Assassin X Family

Assassin X Family
Malam itu


__ADS_3

Di sebuah ruangan, duduk seorang pria sambil menatap sebuah foto wanita. Sorot matanya tajam, namun sedikit menampakan kesedihan di dalamnya. Dalam lamunan, ingatan kala itu pun kembali muncul di kepalanya.


"Tidak, El," tolak wanita di hadapannya. El yang mendengar hal itu tertegun dan tak bisa berkata-kata. Ia tidak percaya bahwa kekasihnya telah menolak lamarannya.


Ia mengulurkan tangannya, menyentuh kotak cincin yang digenggam El lalu menutupnya rapat.


"Aku ... masih ada impian yang harus aku gapai," jelas wanita itu sambil menundukkan kepala. Ia bahkan tak berani menatap mata pria di hadapannya.


El sedikit kecewa mendengar keputusan kekasihnya. Ia yang tengah berlutut di hadapannya kemudian bertanya, "Ireena, apa impianmu lebih penting dari pada aku?"


"Benar." Tanpa ragu, Ireena menjawab demikian dan itu membuat El sangat kecewa.


Perlahan, El beranjak dari posisinya. Tanpa mengatakan sepatah katapun. Tak berselang lama setelah itu, Ireena membalikkan tubuhnya membelakangi El.


"Maaf." Hanya kata itu yang ia ucapkan, sebelum akhirnya pergi meninggalkan El.


Kekecewaan yang teramat dalam membawa El pergi ke sebuah Bar ternama di kota. Dia melampiaskan amarahnya dengan beberapa gelas minuman yang hampir membuatnya tak sadarkan diri.


"Ambilkan beberapa botol minuman!" teriaknya. Saat pelayan pergi untuk mengambil botol selanjutnya, sebuah panggilan masuk ke ponsel El. Ia pun menerimanya.


"Tuan, beritahu dimana Anda berada sekarang, aku akan datang menjemput," kata orang dalam panggilan.


"Yona ... pesankan sebuah hotel untukku!" perintahnya.


"Tapi tuan---"


"Jangan banyak bicara lagi!"


"B-baik, tuan---"


El langsung mengakhiri panggilan. Ia mengangkat gelas di tangannya namun tak setetes pun air menetes ke lidahnya. Itu membuatnya marah lalu meletakkan gelas dengan sangat keras ke permukaan meja. Ia pun beranjak dari tempat duduknya kemudian pergi.


Di koridor hotel, El berjalan dengan sempoyongan. Tak bisa berdiri dengan benar dan harus berpegangan ke dinding untuk sampai di kamar yang sudah dipesankan oleh Asistennya.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu, suatu perasaan aneh mulai menjalar di sekujur tubuhnya. Napasnya menggebu hebat. Menggerogoti kesadarannya secara perlahan-lahan. "Sssh!" desahnya dengan wajah memerah.


Ia menengadahkan kepalanya. Dengan penglihatan yang mulai buram ia melihat pintu kamar sudah di depan mata, ia pun mempercepat langkah kakinya.


Sementara itu, beberapa saat yang lalu, di salah satu kamar. Seorang pria paruh baya tak sadarkan diri dengan busa di mulutnya. Di depannya, berdiri seorang wanita bergaun hitam menyaksikan hal itu dengan sangat tenang.


Wanita itu kemudian membuang sebuah botol ke dalam tong sampah, lalu membalikkan badannya dan berkata, "sudah selesai." Sambil melepas sarung tangan.


"Heh!" Dari arah belakang, ia mendengar sebuah tawa yang membuatnya terkejut. "Apa kau yakin?" tanyanya kemudian.


Wanita itu dengan sigap membalikkan badannya. Ia amat terkejut melihat pria paruh baya dalam keadaan baik-baik saja. Pria itu bahkan dengan tenang menyeka busa di mulutnya sambil sesekali mengerutkan wajahnya.


"Dia menipuku!" batin si wanita sambil melangkah mundur.


"Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu. Hanya saja ... aku ingin memberi hadiah kecil kepada temanku. Yah ... hanya sebuah video pendek saja." Pria itu mengangkat kepalanya, menatap wanita di hadapannya dengan sebuah senyum menjijikan.


Ia tak mengerti maksud perkataan pria di hadapannya. Namun, tak berselang lama ia merasakan sesuatu yang tidak beres dengan tubuhnya. Itu kian menjalar dan perlahan merenggut kesadarannya.


