Assalamu'Alaikum, Ya Habibi Qolbi (REVISI)

Assalamu'Alaikum, Ya Habibi Qolbi (REVISI)
PESAN MISTERIUS


__ADS_3

"Sahabat ialah yang ketika bersama kita dia menguatkan kita dan apabila tidak di sisi kita mereka adalah orang yang selalu mendoโ€™akan kebaikan untuk kitaโ€


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Setelah moment kedekatan Hafiz dan Zahra di taman sekolah satu minggu lalu, hubungan keduanya terasa mulai berbeda. Meskipun hubungan mereka bukanlah sepasang kekasih yang terikat dalam sebuah hubungan yang dinamakan "PACARAN", baik Hafiz maupun Zahra sudah merasa tidak canggung lagi saat mereka tidak sengaja berpapasan.


Zahra maupun Hafiz diam-diam selalu tersenyum meskipun mereka berdua tidak pernah sekalipun saling menatap. Hafiz juga selalu membantu Zahra, saat gadis itu harus membawa tumpukan buku tugas milik teman-temannya ke ruang guru. Dan entahlah.. setiap mereka berjalan bersama, Zahra selalu di posisi depan dengan jarak beberapa meter dari Hafiz. Hafiz juga tidak pernah mempercepat langkahnya hanya untuk mensejajarkan posisinya dengan Zahra, baginya seperti ini sudah membuatnya bahagia dan nyaman bagi keduanya.


Kabar kedekatan Hafiz dan Zahra ternyata sudah menjadi tranding topic di SMA mereka. Seisi sekolah beranggapan bahwa kedua murid top itu sedang berpacaran, mengingat sikap Hafiz yang berbeda terhadap Zahra. Namun baik Hafiz maupun Zahra tidak pernah menanggapi kabar heboh tersebut, bagi mereka hal seperti itu tidaklah penting toh mereka juga bukanlah seorang aktris maupun aktor yang harus mengklarifikasi kebenaran dari sebuah berita. Lagipula bagi Hafiz dan Zahra, hubungan mereka tidaklah berlebihan dan harus dikatagorikan kedalam hubungan yang dinamakan pacaran.


Di saat merebaknya kabar heboh tersebut di sekolah, selama itu pula Zahra selalu mendapat pesan misterius dari seseorang yang semakin gencar dikirim kepadanya. Sebenarnya pesan itu sudah ia terima sejak pertama dirinya menjadi murid SMA biasanya hanya sehari sekali, namun akhir-akhir ini pesan itu bisa lebih dari satu kali ia terima dalam sehari. Awalnya ia tidak mempedulikannya dan tak menanggapi pesan itu namun lama-lama ia mulai terganggu dan merasa tidak nyaman, bahkan ia selalu tampak waspada atau khawatir kalau-kalau si pengirim pesan memiliki niat jahat padanya.


Drrttt...


Drrttt...


Drrttt...


Ponsel Zahra bergetar, membuatnya sontak terperanjat karena dirinya tengah melamun. Istirahat kali ini ia hanya berdiam diri di kelas karena jatah bulanannya sehingga membuatnya malas beranjak dari tempat duduknya sedang Lintang, Prisil dan Bela seperti biasa sedang ke kantin. Ia kembali mengalihkan perhatiannya pada ponselnya saat ponsel itu kembali bergetar.


Di layar depan ponsel tertera notife pesan dari sebuah nomor yang selalu mengirim pesan misterius kepadanya. Sontak ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruang kelas, mungkin saja si pengirim adalah teman sekelasnya. Namun Zahra merasa tidak ada yang mencurigakan, karena di kelas itu hanya ada tiga perempuan yang sedang asik mengobrol dan di sisi lain beberapa anak laki-laki tengah bercanda. Melihat mereka, Zahra tidak yakin salah satu dari mereka adalah pengirim pesan misterius pasalnya Hafiz berada diantara mereka.


Zahra kembali menatap ponselnya ditangannya. Ia pun membuka tiga pesan yang dikirim langsung oleh si pengirim misterius.


"AKU SELALU MENCINTAIMU ZAHRA.. SAMPAI MATI"


"JIKA AKU TAK BISA MEMILIKIMU MAKA ORANG LAIN PUN TAK KAN PERNAH BISA"


"MARI KITA BERSAMA DI MANA TIDAK ADA ORANG DI DUNIA INI"


Tiga pesan itu sukses membuat wajah Zahra pucat pasi, keringat dingin mulai menetes di pelipisnya dan tangannya mulai gemetar.


"ZAHRA..." teriak ketiga sahabatnya .


"Astaghfirullahal'adzim.." pekik Zahra, spontan ponsel di tangannya terlepas begitu saja dari genggamannya membuat benda itu jatuh di atas meja.

__ADS_1


Zahra diam terpaku dan berkali-kali menelan ludahnya untuk menetralisir kekagetannya.


"Kaget banget ya? sampai segitunya.. " ucap Sisil menahan tawa geli.


"Iya nih, lagi ngelamunin apa sih sampai tidak sadar kita datang?" tanya Bela.


Zahra menatap kedua temannya dengan tatapan kosong.


