pun dirasakan oleh keduanya.
"Zah.. bisa kamu lihat saya?"
"Eh?"
"Biar saya mengajari kamu menggunakan helm yang saya pakai saja, kamu bisa lihat tali pengait ini kan?"
Zahra mengangkat kembali kepalanya namun matanya kali ini ia fokuskan pada tali pengait helm yang dipakai Hafiz sembari menirukannya. Setelah semuanya selesai, Hafiz pun menaiki motornya lebih dulu.
"Ayo naik," ucap Hafiz yang sudah duduk di jok motor.
__ADS_1
"Hafiz, jangan kencang-kencang ya jalaninnya. Terus terang ini pertama kalinya Zahra diboncengin naik motor."
"Ya, Zah. Tenang saja, insyaallah saya tidak ngebut kok. Oh ya, kamu bisa pegangan ke tas saya," ucap Hafiz yang memang sengaja memakai tas di punggungnya, bisa dikatakan sebagai pembatas bagi keduanya agar tidak saling bersentuhan.
"Iya makasih."
"Kita jalan sekarang ya. Bismillahirrahmanirrahim."
Motor pun melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang sudah tampak ramai. Perjalanan menuju sekolah memakan waktu sekitar 15 menit dan selama itu pula tidak ada kata yang terucap dari bibir keduanya. Mereka tampak asik dengan pemikiran dan fokus masing-masing hingga motor yang mereka tumpangi pun akhirnya sampai dan memasuki area parkir yang sudah ramai.
Hafiz pun memarkirkan motornya sejajar dengan motor-motor lain. Tampak banyak pasang mata mengarah padanya sesaat setelah dirinya memarkirkan motor di area parkir. Bukan tanpa sebab, pasalnya pagi ini ia datang sembari membonceng seorang gadis. Ya, gadis itu adalah Zahra. Gadis cantik yang selalu menjadi dambaan setiap laki-laki di sekolahnya.
Hafiz pun turun dari motornya setelah Zahra yang lebih dulu turun.
"Hafiz, gimana cara membuka pengaitnya?" tanya Zahra polos sembari menunjuk pada helm-nya.
Hafiz tersenyum melihat bagaimana polosnya gadis di depannya ini.
"Saya bantu ya, Zah?"
Zahra mengangguk pelan. Hafiz pun berdiri sangat dekat di depan Zahra. Kali ini ia tidak mengajarkan caranya seperti sebelumnya, pasalnya helm yang ia gunakan sudah ia lepaskan.
"Bisa kamu mendongak sedikit?" pinta Hafiz yang segera dituruti gadis itu.
Zahra mendongakkan kepalanya sedang matanya ia arahkan ke tempat lain. Jantungnya sudah berdetak tidak karuan mengingat Hafiz yang berdiri sangat dekat dengannya itulah sebabnya kedua matanya tak berani mengarah langsung ke wajah laki-laki itu. Selain dosa tentu saja ia takut perasaannya semakin bergejolak.
Kedua tangan Hafiz sudah berada di tali pengait helm yang dipakai Zahra. Tampak dari wajahnya, Hafiz terlihat gugup dengan wajah yang sudah mulai memanas. Ia mencoba menetralisir degup jantungnya yang tidak karuan bunyinya.
Banyak pasang mata yang melihat moment ini merasa iri dan baper, dan itu jelas tercetak di wajah mereka. Bagaimana tidak, dua murid top sekolah yang sudah membuat heboh seisi sekolah karena issue kedekatan keduanya, pagi ini terlihat jelas berangkat bersama. Apalagi setelah melihat langsung perlakuan Hafiz pada Zahra yang tampak romantis kala melepaskan helm yang melekat di kepala gadis itu. So Sweet.. itulah kata yang disematkan pada mereka berdua oleh mereka yang melihat.
Melihat dirinya dan Hafiz menjadi pusat perhatian membuat wajah Zahra tampak memerah karena malu.
