Assalamu'Alaikum, Ya Habibi Qolbi (REVISI)

Assalamu'Alaikum, Ya Habibi Qolbi (REVISI)
BERJARAK


__ADS_3

"Caraku mencintaimu sangatlah sederhana, cukup dengan membuatmu tersenyum bahagia meski kutahu mungkin bahagiamu bukanlah karena diriku.


Karena sejatinya bahagiamu adalah bahagiaku, dan begitupun sebaliknya..


sakitmu adalah sakitku.


Ingin sekali aku berharap lebih padamu tapi apa daya, harapku kepadamu justru membuatmu semakin jauh dariku.


Hadirmu di hatiku sudah cukup membuat ku bahagia meski dirimu mungkin hanyalah sebatas tamu yang singgah sesaat sampai penghuni hati sesungguhnya datang.


Cukuplah dengan selalu menyematkan namamu disetiap do'aku agar Allah tahu betapa aku mencintaimu..


Dan biarlah saat ini aku yang mencintaimu sendiri dalam diamku, selebihnya biarlah Allah yang berhak memutuskan bagaimana akhir dari kisah kita..


Meski aku selalu berharap namamu lah yang Allah tulis sebagai takdirku di Lauhul Mahfudz-Nya."


*Al Hafizy Tsaqib Putra


* * * * *


"Jika hadirku didekatmu hanya akan membuatmu terluka, maka biarkanlah aku yang terluka karena adanya jarak di antara kita.


Bagiku, dengan menjaga hatimu agar tidak terluka adalah salah satu cara diriku mencintaimu, sederhana bukan..


Bukan aku tak ingin berharap padamu tapi aku tahu betul bagaimana sakitnya ketika aku berharap selain pada-Nya..


Cukuplah dengan selalu menyematkan namamu disetiap do'aku agar Allah tahu betapa aku mencintaimu.


Dan biarlah Allah yang menentukan bagaimana kisah kita selanjutnya, meski aku selalu berharap namamu lah yang Allah tulis sebagai takdirku di Lauhul Mahfudz-Nya."


* Azqiya Hayfa Azzahra


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Tubuh Zahra luruh di lantai dengan tubuh bersandar di balik pintu kamar, tangan kanannya tidak berhenti menekan dadanya seiring dengan air mata yang terus mengalir membanjiri wajah cantiknya.

__ADS_1


Terasa sakit hatinya menerima kenyataan ini tapi apa daya ia tak mampu menolak. Karena kebahagiaan kedua orang tuanya adalah yang utama baginya. Mungkin ada benarnya juga bahwa laki-laki ini sengaja Allah kirim untuk melengkapi hidupnya, tapi kenapa terasa sakit, sakit sampai ia tak mampu berkata-kata.


Luka yang ditorehkan oleh pilihan orang tuanya dulu saja masih terasa hingga sekarang, bagaimana jika ia harus kembali terluka sebab pilihan kedua orang tuanya untuk yang kedua kalinya?


"Astaghfirullahal 'adzim.. ampuni Zahra, Ya Allah.. karena Zahra belum ikhlas menerima takdir yang Kau tulis untukku.


Ya Allah, tidak adakah hak bagiku untuk memilih dengan siapa aku ingin menghabiskan sisa hidupku.


Jika ini pilihan-Mu dan takdirku, maka ciptakanlah cinta di hati ini untuk imamku kelak, dan jauhkan aku darinya.. dari seseorang yang saat ini menguasai hati dan cintaku."


Zahra bangkit dari duduknya dan segera mengambil air wudhu karena adzan maghrib telah terdengar berkumandang.


Dengan hati yang berkecambuk, ia bersimpuh di atas sajadah seusai sholat maghrib. Air mata yang sejatinya tidak ingin ia jatuhkan setelah sholatnya usai pun kembali membludak tatkala lantunan ayat demi ayat dari suara yang ia kenal memenuhi indra pendengarannya terdengar jelas keluar dari benda pipih di atas nakas.


Ia memang sengaja menjadikan lantunan itu menjadi alarm yang ia pasang di antara sholat maghrib dan sholat isya'nya. Entahlah, terasa sejuk mendengar lantunan itu kala menyelesaikan sholat maghribnya dan menunggu waktu isya'nya tiba, namun tidak dengan saat ini. Saat ini hatinya semakin terasa sakit.


"Apa kali ini aku juga telah berharap pada seseorang untuk kedua kalinya? Inikah balasan yang Allah timpakan padaku karena aku kembali berpaling dari cinta-Nya.


Ampuni aku, Ya Allah.. sakit.. sakit sekali rasanya,Ya Allah."


* * * * *


Zahra tidak tahu sejauh ini bagaimana perasaan Hafiz padanya tapi sedini mungkin ia harus menghalau perasaan yang bisa saja tumbuh di hati laki-laki itu kapan saja sebab kedekatan keduanya. Dan dia juga sadar betul bahwa seorang perempuan yang sudah dikhitbah dan menerima pinangannya maka ia harus menjaga jarak dengan lelaki mana pun, ia harus menghormati dan menghargai perasaan laki-laki yang akan menghalalkannya itu. Biarlah dia yang terluka sendiri, karena mungkin dengan cara inilah tidak ada hati yang terluka karenanya.


