Assalamu'Alaikum, Ya Habibi Qolbi (REVISI)

Assalamu'Alaikum, Ya Habibi Qolbi (REVISI)
TEROR


__ADS_3

Seusai melaksanakan sholat dzuhur, Hafiz yang biasanya bermain basket di lapangan kali ini memutuskan untuk kembali ke kelas. Bukan tanpa alasan, mengingat sudah tiga hari ini Hafiz tahu Zahra absen dari kewajiban rutinnya. Sebagai laki-laki yang sudah beranjak dewasa, Hafiz tahu betul bahwa gadis itu sedang kedatangan tamu bulanannya sehingga membuat gadis itu absen dari sholatnya. Dan selama itu pula Zahra selalu menghabiskan waktu istirahatnya di dalam kelas daripada harus ke kantin bersama sahabat-sahabatnya. Itulah alasan utama kenapa setelah sholat dzuhur Hafiz memilih kembali ke kelas hanya sekadar ingin melihat apakah Zahra baik-baik saja.


Sesampainya di kelas Hafiz melihat Zahra yang duduk sendirian di bangkunya sembari fokus pada ponselnya, Hafiz sedikit tersenyum melihatnya.


"Fiz," panggil Sandi sang wakil ketua kelas sembari melambaikan tangannya.


Hafiz pun melangkahkan kakinya ke arah di mana teman-temannya duduk.


"Fiz, Zahra sendiri tuh," tunjuk Andi dengan dagunya.


Hafiz hanya tersenyum dan mendudukan bokongnya di bangku sebelah Sandi.


"Selamat ya, Fiz," ucap Noval sembari menepuk bahu Hafiz.


"Selamat buat apa?" tanya Hafiz bingung.


"Ya buat kamu yang sudah tidak jomblo lagi, Fiz. Hebat kamu Fiz, bisa dapetin Zahra," sambar Andi yang duduk di depan Hafiz.


"Kamu tahu tidak Fiz, hari kamu jadian sama Zahra itu dijadikan "Hari Patah Hati Nasional" loh sama anak-anak satu sekolah," ucap Noval memberitahu.


"Apaan sih, ada-ada saja," ucap Hafiz menanggapi ucapan teman-temannya.


"ASTAGHFIRULLAHAL 'ADZIM,"


Pekikan Zahra spontan membuat Hafiz menoleh ke arah gadis itu. Di lihatnya Zahra tengah dalam posisi berdiri mematung dengan napas tersengal. Hafiz bisa melihat dengan jelas tangan gadis itu gemetar bahkan ponsel di tangannya sampai terlepas dari genggamannya.


Hafiz merasakan kejanggalan dari sikap Zahra hari ini. Ehtah kenapa hatinya merasa cemas memikirkan gadis itu. Seperti ada sesuatu yang disembunyikannya.


"Fiz, samperin sana," ucap Sandi sembari mendorong pelan bahu Hafiz.


"Sudah ada temen-temennya," tolak Hafiz sembari melihat para gadis itu tengah bercakap-cakap serius mengomentari sesuatu di ponsel milik Zahra.


Terdengar helaan sekaligus embusan napas dari Sandi.


"Perhatian dikit, Fiz. Jangan cuek-cuek amat," nasehat Noval.


"Ya, Fiz. Giliran nanti ada cowok yang kasih perhatian ke Zahra, kamunya jeolous," timpal Andi.


Hafiz memutar matanya malas, bukan ia tidak peduli atau tidak khawatir pada Zahra. Hanya saja, ia tahu batasannya. Ia tidak ingin perhatiannya yang berlebih tanpa ikatan jelas antara dirinya dengan Zahra semakin membuat orang lain salah faham. Dengan kabar burung yang saat ini merebak saja membuat Hafiz sendiri risih apalagi jika Zahra yang merasa tidak nyaman. Hafiz sungguh merasa tidak enak pada gadis itu.


