
Hafiz masih setia menunggu di samping ranjang tempat Zahra terbaring. Sesekali ia memandang gadis yang masih memejamkan matanya itu dengan perasaan sedih. Banyak pertanyaan yang terbesit di otak Hafiz, yang entah mengapa justru membuat hatinya sakit. Sakit melihat bidadari hatinya dalam keadaan seperti itu dan sakit karena mengetahui ada seseorang yang sudah menghuni hati gadis itu. Hafiz menghapus air matanya yang sempat keluar dengan cepat, khawatir jika seseorang melihat sisi lemahnya.
Setelah beberapa saat Hafiz tenggelam dalam pikirannya sendiri, ia mulai menyadari keberadaan Lintang yang berdiri di ambang pintu. Entah sudah lamakah dia berdiri di sana atau ia memang baru tiba, tapi yang jelas Hafiz tidak mempedulikannya.
"Kok lama Lin?" tanya Hafiz yang hanya dijawab senyuman oleh Lintang.
"Jadi telponnya?" tanyanya lagi.
"Tidak jadi, orang Zahra nya sudah tenang gitu," awab Lintang.
"Ya sudah kalau gitu aku balik ke kelas dulu ya. Nanti kalau ada apa-apa telpon saja," ucap Hafiz seraya bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya.
"Fiz," panggil Lintang menghentikan langkah Hafiz yang sudah di ambang pintu.
Hafiz pun membalikkan badannya dengan ekspresi wajah yang seolah berkata "apa".
"Apapun yang kamu lihat dan kamu dengar itu tidak seperti yang kamu pikirkan," ucap Lintang seolah tahu isi pikiran Hafiz.
"Maksud kamu?" tanya Hafiz yang tidak mengerti dengan ucapan Lintang.
"Hmmm... Jangan berpikir yang tidak-tidak tentang Zahra," ucap Lintang yang mulai kebingungan menjelaskan.
Hafiz pun hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Lintang, sebelum akhirnya ia kembali melangkah.
Bel tanda pulang sekolah sudah berdering sepuluh menit yang lalu. Di kelas X.1 hanya menyisakan Hafiz the gank plus Prisil dan Bela. Hafiz masih setia duduk di bangkunya sembari sesekali memainkan ponsel miliknya. Keadaan Zahra saat ini memenuhi otaknya, belum lagi ucapan Lintang yang sama sekali tidak ia mengerti maksudnya. Ia mendengus pelan dengan tampang galaunya, membuat Gilang dan Kemal bingung dengan sikap Hafiz.
"Woy, Fiz. Kenapa sih? aku perhatiin dari tadi tampang kamu kayak orang galau gitu," tanya Kemal.
"Mikirin Zahra ya, Fiz?" ucap Gilang tanpa aling-aling membuat kedua cewek yang duduk di bangku depan menoleh ke arah mereka.
"Sudah tidak usah dipikirkan, lebih baik kamu do'akan saja Fiz agar Zahra cepat sembuh," tambah Gilang lagi.
Tepat saat Gilang mengatakan itu, Lintang masuk ke kelas dan melangkah menuju bangkunya. Kedatangannya langsung diberondong dengan berbagai pertanyaan seputar Zahra oleh kedua sahabatnya, Prisil dan Bela.
__ADS_1
"Zahra mana Lin?" tanya Prisil.
"Masih di UKS," jawab Lintang sembari memasukkan buku dari laci mejanya ke dalam tas miliknya.
"Sudah baikan belum?" tanya Bela.
"Masih belum sadar," ucap Lintang sesaat setelah menghela napasnya, kemudian matanya melirik ke arah Hafiz yang tampak diam dan terlihat gurat kekhawatiran di wajahnya.
"Zahra sakit apa sih Lin?" tanya Bela lagi.
"Sakit hati.. " jawab Lintang datar dan beralih memasukkan beberapa buku di dalam laci ke dalam tas milik Zahra.
"Sakit hati?" ucap Gilang dan Kemal bersamaan seraya melirik Hafiz yang masih diam sembari memainkan gawainya.
"Zahra baru putus ya Lin? Kok aku tidak tahu kalau Zahra punya cowok," ucap Prisil hati-hati.
"Bukan itu maksud aku. Zahra tidak pacaran."
"Lha terus, kok patah hati?" tanya Bela bingung.
Ia pun melihat ke arah Hafiz dan memutuskan duduk di bangku kosong sebelah Hafiz.
"Fiz, terima kasih ya untuk tadi. Hmmm... Aku tahu kamu kepikiran Zahra. Tapi tenang saja bentar lagi juga paling siuman, dia hanya butuh waktu untuk mengendalikan kembali emosinya," ucap Lintang yang hanya mendapat lirikan dari Hafiz.
"Fiz, maaf kalau aku lancang. Kamu ada rasa ya sama Zahra?" ucap Lintang to the point, membuat Hafiz kaget setengah mati.
