
Hanya karena kamu tidak bisa melihat udara,
bukan berarti kamu berhenti bernapas.
Hanya karena kamu tidak bisa melihat Allah,
bukan berarti kamu berhenti percaya.
Kamu mungkin telah kehilangan semua yang kamu miliki, kamu mungkin kehilangan orang yang kamu cintai, tapi selama kamu masih memiliki Allah, maka kamu masih memiliki semua yang kamu butuhkan.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Bel tanda istirahat pertama akhirnya berbunyi, sebagian besar murid berhamburan keluar. Beberapa teman Hafiz terlihat mengajak Hafiz ke lapangan untuk bermain basket namun Hafiz menolak, seharian ini ia hanya fokus pada Zahra yang sama sekali tidak beranjak dari tempat duduknya dan justru menangkupkan kepalanya di atas meja.
Setelah kejadian kemarin, hari ini Zahra memang terlihat lebih pendiam di banding biasanya. Meskipun dia memang gadis pendiam tapi tetap saja bagi Hafiz hari ini Zahra berbeda.
Dalam diamnya, Zahra kembali mengingat kejadian kemarin. Entah perasaan apa yang menggelayut di hati Zahra sehingga dia bisa memikirkan sosok Hafiz. Zahra kembali mengingat saat dia merasakan sebuah tangan dengan lembut menyentuh dan mengusap kepalanya. Meskipun ia tidak mampu membuka matanya, tapi suara itu.. suara yang pernah membuat hatinya berdesir saat perkenalan awal dengan laki-laki itu. Suara yang mengingatkannya pada suatu hal.
Zahra yakin suara yang mengalun begitu lembut dan indah saat melafalkan ayat-ayat Allah itu adalah suara Hafiz, meskipun kala itu ia mendengarnya samar-samar tapi ia akui, suara itu membuat hatinya lebih tentram.
"Ra," panggil Lintang yang masih setia duduk di samping Zahra, membuat Zahra sadar dari lamunannya.
"Aku baik-baik saja Lin. Kalau kamu mau ke kantin pergi saja," ucap Zahra yang masih menangkupkan kepalanya di atas meja
"Hari ini libur dulu, tidak ke kantin," ucap Lintang yang masih setia memperhatikan Zahra.
"Ra.. " panggil Lintang lagi.
__ADS_1
"Hmmm..."
"Soal kemarin.." ucap Lintang yang langsung di sela Zahra.
"Maaf, sudah bikin kamu khawatir."
"Tidak apa-apa, Ra. Tapi, hari ini kamu sudah baikan kan?"
"Hmmm... "
"Ra.. kamu ingat sesuatu ya? Sesuatu tentang... Andrie?"
"Lin, bukankah sudah tiga tahun berlalu. Kenapa aku baru mengingatnya? kenapa aku merasa ada sesuatu yang aku lewatkan, sesuatu yang hilang dari ingatan aku."
"Kamu masih belum mengingat semuanya?" tanya Lintang yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Zahra.
"Lin, Aku melihat jari jemari itu menari indah di atas piano. Aku melihat senyuman itu di ingatanku tapi aku tidak melihat wajahnya seperti apa? Apa pemilik jari jemari dan senyuman itu adalah A' Andrie?"
"Ra.."
"Seperti apa wajahnya, Lin?"
"Berhenti memaksa otakmu untuk mengingatnya, Ra. Ingat, semakin keras kamu mencoba mengingatnya maka akan semakin sakit kepalamu dan itu akan berpengaruh pada emosimu.
Zahra, semua itu sudah masa lalu. Aku tahu luka itu terlalu dalam, aku juga membenci sikapnya yang seperti itu padamu juga padaku. Tapi Zahra, waktu tidak akan pernah berhenti di satu titik di mana saat kita terluka, waktu terus berjalan, Ra. Aku harap waktu bisa menyembuhkan luka itu, membuatmu melupakannya dan belajarlah untuk membuka hati. Mulailah menata hidup dari awal lagi, aku yakin kamu pasti bisa mendapatkan kebahagiaan lain yang mungkin jauh lebih bahagia dari sebelumnya," tutur Lintang sembari menggenggam erat kedua tangan Zahra.