"Sudah ah, aku balik dulu ke tempat dudukku. Sebentar lagi Pak Santoso masuk," ucap Hafiz sembari bangkit dari duduknya diikuti Sandi dan Noval.


* * * * * *


Seusai jam sekolah berakhir, Zahra tidak langsung pulang karena hari ini adalah jadwal dirinya latihan Marching Band, bahkan Zahra didaulat menjadi mayoret menggantikan mayoret sebelumnya yang memilih keluar dari ektrakulikuler tersebut. Selain Zahra, ada Prisil yang juga terpilih dalam ekstrakulikuler Marching Band Sedang Lintang, Hafiz, Gilang dan Kemal lebih memilih mengikuti OSIS. Dan hari ini kebetulan anggota OSIS juga mengadakan pertemuan rutin setiap minggunya.


Hari sudah sore, sudah lewat waktu ashar saat Pelatih mengintruksikan latihan marching band diakhiri. Setelah mengembalikan alat-alat Marching Band, satu persatu anak-anak mulai meninggalkan sekolah. Tersisa hanya Zahra yang masih duduk di serambi masjid sembari menunggu jemputan bahkan Ia tidak menyadari keberadaan Hafiz yang ada di dalam masjid.


Hafiz yang sedari tadi siang merasa ada yang janggal dengan sikap Zahra, diam-diam menunggu gadis itu latihan Marching Band usai dirinya mengikuti rapat OSIS satu jam lalu. Entah kenapa ia merasa cemas melihat gadis itu. Ada sesuatu yang membuatnya khawatir sekaligus mendorongnya untuk mengawasi Zahra.


Selama menunggu Zahra latihan, tak sengaja Hafiz melihat seorang laki-laki berseragam sama dengannya terlihat mondar mandir di depan gerbang sembari mengamati anak-anak yang tengah berlatih marching band. Namun yang membuat Hafiz heran adalah laki-laki itu mengenakan helm di kepalanya dan bahkan menutup kaca helmnya sehingga Hafiz tidak mengenali laki-laki itu. Awalnya Hafiz tidak curiga, ia pikir mungkin laki-laki itu tengah menunggu pacarnya, tapi di saat semua anak sudah pulang Hafiz masih melihat laki-laki itu di depan gerbang bahkan segera berlari menuju motornya seraya menyalakan mesinnya ketika ia melihat Zahra bangkit dari duduknya meninggalkan serambi masjid dan melangkah menuju pintu gerbang.


Hafiz yang curiga pun segera menyusul Zahra dan diam-diam berjalan di belakang gadis itu untuk memastikan tidak ada yang akan terjadi padanya. Dan benar saja tepat ketika Zahra mulai keluar melewati gerbang sekolah, tiba-tiba saja laki-laki itu menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi ke arah Zahra, hendak menabraknya. Namun dengan sigap Hafiz menarik lengan Zahra hingga tubuh gadis itu ikut tertarik keras ke arahnya, mendorong tubuh Hafiz dan berakhir keduanya terjatuh dengan posisi Zahra dalam pelukan Hafiz.


Sebelum Hafiz fokus pada gadis dalam pelukannya, ia menatap berang ke arah motor yang hendak menabrak Zahra. Ia melihat motor itu sempat berhenti sejenak bahkan si pengendara memutar kepalanya ke belakang seperti memastikan sesuatu sebelum akhirnya kembali melajukan motornya.


Hafiz mengalihkan perhatiannya pada Zahra sesaat setelah motor itu kembali melaju, gadis itu tampak mematung melihat dirinya dengan wajah yang sudah pucat pasi dan tubuh gemetar ketakutan.


"Zah, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Hafiz khawatir, jarak wajah keduanya sangat dekat bahkan Hafiz belum sadar jika dirinya tengah terduduk sembari memeluk gadis itu. Zahra masih bergeming, tatapannya tampak kosong dan tak lama kemudian, matanya terpejam tak sadarkan diri


Hafiz begitu panik saat Zahra tiba-tiba tak sadarkan diri. Dengan segera ia mengangkat tubuh dan kembali memasuki area sekolah yang sudah sepi. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut sekolah dengan wajah diliputi kekhawatiran dan kebingungan.


