Assalamu'Alaikum, Ya Habibi Qolbi (REVISI)

Assalamu'Alaikum, Ya Habibi Qolbi (REVISI)
TENTANG MEREKA


__ADS_3

Menunggu cinta saling bertaut tanpa harus saling berucap bukankah tindakan pengecut


Melainkan saling menjaga sampai batas waktu yang telah ditetapkan-Nya


Dengan menunggu kita akan saling menyadari arti dari sebuah perjuangan, kesabaran bahkan rasa yang menyakitkan


Hingga pada akhirnya waktu akan datang tepat kala takdir menyatukan kedua insan dalam ikatan-Nya


Takdir yang membuat keduanya bersama di bawah naungan cinta-Nya.


Tak ada yang tahu, apakah dia yang kita harapkan selama ini menjadi jodoh yang DIA kehendaki juga?


Dan sampai pada waktu itu tiba, kita hanya mampu menyebut namanya dalam do'a


Menitipkan segenap rasa dan kerinduan untuknya pada-Nya,


Berharap rasa itu tersampaikan oleh Nya melalui untaian do'a yang selalu kita panjatkan**


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Jantung Zahra berdetak kencang saat mendengar suara Hafiz yang lembut dan menenangkan, suara yang sepertinya tidak asing lagi baginya. Entahlah ia tak tahu, yang jelas ia tak henti-hentinya melafalkan asma Allah dalam hatinya untuk mengatasi kegugupannya.


Sama halnya dengan Zahra, Hafiz yang sadar akan tindakannya yang salah mulai gugup dan merutuki dirinya dalam hati.


"Hafiz.. Setan apa yang merasuki dirimu sampai kamu punya keberanian seperti ini. Ya Allah, ampunilah hambamu yang melupakan akidah-Mu dalam sesaat. Hanya melihat senyum tipisnya membuat hamba lupa akan nasehat-nasehat Abi di setiap usai sholat subuh kami. Ya Allah Ya Rabb.. sekarang apa yang harus hamba lakukan? Ampuni hamba Ya Allah yang telah lancang ingin menyentuhnya. Ya Allah.. bantu hamba menahan diri dari hal yang tak Kau benarkan. Bantu hamba menjaga kesucian diri ini dan dirinya sebelum waktu di mana Engkau menyatukan kami. Jagalah cinta ini sampai Kau memberikan hak padaku untuk memilikinya sebagai mahramku," batin Hafiz dengan wajah yang mulai tampak menyesal dengan sikapnya.


Bagi orang yang tidak mengenal dekat sosok Hafiz mungkin berfikir Hafiz sama seperti kebanyakan laki-laki remaja pada umumnya yang biasa berhubungan dengan lawan jenis. Tapi tidak dengan kedua sahabat Hafiz, yaitu Gilang dan Kemal yang sudah tiga tahun ini menemani hari-harinya. Mereka faham betul bagaimana kepribadian seorang Hafiz.


Hafiz yang terlahir dari keluarga yang agamis, jangankan berhubungan dengan lawan jenis bahkan sekedar dekat dengan seorang gadis saja Hafiz tak pernah mau apalagi bersentuhan tidak pernah sekalipun. Itulah sebabnya saat Hafiz berjalan mendekati Zahra, Kemal berkali-kali memanggilnya karena apa yang dilakukan laki-laki itu tidak seperti dirinya selama ini.

__ADS_1


Jika dilihat dari penampilannya yang bak aktor korea dengan postur tubuh tinggi, tegap, kulit putih dan paras tampan. Namun siapa yang menyangka jika sesungguhnya Hafiz adalah seorang yang alim dengan pengetahuan agama yang dalam. Bagaimana tidak, Abinya seorang kepala sekolah yang berlatar belakang Sarjana Pendidikan Agama Islam. Sedang Umminya sebelum menikah, menghabiskan waktunya mengenyam pendidikan di pondok pesantren, tak heran jika Hafiz dan Hakam kakaknya tumbuh menjadi pribadi yang santun, taat dan paham akan pengetahuan agama. Satu hal lagi yang menjadikan Hafiz sosok yang berbeda ialah Hafiz adalah seorang penghafal Qur'an.


