Assalamu'Alaikum, Ya Habibi Qolbi (REVISI)

Assalamu'Alaikum, Ya Habibi Qolbi (REVISI)
JADIKAN AKU


__ADS_3

"Segala permasalahan yang Allah timpakan ke dalam hidupmu tidak untuk menguji seberapa kuatnya dirimu. Akan tetapi Allah ingin melihat seberapa kuat kesungguhanmu saat berdoa kepada Allah"


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Tiga hari telah berlalu. Seperti biasa setelah sholat dzuhur, Zahra menghabiskan waktunya duduk di bangku taman yang berada tepat di samping lapangan basket. Tidak seperti biasanya yang selalu membaca buku, kali ini Zahra tampak fokus pada ponselnya. Ia terlalu sibuk dengan apa yang ia lakukan sehingga tidak ada waktu baginya untuk melihat atau memperhatikan sekitarnya.


Di lapangan terlihat Hafiz sedang bermain basket bersama teman-temannya. Sesekali ia melihat ke arah Zahra yang sedang asik dengan ponselnya. Hafiz tampak memikirkan sesuatu yang membuatnya ingin segera mengakhiri permainannya. Diapun melempar bola di tangannya ke arah Kemal.


"Aku sudahan dulu," ucap Hafiz pada Kemal sembari melangkah meninggalkan lapangan.


Ia pun melangkah mendekati Zahra yang masih sibuk dengan ponselnya.


"Boleh saya duduk di sini?" ucap Hafiz sopan yang sudah berdiri tepat di depan Zahra.


Hafiz memang lebih nyaman menggunakan kata saya-kamu dengan Zahra lain halnya jika ia berbicara dengan teman-teman lain yang menggunakan aku-kamu.


Terlihat Zahra mendongakkan kepalanya sebentar melihat si pemilik suara sebelum akhirnya ia kembali menundukkan kepalanya untuk menatap layar ponselnya lagi.


"Bangku ini kan milik umum, jadi tidak perlu minta izin," ucap Zahra dingin seperti biasanya dan tetap tidak mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya.


"Terima kasih."


Hafiz mendudukan tubuhnya di sisi paling ujung, Zahra juga terlihat bergeser ke sisi lainnya. Melihat jarak di antara mereka membuat orang yang melihat mereka seperti pasangan yang sedang bertengkar. Zahra mencoba untuk bersikap seperti biasanya dengan tetap fokus pada ponselnya meskipun sesungguhnya dia sangat gugup, apalagi ketika ia ingat bagaimana sikap Hafiz padanya tiga hari lalu.


Anak-anak yang berada tak jauh dari tempat mereka duduk tampak memperhatikan keduanya, semuanya tidak bisa mempercayai apa yang mereka lihat. Secara, Hafiz sang idola sekolah yang selalu cuek dan anti pada perempuan tiba-tiba duduk berdua dengan Zahra yang terkenal dengan sebutan Dewi Es. Ya, Zahra yang memiliki paras sangat cantik dan menawan dengan jilbab di kepalanya ini membuat dirinya banyak disukai oleh lawan jenisnya, tak jarang dari mereka menyatakan perasaannya langsung pada gadis itu, namun semuanya ditolak dengan satu kata "MAAF" yang keluar dari mulutnya tanpa memandang orang di depannya.


Di lapangan, teman-teman Hafiz juga tampak heboh melihat keduanya. Terdengar ocehan dari mereka yang mengatakan "Wah, Hafiz lagi nembak Zahra tu" membuat Gilang dan Kemal hanya saling memandang dengan tampang bingung dan penasaran dengan sikap Hafiz, mereka juga tidak berfikir jika Hafiz benar-benar mengungkapkan perasaannya pada Zahra. Mereka tahu betul bagaimana sifat Hafiz.

__ADS_1


"Kamu sendirian saja? Di mana yang lain?" tanya Hafiz membuka suaranya.


Hafiz terlihat cuek dan biasa saja tanpa memperdulikan orang-orang yang menatapnya penuh tanya. Ia juga berpikir tak ada yang salah dari mereka berdua, toh mereka juga tidak berdua-duaan karena sedang di tempat umum, apalagi beberapa anak juga tampak sedang duduk- duduk di bangku lain di taman dan di lapangan banyak anak-anak yang sedang bermain atau sekedar duduk menonton. Jadi apa yang salah darinya.


"Lintang dan Sisil sedang ke kantin, kalau Bela ada di ruang guru sedang ada urusan dengan Bu Rini."


"Oh. Zah, kamu sekarang sudah baikan kan?" tanya Hafiz hati-hati yang membuat Zahra kembali ingat akan sikap Hafiz padanya saat di UKS. Zahra pun menghela napasnya.


"Hafiz, terima kasih untuk waktu itu. Maaf kalau aku baru kasih ucapan sekarang," ucap Zahra yang sedikit terjeda beberapa saat. Ucapannya mampu menghangatkan hati Hafiz. Tarikkan di bibir pun kini tampak terlihat.


Zahra menundukkan kepalanya lebih dalam, ia merasa malu karena Hafiz menyaksikan dirinya yang lemah saat itu. Hafiz juga tampak terdiam mendengar ucapan Zahra, ada perasaan malu saat ia kembali mengingat akan sikapnya pada Zahra.


Lama tak terdengar suara dari mereka berdua. Hingga akhirnya Hafiz kembali membuka suara.