"Ya Allah.. Ke mana aku harus membawa Zahra? UKS sudah pasti dikunci. Masjid?? ahh.. aku tidak setega itu merebahkannya di lantai Masjid yang hanya beralas karpet. Bagaimana ini..? Allah, kumohon berilah aku pertolongan," monolog Hafiz dalam hatinya yang diliputi kebingungan.

__ADS_1


Tak lama setelah Hafiz menyapu pandang seluruh sudut sekolah. Akhirnya ia melihat sesuatu yang membuatnya mengucap hamdalah.


"Alhamdulillah," gumam Hafiz.


Hafiz bisa bernapas lega saat dirinya melihat mobil kijang innova hitam terparkir di tempat parkir khusus. Dengan langkah setengah berlari, ia pun segera bergegas menuju tempat di mana sang pemilik mobil berada. Disusurinya lorong sembari tetap membopong Zahra hingga akhirnya ia berhenti di depan pintu sebuah ruangan dengan papan nama menggantung di stasnya "RUANG KEP. SEKOLAH".


"Assalamu 'alaikum Abi. Abi maaf bisa tolongin Hafiz, " pekik Hafiz dengan nafas terengah didepan pintu tersebut.


Di dalam ruangan, terdengar derap langkah cepat mengarah menuju pintu. Pak Ridwan sang Kepala Sekolah yang tak lain adalah Abi dari Hafiz melangkah dengan setengah berlari menuju pintu sesaat setelah mendengar suara panik putra bungsunya meminta tolong.


"Wa 'alaikumus sa-lam," jawab Pak Ridwan sembari membuka pintu dengan suara terjeda, kaget melihat sang putra membopong seorang gadis yang tak sadarkan diri.


"Astaghfirullahal 'adzim Hafiz. Kenapa dengan gadis ini, Fiz? cepat segera bawa masuk," perintah Pak Ridwan.


Di dalam Pak Bandi, guru Geografi sekaligus pembina Marching Band tengah duduk di sebuah sofa yang ada di ruangan tersebut. Beliau sontak berdiri kaget melihat kedatangan Hafiz yang membopong Zahra yang tengah pingsan. Beliau pun segera bergeser dari posisinya berdiri agar Hafiz bisa merebahkan Zahra di sofa Panjang.


Dengan hati-hati Hafiz merebahkan tubuh Zahra.


"Kenapa Zahra bisa pingsan gini, Fiz?" tanya Pak Bandi.


"Syok Pak. Tadi hampir saja mau ditabrak motor, beruntung saya masih sempat menarik tubuhnya agar tidak tertabrak," jelas Hafiz.


"Subhanallah, kok bisa sih, Fiz?" Pak Ridwan ikut bertanya hingga Hafiz akhirnya menjelaskan kronologi kejadiannya dari awal hingga berakhir dengan gadis itu tak sadarkan diri.


"Pak Bandi, maaf bisa Bapak panggilkan Pak Arif ke ruangan saya?" pinta Pak Ridwan yang segera di "iyakan" oleh Pak Bandi.


Dengan segera Pak Bandi pun keluar ruangan untuk memanggil Pak Arif si security di pos depan.


"Fiz, kamu bisa kan bantu Abi menghubungi orang tua gadis ini. Abi mau mengecek rekaman cctv-nya."


Hafiz mengangguk seraya mengambil ponselnya.


Hafiz terlihat berkutat dengan ponsel di tangannya. Setelah mendapat nomor orang tua Zahra dari Lintang, ia pun segera menghubungi mereka untuk memberi tahu kondisi Zahra.


Hafiz duduk di sofa pendek yang searah dengan kepala Zahra. Ia melihat gadis itu masih setia memejamkan matanya, dengan wajah sedih. Pak Ridwan, Pak Bandi dan Pak Arif masih sibuk melihat layar komputer yang memperlihatkan rekaman kejadian sekitar 45 menit yang lalu.


