
Oh Ya Readers sebelum author lanjut cerita, akhir-akhir ini author kepikiran terus dengan Visualnya Hafiz dan Zahra. Entahlah.. rasanya kebayang mulu dengan wajah Hafiz maupun Zahra yang pengen banget author bagi ke kalian semua. Dari pada gak tenang nulisnya gara-gara dihantui sosok dua orang ini.. author bagi aja ya..π π
Visual dibawah ini adalah bayangannya author jadi kalau readers gak suka atau punya kandidat lain, monggo silahkan suka-suka ajaππππ
Meskipun gak ada patokan pasti ini visualnya HafZah, menurut author gambar visual dibawah ini ya hampir mirip-miriplah kayak gini sosok HafZah yang selalu ada dibenaknya author..πππ pengambilan gambar tanpa ijin jadi gak bisa share bebas.. bagi yang merasa ini fotonya mohon dimaafkan ya author he.. he.. he (Muhammad Ilham NurKarim~Alfina Nindiyani)π€π€
HAFIZ
ZAHRA
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Malam ini Zahra berniat menemui kedua orang tuanya untuk bertanya mengenai sosok pelaku yang entah sudah ditangkap atau belum.
"Pihak berwajib mungkin sudah menghubungi ayah, mending Zahra tanya saja," Pikir Zahra.
Ia melangkahkan kakinya menuruni tangga menuju kamar kedua orang tuanya yang berada di lantai bawah. Zahra mengangkat tangan kanannya hendak mengetuk pintu sesampainya di depan kamar kedua orang tuanya, namun niatnya ia urungkan saat tidak sengaja mendengar percakapan kedua orang tuanya.
"Ayah serius mau bawa Zahra tinggal di Jepang?"
"Tidak ada pilihan Bun, kalau kita tinggalkan Zahra di sini siapa yang akan menjaganya? Bi Inah dan Mang Ujang? Ayah tidak sampai hati menitipkan Zahra ke mereka. Terus kalau kejadian tadi siang terulang lagi, siapa yang siapa akan bertanggung jawab? tidak ada yang menjamin kejadian tadi tidak akan terulang lagi Bun. Apa Bunda tidak khawatir? kalau Ayah sih khawatir."
"Ya khawatirlah Ayah, tapi Bunda lebih khawatir lagi dengan psikis Zahra. Tiga tahun sejak kejadian itu, anak kita berubah menjadi pendiam dan dingin. Tidak ada lagi Zahra yang ceria, senyumnya seakan hilang bersamaan dengan kejadian itu.
Bunda takut Ayah, kalau kita bawa Zahra ke Jepang. Dia akan merasa asing di sana dan semakin menutup dirinya. Bunda tidak sanggup Yah, melihat putri kita nanti seperti mayat hidup. Bunda tidak sanggup Ayah.
Apa tidak bisa kalau bukan Ayah yang pergi? pilih saja karyawan Ayah yang kompeten untuk dikirim ke sana."
"Tidak bisa Bun. Ini proyek besar, tanggung jawab Ayah. Bahkan Mr. Tanaka sendiri yang meminta Ayah ke Jepang."
"Bagaimana kalau Bunda tidak ikut?"
"Masa iya, Ayah sendiri di sana tanpa Bunda. Lima tahun lho Bun. Bunda tidak akan kangen apa sama Ayah. Tega Bunda sama Ayah, mentang-mentang Ayah sudah tua terus sekarang sudah tidak cinta lagi nih sama Ayah."
"Astaghfirullah Ayah. Ih ngomongnya kok begitu sih. Dengar ya.. walaupun sudah tua, Bunda mah tetap cinta sama Ayah. Cuman, sekarang Bunda sedang kepikiran Zahra, Yah. Ayah gimana sih."
"Ya maaf Bun. Ayah cuma bercanda, ya sudah nanti kita pikirkan lagi jalan keluar terbaiknya. Kalau memang tidak ada, ya terpaksa nanti Ayah yang bicara pada Zahra pelan-pelan agar dia mau mengerti situasi kita."
__ADS_1
"Waktunya sudah mepet lho, Yah. Sepuluh hari lagi kita sudah harus berangkat."
"Ya, Ayah juga tahu. Banyak-banyak berdoa saja ya Bun, serahkan semuanya pada Allah."
