Assalamu'Alaikum, Ya Habibi Qolbi (REVISI)

Assalamu'Alaikum, Ya Habibi Qolbi (REVISI)
PERMOHONAN


__ADS_3

Terkadang aku tak pernah tahu kata pantas itu seperti apa,


kata yang membuatku belajar ikhlas untuk melepasnya,


kata yang membuatku belajar untuk bisa merelakannya,


kata yang membuatku mengerti bahwa Allah tak ingin aku bersamanya,


Ya Rabb,


Apakah aku memang tak pantas untuknya?


lalu seperti apa yang pantas untuknya?


mengapa Kau tak memberikan kepantasan itu untukku sehingga aku bisa disampingnya?


Mengapa Kau tak menjadikan aku pantas untuknya, sehingga tak perlu ada air mata kesedihan yang diam-diam aku jatuhkan karena Kau mematahkan angan dan harapanku.


Ampuni aku Ya Rabb,


Berkali-kali aku mencoba mengerti akan takdir yang sudah Kau tulis untukku,


Berkali-kali pula aku selalu merasa tak pernah bisa ikhlas akan kehendak-Mu


Seperti apa IKHLAS itu?


Kuatkan aku Ya Rabb,


teguhkanlah cintaku pada-Mu agar kata Ikhlas bisa aku sandang,


Teguhkanlah cintaku pada-Mu Ya Rabb,


agar sesuatu yang Kau pandang pantas,


kelak kau kirim untukku,


* * * * *


Tiga hari sudah Zahra menetap di rumah atau tepatnya di kamar. Setelah kemarin Ayah Bagas mengatakan kepindahan mereka ke Jepang pada Zahra. Zahra semakin enggan menapakkan kakinya di sekolah. Ia hanya berpikir ke sekolah ataupun tidak, dia akan tetap pergi dan ia memilih untuk tidak pergi. Bukan tanpa alasan, Zahra hanya tidak ingin mencetak raut kesedihan di wajah teman-teman dekatnya karena kepergiannya. Ia hanya akan berpamitan di hari terakhir ia tinggal di negara ini.


"Maaf.."


Ya itulah kata yang mungkin hanya ia ucapkan untuk mereka yang ditinggalkan.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


"Sayang, hari ini kamu tidak sekolah lagi? sudah tiga hari loh," tanya Bunda Mia heran dengan sikap putri tersayangnya.


"Tidak berangkat juga tidak apa-apa kan, Bun. Toh satu minggu lagi Zahra juga akan pindah."


"Bunda mengerti, tapi sayang.. apa tidak sebaiknya kamu bertemu teman-teman kamu dulu sebelum pergi? Bunda tidak tega melihat Lintang bolak balik ke sini, bujuk kamu terus. Kasihan."


"Zahra takut Bun. Jika beberapa hari ke depan Zahra bertemu mereka, takutnya Zahra semakin tidak ikhlas untuk pergi, semakin berat langkah Zahra. Nanti saja Zahra ketemunya pas mau berangkat, sekalian pamit Bun."


"Maafkan Ayah dan Bunda ya, Sayang. Bunda tahu sebenarnya kamu enggan untuk pindah, tapi Ayah dan Bunda tidak punya pilihan lain."


"Bun, semisal ada satu saja alasan yang bisa membuat Zahra tetap tinggal di sini, apa Ayah dan Bunda akan mengizinkan Zahra tinggal di sini?"


"Insyaallah, Sayang. Tapi sepertinya sulit. Ayah dan Bunda terlalu takut meninggalkan kamu sendiri di sini."


Zahra mengembuskan napasnya saat mendengar kata "SULIT" terlontar dari bibir sang Bunda. Mungkin memang bukan saatnya lagi bagi ia untuk berkelit dengan keputusan kedua orang tuanya, toh ini demi kebaikannya.


* * * * *


Malam ini langit tampak mendung, semendung hati Zahra. Gadis itu tengah duduk bersandar di atas kasur sembari memeluk kedua lututnya dengan pandangan menerawang jauh entah ke mana.