Di luar tampak dua orang setengah baya dengan setengah berlari menyusuri lorong menuju tempat di mana putri semata wayangnya berada. Dialah Bagas dan Mia, mereka adalah ayah dan bunda Zahra. Terlihat wajah Bunda Mia yang sudah basah dengan air mata, setengah berlari dengan tangan digenggam erat oleh sang suami yang juga diliputi kekhawatiran akan keadaan putri tersayangnya.


Keduanya terpaku melihat putri mereka yang terbaring tak sadarkan diri, tepat saat kaki mereka melangkah masuk ke ruangan di mana Zahra berada. Bunda Mia pun segera mendekati putrinya, sedang Pak Bagas memilih menghampiri Pak Ridwan yang berjalan kearahnya.


"Ridwan"


"Bagas"


Panggil mereka bersamaan setelah jarak mereka dekat dan saling berhadapan, membuat penghuni lainnya mengarahkan pandangannya ke arah mereka termasuk Hafiz. Namun suara lirih Zahra menghentikan fokus mereka sehingga beralih menatap Zahra yang mulai sadarkan diri.


"Bunda," lirih Zahra memanggil bundanya yang sedari tadi menangis sembari memeluk tubuh sang putri.


"Zahra sayang, alhamdulillah kamu sudah sadar," ucap Bunda Mia disela-sela tangisnya.


Zahra pun bangkit dan memposisikan dirinya duduk di samping sang bunda yang masih memeluknya.


"Bunda kok nangis? Zahra tidak apa-apa kok Bun," tutur Zahra lembut sembari menghapus air mata yang sudah membasahi wajah cantik sang bunda.


"Tidak ada yang terluka kan, Sayang?" Bunda Mia menggerakkan pelan tubuh Zahra untuk mengecek kondisi tubuh sang putri tersayang.


"Alhamdulillah Zahra baik-baik saja kok Bun, tadi ada yang... " kata-katanya terputus seketika kala Ia mengingat Hafiz menyelamatkannya. Ia pun segera mengarahkan kepalanya dan menatap Hafiz.


"Hafiz, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Zahra dengan raut cemas pasalnya saat Hafiz menyelamatkannya, mereka terjatuh dengan Hafiz menahan tubuh Zahra agar tidak terbentur aspal.


Hafiz menunjukan senyumnya tatkala gadis itu menanyakan keadaannya dengan wajah khawatir.


"Alhamdulillah Zah, saya baik-baik saja," jawab Hafiz menenangkan.

__ADS_1


"Saya yang seharusnya khawatir bukannya kamu, Zah," batin Hafiz.


"Terima kasih ya nak Hafiz, sudah menyelamatkan Zahra," ucap Bunda Mia tulus.


"Sama-sama Tante," jawab Hafiz sembari tersenyum.


Drrrttt.. Drrrttt.. Drrrttt...


Ponsel Zahra bergetar menandakan sebuah pesan masuk. Ia pun merogoh kantung seragamnya mengambil benda yang bergetar tersebut. Dilihatnya layar ponsel yang menampilkan pesan dari nomor yang selalu mengirimnya pesan misterius. Dengan helaan napas panjang dan sedikit gemetar, Zahra menekan kata "baca" untuk membuka pesan tersebut.


"Zahra sayang, maaf aku gagal membawamu pergi jauh.. tunggu saja aku akan kembali.


I LOVE YOU SO MUCH, ZAHRA."


Isi pesan itu sontak membuat air mata Zahra mengalir pelan.


"Astaghfirullahal'adzim," gumam Zahra pelan namun masih dapat terdengar.


"Ada apa, Zah?" tanya Hafiz.


Zahra menolehkan kepalanya ke arah laki-laki itu dengan linangan air mata. Ia pun mengulurkan ponselnya pada Hafiz, agar laki-laki itu bisa membacanya sendiri. Guratan penuh tanya pun terpampang jelas di wajah orang-orang yang ada di ruangan tersebut.