Pagi ini Zahra meminta Lintang menjemputnya meskipun mereka harus berangkat ke sekolah menggunakan taxi online karena Oom Hendra juga sama sibuknya mempersiapkan berkas-berkas bisnis untuk persiapan kepindahan bosnya ke Jepang.


Tidak ada percakapan yang keluar dari mulut Zahra maupun Lintang selama perjalanan mereka ke sekolah. Lintang sengaja memberi waktu kepada Zahra untuk bergelut dengan pemikirannya sendiri karena ia tahu betul bagaimana sahabatnya ini jika moodnya sedang buruk, Zahra hanya butuh seseorang di sampingnya saja.


* * * * *


Bel tanda istirahat pun berbunyi, beberapa anak berhamburan keluar kelas. Zahra merapikan tumpukan buku tugas Bahasa Inggris milik teman-temannya yang harus ia bawa ke ruang guru. Sebagai sekretaris kelas, itu memang sudah menjadi bagian tugasnya.


"Aku bantu bawakan ya, Zah."


Suara seseorang yang sangat ia hafal betul tanpa harus menengok ke arahnya.

__ADS_1


"Terima kasih, tapi tidak usah. Aku bisa bawa sendiri," jawab Zahra dengan nada sopan sembari menunduk dan segera beranjak meninggalkan laki-laki itu.


"Maafkan aku.. mungkin dengan jarak di antara kita sekarang ini mampu menghalau luka yang kelak mungkin kamu rasakan. Aku tidak ingin kamu terluka lebih dalam, Hafiz. Karena fakta bahwa aku sebentar lagi menjadi milik orang lain," batin Zahra semakin jauh meninggalkan laki-laki yang masih terdiam menatap punggungnya.


"Apa kamu mencoba mengukir jarak di antara kita, Zah. Karena fakta bahwa hati kamu sudah terisi oleh laki-laki lain. Dan seakan sadar dengan kedekatan kita, kamu segera mengambil jarak karena kamu tidak ingin aku masuk lebih dalam ke hati kamu. Iya kan, Zah? Aku hanya ingin kamu tersenyum bahagia meskipun aku tidak ada artinya sekalipun di samping kamu. Tapi aku mohon, jangan dorong aku lebih jauh dari kamu. Biarkan aku didekatmu untuk memastikan bahwa kamu bahagia meskipun bahagiamu bukan karena kehadiranku," batin Hafiz sembari menatap punggung gadis yang sudah semakin jauh.


"Woy, kenapa Fiz? kok malah bengong disini," tanya Gilang yang melihat Hafiz diam mematung.


"Tidak apa-apa, Lang,"


Hafiz mencoba menghindar dan hendak melangkahkan kakinya meninggalkan Gilang namun dengan sigap Gilang menahannya.


"Lagi marahan sama Zahra?" tebak Gilang.


Hafiz mengembuskan napasnya dalam sembari menggeleng.


"Fiz, jangan terlalu terbawa perasaan dengan apa yang terjadi di antara kalian berdua. Ingat, kan kamu sendiri yang mengatakan bahwa kamu akan menyerahkan semua urusan ini pada Alla, jadi biarlah Allah yang mengatur semuanya. Kalau memang jodoh tidak akan kemana, kalian pasti akan disatukan dalam ikatan yang halal.


Ayolah, mana Hafiz yang kukenal dulu. Yang selalu berpikir dewasa dan penuh dengan kata-kata bijak yang menyejukkan dan menenangkan. Kalau kayak gini mah kamu tidak beda dengan bucin," ucap Gilang sedikit bercanda.


"Kamu tu yang bucin. Tidak lihat Sisil sehari saja gila kamu langsung kumat."


"Ha.. ha... ha... bisa saja kamu mengalihkan pembicaraan."


"Tapi gimana menurut kamu, kalau suatu hari nanti Allah mempersatukan aku dengan dia tapi hatinya bukan untukku?"


"Sabar, Fiz. Berarti itu ujian untuk kamu. Tapi satu hal yang perlu kamu ingat, Allah maha membolakbalikkan hati manusia, jadi berdoalah pada sang pemilik hati agar hatinya jatuh padamu."


"Astaghfirullahal'adzim.." Hafiz mengusap wajahnya, merasa telah diingatkan.


"Kamu benar, Lang. Terima kasih ya, tidak menyangka kamu bisa ngomong sebijak ini."


"Eits.. jangan salah. Ini nih hasil dari 3 tahun berguru sama ustad Al Hafiz. Ha.. ha.. ha..."


Hafiz ikut tertawa sembari memukul pelan bahu Gilang.

__ADS_1


"Sudah, sudah.. ayo ke masjid," ajak Hafiz sembari melangkah lebih dulu.


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2