"Oh, obatnya sudah bekerja."


Wanita itu berlari menuju pintu, meski beberapa pria menghadangnya ia mampu melewatinya dengan sangat mudah. Pria itu melihat dengan jelas, sebuah tato di paha wanita itu.


"Tidak salah lagi, dia adalah Black Rose!" batinnya sambil tersenyum lebar.


Saat melihatnya berhasil melarikan diri, dia memberikan perintah. "Tangkap gadis itu hidup-hidup. Jangan biarkan dia lolos!" katanya. Para bawahan pun lekas mengejarnya.


Ia berlari begitu cepat menyusuri koridor hotel. Namun, semakin lama semakin lemah langkahnya bersamaan dengan perasaan yang kian menjalar. Hampir membuatnya gila.


"Sial! Aku ceroboh!" umpat wanita itu dengan napas menggebu-gebu.


Di belakangnya, terdengar suara derap langkah kaki kian menyusul. Ia yang sempat terdiam kemudian melepaskan alas kakinya lalu kembali melanjutkan langkah.


"Jangan biarkan wanita itu pergi!" teriak seseorang yang membuat si wanita semakin mempercepat langkah kakinya.

__ADS_1


Pada langkah selanjutnya, dia dikejutkan oleh salah satu pintu kamar yang terbuka. Tak hanya sampai di situ, sebuah tangan tiba-tiba saja menariknya masuk.


Di dalam, dia berdiri membelakangi pintu dengan napas terengah-engah. Ia mendengar dengan jelas suara langkah kaki di luar semakin menjauh, hal itu membuatnya merasa lega.


Tak lama, sebuah angin hangat menyapu permukaan wajahnya. Saat menengadah, dia mendapati seorang pria tampan berdiri di hadapannya dengan napas tersengal-sengal. Tatapannya sayu dengan wajah sedikit memerah.


Di sisi lain, hal yang sama juga terjadi padanya. Itu membuatnya tak berkutik saat si pria meraih dagunya dan mulai menciumnya dengan penuh semangat. Malam penuh gairah pun tak bisa terelakan.


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan pintu membubarkan lamunan El. Ia meletakkan foto di tangannya dengan posisi telungkup lalu berkata, "masuk!"


Masuklah seorang pria berpakaian rapi dengan kacamata bertengger di hidung mancungnya. Ia lantas berjalan mendekat sambil berkata, "berkas yang Tuan minta---"


Akan tetapi, bunyi ponsel yang berdering menghentikan ucapannya. El mengambil ponsel di atas meja. Saat melihat nama yang tertera di layar, raut wajahnya berubah seketika.


"Ibu?" batinnya.


Alih-alih menerima panggilan, El malah menolak panggilan tersebut dan langsung meletakkan kembali ponselnya ke atas meja.


"Tuan, Nyonya ...." Pria kacamata menghentikan ucapannya.


"Tidak apa-apa. Lanjutkan ucapanmu tadi, Asisten Yona," ucap El sambil menatap lurus ke arah jendela gedung.


Asisten Yona menganggukkan kepalanya lalu berkata, "aku membawa dokumen yang Anda minta, Tuan. Kemudian, beberapa pemegang saham sudah datang. Mereka menunggu kedatangan Anda di ruang rapat."


Mendengar perkataan Asistennya, El beranjak dari tempat duduknya. Ia berjalan dan mengambil dokumen dari tangan Asistennya tersebut. Namun, beberapa langkah sebelum menyentuh pintu, El menghentikan langkah kakinya.


"Apa kau sudah melakukan apa yang aku perintahkan, tadi pagi?" tanyanya sambil sedikit menoleh.


Asisten membalikkan tubuhnya lalu menjawab, "sudah, Tuan. 100 juta, seperti yang Tuan katakan."


El tak mengatakan apapun lagi, hanya menganggukkan kepala kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut, diikuti oleh Asistennya.

__ADS_1


Sementara itu, di pagi yang sama, di sebuah kamar hotel.


Seorang wanita berdiri di depan nakas. Ia melihat secarik kertas. Sebuah cek dengan nilai 100 juta ia ambil, sedetik kemudian ia menyobeknya menjadi beberapa bagian kecil lalu menghamburkannya ke sembarang arah. Setelah itu, ia pergi meninggalkan kamar tersebut.


__ADS_2