Pernah suatu waktu Gilang menyarankan Hafiz untuk memberitahukan perasaannya pada gadis pujaannya, namun apa yang Hafiz katakan kala itu membuat kedua sahabatnya tercengang tak percaya.


FLASH BACK


"Kalau dia memang jodohku.. Insyaallah  Allah akan mendekatkan dan menyatukan kami dengan cara-Nya tanpa aku harus memaksakan diri. Kalian pasti tahu.. sesuatu yang dipaksakan pasti berakhir dengan luka dan aku tidak mengharapkan itu terjadi." ucap Hafiz


"Tapi Fiz.. Kamu beneran tidak akan menyesal jika suatu saat nanti dia menjadi milik orang lain? gadis yang kamu taksir itu cantiknya kebangetan Fiz, pasti banyaklah yang menyukainya," kata Gilang.


"Ya Fiz.. Kalau kamu menunggu sampai kamu cukup umur untuk mengatakanya, bukankah itu artinya kamu harus menunggu kira-kira 10 tahun atau lebih.. kelamaan kali Fiz,  yang ada dianya keburu diambil orang," tambah Kemal yang disusul senyum pasrah Hafiz


"Ya kalau kenyataannya harus seperti itu.. Ehhmm.. berarti dia bukan jodoh aku. Allah pasti sudah menyiapkan bidadari lain yang pantas untukku," ucap Hafiz sedikit tidak ikhlas dalam hatinya.


"Yah kalau ujung-ujungnya gitu mah berarti kamunya tidak usah baper sok-sokan kangen sama dia.. percuma dong bikin nyesek hati saja," timpal Kemal yang dibalas senyuman oleh Hafiz.


Ya ada benarnya juga kata Kemal. Selama ini Hafiz selalu dibuat rindu yang teramat sangat pada gadis itu, bahkan saking rindunya, dia sampai harus bekerja setiap akhir pekan di toko buku milik Oom Hilman, adik dari abinya, hanya untuk sekedar melihatnya. Gadis itu adalah pengunjung tetap Toko Buku "Cahaya Kehidupan" milik Oomnya, setiap akhir pekan ia akan datang ke toko buku entah itu untukbmembeli buku atau sekadar membaca buku di sana.


Degg..


Tiba-tiba saja ada sesuatu yang merambat halus di dinding hatinya, desiran halus yang membuat jantungnya memompa lebih cepat dari biasanya. Dan karenanya sebuah dorongan keras datang dari dalam sana untuk menginginkan kembali melihatnya setelah pertemuan pertamanya dengan gadis itu.


FLASH BACK OFF


* * * * *


Rasa yang tidak karuan itulah membuat Hafiz hanya mampu terdiam dan menyebutkan namanya. Beruntung pada saat itu seorang wanita setengah baya masuk ke dalam kelasnya, membuat seisi kelas kembali ke tempat duduknya masing-masing termasuk Hafiz.


Wanita setengah baya tersebut bernama Ibu Rini, guru yang akan menjadi wali kelas X.1 selama satu tahun ke depan. Pada pertemuan pertama ini, beliau menggunakan waktu untuk saling berkenalan satu sama lain. Bu Rini juga segera membuat struktur organisasi kelas, di mana anak-anak sepakat menunjuk Hafiz menjadi ketua kelas, sedang Zahra terpilih menjadi sekretaris.

__ADS_1


Hari-haripun tidak terasa sudah berlalu dengan cepat.


Lima bulan sudah mereka menjadi murid SMA. Baik Zahra maupun Hafiz seperti kembali ke fase awal sebelum mereka saling mengenal. Bagaimana tidak, setelah acara perkenalan yang menimbulkan pergulatan batin yang cukup panjang, mereka jadi sama-sama kikuk atau canggung saat harus berhadapan langsung ataupun sekadar berbicara kepentingan kelas.