"Terima kasih, Hafiz. Ehm.. aku duluan ya ke kelasnya tidak enak dilihat anak-anak,"
ucap Zahra tanpa menunggu jawaban Hafiz.
Ia pun berlari meninggalkan Hafiz menuju ruang kelasnya. Sedang Hafiz masih diam mematung melihat punggung gadis itu semakin menjauh. Sebelum melangkah menyusul Zahra, Hafiz sempat mengedarkan pandangannya dan mendapati anak-anak masih memperhatikannya.
"Zahra pasti sedang malu," batin Hafiz sembari tersenyum tipis, ia melangkahkan kakinya menuju ruang kelas.
Glep..
Tiba-tiba sebuah tangan kekar merangkul pundaknya, tangan yang tak lain milik sahabatnya, Kemal.
"Sepertinya, proses ta'aruf dengan si dia berjalan lancar nih," ucap Kemal menggoda namun malah dibalas senyuman lebar oleh Hafiz seraya sikutan di perut laki-laki itu.
"Doa'kan saja, Mal. Semoga berjodoh," ucap Hafiz membalas godaan dari Kemal.
* * * * *
"Zahra," panggil Lintang dengan setengah berteriak tatkala melihat sahabatnya di ambang pintu kelas, melangkah masuk.
"Assalamu'alaikum semuanya," salam Zahra pada sahabat-sahabatnya yang kaget dengan kedatangannya.
"Wa-wa 'alaikumus salam," jawab mereka bersamaan masih dengan raut terkejut melihat kedatangan Zahra yang sudah tiga hari tidak masuk sekolah.
"Kok kamu tidak bilang kalau mau masuk sekolah?" tanya Lintang yang hanya dibalas senyuman oleh Zahra.
"Kenapa bisa berubah pikiran? katanya kemarin bilang tidak akan masuk lagi," lanjut Lintang.
Zahra hanya melihat sahabatnya seraya mengembuskan napasnya dengan pelan.
"Maafin sikap aku kemarin ya Lin," ucap Zahra sembari mengelus lengan Lintang.
"Ya tidak apa-apa, Ra. Sudah biasa kok dicuekin sama kamu mah. Tapi kenapa tidak bilang kalau kamu mau berangkat sekolah, kan kita bisa bareng. Aku jadi takut, kejadian kemarin terulang lagi kalau kamu sendiri."
"Tidak perlu takut lagi kali, Lin. Kan sekarang ada Hafiz yang selalu siap siaga menemani," potong Kemal yang baru saja masuk bersama Hafiz.
Hafiz yang tidak ingin membuat Zahra tambah malu kembali menyikut perut Kemal dan berlalu melewati mereka menuju mejanya, sedang Kemal justru menyandarkan tubuhnya di meja yang berseberangan dengan meja Zahra dan Lintang.
"Auuww.. sakit tahu, Fiz. Dari tadi kamu menganiaya perut aku," keluh Kemal yang tidak ditanggapi oleh Hafiz.
"Maksudnya apa nih, Mal?" tanya Prisil yang belum mengerti.
"Ya apa lagi. Maksud aku, kalian tidak usah khawatir sama Zahra, kan sekarang ada Hafiz yang bakal selalu menjaganya."
Kata-kata Kemal sontak membuat Zahra malu karena mendapat tatapan aneh dari sahabat-sahabatnya.
"Oh, jadi ini toh maksud Hafiz kemarin minta nomor telpon kamu ke aku. Jadi gini, sekali dihubungi Hafiz langsung nurut padahal tiga hari berturut-turut aku bujukin tidak mempan," ucap Lintang seraya mengerucutkan bibirnya.
"Katanya Ayah Bagas sama Mang Ujang lagi sibuk, tidak bisa mengantar. Kamu juga tidak dibolehin berangkat sendiri sama Bunda. Lah ini kenapa bisa sampai sini?" tambah Lintang.
