Assassin X Family

Assassin X Family
Kambing hitam


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Rose melamar pekerjaan di perusahaan Andrean dan mendapatkan posisi sebagai sekretaris Presdir.


Pagi itu, di ruangan Presdir.


Rose duduk di depan komputer dengan beberapa berkas menumpuk di atas meja. Alih-alih mengarahkan pandangan serta fokusnya pada pekerjaan, Rose malah mencuri pandang pada seorang pria tampan yang duduk di kursi kebesarannya--Presdir.


"Jadi ... dia pemilik kunci brangkas itu?" gumamnya dalam hati. Ia memasang wajah datar dengan beragam ide mengenai langkah yang akan dia ambil selanjutnya, bermunculan di kepalanya.


"Kata paman, ini misi yang ringan karena tidak perlu sampai membunuh. Tapi bagiku, ini sangat sulit. Bagaimana mungkin seorang Assassin tidak membunuh targetnya?" Ia kembali bergumam dalam hati.


Tak lama, ia menurunkan pandangannya sambil menaikkan kacamata.


"Di samping itu, hari ini adalah hari dimana Damian pertama kali masuk sekolah. Namun karena misi ini, aku tidak bisa menemaninya. Sayang sekali." Rose menghela napas kasar.


"Apa Damian betah di sekolah barunya? Apa dia bisa berteman dengan anak sebayanya dengan baik?" Beberapa pertanyaan terus berlanjut dan memenuhi ruang kepalanya.


"Roselina!"


Rose terkejut saat tiba-tiba pria di hadapannya memanggil nama lengkapnya. Sebagai respon, ia segera berdiri dan menjawab, "ya, Tuan?" Sebisa mungkin bersikap profesional.


Mendengar jawaban Rose, pria itu menghela napas kasar sambil menyentuhkan tangan ke kening serta raut wajah yang tidak bisa digambarkan melalui kata-kata.


"Ambilkan berkas yang Yona berikan tadi pagi!" perintahnya.


Rose mengangguk lantas mematuhi perintahnya. Mengambil berkas dengan map berwarna biru kemudian membawanya ke hadapan sang Presdir bernama Light Andrean tersebut.


Namun, tak lama setelah Rose memberikan berkas tersebut, di luar, terdengar suara gaduh yang sangat mengganggu. Keduanya saling menatap, lalu menatap heran ke arah pintu secara bersamaan.


"Apa yang terjadi di luar? Berisik sekali!" omel Light dengan sikap dingin.


Rose berinisiatif sambil berkata, "saya akan memeriksanya." Ia membalikkan tubuhnya dan mulai berjalan ke arah pintu. Ia pun sama penasaran terhadap sesuatu yang telah menganggu gendang telinganya tersebut.


Tak terasa, langkah kaki tiba di depan pintu. Rose mengangkat tangannya perlahan. Namun sebelum itu terjadi, pintu terbuka secara tiba-tiba dan sangat keras sampai menghantam wajah Rose.

__ADS_1


Selang beberapa detik, masuk seorang wanita paruh baya dengan beberapa gadis cantik membuntutinya.


"El!" serunya dengan nada lantang.


Light, atau biasa dipanggil El, melirik dingin ke arah wanita tersebut dengan sikap acuh tak acuh.


"El!" seru perempuan itu lagi.


El akhirnya meletakkan berkas di tangannya kemudian perlahan beranjak dari tempat duduk. "Apa yang Ibu lakukan di kantorku sepagi ini?" tanya El kemudian.


Ibu menuntun langkah menghampiri El sembari memasang wajah khawatir. Ia juga menjawab, "beberapa hari terakhir, El tidak menerima panggilan dari Ibu. Apa El masih marah?" Diakhiri sebuah pertanyaan.


Terdengar El menghela napas berat sambil memejamkan matanya perlahan.


"Banyak pekerjaan yang harus El kerjakan. Jadi, tidak sempat menerima panggilan dari Ibu. El minta maaf," katanya. Beralasan.


Ibu langsung percaya begitu saja dengan alasan yang diucapkan puteranya. Sedetik kemudian raut wajahnya berubah.


"Oh, iya, El. Bagaimana dengan beberapa wanit---"


Sepasang mata ibu langsung meruncing. "Kenapa, El? Beberapa wanita yang Ibu bawa, kau selalu menolaknya! El, ibu ingin kau segera menikah! Ibu ... Ibu tidak terima orang-orang berkata yang tidak-tidak tentang putera ibu!" tegasnya.


"Kita hanya tidak perlu mendengarkannya!"