Drrrttt..

__ADS_1


Drrrttt..


Drrrttt..


Ponsel Zahra bergetar tanda sebuah pesan masuk. Zahra tampak malas melihat layar ponsel yang menampakkan nomor tak dikenalnya itu.


Pesannya singkat..


"Bisakah kamu angkat telpon saya?"


Ya, pesan ini sudah tiga kali dikirim tanpa tahu siapa pemilik nomor tersebut. Sebelumnya panggilan telpon masuk ke ponsel Zahra dengan nomor sama namun ia abaikan, Zahra seperti trauma dengan pesan misterius yang sempat menerornya beberapa waktu lalu.


Namun sungguh, orang yang berada di seberang sana sangat gigih. Sudah sepuluh panggilan tak terjawab ia abaikan disusul tiga pesan tadi, namun Zahra tetap bergeming. Ia hanya menggerakkan bola matanya tatkala ponsel itu kembali berdering.


Drrttt...


Drrttt...


Drrttt...


Pesan kembali masuk dan dengan malas Zahra membuka pesan itu.


"Maaf jika saya mengganggu kamu.. tapi saya mohon angkatlah telp saya, Zah."


Zahra terpaku dengan isi pesan tersebut.


"Zah?? " gumam Zahra.


Mana mungkin Hafiz menjadi dalang yang menyebabkan ponselnya berisik sekali malam ini. Tapi kalau bukan dia, siapa lagi? seingatnya hanya Hafiz yang memanggil nama pendek Zahra seperti itu, yang lain selalu memanggil "Ra". Dan tunggu.. bahkan bahasa yang digunakannya sedari tadi terkesan sopan, kenapa Zahra baru sadar?


Pesan kembali masuk, membuat Zahra benar-benar membulatkan matanya.


"Saya mohon Zah. Bisakah kamu angkat telp saya?"


"Hafiz"


Degg...


Zahra menekan dadanya merasakan debaran cepat yang membuatnya sedikit frustasi.


"Haruskah Zahra mengangkat telponnya? duh bagaimana ini. Bukankah ini akan menjadi pembicaraan pribadi.. bagaimana kalau nanti jadi dosa? tapi kalau ada yang penting bagaimana?" racau Zahra diliputi kebingungan.


Ia pun segera mengetik pesan balasan di ponselnya.


"Maaf.. ada apa ya, Fiz?".


Pesan itu pun ia kirim dan beberapa detik kemudian sudah terpampang jelas balasan dari Hafiz.


"Angkatlah telpnya dulu, saya ingin bicara."


Zahra menghela napasnya,


"Bismillah.." gumamnya seakan meminta kekuatan.


Zahra pun mengangkat telepon dari Hafiz tatkala ponselnya kembali berbunyi sebagai tanda panggilan masuk.


"Assalamu 'alaikum," ucap Hafiz di seberang sana.


"Wa 'alaikummus salam."


"Maaf kalau mungkin saya mengganggu kamu, Zah"


"Tidak mengganggu kok Fiz. Ehmm.. ada apa ya?"


"Sebagai ketua kelas, saya hanya ingin memastikan saja keadaan kamu. Tiga hari kamu tidak masuk sekolah. Selain itu, Lintang bilang dia agak kesulitan bertemu kamu."


"Oh.. "

__ADS_1


"Zah, kamu baik-baik saja kan? maaf, sebagai teman saya sangat mengkhawatirkan kamu. Apa karena kejadian tempo hari?"


"Ya? saya baik-baik saja kok Fiz."


"Syukur alhamdulillah kalau kamu baik-baik saja. Apa itu artinya besok kamu sudah bisa berangkat sekolah?"


"M-Maafkan saya, Hafiz. Sepertinya saya tidak akan berangkat ke sekolah lagi."


Zahra mengatakannya sembari memejamkan mata dan mengembuskan napas beratnya.


"Maksud kamu, Zah? maaf, apa kamu masih takut dengan kejadian tempo hari? kalau iya, In Sya Allah saya dan teman-teman bisa membantu menjaga kamu."