"Diantar sama siapa, Ra?" sela Prisil.
"...."
"Zahra berangkat bareng Hafiz. Sudah, tidak usah pada cemberut gitu," terang Kemal seperti biasa dengan nada menggoda seraya mencolek dagu Lintang.
Lintang mendelik tajam melihatnya. Belum sempat ia melontarkan kekesalannya pada Kemal, bel berdering diikuti Bu Andin yang sudah melangkah masuk dan menghentikan perbincangan mereka.
__ADS_1
* * * * *
Tiga hari sudah Hafiz menjemput dan mengantar Zahra sekolah. Dan sore ini tepat pukul setengah empat, Hafiz mengantar Zahra pulang usai latihan marching band.
"Sekali lagi terima kasih ya, maaf jadi merepotkan kamu."
"Ya sama-sama. Tidak merepotkan kok, Zah. Ya sudah masuk gih, aku pulang sekarang ya," ucap Hafiz yang mulai mengganti kata saya dengan aku.
"Ya, hati-hati di jalan"
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumus salam"
Zahra pun masuk kedalam rumahnya setelah Hafiz melajukan motornya. Mendengar salam dari putrinya, Bunda Mia pun menjawab salam seraya menghentikan aktivitasnya di dapur untuk menyambut kedatangan putrinya.
"Sudah pulang, Sayang. Hafiz mana? tidak diajak masuk dulu?"
"Sudah dong, Bun. Hafiz terusan pulang, kan sudah sore lagian tidak enak dilihat orang. Ya sudah Bun, Zahra ke kamar dulu ya mau mandi."
"Ya, tapi nanti kalau sudah selesai turun ya, ada yang mau Bunda bicarakan."
"Ya," jawab Zahra seraya melangkah menaiki tangga menuju kamarnya yang terletak di lantai dua.
30 menit Zahra menghabiskan waktu membersihkan diri dan sekarang sudah duduk manis di meja makan menikmati makanan yang disiapkan Bundanya. Sebenarnya ia ingin menolak makan karena bukan waktunya namun ia tidak enak pada Bundanya, terlebih lagi siang tadi ia tidak sempat makan di sekolah.
"Sudah selesai kan makannya? boleh Bunda bicara sesuatu sekarang?" tanya Bunda Mia yang dijawab anggukan oleh Zahra.
"Sebelumnya Bunda ingin bertanya dulu sama kamu. Empat hari lagi kan kita berangkat ke Jepang, tapi ehm.. seandainya ada satu alasan, apapun itu yang pasti bisa membuat kamu tinggal di sini, kamu akan memilih tetap tinggal di sini atau ikut Bunda dan Ayah ke Jepang?"
"Kalau harus memilih, jujur Zahra ingin tetap tinggal di sini tapi tentu saja dengan izin dan restu Bunda maupun Ayah karena itu yang terpenting buat Zahra sekarang."
"Apapun alasannya kamu akan tetap ikhlas menerima?"
"Ya, insyaallah Zahra terima asal Bunda dan Ayah mengizinkan."
"Alhamdulillah jika kamu sudah mantap. Jawaban kamu ini membuat Ayah dan Bunda menjadi mantap juga dalam mengambil keputusan ini."
Bunda Mia tersenyum menatap Zahra, ia yakin dengan keputusan yang mereka ambil untuk kebaikan dan kebahagiaannya kelak.
"Sayang, begini.. tadi siang ada seorang laki-laki yang datang dengan niat baiknya untuk mengkhitbah kamu. Melihat keseriusan dan ketulusan hatinya Ayah dan Bunda menerima khitbahnya untukmu. Mungkin dengan adanya laki-laki yang halal untuk kamu ini mampu menepis kekhawatiran Ayah dan Bunda. Dan dengan adanya dia yang menjaga kamu, kamu tidak perlu ikut Ayah dan Bunda ke Jepang seperti keinginan kamu untuk tetap tinggal disini.