Mendengar hal itu, ibu semakin geram. "Ibu tidak mau tahu, El. Sekarang juga, pilih salah satu dari mereka dan menikahlah!" Ibu bersikeras.


Ia menunjuk deretan wanita cantik yang dibawanya barusan. Tubuhnya ramping, kulit seputih susu serta wajah yang tak kalah cantik. Namun tak satupun dari mereka membuat El tertarik.


El memutar isi kepalanya agar bisa menghindar dari masalah tersebut. Tak sengaja, pandangannya tertuju pada Rose yang berdiri di sudut ruangan dengan luka di kening serta kacamata retak akibat tertabrak pintu tadi.


Sebuah ide seakan muncul di kepala El. Ia mengambil keputusan, dan dengan percaya diri berkata, "sebenarnya, El sudah punya pacar."


Beberapa pasang mata langsung membulat sempurna setelah mendengar pengakuan El tersebut. Seakan tak percaya.

__ADS_1


Ibu mengerutkan dahinya. "Apa El sedang berbohong?" Ia curiga.


Mendengar hal itu El tertawa kecil. "Kenapa El harus bohong," katanya. El membalikkan tubuhnya. "Jadi, ibu bisa membawa wanita-wanita ini pergi sekarang. Bau parfum mereka sangat menyengat, aku tidak suka."


Namun, semua tak seperti yang ia harapkan. Ibu masih saja berdiri, menatapnya dengan penuh keraguan. "El pikir ibu percaya?" tanyanya menunjukkan keraguannya.


Sekali lagi, El menghela napas kasar. Tanpa membalikkan tubuhnya, ia berkata, "kekasih El ... adalah wanita yang ibu lukai saat menerobos masuk ke ruangan ini beberapa saat yang lalu."


Mereka kembali terkejut. Ibu menjadi orang pertama yang menoleh setelah menyadari ucapan El, diikuti oleh beberapa wanita lain. Tatapannya tertuju pada satu orang, yakni Rose.


Rose yang dijadikan kambing hitam hanya bisa tertegun dengan wajah bengong. "A-apa?"


Pernyataan El memberi sebuah guncangan di hati Rose. Sekujur tubuhnya perlahan melemah, sampai akhirnya ia tak sadarkan diri.


Sementara itu, Five--bawahan paman Will memberi kabar bahwasannya Rose sudah berhasil mendekati pengusaha muda tersebut. Yang artinya, misi untuk mencuri kunci brangkas sudah berjalan satu langkah ke depan.


Paman Will merasa senang mendengar kabar baik tersebut. Ia yang tengah asyik menghisap rokok kemudian berkata, "itu bagus. Terus awasi dia, five. Misi ini memiliki resiko yang lumayan tinggi, aku khawatir sesuatu terjadi padanya."


Five meluruskan pandangannya. "Seharusnya Paman tidak terlalu mengkhawatirkannya sedangkan Anda tahu siapa dia sebenarnya," kata Five.


Paman terkekeh lucu. "Kau benar. Mungkin aku terlalu mengkhawatirkan yang tidak perlu," ujar paman.


"Satu hal lagi ...." Paman menghentikan ucapannya sebentar, diselingi hembusan asap rokok ke udara yang langsung memenuhi semua sudut ruangan.


"... Aku ingin kau mencari tahu tentang puteranya. Tidak perlu terburu-buru dan jangan terlalu terang-terangan. Ia telah menyerahkan pengasuhan puteranya pada Mery yang memiliki insting tinggi."


"Mery?"


"Twelve." Paman menyebutkan kode identitas Mery. Identitas dengan kode tersebut, sebenarnya sudah dua tahun yang lalu mengundurkan diri.


Five membalas dengan anggukkan kepala. Tak berapa lama, ia mengingat sesuatu dan langsung menyampaikannya.


"Tuan, aku mendapat sebuah kabar bahwa ... Nine akan kembali dalam beberapa hari ke depan."

__ADS_1


Paman menyipitkan matanya lalu menoleh. "Nine?" tanyanya. Lagi-lagi, Five hanya membalas dengan anggukkan kepala. Dan itu mengakhiri pembicaraan mereka. Sampai akhirnya Five pergi meninggalkan ruangan.


Sambil menatap ke arah jendela, paman tersenyum sinis. "Nine, kah?" Ia memadamkan rokok di tangannya, lalu kembali berkata, "ia bisa mengacaukan misi Rose. Ini tidak bisa dibiarkan!" Ia beranjak dan pergi.


__ADS_2