"Zahra, saya tidak tahu sebesar apa masalah yang kamu hadapi atau sedalam apa luka di hati kamu. Hanya saja, jika memang hati kamu sudah tidak mampu menampung beban itu, saya harap kamu bisa berbagi dengan seseorang yang kamu percaya. Setidaknya itu bisa sedikit meringankan beban kamu,"


Zahra terdiam mendengarkan ucapan Hafiz. Selama ini ia memang selalu berpura-pura kuat dan tegar, ia tidak ingin air matanya membuat orang-orang yang ia sayangi ikut bersedih dan terbebani karenanya. Meskipun apa yang Hafiz katakan memang benar adanya, ia butuh seseorang yang bisa menopangnya kala ia sudah tak mampu berdiri lagi. Ia hanya bisa mengadukan semuanya kepada Allah atau sedikit bercerita pada Kak Husna, psikiaternya.


"Zahra, jika kamu merasa ragu untuk bercerita kepada orang lain. Bisakah kamu cukup percaya pada saya. Ijinkan saya menjadi teman yang bisa kamu jadikan tempat untuk bersandar, teman yang kamu jadikan sebagai tempat di mana kamu bisa berkeluh kesah dan teman yang selalu kamu bagi setengah dari beban yang kamu rasakan. Dan tentunya setelah Allah, Insyaallah saya tidak akan keberatan atau merasa terbebani karenanya. Saya hanya ingin kamu merasa tidak sendiri karena saya tahu banyak orang yang sayang sama kamu."


Mendengar penuturan Hafiz, tanpa Zahra sadari lelehan air mata mulai mengalir di pipinya. Tidak ada seorang pun laki-laki yang pernah mengatakan seperti itu padanya. Selama ini, kata-kata yang sering ia dengar dari laki-laki adalah "Aku suka sama kamu, Zahra" atau "Kamu mau tidak jadi pacar aku". Tapi Hafiz.. Ia mengatakan kata-kata yang membuatnya seakan ingin berlindung dan bergantung pada laki-laki itu, belum lagi suara lembut Hafiz saat melantunkan ayat-ayat suci Allah yang membuat hati Zahra bergetar hebat mendengarnya.


Sungguh, ada sesuatu yang ia rasakan di dalam hatinya. Perasaan di mana ia ingin sekali jatuh cinta pada laki-laki itu. Namun Zahra mencoba menepisnya. Ia tidak ingin merasakan sakit dan terluka karena mencintai seseorang untuk kedua kalinya apalagi jika suatu saat nanti Hafiz bukanlah jodohnya.


Melihat air mata yang mengalir di pipi Zahra, Hafiz merogoh sesuatu di saku belakang celananya, ia pun sedikit bergeser mendekati Zahra. Disodorkannya benda itu pada Zahra. Zahra sempat terpaku melihat sebuah sapu tangan yang disodorkan Hafiz padanya, ia pun sempat melihat kearah Hafiz yang sedang menatapnya sembari tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Maaf, jika ucapan saya membuat kamu tidak nyaman. Saya tidak bermak.. " ucap Hafiz yang segera dipotong Zahra.

__ADS_1


"Maaf saya Hafiz, maafkan saya.. maafkan saya yang selalu membuat semua orang khawatir.. karena kelemahan dan ketidak berdayaan saya.. " ucap Zahra dalam tangisnya sembari menggenggam erat sapu tangan yang ia terima sebelumnya dari Hafiz.


"Tidak ada makhluk yang kuat di dunia ini Zahra, karena kekuatan hanyalah milik Allah semata."


Zahra mengangguk pelan mendengar ucapan Hafiz.


"Zahra, terkadang dengan menangis beban kita memang akan terasa ringan tapi entah kenapa saya tidak suka melihat kamu menangis, mungkin bukan hanya saya saja tapi setiap orang yang melihat kamu pasti juga sama."


Zahra pun mengusap air matanya dengan sapu tangan milik Hafiz.


"Hafiz, terima kasih. Kamu selalu punya cara sendiri untuk menghibur atau menenangkan orang," ucap Zahra menyunggingkan senyumannya tanpa menatap mata Hafiz.


Hafiz ikut tersenyum melihatnya. Ia kembali merogoh benda lain di saku bajunya. Disodorkannya kembali ke arah Zahra yang membuat gadis itu kembali menatapnya.


"Untuk saya?" tanya Zahra melihat sebuah tasbih yang terbuat dari kayu kokkah di tangan Hafiz dan segera dijawab anggukan oleh Hafiz.


"Sering-seringlah berdzikir saat suasana hati sedang tidak menentu. Dengan mengingat Allah, insyaallah hati kita akan lebih tentram."


Zahra mengangguk mendengar ucapan Hafiz. Walaupun ucapannya terdengar sederhana namun kalimat itu mampu membuat hatinya terasa tenang.


"Sudah bel. Ayo kekelas," ajak Hafiz tatkala mendengar bel berdering.


Mereka pun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kelas, dengan Zahra yang berjalan beberapa meter di depan Hafiz. Tampak senyum keduanya tersungging di bibir masing-masing.


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


TERIMA KASIH SAHABAT PEMBACA ATAS DUKUNGANNYA.. 🙏🙏

__ADS_1


TETAP SELALU SETIA DENGAN KISAH HAFZAH. DAN JANGAN LUPA UNTUK NGE LIKE.. FOLOW.. KOMEN.. DAN FAVORITE IN INI NOVEL🤗🤗


VOOOTTTTEEEEE YANG BANYAK YA😉😉


__ADS_2