Dan Ehmm.. karena keberangkatan Ayah dan Bunda ke Jepang empat hari lagi jadi insyaallah akad nikah atau ijab qobul akan dilaksanakan sebelum itu. Tapi sebelumnya, Bunda mau tanya, ada tidak mahar yang kamu inginkan untuk bisa dipenuhi calon imam kamu nanti?"
Zahra terdiam meresapi setiap kata yang keluar dari bibir Bundanya, ada sesuatu yang sedikit menyentak di dalam hatinya. Harus sedih atau bahagiakah dia sekarang ini? matanya sudah mulai berkaca-kaca tatkala menatap mata sang Bunda.
"Khitbah? Me-menikah?" lirih Zahra mengulangi kata-kata yang keluar dari bibir sang Bunda.
"Tapi Zahra masih sekolah, Bunda. Bagaimana bisa Zahra menikah? bahkan Zahra sendiri belum siap dan mampu menjalankan kewajiban sebagai seorang istri?" protes Zahra.
"Sayang, jangan mengkhawatirkan tentang itu. Kita bisa menyembunyikan statusmu untuk sementara. Apalagi calon suamimu mengatakan bahwa dia akan turut menjaga kehormatanmu sebagai seorang perempuan dan menjaga masa depanmu dalam hal pendidikanmu saat ini.
Zahra kan masih sekolah jadi dia tidak akan menuntut kamu untuk memenuhi kewajiban kamu sebagai seorang istri kepadanya untuk sementara ini. Cukup dia ada disamping kamu, menjaga dan membimbingmu untuk meraih ridha-Nya, berjuang bersama menggapai surga-Nya."
"Bunda.. "
"Bunda dan Ayah bahagia. Sungguh beruntung kamu sayang karena Allah mengirimnya untukmu."
Zahra menghela napasnya lalu membuangnya seketika. Kata-kata Bunda mampu membuat hati Zahra tertohok. Ia tidak memiliki keberanian untuk menyakiti hati bundanya yang tengah merasa bahagia. Rengekkan serta penolakkan yang sempat akan keluar pun kembali tertahan. Lalu siapa laki-laki yang Allah kirim untuknya? yang membuat Ayah dan Bundanya bahagia dan membiarkan putrinya menikah dini.
"Sekarang bilang sama Bunda, mahar apa yang Zahra minta dari calon suami kamu? Karena dia menanyakan itu pada Ayah dan Bunda."
Zahra menggeleng lemah.
"Zahra tidak akan meminta mahar apapun yang memberatkan. Zahra akan menerima apapun yang dia berikan pada Zahra. Tapi ada dua hal yang Zahra minta padanya, Bun."
"Katakan Sayang, apa permintaanmu?"
"Zahra ingin akadnya dilaksanakan setelah shalat subuh hari jum'at besok. Dan Zahra ingin dia lah yang menjadi imam dalam shalat subuh itu dengan surat Ar Rahman dan surah Al Kahfi sebagai bacaan surah dalam shalatnya," tutur Zahra.
"Bunda akan menyampaikannya, Insyaallah dia mampu memenuhi permintaanmu."
"Kalau gitu Zahra ke kamar dulu ya, Bun. Sudah mau masuk waktu maghrib."
"Zahra tidak mau tahu siapa laki-laki yang akan menjadi imam Zahra?"
Zahra terdiam sesaat lalu menggeleng pelan.
"Nanti saja Bun, kalau sudah tiba waktunya. Zahra tidak ingin zina pikiran kareba memikirkannya," tolak Zahra.
Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya luruh tepat setelah ia melangkah meninggalkan sang bunda.
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
Alhamdulillah selesai sudah chapter ini, dilanjut besok lagi ya😊😊
Jangan lupa seperti biasa, tinggalkan jejak Sahabat Pembaca semua di part ini.
LIKE.. KOMEN, FAVORITE DAN VOTE YANG BANYAK🤗🤗🤗
__ADS_1