"Bukan begitu. Tapi.. "


"Zah," panggil Hafiz dengan lembut memotong ucapan Zahra.


"Maaf, tapi satu minggu lagi saya akan ikut kedua orang tua saya ke Jepang dan menetap lama di sana."


Zahra meneteskan airmatanya tatkala mengutarakan pesannya.


"Zah.. "


"Maafkan Zahra, Hafiz. Zahra tidak punya pilihan."


"Zahra, kamu sudah yakin dengan keputusanmu? tidak bisakah kamu tinggal, Zah?" tanya Hafiz dengan nada yang terdengar memohon agar gadis itu tidak pergi.


"Zahra tidak punya alasan untuk tinggal, Hafiz."


"Zah, seandainya ada satu saja alasan, apa kamu mau tetap tinggal di sini?"


"Jika alasannya dapat dibenarkan. In Sya Allah, Zahra akan memilih tetap tinggal di sini."


"Apapun itu?"


"Ya, In Sya Allah."


"Kalau begitu, jangan pernah putus berdoa dan serahkan semuanya pada Allah. In Sya Allah, Dia akan memberikan jalan yang terbaik."


"Ya, tentu saja. Zahra tidak akan pernah berhenti berdoa."


"Zah, kita tidak pernah tahu keputusan apa yang akan Allah berikan ke depannya. Tapi jika semisal kamu tetap berangkat. Bisakah dalam waktu satu minggu ini kamu tetap berangkat ke sekolah?"


"Zahra takut itu akan membuat langkah Zahra semakin berat dan tidak ikhlas jika kebenarannya Zahra harus pergi, Zahra takut melukai hati semuanya."


"Kamu pikir, jika kamu pergi tiba-tiba itu tidak melukai mereka? setidaknya jika kamu bertemu dan mengatakan keputusan ini pada mereka, mereka akan merasa kamu menganggap keberadaan mereka. Saya yakin mereka tidak akan membuat langkahmu semakin berat justru akan meringankan. Bukankah seperti itu yang dimaksud berteman dan bersahabat?"


"Tapi tetap saja, Zahra sepertinya tidak bisa berangkat. Mang Ujang sibuk mengantar Ayah yang sedang mengurus berkas-berkas kepindahan dan berkas-berkas penting yang mesti dibawa ke Jepang. Dan sejak kejadian tempo hari Zahra juga tidak diijinkan pergi sendiri."


"Kalau begitu, saya yang akan mengantar jemput kamu ke sekolah."


"Eh?? Tapi.."


"In Sya Allah saya akan menjaga kamu. Besok saya jemput 06.30 ya"


"Tapi nanti merepotkan kamu, mending tidak usah."


"Tidak merepotkan kok. Sebagai teman kan mesti saling membantu. Bagaimana, bolehkan saya jemput?"


"Asal tidak merepotkan ka...


ASTAGHFIRULLAHAL 'ADZIM.. " pekik Zahra sebelum menyelesaikan ucapannya.


Hujan deras disertai kilatan dan bunyi petir memekikkan telinga Zahra membuatnya kaget, spontan gadis itu menutup telinga dengan kedua tangannya. Benda pipih itu pun tak sengaja terlepas dari genggamannya dan meluncur bebas, namun tidak sampai jatuh di lantai.


❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀


JANGAN LUPA KOMENNNN YANG BANYAK YA SAHABAT, KARENA KOMENTAR KALIAN ADALAH SEMANGAT UNTUK AUTHOR. πŸ’ͺπŸ’ͺ

__ADS_1


SUKA SEDIH KALAU SUDAH BUAT CERITA TAPI GAK DA YANG KOMEN😒😒 KALAU KATA HAFIZ MAH "BERASA TAK DIANGGAP KEBERADAANNYA"πŸ˜­πŸ˜­πŸ˜…πŸ˜…


JANGAN LUPA JUGA BUAT KASIH VOTE LHO YA.. HE. HE. HE... AUTHOR BANYAK MAUNYA.. MAKSA LAGI..πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2