Ia tidak pernah menyangka rahasia yang ia simpan rapat-rapat bisa diketahui orang lain. Ia pun segera mengalihkan pandangannya pada kedua sahabatnya, mengira merekalah yang membocorkan rahasianya. Namun yang ditatap kompak mengangkat bahunya seraya menggeleng kompak.
"Cara kamu menatap dan bersikap sama Zahra itu sudah membuat aku tahu dan yakin kalau kamu punya rasa sama Zahra. Tapi kamu tidak usah khawatir, Fiz, aku dukung kok kamu sama Zahra."
"M-Maksud kamu apa sih Lin? Bukankah sudah ada seseorang di hati Zahra, kenapa juga aku harus mengusik hubungan mereka."
"Ya Allah Hafiz. Kan sudah aku bilang tadi sama kamu. Apa yang kamu lihat atau kamu dengar itu tidak seperti yang kamu pikir. Itu semua hanya masa lalu, Hafiz. Sudah tamat.
__ADS_1
Asal kamu tahu Hafiz, sebenarnya dia bisa seperti itu karena luka yang pernah ia dapat tiga tahun yang lalu. Dan selama ini dia tidak pernah sekalipun mengingatnya terlebih semenjak kecelakaan itu. Kecelakaan yang membuat Zahra seperti amnesia tentang beberapa hal yang pernah ia alami sebelumnya.
Dan hari ini, aku juga tidak tahu apa yang menyebabkan dia mengingatnya kembali. Melihat bagaimana caramu memperlakukannya, aku merasa kamu lah orang yang tepat yang bisa menyembuhkan luka di hatinya," tutur Lintang membuat semua pasang mata terbelalak kaget, karena tidak menyangka gadis sesempurna Zahra ternyata menyimpan duka mendalam di hatinya.
"Aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi maaf Lin, bukannya aku mau mematahkan harapan kamu, tapi jujur saja aku tidak ada niatan untuk menjalani hubungan yang namanya pacaran bahkan dengan gadis manapun. Okey lah.. aku akui, aku memang memiliki rasa padanya bahkan rasa ini sudah ada sejak dua tahun lalu, saat di mana kita sama-sama belum saling mengenal.
Tapi rasa ini hanya akan aku simpan di hatiku sampai batas waktu yang aku sendiri tidak tahu sampai kapan. Aku hanya percaya kalau dia memang jodohku, suatu hari nanti Allah pasti menyatukan kami dalam ikatan yang halal. Aku tidak mau memaksakan hubungan yang jelas dilarang Allah, yang hanya akan membuat dia terluka lagi jika suatu hari nanti kita tidak berjodoh," ungkap Hafiz.
"Lin, dalam kamusnya Hafiz itu tidak ada yang namanya pacaran kalau ada mah sudah dari dulu dia nembak Zahra," ucap Kemal.
"Bagi Hafiz yang ada itu Ta'aruf, Khitbah dan Halal jadi tidak heran kalau dia tidak pernah pacaran," timpal Gilang membuat tiga perempuan di dekatnya melongo mendengarnya. Tidak menyangka jika sosok Hafiz yang selalu diidamkan para gadis ini ternyata belum pernah mencecap yang namanya pacaran.
"Wah kalau nunggu itu mah kelamaan, Fiz. memang tidak takut apa kalau Zahra diambil orang. Yakin tidak bakal menyesal?" kata Prisil yang sudah duduk di samping Gilang.
"Ya gimana lagi, meskipun berat tetap harus ikhlas. Lagipula Jodoh, rezeki dan maut kan sudah ada yang mengatur, jadi serahkan saja tiga hal itu sama Allah."
"Yah, sakit dong tu hati kalau akhirnya tidak berjodoh," celetuk Bela.
"Sakit hati kan sudah ada obatnya kali Bel," Kemal menyahut celetukan Bela.
"Sudah, sudah, tidak usah pada debat. Intinya kamu sama Zahra cocok, Fiz. Zahra juga tidak ada niatan buat pacaran. Dia mah memegang teguh keyakinannya, semua cowok yang nembak dia ditolak semua. Pokoknya aku dukung penuh kamu dekat sama Zahra, Fiz. Lagipula dekat bukan berarti pacaran kan. Ya anggap saja kalian sedang dalam proses ta'aruf. Tidak tahu kenapa aku merasa yakin kalau kamu lah sosok yang bisa menyembuhkan luka hatinya Zahra, Fiz. Semangat ya Fiz," ucap Lintang mengangkat kedua tangannya yang mengepal sebagai bentuk dukungan.
Melihat itu Hafiz hanya bisa mengerutkan kening sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Mana ada ta'aruf sampai bertahun-tahun," batinnya.
"Ya sudah aku balik ke UKS dulu ya, takutnya Zahra sudah sadar."
Lintang pun bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya
"Ikut Lin," ucap Bela seraya menggandeng tangan Lintang.
"Aku juga ikut dong, Ayo Yang," Prisil ikut bangkit dan menarik tangan Gilang yang tak lain adalah pacarnya.
__ADS_1
"Eh, tungguin dong. Ayo Fiz ikutan," Kemal ikut menyusul dengan Hafiz yang berjalan di belakangnya.
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