Tubuh Zahra membatu seketika usai mendengar pembicaraan Ayah dan Bundanya. Jepang? haruskah ia tinggal di sana? haruskah ia tinggal di sana, berlari dari kehidupan yang membuatnya mulai nyaman. Zahra berbalik menjauh dari kamar kedua orang tuanya. Dengan langkah gontai, ia pun kembali ke kamar.
Zahra mendudukan tubuhnya di sofa kamar yang letaknya berada tepat di bawah jendela. Tatapannya kosong, pikirannya berkelana jauh entah ke mana. Langit malam yang begitu indah pun seakan tak menarik lagi baginya. Lelehan air mata kini sudah mengalir bebas di pipinya.
Pindah ke Jepang terasa lebih berat dari kepindahannya sebelum ini. Hatinya terasa hampa. Pikirannya melayang pada seseorang yang mungkin sebentar lagi akan menjadi bagian dari kenangan masa lalunya.
"Aku sudah belajar melupakannya. Apa sekarang aku harus belajar melupakan lagi?
Indonesia-Jepang tidak sedekat Bandung-Semarang, Zah. Ingat, mungkin ini cara Allah memberitahumu, jika dia bukanlah sosok yang Allah takdirkan untukmu di masa depan**.
Namun sesulit inikah Ya Allah mengharapkan kebahagiaan dari seseorang? Haruskah Kau patahkan lagi angan serta harapku? Apakah ini bukti balasan dari-Mu untukku karena aku telah menjatuhkan harapanku pada makhluk-Mu ketimbang kepada-Mu Ya Rabb?
Ya.. mungkin akulah yang bersalah. Yang telah menjatuhkan harapanku pada seseorang hingga membuat-Mu cemburu dan murka kepadaku. Ampuni aku, Ya Rabb..
Aku ikhlas menerima semua takdir yang telah Kau tulis untukku..
Aku ikhlas jika aku harus kembali kehilangan, karena aku memang tak pantas untuknya..
Aku sadar jika dia sosok yang tak mungkin bisa terjamah oleh seorang gadis sepertiku.
Zahra menghapus air matanya dengan lembut lalu tersenyum. Senyuman getir yang bahkan selama tiga tahun ini ia sembunyikan.
* * * * *
Pagi ini seusai melakukan sholat subuh, Zahra lebih memilih membaca Al Qur'an tepatnya surah yusuf yang ia baca. Ia teringat saat Hafiz melafalkannya kala itu dan entah mengapa setiap kali hatinya sedang galau tak menentu, surah itulah yang selalu ia baca dan memberinya ketenangan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 06.30 pagi namun Zahra masih betah berada di kamarnya. Kali ini ia menyibukkan dirinya dengan membaca buku sembari ditemani iringan musik yang mendayu dan suara merdu khas negara para oppa, yang ia putar melalui ponselnya. Lagu dari Ost. My Love from The Star terdengar mengalun mengisi keheningan paginya .
Sama seperti kebanyakan remaja lain yang menggilai apapun yang berbau KorSel, Zahra yang notabenenya seorang muslimah juga sangat menyukainya namun hanya sebatas suka bukan menggilai. Dan kesukaannya juga hanya sebatas menyukai lagu atau musik pengiring dari sebuah DraKor tidak lebih, bahkan ia tak pernah tahu nama pemeran utama laki-lakinya yang sering membuat para gadis tergila-gila.
Zahra begitu larut dengan dunianya sampai tidak mendengar ketukan maupun panggilan yang berasal dari pintu kamarnya. Bahkan saat seseorang itu muncul dari balik pintu, ia masih tetap setia dengan buku di tangannya.
"Zahra.. Sayang.. " panggil Bunda Mia yang hanya menampakkan kepalanya di balik pintu kamar Zahra.
"Zahra... " panggilnya sekali lagi agak keras, membuat Zahra tersadar dan mendongakkan kepalanya ke arah sumber suara.
"Iya Bun? Maaf," ucap Zahra sembari mematikan musik di ponselnya.
__ADS_1
"Loh, Sayang kok belum siap? tidak ke sekolah hari ini?" tanya Bunda Mia pada putrinya yang hanya memakai pakaian rumah plus jilbab instannya.
"Tidak Bun. Zahra di rumah saja."
"Kamu masih takut dengan kejadian kemarin? kata ayah pelakunya sudah tertangkap kok," ucap Bunda Mia yang kini sudah duduk di tepi ranjang.