Di jam istrahat setelah sholat dhuha maupun sholat dzuhur, Zahra selalu menghabiskan waktunya dengan membaca buku di bangku taman sekolah yang menghadap langsung ke arah lapangan. Taman itu tampak asri dengan beberapa pohon agak besar yang menghiasinya, salah satunya pohon bougenvile yang cukup rindang dan tampak cantik tumbuh di samping bangku yang kerap kali digunakan Zahra untuk duduk. Zahra, memang selalu tampak sendiri tapi itu bukan karena ia tak memiliki teman melainkan kedua sahabatnya, Lintang dan Prisil yang mulai dekat dan akrab dengannya, lebih memilih ke kantin usai melaksanakan sholat bersama. Sedang Zahra lebih senang membaca bukunya ketimbang harus ikut dan bergabung dengan mereka.


Seusai menunaikan kewajibannya pada Sang Khaliq, seperti biasa Hafiz dan kedua sahabatnya menuju ke lapangan tempat mereka latihan basket dengan teman-teman yang lain. Di sinilah tempat yang paling ia sukai, tempat yang bisa membuatnya melihat gambaran kecil sang bidadari surga. Ya.. di sela-sela bermain basket, Hafiz kerap kali. diam-diam mencuri kesempatan memandang ke arah Zahra sambil tersenyum kecil, gadis itu selalu asik dengan bukunya tanpa menghiraukan sekitarnya.


Gadis yang tidak hanya cantik wajahnya namun juga akhlaknya itu memang dikenalnya sebagai gadis yang pendiam dan dingin. Pernah suatu kali Hafiz tidak sengaja memergoki seorang kakak kelas menyatakan cintanya pada Zahra, namun gadis itu hanya diam menunduk dan meminta maaf sebagai tanda penolakan. Kala itu Hafiz benar-benar khawatir jika gadis itu dimiliki orang lain, namun setelah ia cukup mengenal sosok Zahra, sekarang ia bisa sedikit tersenyum lega karena bidadarinya tipe wanita yang tidak menghalalkan pacaran seperti dirinya, meskipun terkadang ia harus frustasi mendengar laporan dari kedua sahabatnya yang berkali-kali mengatakan,


"Fis..Zahra ditembak cowok".


Cobaan itu sering kali membuat Hafiz ketar ketir, khawatir pertahanan hati Zahra jebol dan mengatakan iya kepada salah satu laki-laki yang menyatakan cinta pada gadis itu dan kalau sudah begini, Hafiz hanya bisa memanjatkan do'anya pada Sang Khaliq berharap kelak gadis itu menjadi miliknya.


"Ya Allah Ya Rabb.. Jagalah hatinya dan teguhkanlah pendiriannya akan akidah-Mu. Peliharalah kesucian hati dan dirinya. Jikalau kau izinkan, pantaskanlah hamba untuk bersanding dengannya suatu saat nanti. Halalkan kami atas izin-Mu dan limpahkan pada kami, cinta yang dikarenakan atas cinta-Mu," do'a Hafiz dalam hati.


" Woy, Fiz," panggil Gilang sembari menepuk pundak Hafiz. Seketika lamunan Hafiz pun buyar karenanya.


"Ehem.. ehem.. kenapa, Fiz? lagi mantengin calon bidadari dunia dan surga-Nya ya, sampai bengong gitu. Ingat, zina mata lho Fiz kalau melihatnya diikuti syahwat," goda Kemal seraya mengingatkan.


"Astaghfirullahal'adzim," lirih Hafiz membuat kedua sahabatnya terkekeh pelan melihat tingkah aneh Hafiz.


"Apaan sih kalian. Sudah bel tu, Ke Lab. Seni yuk," ajak Hafiz sembari melangkah lebih dulu dan diikuti Gilang dan Kemal.


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


Wahai Sahabat, jangan lupa tinggalkan jejak kalian di Chapter ini. VOTE, LIKE, KOMEN dan FAVORITE kalian selalu saya tunggu.


Kritik dan masukan yang membangun harap disampaikan dengan bijak sebagai bahan pembelajaran agar lebih baik lagi ke depannya.

__ADS_1


Dan maaf jika masih banyak kekurangan. Karya pertama, jadi saya masih belajar. Harap maklum.🙏🙏🤗🤗


__ADS_2