Zahra tersenyum getir melihat ketulusan Lintang. Tidak sampai hati ia melukai sahabatnya dengan pertanyaan-peetanyaan yang jelas membuatnya kesulitan untuk menjelaskannya pada Zahra. Karena ia tahu penjelasan Lintang hanya akan memperburuk kesehatan kepala dan emosinya.
__ADS_1
"Ya, apa yang kamu katakan memang benar Lin. Dan saat ini aku sedang belajar menata kembali hidupku, menata hidupku lebih baik lagi dengan mendekatkan diri kepada Allah, kepada Sang Pencipta kita. Aku takut.. takut, jika hal yang dulu pernah terjadi padaku, terjadi untuk kedua kalinya. Saat ini mungkin aku masih bisa bertahan, tapi aku tidak bisa menjamin untuk yang kedua kalinya, apa aku mampu.
Aku hanya ingin belajar lebih mencintai Sang Pencipta hati, insyaallah dengan begitu Dia akan mempertemukanku dengan seseorang yang mencintaiku karena Allah.
Kak Husna juga pernah bilang padaku,
“Jangan jadikan cintamu kepada makhluk melebihi kecintaanmu kepada Allah"
apalagi jika kita sampai menjatuhkan harapan kita padanya.
"Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya sebuah pengharapan. Supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain DIA. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepadaNYA." (Imam Syafi’i)
Aku tidak mau Allah cemburu apalagi murka padaku hanya karena aku melakukan sesuatu yang dibenci-Nya. Kamu mengerti kan maksudku, Lin?"
Lintang tersenyum sembari mengangguk.
"Apapun keputusan kamu selama itu baik untukmu sebagai sahabat, aku hanya bisa mendukung dan mendo'akanmu semoga kamu selalu dalam lindungan-Nya. Hanya saja, aku mohon lain kali kalau ada apa-apa cerita ke aku jangan dipikul sendiri bebannya. Aku ini sahabat kamu, aku selalu ada untuk kamu. Dan satu lagi, jangan pernah berusaha untuk mengingatnya lagi. Kalaupun suatu saat nanti ingatan itu kembali biarlah kembali dengan sendirinya. Aku tidak mau kamu kenapa-napa, Ra. Cukup sekali aku hampir kehilangan kamu. Cukup satu saja sahabat yang pergi dariku, jangan lagi. Kamu tahu kan, Ra, hanya kamu sahabat dan saudara satu-satunya yang aku miliki. Aku sayang sama kamu."
Lintang berhambur ke pelukan Zahra. Setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya kala ia mengingat kembali hari itu, hari di mana ia melihat dua sahabatnya tergeletak dengan darah mengalir deras dari tubuh mereka. Ia benar-benar takut jika itu terjadi lagi. Kehilangan sahabat yang begitu berarti baginya.
"Ya, Insyaallah aku akan selalu mengingat kata-kata kamu, Lin. Maaf selalu membuatmu mengkhawatirkanku."
Zahra membalas pelukan Lintang dengan erat.
Tak jauh dari tempat kedua gadis itu, seorang lelaki menatap keduanya dengan senyuman teduhnya. Ada sesuatu yang menghangat menjalar di dalam hatinya kala melihat begitu dekat dan dalam ikatan persahabatan mereka berdua, terlebih saat melihat gadis pujaannya begitu yakin memantapkan hatinya untuk hijrah pada cinta-Nya.
"Kutitipkan dia dan cintanya pada-Mu, Ya Rabb. Jagalah kesucian hati serta cintanya sampai batas waktu di mana Kau tetapkan seseorang berhak menjadi penjaganya. Semoga hari itu, akulah yang Kau berikan hak untuk menjaga keutuhan diri dan cintanya."
__ADS_1
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