
Dua bulan kemudian.
Seorang wanita berambut pirang pendek sebahu duduk di salah satu meja cafe. Dibalik kacamata hitamnya, ia terus menuntun pandangan ke sana kemari seperti sedang mencari sesuatu.
"Dia datang," ucap seseorang melalui earphone yang terpasang. Sontak, sorot mata Rose tertuju pada pintu masuk.
Di sana, berdiri seorang wanita dengan pakaian formal lengkap. Di tangannya di pegang sebuah berkas yang mana menjadi tujuan Rose pada misi kali ini.
Rose melirik ke salah satu wanita yang memakai seragam sekolah di seberang tempat duduknya. Setelah mendapatkan aba-aba, ia pun beranjak.
Wanita dengan seragam sekolah tersebut berjalan menghampiri wanita pemegang berkas, sementara itu Rose membuntutinya dari belakang.
Pada suatu kesempatan, ia dengan sengaja menabrak wanita pemegang berkas sampai apa yang dibawanya tersebut terjatuh ke lantai.
"Apa kau buta?" berang wanita itu.
"M-maaf. Saya tidak sengaja, Nona," balas wanita berseragam.
Di saat wanita berseragam sibuk mengalihkan perhatian banyak orang, termasuk si wanita pemegang berkas. Lalu Rose diam-diam menukar berkas dokumen milik wanita itu dengan miliknya tanpa sepengetahuan siapapun. Setelah itu, dia pergi meninggalkan tempat tersebut.
Beberapa saat kemudian, di sebuah gang sempit.
Si wanita berseragam akhirnya datang dengan napas terengah-engah. "Hampir saja. Wanita itu sangat sulit ditangani!" keluhnya sambil menyandarkan punggung ke dinding.
"Kerja bagus, Mery," puji Rose sambil menyerahkan berkas itu pada Mery.
Mery tersenyum mendengar pujiannya. Seraya menerima berkas, ia berkata, "ini tidak akan terjadi tanpa bantuan Kak Rose. Terima kasih, dan maaf karena sudah merepotkanmu."
"Tidak masalah," balas Rose. Setelah memberikan berkas, ia berniat pergi. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti tatkala rasa pusing menyerang kepalanya. Ia hampir terjatuh namun berpegangan pada dinding.
Mery yang melihat hal itu lekas menghampiri dengan khawatir. "Apa kakak baik-baik saja?" tanyanya.
Rose menggelengkan kepalanya dengan raut wajah pucat dan tubuh yang semakin melemah.
"Aku antar ke rumah sakit, ya," katanya. Mery langsung memapah dan membawanya pergi.
Di rumah sakit.
__ADS_1
"Selamat, Anda sedang mengandung dengan usia kehamilan 8 minggu."
Rose maupun Mery tersentak mendengar ucapan Dokter di depannya seolah tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.
"H-hamil? Bagaimana mungkin, Dok?" tanya Mery. Mendapati pertanyaan seperti itu, Dokter malah memasang raut wajah bingung sambil menatap Rose yang diam membeku.
"Mery, ayo kita pergi!" Sebelum akhirnya pembicaraan dilanjutkan, Rose beranjak dan mengajak Mery pergi.
"Jangan lupa untuk meminum vitamin dengan rutin, dan lakukan pemeriksaan dengan teratur," pesan Dokter yang tak diindahkan oleh Rose.
Rose berjalan dengan cepat keluar rumah sakit. Sementara Mery yang dihantui berbagai pertanyaan berusaha mengikuti dan mengimbangi langkah kakinya.
"Bagaimana bisa Kak Rose hamil? Ia bahkan tak pernah dekat dengan pria, tapi ...." Mery menghentikan pemikirannya. Ia masih tak habis pikir dengan apa yang terjadi pada Rose.
Di luar, Rose tiba-tiba menghentikan langkah kakinya lalu berkata, "ada yang harus aku lakukan terlebih dahulu. Jadi, kembalilah lebih awal, Mery. Dan ... jangan beritahu siapapun!"
Setelah mengatakan hal itu, Rose melangkah pergi meninggalkan Mery dengan wajah datar tak berekspresi. Sedangkan Mery masih mematung, masih berusaha menerima berita mengejutkan tersebut.
Di apartemen Rose, pada malam hari.
Dia berdiri mematung di depan westafel, memandang hina dirinya di depan cermin dengan sebuah pil ab*rsi di tangan kanannya.
Ia telah sampai pada keputusannya, yakni tidak membiarkan benih di rahimnya lahir ke dunia. Namun, bagaimanapun ia bersikap kejam, derai air mata tak bisa membohongi siapapun. Ia sendiri tidak tahu mengapa ia harus menangisi hal itu.