"Oh ya, siapa Bun?"
"Kalau tidak salah namanya Arga. Teman satu sekolah kamu bahkan dari SMP, kamu kenal?"
"Arga? Ehm.. cuma tahu namanya saja Bun, tidak terlalu kenal. Bunda kan tahu, Zahra jarang bahkan hampir tidak pernah berhubungan dengan anak laki-laki."
"Iya sih Bunda juga tahu tapi kok bisa ya? kata Ayah motifnya itu karena tidak terima dengan jawaban kamu dan lagi, katanya dia masih suka sama kamu. Saat mendengar kamu dekat dengan Hafiz, dia tidak terima makanya hilang kendali."
"Sepertinya ini salah Zahra juga Bun. Kalau tidak salah dulu pas dia bilang suka sama Zahra di depan umum, Zahra tidak terlalu menanggapi. Waktu itu Zahra cuma bilang maaf lalu pergi gitu saja soalnya Zahra malu dilihat banyak orang. Apa mungkin dia sakit hati dengan sikap Zahra ya Bun?"
"Hmmm.. ya sudahlah tidak usah dipikirkan lagi, semuanya sudah berlalu. Mungkin dia hanya salah faham saja. Tapi sayang, memang kamu dan Hafiz ada hubungan ya? pacaran?" tanya Bunda Mia dengan pandangan menyelidik.
"Astaghfirullah, Bunda. Bukannya pacaran hukumnya haram. Zahra dan Hafiz hanya berteman kok, tidak lebih."
"Tapi kenapa beritanya sampai heboh di sekolah?"
"Anak-anak saja yang berlebihan menanggapi kedekatan Zahra dan Hafiz, Bun. Lagipula Zahra mana pantas untuk Hafiz."
"Kenapa kamu bicara seperti itu? anak Bunda ini kan cantik, pintar terus shaliha lagi. In Sya Allah nanti Allah kasih kamu jodoh yang baik bahkan seperti Hafiz misalnya."
Zahra terdiam mendengar ucapan sang Bunda. Seperti ada sesuatu yang meremas kuat hatinya hingga terasa ngilu.
"Zahra tidak berani berharap, Bun. Hafiz itu sosok yang sempurna. Dia banyak diidolakan anak-anak perempuan di sekolah. Selain anak dari Kepala Sekolah, dia juga orangnya pintar bahkan lebih pintar dari Zahra. Bukan hanya tampilan atau rupanya saja yang baik bahkan akhlaknya, sikap dan tutur katanya juga baik. Dia juga hafidz Qur'an Bun, jadi mana pantas Zahra disandingkan dengannya. Dia itu bagaikan bintang yang sulit untuk digapai, Bun," jelas Zahra tampak merendahkan.
Ada guratan kesedihan di wajah Zahra, namun Zahra mencoba menutupinya dengan menunjukkan senyuman pada sang Bunda.
"Tidak ada yang tahu perihal jodoh kita ke depannya siapa. Kita hanya bisa berdo'a semoga kelak mendapat jodoh terbaik, yang bisa menuntun dan membimbing kita. Begitupun dengan kamu. Bunda hanya bisa mendo'akan agar kelak kamu berjodoh dengan orang baik. Yang bisa menuntun dan membimbing kamu, menyayangi dan menjaga kamu bahkan lebih dari apa yang Bunda dan Ayah lakukan," tutur Bunda seraya mengusap lembut kepala Zahra.
"Tapi kamu harus ingat. Selain berdo'a, kamu juga mesti banyak belajar memperbaiki diri. Gunakan masa muda ini sebaik mungkin untuk melakukan banyak hal yang baik. Belajar sungguh-sungguh, perbaiki terus kualitas diri. In Sya Allah jodoh kamu kelak akan sebaik dirimu."
Zahra tersenyum ke arah Bunda Mia seraya mengangguk.
β€β€β€β€β€β€β€β€β€β€β€β€β€β€β€
BIASAKAN UNTUK MENINGGALKAN JEJAK GUNA MENDUKUNG KARYA AUTHOR.
__ADS_1
LIKE, KOMEN DAN VOTE KALIAN SENANTIASA MENJADI AMUNISI BAGI AUTHOR UNTUK TERUS BERKARYA.
HAPPY READINGπ€π€