Hafiz membaca pesan itu dan pesan-pesan sebelumnya. Wajah seriusnya seketika mulai menampakkan amarah. Ia tak habis pikir bagaimana bisa seorang laki-laki menyebut dirinya mencintai wanita namun tega menyakiti wanita itu. Dia saja yang mencintai Zahra dalam diamnya, jangankan melihat gadis itu tersakiti melihat setetes air matanya jatuh saja dia sudah tidak sanggup, hatinya terasa sakit. Baginya luka maupun sedihnya Zahra adalah lukanya juga.


"Ada apa, Fiz?" tanya Pak Ridwan heran karena melihat amarah melingkupi wajah putranya.


"Sepertinya laki-laki itu memang sengaja berniat mencelakakan Zahra, Abi," jelas Hafiz membuat semua orang dalam ruangan tersebut terkesiap.


Hafiz pun memberikan ponsel Zahra pada Abi nya. Pak Ridwan dan Pak Bagas pun segera membaca pesan-pesan yang sudah terkirim lebih dari lima bulan ini.


"Astaghfirullahal 'adzim.. Pak Bandi, Pak Arif direkaman cctv sudah terlihat belum wajah anak itu atau apapun yang bisa menunjukkan identitasnya? kejadian ini sudah direncanakan, ini kejahatan kriminal dan harus diserahkan ke pihak berwajib untuk menghukumnya," ujar Pak Ridwan dengan wajah tegasnya.


Mendengar kata-kata Pak Ridwan, Bunda Mia pun memeluk erat putrinya.


"Apa kita langsung menghubungi polisi saja, Mas?" tanya Pak Bagas pada Pak Ridwan, yang mengubah panggilannya untuk menghormati posisi sahabatnya tersebut.


"Ya, sepertinya kita memang harus meminta bantuan polisi, Mas Bagas."


"Pak Bandi, kita copy saja rekaman cctv nya ke flasdish sebagai bukti. Dan ponsel ini, saya bawa juga ya nak Zahra untuk memperkuat bukti," ucap Pak Ridwan.


"Rekamannya sudah saya copy pak," ucap Pak Bandi setelah beberapa saat kemudian.


"Ya sudah, kalau begitu mari Pak Bandi dan Mas Bagas ikut saya ke kantor polisi," ajak Pak Ridwan.


"Pak Arif, saya titip sekolah, mohon dijaga takutnya ada hal tak terduga terjadi." tambahnya.


"Injih, Pak. Siap," sahut Pak Arif hormat.


"Bunda tidak apa-apa kan pulang sendiri dengan Zahra? atau ayah perlu telpon Hendra untuk menjemput?" ucap Pak Bagas pada istrinya.


"Sepertinya jangan Mas, berbahaya. Biar Hafiz saja yang mengantar mereka," cegah Pak Ridwan.


"Hafiz, kamu bawa mobil Abi saja untuk mengantar nanti motor kamu biar Abi yang bawa pulang," titah Pak Ridwan memberikan kunci mobilnya, Hafiz yang menerima pun balik memberikan kunci motornya.


"Memang Hafiz bisa bawa mobil?" tanya Pak Bagas sedikit ragu.


"Mas Bagas tidak usah khawatir, Hafiz anak saya sudah mahir bawa mobil," jelas Pak Ridwan meyakinkan diikuti senyuman Hafiz.


Mereka semua pun segera melangkah keluar ruangan. Pak Ridwan, Pak Bagas dan Pak Bandi masuk ke mobil Pajero sport hitam milik Pak Bagas menuju kantor polisi. Sedang Hafiz, Zahra dan Bunda Mia masuk ke mobil kijang innova milik Pak Ridwan.


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


JANGAN LUPA TEKAN LIKE, KOMEN DAN VOOTTTEEE SETELAH MEMBACA. WAJIB YA HE.. HE.. HE✌✌😁😁

__ADS_1


__ADS_2