"Ada apa Ra?" tanya Lintang dengan tatapan menyelidik. Di lihatnya keringat mengucur di pelipis Zahra, belum lagi tangan Zahra terlihat gemetar.


Lintang mengulurkan tangannya untuk menyentuh telapak tangan Zahra lalu menggenggamnya.


"Kenapa, Ra? tangan kamu dingin, gemetar lagi?" tanya Lintang seraya menautkan alisnya.


Zahra menghela napasnya sebelum menjawab pertanyaan Lintang.


"Tidak apa-apa, Lin. Cuma kaget saja," jawab Zahra datar.


Ia yang tidak ingin membuat sahabat-sahabatnya khawatir padanya terutama Lintang.


"Tidak ada apa-apa Lin."


"Kita ini sudah bersahabat sejak kecil. Sampai kapan kamu mau menyembunyikan semuanya dari aku. Bukankah kamu sudah berjanji untuk selalu terbuka sama aku."


"Bukan gitu Lin. Aku hanya tidak ingin membuat kalian khawatir sama aku."


"Ya wajarlah kalau kita khawatir, namanya juga sahabat. Tapi kita akan lebih khawatir lagi kalau kamu tidak menceritakannya, Ra."


Zahra membuang napasnya. Ia tahu Lintang keras kepala jadi mana mau dia mengalah.


"Hmmm, tapi janji jangan terlalu berlebihan mengkhawatirkan aku. Kalian juga," ucap Zahra pada Lintang sembari menunjuk Sisil dan Bela yang sudah duduk menghadap ke arahnya.


Zahra pun mengambil ponsenya. Kemudian menekan tombol on untuk menghidupkan ponsel yang mati karena sempat terjatuh. Setelah ponselnya menyala, ia pun membuka pesan misterius itu dan selanjutnya memberikan benda pipih itu kepada Lintang. Lintang tampak serius membaca pesan-pesan misterius itu dengan menscroll layar handphone. Wajahnya kini tampak memerah menahan amarahnya.


"Gila kali ya ni cowok," ucap Lintang yang masih fokus ke layar ponsel di t8angannya.

__ADS_1


"Apaan sih? liat dong," ucap Prisil merebut ponsel Zahra dari tangan Lintang.


Prisil memposisikan ponsel itu di tengah-tengah antara dirinya dan Bela, agar Bela ikut membacanya. Tak lama terlihat kerutan di dahi kedua gadis itu.


"Ni cowok kayaknya psiko deh," celetuk Sisil.


"Ya, ih serem juga ya kalau cara ngungkapin perasaannya kayak gini," cicit Bela bergidik ngeri.


"Aku rasa mulai sekarang kamu mesti hati-hati, Ra. Takutnya cowok ini punya pikiran buruk ke kamu," peringat Lintang.


"Ya, Ra. Yang dibilang Lintang itu benar. Kamu mesti hati-hati," Sisil ikut membenarkan ucapan Lintang.


"Sepertinya mulai sekarang jangan sendirian dulu deh, Ra. Setidaknya harus ada satu orang yang setia menemani kamu setiap saat. Terus hindari juga tempat-tempat yang agak sepi. Ya bukan apa-apa sih, Ra, hanya untuk berjaga-jaga saja sebelum sesuatu yang buruk terjadi," saran Bela yang disetujui oleh Lintang dan Sisil.


"Apa tidak sebaiknya kita laporkan saja?" tanya Lintang sembari menatap wajah ketiga sahabatnya bergantian.


Sisil dan Bela kompak mengangguk namun berbeda dengan Zahra. Gadis itu tampak berpikir sejenak.


"Kayak jangan dulu deh. Perlu bukti lebih kongkret, takutnya pesan ini memang hanya iseng saja," ucap Zahra.


"Ini bukan iseng lagi, Ra. Ini sudah masuk kategori teror," sanggah Lintang yang dibenarkan oleh Sisil dan Bela.


"Ya tetap saja, Lin. Kalau kita laporkan tanpa bukti-bukti yang cukup, sama saja kita sudah menuduh. Dan kalau terbukti itu cuma iseng, yang ada kita malah balik di laporka," jelas Zahra.


Ketiganya langsung bungkam mendengar penjelasan Zahra.


"Aku janji akan berhati-hati dan menjaga diri. Dan kalau semisal dia mulai melakukan hal yang lebih dari sekadar mengirim pesan, aku akan segera melaporkannya. Jadi jangan pada khawatir gitu," tutur Zahra menenangkan ketiga sahabatnya.


"Janji ya, Ra, untuk selalu berhati-hati dan selalu cerita ke kita kalau ada apa-apa," Lintang mengarahkan jari kelingkingnya ke arah Zahra. Zahra pun tersenyum seraya mengangguk mengiyakan lalu menautkan jari kelingking miliknya disusul oleh Sisil dan Bela.


โคโคโคโคโคโคโคโคโคโคโคโคโคโคโค


HAPPY READING SAHABAT,


JANGAN LUPA SETELAH MEMBACA BIASAKAN UNTUK NGE-LIKE, KOMEN DAN TENTUNYA VOOTTTTEE, YANG BANYAK YA..๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

__ADS_1


__ADS_2