
Bunyi bel mulai terdengar ke setiap sudut sekolah sebagai tanda istirahat pertama telah berakhir. Semua anak tampak bergegas masuk ke kelas masing-masing, tak terkecuali murid dari kelas X.1. Mereka terlihat berkumpul di depan Lab. Seni. Ya, hari ini anak-anak akan menampilkan bakat mereka yang berkaitan dengan seni musik.
Setelah pintu Lab. Seni terbuka, anak-anak langsung bergegas masuk dan duduk di kursi pilihan mereka masing-masing. Tidak seperti di kelas di mana satu meja ditempati dua anak, di Lab. Seni menggunakan kursi lipat yang sudah menyatu dengan meja. Kursi-kursi itupun dibuat berjajar rapi layaknya ruang perkuliahan. Dinding-dinding yang dipenuhi hasil karya anak-anak ini pun membuat ruang seni tampak hidup. Di bagian belakang terdapat lemari panjang bercat putih dan tampak seperti lemari loker, di setiap loker itu tertempel jelas sebuah tulisan yang menandakan isi loker tersebut, bisa dibilang isinya alat-alat untuk seni rupa. Dan untuk bagian depan tampak seperti sebuah panggung, panggung yang cukup besar yang biasanya digunakan untuk seni peran maupun seni musik. Di sisi kiri panggung, terdapat sebuah piano besar berwarna putih, selain itu pula terdapat beberapa alat musik yang tertata rapi di sebelahnya. Dan untuk meja plus kursi guru ada di bawah panggung pojok kanan berhadapan langsung dengan kursi lipat yang digunakan murid-murid.
Hafiz duduk di kursi paling pojok, di sisi kiri bagian depan dengan Gilang dan Kemal di sampingnya. Sedang Zahra yang entah menyadari atau tidak keberadaan Hafiz, ia duduk tepat di belakang Hafiz dengan Lintang, Prisil dan Bela di samping kanannya. Setelah semua anak nampak duduk di kursi masing-masing, Bu Monic selaku guru kesenian pun mengawali kelas.
Tiba giliran Zahra dan Lintang yang maju setelah beberapa penampilan dari teman-temannya. Tugas ini terdiri dari dua anak, satu menyanyi dan satunya memainkan alat musik. Dari beberapa penampilan sebelumnya yang rata-rata anak-anak menggunakan gitar sebagai pengiringnya, Zahra justru memilih piano untuk mengiringi suara Lintang karena ia memang tidak bisa memainkan gitar.
Zahra dan Lintang pun naik ke atas panggung. Lintang sudah berdiri siap dengan mikrofon yang menempel pada tiangnya. Zahra berjalan menuju piano yang ada di pojok kiri panggung. Keberadaan piano ini tampak seperti ada di depan Hafiz hanya saja piano itu berada di atas panggung sedang Hafiz ada di bawahnya. Dan posisi Hafiz inilah yang membuat siapapun yang duduk di sana bisa dengan jelas melihat sang pianis beraksi dengan papan tuts nya apalagi posisi piano yang sedikit miring ke arah penonton.
Sebelum Zahra duduk di kursi pianis, Zahra sempat terpaku melihat piano di hadapannya. Ingatannya jelas menuju masa lalu yang dulu pernah membuatnya bahagia sekaligus terluka. Masa di mana Andrie yang sabar dan telaten mengajari Zahra memainkan alat musik tersebut hingga membuat Zahra mahir memainkannya seperti sekarang.
__ADS_1
Andrie..
Seorang anak laki-laki yang sudah menemani Zahra selama 12 tahun.
Andrie adalah anak dari sahabat dekat kedua orang tuanya. Dan sejak lahir, dia sudah dijodohkan dengan Zahra oleh kedua orang tua mereka. Namun entah ini adalah permainan takdir dari Sang Khaliq atau bagaimana, yang jelas tiga tahun yang lalu, kedua orang tua Andrie secara sepihak memutuskan perjodohan anaknya dengan Zahra. Saat itu yang Zahra ingat adalah saat di mana ia tidak sengaja mendengar perbincangan kedua orang tua Andrie dan kedua orang tuanya. Mereka memutuskan perjodohan Andrie dan Zahra dengan alasan kepindahan mereka ke Singapore sekaligus untuk mengoperasi Andrie yang saat itu memang menderita sakit jantung bawaan.