Perlahan ia mulai mengangkat tangannya. Pil sebesar kuku jari mulai ia arahkan masuk ke dalam mulut. Akan tetapi, sebelum itu terjadi, seseorang datang dan menepis tangan Rose dan membuat pil tersebut jatuh entah kemana.
"Apa yang kakak lakukan?" tanyanya sambil memegang kedua bahu Rose. Saat menoleh, Rose mendapati Mery ada di sana menatapnya dengan sangat khawatir.
"Apa kakak berniat menggugurkannya?"
"Mery!" Rose menepis tangan Mery. "Jangan mencampuri urusanku. Aku sudah memikirkannya dengan matang dan aku tidak akan membiarkan kesalahan ini lahir," lanjut Rose sambil membuang muka.
"Kak, aku tidak tahu apa yang terjadi dan siapa ...." Mery menghentikan ucapannya sejenak. "... tapi anak ini tidak bersalah!"
"Kau tahu apa, Mery?"
"Aku tahu sebenarnya kakak tidak ingin melakukannya, bukan!"
__ADS_1
Keadaan menjadi hening seketika. Rose maupun Mery tak mengatakan apapun lagi, namun tak lama Rose menitikkan air mata.
"Apa yang aku tahu, sedangkan orang tuaku saja aku tidak tahu siapa. Mereka tidak menginginkanku seperti aku tidak menginginkan anak ini," ucap Rose.
Mery terdiam. Ini kali pertama ia melihat sisi lain dari Rose, seorang wanita yang ia kenal sangat kuat dan tangguh. Kini, terlihat rapuh dan sangat lemah.
Ia tak berani mengatakan apapun lagi, takutnya menyakiti Rose semakin dalam. Hanya sebuah rangkulan yang bisa dia berikan sebagai penenang sementara.
Rose bermimpi, ia tersesat di sebuah hutan rimba nan gelap pada malam hari. Secercah cahaya kemudian turun dari bulan dan mendarat di pangkuannya. Sinarnya tak hanya menghangatkan tubuh namun juga menentramkan jiwa.
Tiba-tiba dia membuka matanya dan menatap langit-langit kamar. Menoleh ke kiri dan mendapati Mery tidur di sampingnya, menemaninya semalaman, mungkin lebih tepatnya.
Tak berselang lama, Rose beranjak dari posisinya dan itu membangunkan Mery. Mery membuka matanya dan melihat Rose duduk di tepi ranjang membelakanginya.
"Mery ... aku sudah memutuskannya," kata Rose yang membuat Mery membelakkan matanya.
"Apa? Apa kakak akan tetap pada pilihannya tadi malam?" batin Mery berkecamuk. Meski begitu, ia tak bisa melakukan apapun lagi. Dan mungkin hanya bisa menyetujui pilihan Rose.
"Aku ...." Rose menoleh dengan sebuah senyum di bibirnya. "... aku akan melahirkan anak ini!"
Antara terkejut dan senang, Mery sampai tak bisa berkutik sama sekali. Ia menghampiri Rose dan memeluknya dari belakang dengan sangat bersemangat.
"Syukurlah! Aku senang mendengarnya!" kata Mery.
Rose menganggukkan kepalanya, lalu berkata, "tapi ... aku membutuhkan bantuanmu." Suasana menjadi serius. Rose pun mulai memberitahukan rencananya pada Mery.
Siang hari, di rumah paman Rose.
Mery berdiri di depan sebuah pintu dengan perasaan takut dan ragu. Namun akhirnya ia memberanikan diri untuk mengetuk pintu. "Paman, ini Mery," kata Mery.
Sedetik kemudian, paman membuka pintu dan sedikit terkejut dengan kedatangan Mery. Tanpa sepatah katapun dia melangkah masuk diikuti oleh Mery di belakangnya.
"Ada apa, Mery?" tanya paman dengan suara baritonnya. Langkahnya kemudian terhenti di dekat jendela ruangan.
Mery menghela napas panjang, kemudian berkata, "kak Rose ... menitipkan surat ini kepadaku." Ia menyodorkan sebuah amplop berisi surat dari Rose.
Paman mengernyitkan dahinya, menerima surat tersebut kemudian mulai membacanya dengan perlahan. Dari awal hingga selesai.
__ADS_1
"Jadi ... Rose pergi ke luar negeri untuk waktu yang lama? Dia bahkan tidak menemuiku dulu, paman macam apa aku!"