Alasan mereka memang bisa dibenarkan mengingat prosentase keberhasilan operasi yang kecil, mereka khawatir jika operasinya gagal dan membuat andrie kehilangan nyawanya secara otomatis status Zahra akan menggantung, namun meskipun prosentase keberhasilannya kecil, Tante Anne dan Oom Firman tetap ingin berusaha dan berjuang untuk hidup Andrie. Mereka selalu berharap Allah memberikan mukjizatnya dengan memberikan keberhasilan dalam operasinya sehingga Andrie bisa hidup lebih lama dan normal seperti anak-anak lain.
Selain karena hubungan dekat kedua orang tuanya, rumah mereka juga berdampingan sehingga ke manapun atau apapun yang dilakukan, mereka selalu bersama. Zahra sudah menganggap Andrie seperti sahabatnya, kakaknya dan bagian terpenting dalam hidupnya. Sejak awal Zahra memang mengetahui tentang penyakit Andrie namun ia tidak pernah mempermasalahkannya. Namun semua berubah saat Andrie menjaga jarak dengannya dan bersikap kasar padanya bahkan pergi tanpa sepatah katapun pada Zahra, saat itulah hati Zahra terluka. Hatinya sangat sakit, orang yang paling penting dalam hidupnya bersikap seolah dirinya tak penting dan tak berarti sama sekali. Luka yang teramat sakit itu bahkan membuatnya tak mampu mengeluarkan air matanya namun membuat psikisnya down.
Kepergiaan Andrie membuat Zahra berubah menjadi sosok yang pendiam dan dingin, ia berpikir bahwa Andrie saja yang hadir dalam hidupnya selama 12 tahun sanggup berbuat seperti itu apalagi orang lain. Zahra tidak ingin hatinya terluka lagi oleh sebab itu ia menutup hatinya rapat-rapat.
__ADS_1
Melihat kondisi Zahra yang mulai memprihatinkan juga peristiwa besar yang sempat terjadi sebelum kepergian Andrie, membuat orang tuanya memilih pindah ke Semarang, tempat kelahiran sang ayah, Pak Bagas. Berkali-kali Zahra dibawa ke psikiater guna menyembuhkan mental serta mengembalikan senyum ceria sang anak yang hilang begitu saja namun semuanya berakhir gagal. Gadis itu selalu bungkam, tidak pernah mau membuka hatinya atau sekadar bercerita pada seseorang tentang sakit hati yang ia alami. Ia begitu rapat menutup lukanya tanpa seorang pun tahu bagaimana sakitnya.
Sampai pada akhirnya Zahra bertemu dengan dokter Husna, Psikiater muda yang mampu membuka hati Zahra sedikit demi sedikit. Pada Husna lah Zahra mulai menceritakan beban di hati dan pikirannya. Sikap lembut dari dokter Husna mampu membuat Zahra berubah perlahan. Walaupun keceriaan Zahra masih belum kembali sepenuhnya namun dari hubungannya dengan dokter Husna membuatnya perlahan menjadi seorang muslimah yang mengerti agama. Semua itu bisa terlihat dari cara Zahra berpenampilan.
Gadis pendiam dan dingin itu menutup tubuhnya dengan balutan syar'i yang membuatnya tampak anggun dan dewasa. Belum lagi sikapnya dalam menjaga diri. Ia begitu menjaga batasannya dengan kaum adam. Dari sosok pendiam dan dinginnya seorang Zahra, di dalam dirinya juga tersimpan jiwa yang lemah lembut dan penyayang terhadap sesama yang tidak orang lain ketahui.
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
MAAF YA READERS UNTUK BAB INI TIDAK ADA PERCAKAPANNYA SOALNYA LAGI MENGULAS PENYEBAB SIKAP ZAHRA YANG PENDIAM DAN DINGIN...🙏🙏🙏
OKE JANGAN LUPA SEPERTI BIASA AUTHORNYA NGINGETIN BUAT LIKEEEE, FOLOOWWWWW, KOMEEENNNNNNN DAN FAVORITE-IN NI NOVEL SEBAGAI BENTUK APRESIASI SAMA AUTHOR YANG UDAH BERANI BERKARYA😊😊🤗🤗
__ADS_1